Minggu, 11 Desember 2016

The Genius

Baru saja selesai menamatkan TV series Korea "The Genius" season 1.


Gue bukan mau review soal acaranya, sih. Karena sayang banget kalau itu harus dispoiler. Wahahaha. KEREN BANGET abisnyaaaaa.... Dari yang tadinya cuma tahu dan suka sama Hong Jinho karena kejeniusannya, abis nonton ini jadi hampir suka semua. Because they really are geniuses. Yah, ada beberapa yang cuma masuk kategori 'pintar', sih. Tapi dibanding orang biasa emang mereka jauh di atas rata-rata.

Yang mau gue omongin masih berkaitan, sih. Tapi jelas bukan soal TV seriesnya. Lagipula, gue mau mencoba nulis sesuatu yang ringan-ringan di blog karena postingan gue akhir-akhir ini tampaknya cukup berat.

Setelah dipikir-pikir, dari duluuuuu banget gue emang selalu tertarik sama orang-orang yang punya kemampuan otak di atas rata-rata. Rasa tertariknya bukan ke arah 'sana' sih. Tapi pokoknya tertarik aja, gitu. Kayak temen SD gue dulu yang selalu langganan ranking 1 tanpa ada yang bisa mengganggu gugat. Bahkan gue yang masih SD pun sadar kalau kemampuannya dia sama yang ranking 2 itu lumayan jauh. Jadi kalau dia nggak mendadak sakit perut dan nggak bisa ikut ujian akhir, pasti dia tetep bertengger di peringkat satu.

Waktu kelas 6 SD juga gitu. Tapi ada dua orang yang selalu berebut ranking satu. Dan gue pun mengakui kalau kemampuan mereka emang setara. Lalu diam-diam gue pun mengagumi mereka berdua, yang kebetulan cowok dan cewek. Dan diam-diam gue memasangkan mereka dalam imajinasi gue.

Waktu SMP dan SMA, gue juga punya orang-orang tertentu yang jadi favorit karena kepintarannya. Dari film dan buku-buku juga gue selalu suka sama karakter yang jenius. Kalau karakter yang pinter aja mungkin kurang nampol untuk cerita fiksi. Yang jenius, itu baru sesuatuh!

Sejujurnya gue mau bikin peringkat sendiri karakter-karakter jenius yang gue suka. Tapi namanya pelupa, gue nggak bisa inget semua karakter buku atau film yang pernah gue baca dan gue tonton.

Sementara gue list aja dulu siapa-siapa aja karakternya deh.

Youichi Hiruma (Eyeshield 21)

Komandan dari neraka sebutannya. Ahli strategi tim American Football Devilbats yang jadi otak dari 99% pergerakan timnya (1%nya baru karena Sena :v). Betapa bahagianya gue menemukan ada karakter semacam dia di dunia animanga. Karakter dia terlalu kuat sampai menggeser karakter utama aslinya. Trik-triknya dia selalu bikin gue nggak habis pikir kenapa dia bisa kepikiran sejauh itu. Terutama waktu akhirnya Devilbats kalah sama tim NASA dan justru dapet keuntungan tiket pesawat gratis untuk latihan khusus di Amerika. Ckckck. Pokoknya gimana pun situasinya, bisa berbalik menguntungkan kalau ada Hiruma di baliknya :v

Light Yagami dan Lawliet (Death Note)

Pada dasarnya mereka sama jeniusnya. Makanya sampe berapa belas volume manganya, nggak ada yang bener-bener menang telak. Di filmnya pun, untuk menang dari Light, L harus ngorbanin nyawanya sendiri. Kalo ditanya suka siapa, ya jelas gue lebih suka L yang baik dan doyan makanan manis. Tapi gimanapun karakternya, gue tetep suka cara mereka berpikir untuk memecahkan masalah. Mereka berdua emang jenius sejati.

Newt (The Maze Runner)

Sebenarnya, kalau dalam kisah The Maze Runner sih, semuanya jenius. Secara mereka adalah orang-orang spesial yang dikumpulkan untuk dijadikan percobaan. Dan emang keliatan sih mereka semua pintar. Tapi menurut gue, Newt selangkah lebih jauh dibandingkan temen-temennya yang lain. (Apalagi dibanding Minho yang ngandelin otot :v). Bisa dibilang, dia otak utama dari koloni cowok-cowok yang terjebak dalam labirin itu.

Shikamaru Nara (Naruto)

Si pemalas dengan IQ 200. Tapi sayangnya orang-orang jarang yang sadar kalau dia itu jenius karena emang sikapnya yang males-malesan kalo disuruh apa-apa. Kejeniusan dia baru keliatan waktu ujian chunin dan waktu terpaksa bertarung sama musuh-musuhnya.Dan penampilan dia yang paling keren adalah waktu ngelawan salah satu anak buahnya Orochimaru.

Artemis Fowl (Artemis Fowl)

Kejeniusan dia agak sulit digambarkan. Karena awal-awal baca novelnya aja gue dudah ibikin pusing. Adegan yang paling wow buat gue mungkin waktu dia menyimpan semua rahasia peri dalam satu disk dan berhasil dapetin disk itu lagi meski ingatannya udah hilang. (Lupa detilnya gimana, tapi asli itu keren banget.) Ini semacam Light Yagami yang membuang deathnotenya sampe dia nggak dicurigain lagi, dan berhasil dapetin deathnote-nya balik meski semua ingatannya soal deathnote hilang.

Dr. Sheldon Lee Cooper (The Big Bang Theory)
Sejujurnya gue bingung mau masukin nama dia ke list karakter jenius yang gue suka apa nggak. Soalnya gue sendiri meragukan dia itu jenius apa nggak. Masalahnya, meski dia itu emang pintar keterlaluan, tapi hampir dari semua episode filmnya gue merasa kalau dia itu pintar teori doang. Makanya kalo pas ada masalah-masalah yang sepele, dia malah bikin jadi tambah ribet. Ya... tau sih emang TV seriesnya genre komedi. Dan justru di situ titik lucunya. Tapi akhirnya tetep gue masukin karena emang ada beberapa episode yang nunjukin kejeniusan dia, sih.

Gue nge-list nama-nama ini sambil liat referensi dari website-website lain. Dan gue nggak percaya dari segitu banyak website yang ngebahas karakter jenius dalam anime, NGGAK ADA SATU PUN YANG MASUKIN NAMA YOUNII (Youichi Hiruma) please!! Padahal kalaupun nanti gue bikin ini jadi urutan, dia akan selalu berada di peringkat pertama.


Rabu, 07 Desember 2016

Si Manusia Abu-Abu

Diriku tidak menyangka setelah 212 selesai, timeline FB memanas lagi karena banyak kejadian. Padahal Jakarta nggak diapa-apain aja udah panas, pake ditambah panas lagi. Hari biasa aja harus makan es krim atau es kenyot untuk menjaga suhu tubuh. Kalo sekarang kayaknya kipas angin mah udah nggak mempan yah. Kudu pake AC yang suhunya bisa diturunin sampe 0 derajat deh biar pada kedinginan sekalian :v

Padahal (lagi) udah banyak yang gue unfollow karena kebanyakan berubah spesies jadi nyinyiers, sekalian berusaha menghindari penyakit hati. Kalau masih difollow, nanti aye ikut-ikutan nyinyirin mereka kan bahaya. Jadi sama aja dong :v

Eeeehhh.... ternyata setelah 212 muncul lagi nyinyiers yang belum sempet tersaring. Sepertinya mereka memilih diam waktu 212 masih rame banget gaungnya di FB, jadi nggak bisa aye unfollow waktu itu. LOL. Giliran sekarang rame soal ketidakadilan yang diterima agama sebelah, langsung deh pada muncul dan mulai rame. Ealah mbak, mas, waktu agama sendiri dizholimi kalian kemanaaahh? Padahal kami kangen kalian. Secara masih saudara seiman getoh.

Tapi kalau kalian diam waktu agama kita (iya kitaaaa, bukan kami doang) dizholimi, dan malah bersuara waktu agama sebelah dizholimi, kami-kami kan jadi ragu. Kalian masih saudara seiman kami bukan, sih?

Dan sepertinya sebagian dari kalian salah mengartikan toleransi. Agama kalian (yaa, kalo kalian masih yakin sama agama kita ini, sih) selalu memberikan perintah yang jelas soal toleransi, kok. Soal jual-beli, berteman, saling menolong, semuanya BOLEH, kecuali soal akidah. Gampang, kan?

Jahat banget lho nuduh semua yang ikutan aksi 212 itu intoleran. Hanya karena kebetulan yang diminta pertanggungjawaban itu seorang nasrani dan seorang keturunan negara tetangga :(

Padahal udah berkali-kali ditekankan, sampe kayaknya posternya cukup viral tuh. Nggak ada urusan sama agama dan etnis si bapak, yang kami minta kan cuma keadilan.

Tapi udahlah. Berkali-kali dibahas juga sepertinya kalian tetap pada pendirian. Gimana lah omongan orang macam gue mau didengar kalau anjuran-anjuran dari ulama-ulama kita tercinta aja diantepin.

Mungkin kalian merasa lebih mulia berada di pihak abu-abu, di pihak netral. Beranggapan kalau membela agama sendiri itu berlebihan, Allah kan nggak perlu dibela. Dan beranggapan kalau agama sebelah itu perlu banget dibela. Kenapa? Yah aye mah kaga tau alesannya. Mungkin kalian menganggap mereka tertindas banget karena minoritas, dan perlu banget dibela.

Saking ramenya kalian yang gue anggap saudara seiman malah membela agama sebelah, gue malah merasa agama kita kok kayak minoritas jadinya? Keseringan dianaktirikan gitu. Nggak pernah dibelain! Sedih....

Lucu banget sampe ada yang bikin pernyataan "Cuma di Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar, tapi harus membela Islam di negeri sendiri..."

MIRIS

Ah, jangan dikata gue nggak ngerti perasaan kalian, nggak ngerti logika kalian. Gue ngerti, kok. Because I was there before.

Gue pernah berada di area abu-abu dalam waktu yang cukup lama. Menganggap yang ngomongin Islam terus itu lebay banget. Toleran dikit, lah. Kan di media sosial itu temen-temennya bukan muslim aja. Nggak enak lah posting tentang Islam teruuuss...

Percaya atau nggak, gue pernah berpikir seperti itu.

Sampai suatu ketika temen-temen gue yang menganut agama-agama sebelah mulai terang-terangan menyerang dan menyudutkan Islam. Gue yang awalnya diem aja, mulai pasang badan. Sesarap-sarapnya gue, nggak bakal pindah ke area sebelah sono buat belain mereka yang menyudutkan agama gue lah. Sesarap-sarapnya gue waktu itu, masih bisa sakit hati waktu agama gue yang dihina dan disudutkan.

Gilak. Ini gue udah se-toleran ini sampe nggak pernah bahas-bahas agama di TL gue, mereka malah kayak gitu? Nggak mikirin perasaan muslim yang ada di TL mereka? Jahat!

Lalu gue pun berkaca. Jangan-jangan mereka jadi mulai berani karena emang temen-temennya sendiri pun nggak merasa perlu untuk membela agamanya. Termasuk gue... *tertohok*

Mereka mulai berani begitu karena manusia-manusia abu-abu macam gue makin banyak. Dan mereka jelas tidak merasa akan menyakiti perasaan si manusia abu-abu. Kan manusia abu-abu ngakunya netral. Nggak bakal sakit hati dooong...

Dan saat itu gue sadar kalau manusia nggak bisa selamanya berada di area abu-abu. You have to choose.

Berada di area abu-abu hanya membuat diri lo menjadi seorang pengecut. Nggak bisa mengambil keputusan mana yang salah dan mana yang benar.

"Semua agama itu benar, karena semua agama mengajarkan kebaikan."

Kalimat yang sering banget dipake sama manusia-manusia yang berada di area abu-abu. Padahal kalau mau make logika sedikiiit aja, pernyataan tersebut jelas salah. Kalau menurut kalian semua agama benar, yaudah nggak usah memeluk Islam, lah. Ikut agama sebelah aja. Sama aja, kan? Justru kita memeluk Islam karena yakin Islam agama yang paling benar, toh? Umat sebelah juga memeluk agamanya sekarang karena yakin agamanya lah yang paling benar. Dan itu sah-sah aja. Justru kalian yang berada di area abu-abu lah yang membingungkan. Mau ikut siapa? Mau ikut yang mana?

Jadi, teman-teman yang masih merasa sakit ketika agama kalian dihina atau disudutkan, tentukanlah sikap kalian sekarang. Jangan sampai menyesal nanti. Jangan sampai ketika mendadak umur kita di dunia habis, kita nggak punya jawaban atas kepercayaan yang kita anut.

Kalau kalian merasa masih muslim, sakit kah hati kalian begitu mendengar berita-berita mengenai diskriminasi umat muslim di negara lain? Rohingya? Syria? Palestina? Atau kalau ngeliat beritanya malah langsung scroll ke bawah dan pasang tampang nggak peduli? Mereka jauh ini. Ngerasa simpati di sini juga nggak ada gunanya. Mereka orang negara lain ini. Emangnya gue bisa bantuin apa? Udah banyak yang bantuin ini. Mereka nggak perlu bantuan dari gue lah yang nominalnya juga pasti nggak seberapa. Kan udah terwakilkan juga sama yang lain.

Kalau kalian merasa dan masih berpikir begitu, berarti emang ada yang salah sama kalian. Coba ngaca deh. Muhasabah. Jauhin manusia abu-abu lainnya dan mulai berpikir dengan jernih, sendiri. Siapa tau Allah menggerakkan hati kalian.

Nggak usah bilang gue sok suci atau apa. Gue juga bukan orang yang sempurna. Gue masih banyak kekurangan. Gue bilang kayak gitu karena (sekali lagi gue bilang) gue pernah berpikir seperti itu.

"Walah, Palestina mah jauh. Mikirin dalam negeri dulu deh yang masih banyak masalah." Begitulah dalih yang gue keluarkan untuk membela diri karena nggak ikut merasakan penderitaan saudara-saudara seiman di Palestina sana.

Padahal mah berusaha untuk memperbaiki negeri sendiri juga nggak, tuh :(

Sampai akhirnya gue sadar kalau memang ada yang salah dalam diri gue. Semua umat muslim itu bersaudara. Kalau saudaranya sakit, tentu kita ikut merasa sakit. Terus, kenapa waktu itu gue nggak ngerasa sakit? Itulah yang terus gue pertanyakan ke diri gue sendiri. Kalo gue nggak bisa merasakan sakitnya penindasan yang mereka rasakan, berarti emang gue yang salah. Gue yang nggak punya empati. Gue yang belum merasa bersaudara sama mereka :'(

Tapi selama masih bernyawa, manusia masih dikasih kesempatan untuk belajar. Masih dikasih kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Jadi, pergunakanlah waktu di dunia sebaik mungkin.

Maaf yah yang merasa gue unfollow. Gue justru lagi berusaha menjaga hati supaya nggak menyimpan kebencian sama kalian. Kalo gue nggak tau kalian bikin status apa, kan gue juga nggak akan kesel atau apa. Tanda gue bukan unfriend dan cuma unfollow adalah karena gue masih menganggap kalian teman. Yang kalau ketemu, ya tentu gue dengan senang hati masih akan ngobrol dengan kalian dan main dengan kalian. Tentu aja selama nggak melewati apa-apa yang gue yakini sekarang :)

Maaf kalo gue berubah. Maaf kalo gue bukan gue yang dulu lagi. Maaf kalau gue memutuskan untuk tidak menjadi si manusia abu-abu lagi. Maaf kalau gue memutuskan untuk mengambil sikap dan membela terang-terangan apa-apa yang gue yakini sekarang.

Kalo nggak dimaafin juga nggak apa-apa, sih. Hahaha.

Udah ah. Bobo :v

Jumat, 14 Oktober 2016

My Cute Students

Belakangan ini gue selalu menantikan untuk pergi ngajar ke suatu tempat. Karena yang gue ajar adalah dua anak yang masing-masing berumur 9 dan 13 tahun. Mereka saudara sepupu.

Biasanya, gue malas ngajar bahasa Jepang ke anak yang masih terlalu kecil. Alasan pertama, karena gue menganggap mereka belum butuh bahasa Jepang. Alasan kedua, biasanya mereka les karena emaknya maksa anaknya harus les sebanyak-banyaknya mumpung masih kecil.

Sebelumnya gue pernah membahas soal BLAST yang bisa diderita anak kecil yang terlalu cepat dan terlalu banyak belajar. Nah, gara-gara itu gue nggak mau jadi salah satu penyebab anak-anak kecil itu mengalami BLAST di usia tertentu.

Berapa tahun lalu, gue juga pernah punya murid yang masih SD. Dan setelah tahu dia belajar mandarin juga dari ibunya yang kebetulan guru bahasa mandarin, belajar bahasa Inggris juga karena sekolahnya bertaraf internasional, gue langsung cut kerjaan itu. Kasian. Setiap les bahasa Jepang, dia selalu nggak semangat karena kecapean. Itu pun gue selalu ngajar dia dengan lebih banyak main dan cuma belajar kosa kata aja tanpa belajar pola bahasa Jepang sama sekali. Ya macam anak SD pertama kali belajar bahasa Inggris, lah.

Masalahnya, si emak ini tidak membiarkan gue terus berdua sama anaknya untuk belajar sambil bermain. Kadang-kadang kalau dia lagi di rumah, dia akan mantengin gue ngajar selama dua jam. Dan sambil gue ngajar pun, dia sesekali ngomel ke anaknya yang terlihat malas-malasan belajar. Ya ampun, masih kecil aja beban hidupnya berat banget...

Yang lebih mengerikan lagi, gue ngajar dia itu bilingual Indonesia-Inggris. Soalnya, dia sering nggak tahu kata-kata dalam bahasa Indonesia yang gue pakai buat mengartikan kata bahasa Jepang. Akhirnya terpaksa gue translate lagi ke Inggris. Anak ini memang lebih ngeh dengan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Dan itu ngeri banget. Bahasa ibunya sendiri dia malah nggak fasih.

Nah, balik lagi ke anak yang gue ajar sekarang. Gue mau ngajar mereka karena ibunya adalah salah satu murid gue dulu. Alhamdulillah dia masih inget sama gue setelah sekian tahun nggak pernah kontak via apa pun. Lalu, tujuan belajarnya pun jelas, anaknya hanya butuh pengenalan dan pelajaran dasar bahasa Jepang supaya tahun depan saat mereka travelling ke Jepang, nggak bengong-bengong amat.

Ngajar mereka pun cukup santai karena banyak main sambil belajar. Karena emang targetnya nggak tinggi-tinggi banget.

Tapi kerjaan gue sebenarnya bukan cuma ngajar aja. Gue juga jadi babysitter :)) Dira, yang paling gede, seneng kalau ada yang dengerin cerita-ceritanya tentang temen-temen sekolahnya. Mika, yang umurnya 9 tahun, suka banget pamer mainan squishy-nya dan betapa dia pengin banget ke Jepang demi beli squishy yang lucu-lucu. Nah, selain mereka berdua, ada lagi Milan, adiknya Mika yang masih berumur 3 tahun. Anak ini capernya ampun-ampunan. Udah gitu, dia belum bisa ngomong dengan jelas, tapi dia bisa ngoceh selama sejam non-stop. Kayak apa jadinya pas dia udah bisa ngomong? Hahaha.

Milan emang nggak ikutan belajar (ya nggak mungkin juga, sih). Tapi dia seneng banget masuk kamar tempat kami belajar, terus ngacak-ngacak mainannya Mika. Terus dia dudukin itu mainan, terus dilempar-lempar, diinjek-injek, digigit-gigit, terus dibuang. Walah, rame banget kalo Milan udah ngerusuh.

Milan gampang akrab sama orang baru, termasuk gue. Baru sekali ketemu, dia udah mau digendong-gendong dan tampak bahagia. Hari kedua ketemu, dia bersorak gembira liat gue. Hari ketiga ketemu, dia mulai manggil-manggil gue dengan sebutan "Yoyo" yang entah dari mana dia dapet. Untung tadi dia bisa nyebut nama gue dengan benar. Wahahaha. Bangga.

Pokoknya, tiap kali gue ngajar, gue bukan hanya jadi tempat curhat dan teman main Dira dan Mika. Tapi juga sekaligus jagain Milan supaya nggak jatoh gara-gara lompat-lompatan di kasur, nggak luka gara-gara ngelempar barang-barang yang cukup gede, dan lain-lain.

Bukannya belajar malah makan es krim sambil wefie :p

Dikasih gudetama dengan muka malasnya ini juga sama Mika :')


Minggu, 09 Oktober 2016

Story Blog Tour Romance/Angst - Chapter 4: Dua Sisi Koin

Ini adalah kelanjutan Story Blog Tour Romance/Angst OWOP II. Yang genre-nya jelas bukan keahlian gueh. Tapi gue udah berusaha keras membuat cerita ini senyambung-nyambungnya. And, here weeee go!

Chapter 1 - Luka Elisa (Nifa)
CHAPTER 4 - DUA SISI KOIN

Sabtu, 08 Oktober 2016

Story Blog Tour Mistery - Chapter 3: KONSEKUENSI

Ini adalah kelanjutan Story Blog Tour Misteri OWOP. 

CHAPTER TIGA: KONSEKUENSI

Urvi berkali-kali mengerjapkan matanya sebelum sadar sepenuhnya di mana ia berada. Tak ada tempat lain yang memiliki warna serba putih hampir di tiap sudut ruangan selain kamar rumah sakit. Dengan cepat, Urvi juga mampu mengurutkan kejadian hingga akhirnya ia terbaring dengan rambut keriting yang makin acak-acakan di kamar ini.

Tak ada orang lain selain dirinya sendiri di ruangan itu, dan Urvi maklum. Ibunya sudah lama meninggal, dan ayahnya pergi dengan wanita lain, entah ke mana. Ia juga sudah cukup lama tinggal sendiri dengan hasil kerja sambilannya. Jadi, mustahil ada kerabat yang datang kalau bukan dia sendiri yang memberikan informasi mengenai dirinya yang saat ini terbaring lemah di rumah sakit.

Ketiga teman sesama penari, pelatih, dan semua penonton yang menyaksikan mereka pasti melihat dengan jelas kematian Pak Rama yang aneh tadi. Urvi mengusap kasar kedua matanya, namun tetap tidak bisa mengenyahkan imaji mengerikan empat penari lain yang menusuk Pak Rama dengan keris di akhir pertunjukan mereka. Urvi juga ingat kalau saat itu ia ingin berteriak, namun tak ada apa pun yang terjadi. Tubuhnya bagai dikuasai oleh sesuatu yang lain.

"Jadi itu balasan untuk Pak Rama, Ni? Kematian..." Urvi berbisik sendirian, karena Agni tak sedang di sini bersamanya.

Mungkin Naara dan Auri tidak tahu menahu soal alasan sebenarnya di balik pembalasan dendam yang ingin dilakukan Agni pada Pak Rama. Mereka berdua terlalu baik dan pasti akan meminta Agni untuk melaporkan langsung dekan mereka itu ke polisi jika mengetahui alasan yang sebenarnya. Yang mereka tahu, tarian barusan adalah bentuk protes atas kesemena-menaan Pak Rama terhadap penggunaan dana yang seharusnya mengalir langsung ke jurusan mereka. Dan meski Urvi tahu alasan Agni adalah untuk membalas dendam atas pelecehan seksual yang ia terima, gadis berambut keriting itu mengira Pak Rama hanya akan mendapat beberapa kesialan sebagai ganjarannya. Bukan kehilangan atas nyawanya.

Kalau tahu begini jadinya, Urvi tak akan mau ikut-ikut terlibat hanya karena dibujuk Kak Tio, pelatihnya yang tampan itu. Padahal sudah jelas Agni lah yang memperalat Kak Tio yang terlanjur jatuh hati pada temannya itu.

Meski tampak tenang dan emosi terkendali, dalam hati Urvi sangat takut. Ini artinya dia telah mengambil bagian tersendiri pada pembunuhan Pak Rama. Dan seperti yang kebanyakan orang tahu, bermain-main dengan sesuatu yang ghaib untuk mengambil nyawa orang, konsekuensi tak akan lebih ringan daripada kematian.

Saat pikiran Urvi sedang berkecamuk, terdengarlah suara jeritan seseorang yang ia kenal dari ruangan lain.

"Naara!" serunya panik dan segera menyibakkan selimutnya, mengambil cairan infusnya dari gantungan, dan berlari keluar.

Urvi berpapasan dengan Auri yang juga mendengar jeritan yang sama. Mereka saling memandang dengan kepanikan yang sama dan segera berlari menuju kamar Naara, sumber jeritan itu terdengar. Saking paniknya, mereka tak memperhatikan bahwa lorong dan ruangan-ruangan di situ terlalu sepi untuk sebuah rumah sakit umum.

Tak butuh waktu lama bagi Urvi dan Auri untuk sampai di depan kamar Naara. Urvi membuka kamar itu dengan satu hentakan keras. Lalu, mereka berdua mendapati Naara yang histeris dan terus berteriak seperti orang gila. Padahal tak apa-apa di sana.

"Sudah mulai...." bisik Urvi ketakutan.

BERSAMBUNG

Nantikan kelanjutan kisahnya di blog mbak Happy :D

Rabu, 05 Oktober 2016

50 THINGS WE CAN DO TO TURN JAKARTA INTO THE BEST CITY ON THE PLANET

Sejujurnya gue mau nulis soal yang akan gue bahas ini bertahun-tahun lalu. Mungkin sekitar 4-5 tahun lalu....

Tapi apa daya gue lupa nyimpen di mana gambar yang gue butuhkan buat pembahasan ini. Baru nemu setelah nggak sengaja nyari data-data lain di harddisk. Dan harap maklum kalau kualitas gambarnya jelek banget. Hape gue 4-5 tahun lalu kan gak secanggih itu....

Waktu nunggu salah satu murid berkebangsaan Jepang yang minta diajarin bahasa Inggris, gue ngaso-ngaso cantik di lobi apartemennya. Dan karena pada dasarnya enggak bisa liat apa pun yang berbentuk buku, gue pun iseng baca majalah yang ada di atas meja. Awalnya enggak tertarik baca majalah, tapi di dalamnya ada satu artikel yang menarik minat gue.

Judulnya "50 THINGS WE CAN DO TO TURN JAKARTA INTO THE BEST CITY ON THE PLANET"

Wah... 50? Banyak juga. Apa aja tuh idenya?

Langsung lah gue baca.

Awalnya sih gue masih mengangguk-angguk setuju bacanya. Termasuk ide untuk memperbarui angkot, kopaja, bus, dan sejenisnya.

Minggu, 02 Oktober 2016

[Fanfiction] Kim Jongmin x Shinji - SOME


Fanfic berdasarkan acara reality show Korea, 2 Days 1 Night season 3 episode 76-78 (Friendship Trip). One of my favorite trip in 2 Days 1 Night. Jongmin-Shinji yang paling kiri di foto. Duh, nikah aja sih kalian... #ikutcampur

_____

Senin, 19 September 2016

[Flashfiction] Para Pelanggar Peraturan


"Jangan jalan lewat sini, Pak. Bahaya!"

"Mbak, lewat atas ya. Jangan lewat rel. Bahaya!"

"Sabar Mas, Mbak, tunggu keretanya lewat dulu. Bahaya!"

Dalam satu hari saja entah sudah berapa kali saya teriakkan kalimat itu pada para penumpang kereta api yang tak tahu aturan. Padahal di antara dua rel sudah tertulis plang yang sedemikian jelas. Dan plang itu tidak hanya satu-dua saja. Hampir tiap tiga-empat meter plang itu diletakkan. Andai plang-plang itu punya perasaan, pasti mereka menangis karena tak pernah dianggap.

Padahal, aturan itu dibuat demi keselamatan para penumpang sendiri. Sayang, sepertinya dibanding nyawa, mereka lebih peduli untuk cepat-cepat naik kereta. Lagipula, apa salahnya menunggu beberapa menit demi keselamatan dan kenyamanan semua orang. Sebab jika terjadi satu kecelakaan saja, bukan hanya satu orang yang jadi korban. Jadwal kereta jelas akan kacau, dan itu merugikan semua orang.

Misalkan ada kecelakaan nanti pun, tetap saja pihak kereta api dan petugas stasiun yang disalahkan. Tapi jika kami berteriak dan melarang para pelanggar aturan ini tiap detik, ada saja yang protes lewat media sosial kalau para petugas stasiun terlalu galak. Ini sebenarnya masalah sepele, tapi kok rasanya seperti makan buah simalakama. Saya sendiri tidak tahu rasa buahnya seperti apa, tapi pasti tidak enak!

"Pak, arah ke kota jalur yang mana, ya?" Seseorang tiba-tiba menegurku.

"Itu jalur satu! Nggak bisa baca, ya!?"

Perempuan yang bertanya pada saya langsung pasang tampang cemberut sebelum menyebrang kembali ke jalur satu.

TOK!

Kepala saya yang terlindungi helm putih kena getok tongkat pemukul salah satu teman seprofesi. Sontak saya menoleh padanya dan mengumpat pelan.

"Jangan galak-galak gitu sama penumpang!"

Saya merasa sedikit bersalah. "Maaf, Kang. Lagi emosi. Pada nggak bisa baca tata tertib, sih..." dalih saya seraya menunjuk plang peringatan dengan tongkat pemukul di tangan kiri.

Kami tak bertukar kata selama kurang lebih satu menit karena suara kereta yang lewat. Suara tersebut mampu meredam suara apapun, termasuk suami istri yang sedang cekcok.

"Nggak usah terlalu dipikirin, lah. Tau sendiri orang kita emang gitu kelakuannya," jelasnya begitu kereta jalur tiga pergi meninggalkan stasiun.

"Ya tapi kan nggak bisa gitu terus. Nanti kalau ada yang kecelakaan, kita lagi yang disalahin."

"Loh, nggak ada yang bilang untuk berhenti ngasih tau orang-orang itu, kok. Tetep lah kasih tau. Tapi sabar, nggak usah pake emosi."

Ngomong sih gampang.

"Nih!" Serunya seraya menyodorkan sebungkus roti padaku. "Makannya nanti, tapi. Kerja dulu."

"Roti dari mana nih," tanya saya sembari menerima pemberiannya dan memasukkannya ke kantong seragam yang cukup besar.

"Tadi dikasih sama penumpang cewek. Masih SMP atau SMA kayaknya. Saya sempet nolongin dia gara-gara jatuh ketabrak orang-orang yang berebut nyebrang lewat rel. Padahal dia juga mau naik kereta yang sama, tapi milih nunggu kereta di depannya lewat dulu sebelum nyebrang."

"Heran. Yang naatin peraturan malah lebih langka daripada yang ngelanggar...."

"Yang kamu harus inget, di antara mereka masih ada yang mau taat sama peraturan. Jadi kalau ada yang nanya baik-baik, ya jawabnya baik-baik juga, lah. Jangan gara-gara emosi sama sebagian penumpang, terus semuanya kena getahnya."

Senior saya ini kalau kasih nasehat memang susah dibantah. Gimana saya bisa bantah kalau roti coklat sudah terlanjur masuk kantong?

"Iya, Kang," ucap saya dengan nada menyesal.
___

"Hayo... Jangan ngerokok di sini. Ada aturannya, lho..." Kang Deni menunjuk tanda larangan merokok yang terpasang hampir di setiap sudut stasiun.

"Kaku amat, Kang. Udah tutup ini stasiunnya..." elak saya.

"Tadi ngomel-ngomel sama pelanggar peraturan. Sekarang malah ngebela diri. Kalau mau mengubah orang lain, ubah diri sendiri dulu dong..."

Lagi-lagi saya tak bisa membantahnya. Saya pun mematikan rokok dan membuang puntungnya ke tempat sampah. Jadi perokok sekarang susah. Tempatnya terbatas, dan sekalinya merokok, sering mendapat tatapan jengah dari orang-orang sekitar. Belum lagi kabar kalau harganya akan naik empat hingga lima kali lipat.

Apa sekalian saya berhenti saja, ya?
___

Ngomong-ngomong, roti pemberian Kang Deni enak juga.

END

19/9/2016

Oleh seorang penumpang yang kasian ngeliat salah satu petugas stasiun emosi gara-gara penumpang pelanggar peraturan di jam sibuk Stasiun Manggarai.

Sabar ya, Masnya.... Maap ya yang ngeliat situ kebanyakan baca komik dan novel jadi ngarang-ngarang kehidupan situ sebagai petugas stasiun....

Sabtu, 17 September 2016

Menyekolahkan Anak Terlalu Dini...


Baru-baru ini di grup lagi getol ngomongin soal anak-anak yang terlalu cepat dimasukkan sekolah, atau yang disuruh orangtuanya belajar berbagai macam hal padahal umur mereka masih sangat muda. Banyak yang memberi contoh dari anak-anak tetangga atau anak murid yang kami ajar.

Tapi nggak lama kemudian, gue menemukan gambar ini di facebook.


Lalu gue sadar, gue mungkin termasuk salah satu anak yang terlalu cepat masuk sekolah. Dulu sih nggak paham bahayanya. Pokoknya cuma pengin ikut kakak masuk SD aja, titik. Soalnya, di TK itu gue sering dibuli. Elah anak TK aja mainnya buli xD Nggak segitunya, sih. Gue cuma sering diisengin sama satu anak cewek yang brutal banget. Jadi, begitu gue yang di TK Kecil harus naik ke TK Besar dan melihat kenyataan kalau kakak gue yang di TK Besar lulus dan bakal pindah sekolah ke SD, gue langsung pengin ikutan pindah.

"Tapi kamu belum TK Besar..." kata nyokap gue waktu itu.

"Biariiin... Lagian di TK kan cuma main-main aja...Pokoknya aku mau masuk SD!" belagu banget gue waktu TK yak.

Sejujurnya orangtua gue nggak setuju gue masuk SD di umur empat tahun lewat beberapa bulan. Buset, lima tahun aja belum ada. Saat itu batas minimal masuk SD adalah 6 tahun. Dan kakak gue pas banget baru ulang tahun yang ke-6. Tapi entah dorongan dari mana, gue maksa banget mau masuk SD meski belum cukup umur.

Akhirnya nyokap gue pun membawa gue ke SD tempat kakak gue belajar. Niatannya sih supaya gue ditolak langsung sama kepala sekolahnya. Tapi yang terjadi adalah, gue nangis meraung-raung di depan kepala sekolah sambil guling-gulingan di lantai dan minta dia masukin gue ke SD. Bukan cuma nyokap gue yang pusing, tapi pak kepala sekolah ikutan pusing.

Akhirnya, kepala sekolah bilang gini, "kalau mau masuk SD, kamu harus bisa baca, lho. Kamu mau dites baca?"

Gue mengangguk.

Dan entah keajaiban dari mana, gue bisa baca soal yang dikasih kepala sekolah meski belum sempurna mungkin karena komik-komik dan majalah bobo yang numpuk di rumah. Padahal katanya itu akal-akalan dia doang supaya gue nggak masuk SD. Soalnya dulu untuk masuk SD nggak ada tes begituan. Semua murid baru mulai belajar baca "INI BUDI" dan "INI IBU BUDI" ya di kelas satu.

Akhirnya karena nggak punya alasan untuk menolak, gue pun boleh masuk SD kelas satu. Kakak gue waktu itu sempet bingung kenapa gue jadi seangkatan ama dia. Wahahaha. Untungnya kelas kami beda. Dia di kelas A dan gue di kelas B. Nyokap yang minta kepala sekolah supaya kami nggak berada di kelas yang sama.


Nah, begitu baca soal BLAST (Bored Lonely Angry Stress Tired), gue langsung keingetan kasus gue sendiri. Sebenernya, pernah nggak ya gue kena salah satu dampak negatif gara-gara sekolah kecepetan?

Seinget gue sih, gue lumayan nangkep pelajaran awal-awal di SD. Karena sebelum gue masuk SD, kepala sekolah bilang ke nyokap kalau gue boleh masuk dengan status 'percobaan'. Artinya, kalau gue nggak bisa ngikutin, ya gue harus keluar dari SD. Buset anak SD aja pake status percobaan segala. Tapi pada akhirnya gue nggak pernah dikeluarkan karena bisa mengikuti pelajaran dengan baik.

Mungkin, satu-satunya kemunduran belajar yang gue alami itu waktu kelas 3-4. Entah kenapa waktu itu gue blank banget. Rasanya mau belajar apa pun percuma. Denger penjelasan guru aja rasanya kayak masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Nilai gue pun anjlok. Ulangan beberapa kali dapet nilai nol yang berarti gue nggak ngerti sama sekali apa yang gue pelajarin. Nilai raport gue pun banyak yang merah. Rasanya bisa naik kelas aja udah beruntung.

Tapi untungnya, gue nggak tambah stress karena orangtua gue nggak pernah maksa gue dapet nilai bagus. Yang seangkatan sama gue pasti tau soal pemberlakuan UAN untuk lulus SMA (waktu itu nilai minimalnya 4,01) yang bikin murid-murid pada stress sampe pada ikut les tambahan, ngadain doa bersama sebelum UAN, sampe yang bela-belain bayar mahal demi kunci jawaban. Tapi waktu itu nyokap gue malah bilang "kalau misalnya kamu nggak lulus, nggak usah stress ya. Mama nggak marah, kok." Laah... kan aye bingung harus seneng ato sedih....

Ya pokoknya gitu, deh. Nyokap dari dulu emang nggak pernah maksa gue harus pinter apa, ikut les apa, pokoknya asal lulus sekolah aja, deh.... Wait--barusan gue nulis beliau juga nggak akan marah andai waktu itu gue nggak lulus SMA. orz

Ya intinya, nyokap nggak pernah membebani gue dengan tuntutan yang macem-macem. Semuanya terserah dan tergantung gue sendiri. Jadinya, waktu gue mogok belajar pas SD.... Dibilang mogok, nggak juga sih. Gue tetep belajar, tapi sama sekali nggak ada yang masuk. (Belajar yang gue maksud itu masuk sekolah dan bengong liatin guru jelasin dan nulis di papan tulis, ya. Gue jarang banget belajar di rumah, apalagi kalau deket-deket kasur).

Mungkin gara-gara itu juga abis itu gue membaik. Setelah kelas lima, gue hampir nggak punya masalah dalam pelajaran.

KECUALI KIMIA! DAN BIOLOGI! DAN FISIKA! DAN.... DAN....

AH SUDAHLAH....

Dari semua pelajaran itu emang kimia yang bikin gue rada traumatis, sih...
Abisnya pas masuk SMA dan diperkenalkan sama pelajaran yang namanya kimia, bu guru bilang begini di hari pertama kami belajar. "Kalian hapalkan tabel periodik ya. Minggu depan ibu tes..."

Bu guruuu... tabel periodik itu apaa? Kenapa harus diapalin? Kenapa bentuknya asimetris gini? Kenapa ada warna pink-kuning-ijo-biru? Kenapa banyak kode-kodenya? Kenapa banyak angka-angkanya? Kenapaaaa? Apa faedahnya buat hidup saya buuuuu?

Abis itu gue nggak pernah paham pelajaran kimia karena otak gue keburu bikin benteng duluan saking traumanya.

Yaudah ini kenapa melenceng jauh banget?

Intinya sih, mungkin gue pernah mengalami yang namanya BLAST itu, meskipun nggak dalam waktu yang lama. Dan untungnya berhasil diatasi dan udah nggak ada masalah lagi sampe sekarang. Buktinya sekarang gue tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria. Hahahaha :'D

Tapi gue setuju sama pendapat pakar psikologi kalau anak sebaiknya mulai sekolah di umur yang cukup, untuk menghindari kemungkinan buruk yang akan timbul nantinya. Kalau ketemu anak yang ngeyel masuk sekolah belum pada waktunya kayak gue, perlu dipertimbangkan masak-masak anaknya beneran mampu apa nggak. Soalnya kasian juga kalau minatnya emang belajar tapi dihalangi. Nggak boleh terlalu dipaksa dan dituntut ini-itu. Intinya sih tiap anak beda-beda, makanya treatmentnya juga pasti beda-beda. Kayak rambut.... Aku? Jadi duta shampo lain? *lalu dilempar ke black hole*

Yaudah gitu aja...


Kamis, 15 September 2016

Bibit Korupsi dalam Diri Kita

Pernah nggak merasa kesel sama atasan, pejabat, orang pemerintah, atau malah presiden yang korupsi?

Ya nggak mungkin nggak pernah juga, sih.

Tapi percuma banget kalau teriak-teriak "TOLAK KORUPSI" sementara sama sekali nggak berusaha menjauhkan diri dari korupsi.

"Kapan gue pernah korupsi?"

Mungkin kalo dituduh terang-terangan depan muka, jawabannya pasti gitu. Dulu gue juga gitu. Tapi coba mulai ngaca, deh. Beneran kita nggak pernah korupsi? Masa sih?

Misalnya ada kejadian kalian diminta temen untuk beliin sesuatu. Sekalian karena kalian juga mau beli barang yang sama. Setelah dihitung-hitung, ternyata satu orang kena 14.800 rupiah. Terus, apa kalian akan bilang persis dengan jumlah yang sama, atau langsung membulatkan jadi 15.000?

Lalu misalnya kalian beli sesuatu, dan tanpa sengaja penjualnya ngasih kalian kembalian lebih. Harusnya kembali 2500, tapi dikasih 3000. Dan kebetulan kalian udah jauh dari situ terus baru sadar. Apa kalian bakal lari-lari ke tempat penjual untuk mengembalikan 500 itu atau jalan terus dan mikir "Ah, cuma 500 ini..."

Korupsi itu mengambil uang yang bukan hak kita. Dengan kata lain, mencuri, nilep, apalah apalah. Nggak tergantung besar atau kecil nominalnya. Nilep ya tetep nilep. Sekecil apa pun itu, tetep aja jadinya dosa.

Mungkin selama ini, kita punya kecenderungan untuk meremehkan recehan. Makanya kalau ada masalah uang yang menyangkut receh, mau itu kita yang dirugikan, mau kita yang merugikan orang lain, pasti jarang dianggap serius. Kalau kita berlebihan soal itu, kenalan kalian akan bilang "udahlah, cuma uang segitu aja diributin."

Sayangnya ketika mulai dewasa dan mulai waras, gue sadar kalau bukan jumlah uangnya lah yang perlu diributkan. Tapi pertanggungjawabannya. Begitu gue sadar soal ini, ternyata nggak mudah lo mengubah kebiasaan orang Indonesia yang cukup mendarah daging ini.

Gue yang biasanya kurang teliti soal uang kembalian, sekarang jadi sering ngitung. Terutama kalau kembaliannya kelebihan. Kalau kurang diikhlasin nggak apa-apalah. Tapi kalau kelebihan kan, gue nggak tau penjualnya ikhlas apa nggak. Jadi lebih baik langsung kembalikan sesegera mungkin.

Kalau beli sesuatu bareng temen dengan cara patungan, kasih tahu temen-temen hingga nominal terkecilnya. Jangan sampai langsung dibulatkan ke atas dan berpikir kalau temen kamu nggak akan masalah dengan itu. Kalau setelahnya temen kamu bilang dibulatkan saja, ya nggak masalah. Kalau temen kamu bilang, ambil saja kembaliannya, ya nggak masalah juga. Intinya, nggak ada nominal yang disembunyikan secara sengaja meski itu cuma 50 perak.

Terus, sejujurnya sampai sekarang sih gue agak males untuk menyebutkan hingga nominal terkecil. Iya, gue masih sering langsung membulatkan jumlah uang. Tapi sekarang diganti dengan membulatkan jumlah uang ke bawah, bukan ke atas. Yang jelas rugi gue sendiri, tapi kan gue bisa memastikan kalau gue ikhlas dan nggak ada masalah dengan nominal uang yang kurang itu.

Selain itu masih banyak banget contoh-contoh korupsi yang sebenernya nggak kita sadari. Coba deh teliti lagi kalau soal uang. Mungkin aja tanpa sadar kamu pake uang kegiatan untuk makan dengan dalih 'anggep aja ongkos gue kerja', padahal di catatan kegiatannya nggak ada tuh jatah buat makan. Kalau kamu bilang ke panitia lain sih mungkin akan dimaklumi, tapi kamu kan nggak akan tahu pasti juga. Siapa tahu ternyata uangnya bener-bener mepet bahkan mungkin kurang. Itu berarti kamu bukan cuma merugikan satu orang, tapi juga semua orang yang terlibat dalam kegiatan itu.

Urusan sama uang ini emang ngeri-ngeri gimana gitu. Jadi lebih hati-hati lagi ya soal ini.

Rasanya setelah sadar soal kebiasaan-kebiasaan buruk ini, nggak heran deh begitu dapet kekuasaan yang lebih tinggi, orang-orang nggak merasa terlalu bersalah pas korupsi. Tukang angkot aja banyak yang nggak ngasih kembalian kalau kita ngasih uang lebih, kok :v

Harusnya bukan budaya "pakai uang pas" yang digalakkan di negeri kita. Tapi "berikan kembalian yang sesuai".

Gitu deh....

Kenapa mendadak gue nulis ginian, yak? Padahal pemilu masih lama :v

Rabu, 14 September 2016

[Flashfiction] Dark Soul and White Thunder


DARK SOUL AND WHITE THUNDER

Tahu rasanya dibilang 'imut' saat kau meraung sekuat tenaga dan menunjukkan taring-taringmu yang begitu tajam?

Sakit.

Dan begitulah tepatnya yang kurasakan saat seorang--oke, dua orang--anak perempuan di hadapanku melihatku dengan tatapan berbinar-binar, dan bukannya lari terbirit-birit karena takut.

"Dia benar-benar menggemaskan!" seru salah seorang anak perempuan dengan rambut kepang.

Aku pun menoleh pada White Thunder, teman seperjuanganku sejak kami masih kecil. Aku yakin dia sama bingungnya denganku. Mungkin kami bisa melupakan pertengkaran kami soal perebutan tahta tertinggi dalam kawanan dan bekerjasama membaca situasi saat ini.

"Apa?" tanyanya datar saat sadar aku sedang menatapnya.

"Ini maksudnya apa?" tanyaku balik.

White Thunder menggeleng lelah sambil menghembuskan napas panjang. "Kenapa sih kamu selalu lama sekali membaca situasi?" omelnya.

Oke, kuakui aku memang lemah dalam hal itu. Tapi situasi saat ini benar-benar tak masuk akal! Bukannya kami berdua sedang bertarung habis-habisan di tebing? Kenapa sekarang kami berada di kamar bernuansa pink milik dua anak perempuan ini? Lagipula meski kutaksir mereka baru berumur belasan tahun, kenapa tubuh mereka besar sekali? Anak-anak seperti mereka seharusnya menjadi santapan siang kaum kami--camilan, malah.

"Dark Soul, We're already dead!" seru White Thunder tak sabaran.

"WHAT!?"

Aku. Sudah. Mati?

Serius?

Kapan?

"Oh, please. Aku enggak harus mengingatkanmu juga kenapa kita berdua mati, kan?"

Aku melihat White Thunder dengan tatapan kosong. Dan tampaknya dia sadar kalau dia terpaksa memberitahuku semuanya.

"Ini gara-gara kau kepeleset kulit pisang sialan itu saat kita bertarung! Kita berdua terjatuh dari tebing dan mati! Ini semua salahmu!"

Ya ampun, aku tidak pernah menyangka dua serigala terkuat kebanggaan kawanan harus mati dengan cara super konyol begitu. Kupikir White Thunder bercanda, tapi serigala yang terlalu serius seperti dirinya mana pernah bercanda?

"Lalu kenapa sekarang kita berada di sini?" tanyaku bloon.

"Aku tahu kamu bolot. Tapi masa sih kamu tidak pernah mendengar mitos yang sering diceritakan tetua kawanan?"

Aku menggeleng tak mengerti.

"Kalau kita mati dengan tidak tenang dan berubah jadi arwah, manusia dengan kekuatan khusus seperti Thalia dan Bianca bisa memanggil kita untuk menjadi elemen kekuatannya."

"Thalia dan Bianca itu dua anak kembar ini?" Pertanyaan bodoh. Tentu saja begitu, kan? White Thunder pun mengangguk mengiyakan.

"Jadi intinya..."

"Intinya, kita jadi peliharaan manusia!" potong White Thunder tak sabar.

Ya ampun, bunuh saja aku sekali lagi.

___

"Lihat Bianca! Yang hitam ini imut banget!" Thalia bersorak kegirangan.

"Ya ya ya. Yang hitam boleh untukmu. Aku ingin yang putih ini," kata Bianca.

"Oke, Blackie untukku!" Thalia memeluk Dark Soul sekuat tenaga dan membuat White Thunder tertawa terbahak-bahak akan nama baru yang didapat temannya itu.

"Tenang saja, kau juga dapat nama, kok. Marshmallow," ucap Bianca dengan senyum di wajahnya.

White Thunder pun mematung.

END

Seperti biasa, ini hasil tulisan kegiatan Malam Narasi One Week One Paper. Enggak ada ide banget pertama kali liat gambarnya. Mungkin karena gambarnya terlalu bagus juga, sih. Hahaha.

Pagi-pagi udah mikir ke sana ke mari mau buat tulisan apa. Mau bikin bertema HITAM-PUTIH dan mengabaikan serigalanya, ntar disangka talk show. Mau bikin romens antara orang berkulit hitam dan orang kulit putih ntar disangka rasis. Mau bikin cewek albino, tapi nggak ada ide buat eksekusinya. Dan 'serigala hitam'nya malah nggak dianggep. Duh....

Untungnya akhirnya bisa nulis walaupun agak dipaksa. Dan cukup puas juga sama hasilnya :)
Day 3! SAFEEE!! UHUY! 

Jumat, 09 September 2016

Antara Membaca Buku dan Menonton Film

Judulnya....

Perdebatan lama banget ini mah :))

Ada yang suka nonton film lebih dulu baru baca novelnya. Ada yang lebih suka baca novelnya dulu sebelum nonton. Ada yang suka nonton doang, dan ada yang suka baca doang.

Kalo gue sih tergantung ceritanya. Meskipun biasanya lebih suka baca dulu baru nonton. Tapi menurut gue, sebenernya dua aspek ini susah banget untuk dibandingkan karena medianya emang beda. Kalau mau ngebandingin film, jangan sama bukunya, tapi sama film lain. Begitu juga buku.

Jadi, sejujurnya gue enggak masalah kalau film yang diangkat dari buku hasilnya akan beda. Gue tetap akan menilai film itu dari kacamata 'penonton', bukan 'pembaca'.

Tapi yang mau gue bahas bukan itu, sih...
*Lalu dipaketin ke Timbuktu*

Gue mau bahas soal dua macam manusia, yakni manusia yang lebih suka disodori visual dan manusia yang lebih suka disodori tulisan.

Kebanyakan manusia, lebih suka yang visual. Jelas karena adegannya, bentuknya, dan segala macamnya terlihat jelas saat nonton. Mereka akan berpikir "Apa sih serunya lihat tulisan doang? Asikan nonton, ada gambarnya... bergerak lagi..."

Tapi bagi jenis manusia yang satu lagi, deretan tulisan terasa jauh lebih menarik dari efek visual semahal apa pun. Kenapa?

Gue bisa jawab ini karena gue adalah tipe manusia jenis kedua.

Yang pertama, dibanding efek visualisasi semahal apa pun, imajinasi dalam otak manusia itu jauh lebih canggih. Dengan disodori tulisan, manusia bisa memvisualisasi cerita tersebut SEBEBAS-BEBASNYA. Dan bagi manusia yang memang senang mengimajinasikan segala macam hal dalam otaknya, membaca adalah bentuk rangsangan yang luar biasa. Kecuali pas baca buku pelajaran, sih. Gue masih susah mengimajinasikan gambaran proton dan elektron sampe sekarang. Mereka punya masalah apa, sih!? Ganti-ganti pasangan mulu.

Yang kedua, menjadi pembaca itu artinya memiliki kekuatan untuk mengendalikan tempo cerita. And this is what I really like about reading. Kalau nonton sesuatu, waktunya pasti udah jelas. Film berdurasi dua jam ya pasti akan habis dalam dua jam. Kalau sengaja di-skip supaya cepat, mungkin akan ada adegan-adegan penting yang terlewat. Sementara saat membaca buku, cepat atau lambatnya cerita itu habis tergantung pembacanya. Gue bisa menyelesaikan dengan cepat novel yang memiliki karakter sedikit dan konfliknya tidak terlalu banyak. Setelah baca, lalu gue pun mengucap syukur Alhamdulillah karena akhirnya novelnya selesai juga. Bisa juga selesai lebih cepat karena gue drop saking ngeboseninnya. Bisa juga selesai cepat karena kalau tidak dibaca dengan tempo yang cepat, maka kesan menegangkannya akan hilang.

Sementara untuk novel yang padat informasi dan agak sulit dicerna, lebih asik kalau dibaca dengan tempo yang agak santai supaya semua informasi terserap dengan baik. Kayak novel "Deception Point" karya Dan Brown yang lagi gue baca sekarang. Udah sebulan belum selesai-selesai juga bacanya. Wakakakaka. Oke, ini di luar masalah kalau gue juga sibuk, sih.

Tapi, biasanya gue bisa menyelesaikan novel Dan Brown yang lain dalam 2-3 hari. Padahal semua novel dia kan berjenis buku bantal gitu. Besar, tebal, dan sangat cocok dijadikan bantal. Soalnya semua novel dia sebelumnya itu selalu mengangkat tema sejarah yang kelam, simbol, dan kode-kode unik. Nggak membutuhkan waktu lama untuk dicerna.

Sementara novel Deception Point ini membahas intrik politik yang sejujurnya kurang menarik buat gue. Di samping itu ada juga intrik NASA dan intel. Berat banget! Dari awal, gue butuh waktu untuk mencerna teknologi-teknologi canggih yang digunakan NASA dan intel ini. Malah, sebagian besarnya gue nggak bisa menggambarkan lewat imajinasi. Tapi gue lebih fokus ke fungsi teknologi-teknologi canggih itu. Jadi secara jalan cerita, nggak masalah. Nah, udah disuguhi tulisan-tulisan sci-fi yang ciamik gitu, ditambah lagi intrik politik yang dalam. Kebohongan demi kebohongan terungkap, sampai akhirnya gue sendiri kliyengan ini siapa yang ngebohongin siapa. Jalan ceritanya bener-bener nggak ketebak dan tiap chapter gue berasa dipermainkan sama si penulis. Ini hampir aja gue teriak-teriak di foodcourt mall gara-gara fakta baru yang terungkap sama intel dalam novel ini. Akhirnya cuma bisa hentak-hentak kaki saking frustasinya gimana menyalurkan ketegangan.

Rasanya pengin banget menyampaikan ke semua umat kalau... BACA ITU ASIK LOH!!

Buku yang bikin jantung gue kelewat bekerja keras, dan paru-paru melupakan tugasnya untuk menghisap oksigen dari udara

Kamis, 08 September 2016

Signs of a Broken Heart

Pernah enggak kamu benar-benar berharap memiliki sesuatu?

Lalu, pernahkah ketika akhirnya kamu bisa memiliki sesuatu itu, seseorang merebutnya darimu? Apa yang kau rasakan saat seperti itu?

Sakit. Pasti begitu, kan?

Itu reaksi yang normal, kan?

_____

Saat mulai beranjak dewasa, lingkunganmu pasti berubah. Dan perubahan lingkungan itu sedikit banyak pasti juga mengubah pola pikirmu. Tadinya, lingkungan di sekitarmu hanya bertanya 'sudah makan, belum?', 'mau main apa hari ini?', atau 'jajan es krim, yuk!'. Sekarang lingkunganmu berubah total. Terutama, jika kamu seorang anak perempuan.

"Aku suka si ini..."

"Aku suka si itu..."

"Kamu suka siapa?" tanya seorang temanku saat itu yang membuatku gelagapan.

Bisa saja aku bilang 'tidak ada', karena memang saat itu aku belum berpikir sampai sana. For God sake! I'm still ten years old! 

Tapi jika kujawab seperti itu, aku akan dianggap pembohong. Aku akan dianggap tidak mengikuti aturan dasar berada di dalam geng berisi anak-anak perempuan. Aturannya, jika seseorang mengatakan satu rahasia seperti cowok yang ia suka, maka semua temannya harus memberikan rahasia yang sama. Pertukaran setara istilahnya kalau kalian pernah menonton atau membaca Full Metal Alchemist.

Never? Ok, it just me then.

Tak heran teman-temanku menganggapku aneh.

Balik ke pertanyaan tadi. Aku. Suka. Siapa?

Pada akhirnya aku hanya menyebutkan nama teman sekelas yang cukup akrab denganku. Akrab, tapi tidak sampai membuatku ingin terus berada bersamanya, sih.

Dan dengan jawaban itu kuharap mereka puas.

____

Seiring bertambahnya umur. Aku pun mulai berpikir. Kenapa hampir semua teman sekolahku punya orang yang mereka sukai? Kenapa? Apa memang harus begitu? Kalau memang seharusnya begitu, kenapa aku tidak punya seorangpun yang bisa kusukai? Yang bisa selalu kupandang saat aku datang ke sekolah. Yang bisa membuatku sedikit bersemangat datang ke sekolah alih-alih beralasan sakit supaya dibolehkan bolos. Yang bisa kujadikan sasaran permainan tingkat kecocokan menggunakan nama panjang kami berdua.

Aku selalu memikirkan hal itu meski tetap tak bisa kutemukan seseorang yang seperti itu. Anehnya, ketika seharusnya aku fokus ke ujian akhir nasional, seseorang itu justru datang ke depan mukaku. Tiba-tiba saja dia mulai mendekatiku.

Dan anehnya, tidak seperti sebelum-sebelumnya, aku tidak keberatan. Kedekatan kami begitu menyenangkan. Dan dia telah menjadi alasan aku begitu semangat berangkat ke sekolah meski saat itu try out terus menghampiri kami. Tentu saja, saat itu aku mengerti perasaan teman-temanku beberapa tahun yang lalu. Jadi seperti ini rasanya memiliki seseorang yang selalu ingin kau lihat?

Kupikir hubungan kami cukup seperti ini. Tetap menjadi teman, namun lebih akrab ketimbang teman-teman yang lain. Lagipula aku cukup menikmatinya. Biar pun teman-teman yang lain bilang kalau aku tidak bisa disebut 'memilikinya' kalau belum pacaran dengannya, aku tak peduli. Aku memilikinya sebagai alasan supaya aku semangat berangkat ke sekolah setiap hari. Itu cukup.

Suatu hari, dia mengambil langkah tak terduga yang membuat semua kesenanganku lenyap. Meski tak pernah bertanya alamatku, siang itu dia datang ke rumahku. Entah bagaimana caranya dia tahu alamatku.

Saat ia datang, aku sedang 'berantakan'. Tentu saja dengan rambut riap-riapan, celana belel dan kaos rombeng. Meski dia sudah terlanjur melihatku, aku segera berlari ke dalam dan berusaha sedikit merapikan diri--meskipun pada akhirnya hanya sisiran saja, sih.

Aku benar-benar tak bisa menduga kedatangannya. Dan saat itu, jantungku benar-benar berdebar keras. Mau apa dia?

Apa dia mau...

"Gue boleh minta tolong ke lo, nggak? Gue udah lama suka sama temen lo, si Vanya. Tapi susah buat gue mendekat karena kita beda kelas. Dan gue liat, lo sering banget jalan bareng dia."

JEDEERRR!! Suara petir menggelegar.

"Ma! Kecilin TV-nya!" Ternyata ibuku sedang menonton sinetron dengan suara kencang. Dan kebetulan ada adegan ibu tiri yang kesambar petir.

Aku memusatkan kembali perhatianku pada pengakuan cowok di hadapanku. Dia bilang dia suka Vanya? Jadi berarti tatapannya yang selalu ke arahku saat kami berada di luar kelas itu sebenarnya untuk Vanya? Obrolan-obrolan menyenangkan selama ini juga sebenarnya agar dia punya alasan untuk mendekati Vanya dengan aku sebagai perantara?

Jadi ini maksud kamu, Leonard?

Maaf, sengaja pakai nama samaran. Sengaja aku pilih nama samaran yang keren, supaya mirip Leonardo di Caprio.

Sebentar, bagaimana kalau malah ada yang menyangka dia seperti Leonard Hofstadter? Oke dia ilmuwan fisika terapan yang handal, baik hati, dan lucu. Tapi dia cupu. Dan cowok yang berada di hadapanku jelas tidak cupu. Tapi menyebalkan.

Ya, kini aku membencinya karena dia sendirilah yang menjadi alasan hilangnya sesuatu yang pernah kumiliki. Kini, dengan alasan yang telah hilang, aku kembali malas datang ke sekolah setiap hari. Selama tiga hari sekali aku pasti mencoba berpura-pura sakit agar tidak masuk sekolah. Meskipun cara itu tidak pernah berhasil di hadapan ibuku, sih. Tapi tetap saja. Dia menghilangkan alasanku untuk datang ke sekolah dengan perasaan bahagia.

Apa ini patah hati?

Rasanya bukan.

Bagaimana kamu bisa patah hati kalau belum jatuh cinta?

Patah hati itu kalau kau sudah jatuh cinta pada rasa coffee sundae-nya Lotteria, lalu tiba-tiba produk itu menghilang dari pasaran. Selamanya. Tanpa alasan yang jelas.

That's definitely gonna break my heart into pieces.


END

Gue nulis apaan sih, ini? 。゚(TヮT)゚。

Temanya patah hati, sih. Seperti yang gue tulis di atas, "Bagaimana kamu bisa patah hati kalau belum jatuh cinta?"

Patah hati terhebat gue sama cowok ya itu. Begitu. Tapi setelah dipikir-pikir, gue enggak suka-suka banget, makanya enggak terlalu berasa.

Malah patah hati sama es sundae kopi Lotteria itu yang gawat. Udah terlanjur jatuh cinta sama rasanya. Gimana dong? Mana udah kecanduan kafein pula ゜+.(。´>艸<)*.☆ (I NEED THAT COFFEE ICE CREAAMM!!)

Sudahlah, ini kan tulisan seseorang yang telat puber dan nggak berharap apa-apa buat menang. Cuma lagi pengin nulis aja, hehe.

Tulisan gaje di atas diikutkan dalam lomba:

Selasa, 06 September 2016

[Flashfiction] Tak Ada Preman yang Tak Sempurna

"Bon! Siap-siap! Preman macam apa lo!" Coki lagi-lagi mengomeli Bon-bon yang sibuk menghabiskan es bon-bon favoritnya. Tak perlu dijelaskan darimana dia mendapatkan nama panggilan seperti itu.

"Bentar, Cok. Nanggung..." rengek Bon-bon.

"Keburu bubar itu SMA Timur! Ayok kita berangkat!" teriaknya lagi.

Coki mendapat julukan seperti itu bukan karena doyan coki-coki, tapi karena kulitnya yang mirip coki-coki saking seringnya terbakar matahari. Dia memang pimpinan preman paling gahar seantero sekolah. Bahkan anak-anak sekolah lain pun takut padanya.

Sayangnya anak-anak SMA Timur tampaknya belum mendengar apa pun soal Coki. Sewaktu school visit minggu lalu, anak-anak SMA Timur menggondol habis hadiah yang telah disiapkan panitia. Padahal biasanya anak-anak sekolah lain kalah atau sengaja kalah kalau harus melawan Coki and the genk.

"Oke, kita berangkat!" seru Coki mengobarkan semangat teman-teman preman sekolah lainnya. Ia melihat sekeliling dan akhirnya sadar, "mana si Untung?"

"Nggak ikutan bos, katanya mau belajar. Besok ujian."

"Aaah!! Lembek kali tu anak!! Jadi preman terlalu rajin dia!" Yang lain mengangguk-angguk setuju.

---
Untuk ke SMA Timur, mereka harus berjalan lebih jauh dari biasanya. Bahkan, mereka harus melewati sawah yang cukup luas.

"GUK! GUK! GUK!" seru anjing yang merasa wilayahnya terusik.

Beberapa orang mundur ketakutan karena ukuran anjing itu cukup besar. Tapi tidak dengan Coki. Dia mengayunkan batang kayu ke tanah hingga menimbulkan suara cukup keras dan membuat anjing itu lari pontang-panting. Teman-temannya pun menyoraki Coki dengan bangga.

Belum jauh berjalan, kali ini mereka berpapasan dengan segerombolan angsa. Tentunya, angsa bukanlah makhluk hidup yang mengancam, apalagi untuk Coki.

Tapi kenyataan berkata lain. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Coki menjatuhkan kayu yang ia pegang dan lari tunggang-langgang. Dan penyerbuan ke SMA Timur pun dibatalkan.

----

"Gue nggak peduli! Udah gue bilang soang itu ngeri cooy!! Lo kalo belom pernah dipatok soang, nggak usah ngomong!!"

Seharian itu, Coki teringat masa kecilnya yang begitu mengerikan. Ingin main petak umpet bersama angsa-angsa cantik di pinggir danau, malah kena patuk berkali-kali. Rasanya malam itu ia tidak bisa tidur nyenyak mengingat trauma masa kecilnya itu.


#MalamNarasiOWOP #OneWeekOnePaper

-nana-
6-9-2016


Minggu, 04 September 2016

Why I Stop Postcrossing

Dari dulu gue punya BANYAK BANGET hobi. Nah, salah satunya adalah berkirim surat dan kartu pos. Kesannya kampungan banget emang. Tapi sumpah, perasaan saat nerima kiriman surat atau kartu pos lengkap dengan perangkonya itu... sulit digambarkan. POKOKNYA BAHAGIA BANGET!

Hobi ini udah mulai sejak gue SD dan udah bisa nulis mulai dari gaya ceker ayam sampe gaya nulis sambung yang dulu dibilangnya nulis bagus. Dulu yang gak nulis sambung itu berarti nulis jelek. Padahal tulisan sambung gue lebih jelek daripada....ah sudahlah, kenapa jadi bahas tulisan?

Intinya, sejak bisa nulis, gue suka banget ngirim surat. Dulu sih yang jadi sasaran ya redaksi majalah bobo dan redaksi tabloid fantasia. Kalau bobo, biasanya gue nyari teman pena, dan nulis surat pembaca. Kalau fantasia, gue mengincar hadiah dengan ikutan kuis-kuisnya :) Semakin nambah umur, gue makin rajin nulis surat. Terutama sama temen-temen gue di Malang yang kayaknya sedih banget gue tinggal ke Jakarta (atau itu cuma perasaan gue doang). Saat itu belum jaman yang namanya email. SMS bisa sih, tapi gue belum dibeliin HP karena masih SMP dan saat itu HP masih mahal banget.

Hobi ini sempet berhenti begitu teknologi melesat begitu cepat. Gue udah pernah cerita sebelumnya betapa gue membenci kecepatan berkembangnya teknologi di sini. Bukan gue yang mau berhenti surat-suratan sebenernya. Tapi temen-temen gue yang masih mau surat-suratan lah yang mendadak hilang D: Sediiiiihh....

Sampai akhirnya gue nemu web bernama Postcrossing
Dan gue TERGILA-GILA!!

Sistem di web itu oke banget! Intinya setelah daftar, kita bisa request alamat random sampai 5 kali. Alamat random ini tersebar di seluruh dunia. Jadi dari Amerika, sampe Zimbabwe, ada! Terus, kita tinggal kirim kartu pos ke alamat yang dituju. Setelah kartu pos kita diterima sama pemilik alamat random itu, saatnya kita yang menunggu KEJUTAN. Orang lain dari negara yang entah di mana, akan mengirimkan kartu pos untuk kita. Dan kita nggak akan pernah bisa nebak akan dapet kartu pos dari siapa, dan negara mana. HOW EXCITING!!

Dan selama kurang lebih satu tahun, hati gue selalu berbunga-bunga tiap dapet kartu pos random di kotak pos gue. Kadang kartunya biasa aja, tapi tulisannya bagus. Kadang kartunya kece banget, tapi tulisannya acakadut. Tapi intinya, tiap kartu pos punya keunikannya sendiri. Dan mengingat kartu pos itu asli dan dikirim langsung dari negara yang berbeda-beda, selalu membuat gue merasa punya temen di negara itu dan dikasih hadiah langsung dari sana. Gimana gue nggak berbunga-bunga? :)

Bahkan gara-gara tuker-tukeran kartu pos ini, gue sampe temenan sama tukang posnya saking seringnya doi mampir ke rumah gue nganterin kartu pos. Gue juga temenan sama pak pos yang ada di kantor pos deket rumah.

Tapi hobi ini akhirnya harus berhenti gara-gara suatu hal. Bukan, bukan negara api yang menyerang...

Tapi karena harga BBM naik...

Harga perangko ikutan naik...

Awalnya sih masih nyoba-nyoba ngirim dengan perangko yang agak mahal sedikit dari biasanya. Kalau biasanya gue kasih perangko 5000-an semua, gue ganti jadi 7000. Sayangnya, lima kartu pos yang kebetulan harusnya dikirim ke Eropa itu akhirnya jadi bumerang. BALIK LAGI KE RUMAH GUE. *nangis*

Gue udah bayar perangko mahal-mahal dan itu kartu pos enggak ada yang sampe. Saking kecewanya, gue mencoba menenangkan diri dan nggak ngirim kartu pos untuk beberapa lama. Setelahnya, gue sempet dapet 1-2 kartu pos dari Thailand dan Belanda. Kartu pos itu cakep banget! Jadi, gue memutuskan untuk nggak berhenti gitu aja. Karena gue masih mau dapet kartu pos lain yang lebih cakep lagi.

TAPIIII...

Meski gue udah pakein perangko 10.000, kartu pos gue tetep balik ke rumah...
MAMAAAAAAAAA.....
Duit gue 70.000 buat beli kartu pos dan perangko semuanya sia-sia....

Ngeluarin segitu tiap kali ngirim 5 kartu pos itu nggak gampang. Bisa dibilang, ini hobi gue yang cukup nguras kantong, sih.

Dan akhirnya gue memutuskan untuk berhenti karena keuangan gue saat itu tidak memungkinkan (T____T) Maunya lanjut lagi kalau udah punya duit banyak. Tapi entahlah...

Selama Pos Indonesia sistemnya masih kacau begini, kayaknya nggak deh. Gue masih trauma. Paling sih ngirim surat ke Okaasan di Jepang aja. Sama ngirim ke beberapa temen di sana. Untungnya kalo ke Jepang baru gagal sekali (tetep aja ada gagalnya, dan ini gak balik ke alamat gue juga. KESEL!).

Barusan juga baca tulisan dari orang Slovakia yang pernah ke Indonesia dan protes karena tarif perangko untuk pengiriman kartu pos di tiap kantor pos beda-beda. Udah gitu ada tukang pos yang nggak tau tarif perangko, pula. Di webnya pun nggak ada tarif perangko yang pasti. Kan apa banget... (._____.)

Masalah-masalah ini belum termasuk paket yang terkadang dibuka seenaknya dan (kadang) diambil juga isinya.

Duh, semoga Pos Indonesia bisa lebih profesional lagi deh. Kalau masa itu tiba, mungkin gue bakal ikutan postcrossing lagi. Kangeeeeennn....

Di postingan ini ada foto-foto saat gue kebanjiran kartu pos di kotak pos tercinta gue...
http://chocobanana99.blogspot.co.id/2012/09/banjir-kartu-pos-dan-kotak-surat-buatan.html

Rabu, 31 Agustus 2016

[Flashfiction] The Dictator's Son

"Tapi Tuan, tidak seharusnya kita—"

“Ssstt! Bisa enggak sih kamu diam? Kamu cuma pengawal!” hardikku seraya mencubit pinggangnya.

Dia mengaduh kesakitan, namun tak berani berkata apa-apa lagi. Dengan wajah penuh kecemasan, ia pun tetap berada di belakangku yang sama sekali tidak membuka penyamaran dengan kacamata hitam dan rambut palsu yang sangat catchy ini. Untung rambut asliku sangat cepak, sehingga tak ada seorangpun yang menatapku curiga dengan rambut ala boyband yang poninya terlalu panjang hingga hampir menutupi mata ini. Agak gatal, sih. Tapi demi penyamaran sempurna, apa pun akan kulakukan.

“Seharusnya kamu bersyukur,” kataku pada pengawalku. “Kapan lagi kamu bisa menikmati hidup seperti ini kalau tidak pergi bersamaku?”

“Tapi Tuan Jong-Min, ayah anda pasti marah besar kalau tahu anda melewati perbatasan dan datang ke sini…”

“Dong-Wan, kamu ngerti enggak sih apa tujuan utama penyamaran?” balasku sarkas. “Ya jangan sampai ayah tahu, lah! Dan itu tugasmu untuk menutupinya. Soalnya, kamu pasti digantung kalau sampai rahasia ini bocor.”

Dong-Wan menelan ludah. Malang sekali nasibnya harus menanggung risiko besar karena pergi bersamaku. Tapi apa boleh buat. Sudah lama aku bermimpi untuk sampai ke tempat ini. Sudah bertahun-tahun aku sembunyi-sembunyi agar ayah sama sekali tidak bisa melacak jejakku mencari tiket agar bisa hadir di sini. Dan sekarang, aku ingin menikmati kebebasan sejenak meski dibaliknya ada risiko teramat besar yang harus kutanggung.



Nana Curhat Lagi Soal Kerjaan

Aduh akhir-akhir ini blog gue beneran random. Bukannya dari dulu?

Yah, ini mendadak gue mau curhat aja soal kerjaan gue. Bukannya gue enggak suka pekerjaan gue yang sekarang juga, sih. Tapi ya itu.... Ada hal-hal lain yang gue pikirkan soal kerjaan gue sekarang. Dulu banget, gue pernah cerita soal randomnya hidup gue--terutama soal kerjaan--di postingan yang berjudul My Very Random Life. Itu aja udah cukup random bagi seorang mahasiswa bahasa Jepang yang nyari kerjaan sampingan sebagai guru bimbel bahasa Inggris dan Matematika. Gimana lagi ditambah cerita soal kerjaan gue pas jadi jurnalis metropolitan dan olahraga?

Yang penasaran, gue pernah nulis juga soal itu di sini --> Suka Duka Jadi Jurnalis  dan  Follow your Passion

Gilak, baper banget gue baca ulang tulisan gue sendiri yang soal passion itu xDD Soalnya di situ gue menyatakan dengan sangat jelas kalau jadi jurnalis olahraga adalah passion gue. Lalu gue berhenti. HAHAHAHAHAHAHAHAHA #lalunangis

Lalu gue berhasil move on dari jurnalis olahraga setelah membuat postingan ini --> My Lovely New Job
Link di atas adalah cerita soal gue yang akhirnya mendapat pekerjaan sebagai penerjemah tulisan (komik dan me-review novel Jepang) yang sejak SMA gue damba-dambakan.

Enggak lama setelah itu, gue pun mendapat pekerjaan ngajarin bahasa Indonesia ke Orang Jepang. Itu bener-bener pengalaman baru dan sangat menyenangkan. Gue pun menuangkan kisah gue yang satu itu di tulisan ini --> Galau Bingung Bingung (ini judulnya enggak banget karena di waktu yang sama ditawarin jadi jurnalis olahraga lagi. Gaji gue bakal dinaikin! Gimana gue gak galau?)

Itulah cerita singkat soal kerjaan-kerjaan yang pernah gue lakukan sampai saat ini. Belum ditambah cerita jadi penerjemah lisan di perusahaan, jadi pengajar EPA, dan pekerjaan-pekerjaan remeh lain kayak reseller jaket unyu dll. Semua cerita soal kerjaan gue ada di blog. Alhamdulillah, gue jadi bisa lihat kilas balik hidup gue sendiri tiap kali gue ngulang baca blog. Wahahaha. Bener-bener membantu banget buat gue yang lupaan ini. Pas gue baca, gue komen sendiri "Gilak ini orang idupnya random banget! Ke mana sih arah idupnya sebenernya?", sambil ketawa-tawa tentu saja. Karna ini gue sendiri yang nulis. Kurang sinting apa lagi?

Nah, balik lagi. Setelah drama kegalauan itu, gue memutuskan untuk enggak balik jadi jurnalis olahraga dengan beberapa alasan tak terbantahkan yang agak susah gue sebut di sini. Gue nulis alasan-alasan kenapa gue enggak seharusnya menyesal melepas kerjaan sebagai jurnalis di diary gue. Tiap kali gue merasa menyesal, gue pasti liat lagi tulisan itu, terus gue bisa move on deh. Semenjak saat itu, selama kurang lebih dua tahun sampai saat ini, gue kerja freelance sebagai guru bahasa Jepang, guru bahasa Indonesia untuk orang Jepang, dan penerjemah.

Cuma setelah dua tahun ini gue mulai berpikir. Enggak apa-apakah gue terus-terusan kerja freelance begini? Masalahnya bukan kesenangan menjalani kerjaan atau gaji. Karena sejujurnya gue cukup puas dengan apa yang gue dapet, dan gue cukup bahagia juga sama kerjaan gue. Tapi.... apa cukup sampai setingkat ini aja?

That's what I've been thinking off lately...

I feel like... I can do better than this...

Sejujurnya... Sejujur-jujurnya... gue tau kok alasan kenapa gue selalu ganti-ganti kerjaan yang membuat CV gue jadi random banget. It's because none of this job is my REAL passion.

Dari dulu sampe sekarang, impian gue cuma satu. Jadi seorang penulis novel fiksi.

Nah terus, yang gue tulis soal passion di link atas itu apa, dong?

Yah, itu bisa disebut passion juga, sih. Tapi passion yang bukan prioritas gue. Prioritas utama gue ya nulis fiksi. Pekerjaan-pekerjaan di atas adalah pekerjaan yang menopang prioritas utama gue. Karena gue sadar menjadi penulis nggak akan bisa diandalkan untuk mengisi dompet gue. Lagipula, membuat tulisan yang apik juga butuh ide, kan? Bertemu orang-orang baru itu adalah sumber ide yang enggak ada abisnya. Makanya, gue setuju dengan pernyataan Adhitya Mulya yang bilang kalau penting bagi penulis untuk punya pekerjaan lain.

Nah, setelah berpikir masak-masak, gue enggak boleh cuma mentingin prioritas pertama gue dan mengabaikan pekerjaan gue jadi sekedar gaji cukup dan pekerjaan menyenangkan aja. Setelah lama berpikir, dari semua pekerjaan yang gue lakukan, ada pekerjaan yang bener-bener gue suka. Dan gue rasa gue mau ngejar yang satu itu supaya jadi pekerjaan tetap gue. Masalahnya dengan ijazah gue sekarang masih belum cukup. Gue butuh ilmu lebih. Jadi sekarang, meskipun gue masih takut sama yang namanya skripsi/tesis/desertasi dan sejenisnya, gue mau nyoba sekolah lagi.

Gue udah menetapkan hati kok soal jalan hidup gue selanjutnya. Cuma ya itu, biar enggak galau, gue perlu nulis soal ini juga. Sebagai pengingat diri gue di masa depan yang mungkin tiba-tiba bimbang di pertengahan. Istilah kerennya, self reminder gitulah...

Wish me luck... bukan merek rokok

Malam Narasi OWOP - OASIS



"Paman, aku mau ikut berjihad."

Seorang anak menarik ujung seragamku dan menunjukkan kesungguhan atas ucapannya tersebut dengan mimik wajahnya yang keras. Meski demikian, dari wajah yang sama, aku juga melihat kelelahan yang teramat sangat. Tubunya pun kurus kering.

Aku pun menunduk dan mengusap kepalanya. "Mana ayahmu, Nak?" tanyaku padanya.

"Ayah belum pernah pulang sejak dia bilang ingin pergi berjihad," katanya.

Dan aku pun langsung mengerti maksudnya. Dengan segenap rasa iba, aku memeluk anak itu dan mengusap-usap punggungnya. "Pulang ya, Nak. Kamu boleh kembali berjihad saat baligh nanti..."

Mata anak itu menyorotkan kebingungan yang teramat  sangat. "Kenapa? Kenapa aku tidak boleh berjihad sekarang? Aku juga mau masuk surga seperti ayahku!" teriaknya.

Aku mengelus kepalanya lagi untuk meredakan emosinya. Aku juga tersenyum padanya dan mencoba bicara dengan nada yang lebih lembut. Walaupun tidak bisa melakukan apa-apa soal ayahnya yang mungkin telah gugur di medan perang, semoga aku bisa mengalahkan perhatiannya dari keinginan berjihad sekarang.

"Memangnya kalau masuk surga kamu mau minta apa?"

"Kata ayah, semua yang kita mau ada di surga. Jadi, aku mau minta roti..." ia menundukkan kepalanya. Dan rasanya aku tidak mampu lagi membendung air mataku.

Aku tahu kehidupan kami saat ini sangat menyedihkan. Tapi entah kenapa aku bahagia. Di tanah ini, tumbuh banyak anak-anak berhati polos dan selalu berpikir positif akan Tuhannya. Tak seperti kebanyakan manusia yang berpaling ketika mendapatkan cobaan, anak-anak seperti yang di hadapanku ini justru semakin percaya dan menggantungkan nasib mereka kepada Allah. Apalagi yang kami--orang-orang dewasa--bisa selain bersyukur memiliki generasi muda seperti mereka?

Karena tak tahan lagi, aku pun memberikan roti jatahku hari itu. Kami memang hanya mendapatkan jatah sekerat roti untuk sehari. Tapi rasanya hari ini aku cukup kuat untuk menahan lapar hingga esok hari. Lagipula, nyawa anak muda seperti dirinya jauh lebih berharga daripada nyawaku. Dialah salah satu anak yang akan menjadi harapan negeri kami.

Saat menerima roti itu, senyumnya merekah lebar dan matanya seakan tak percaya oleh apa yang baru saja ia dapat. Tapi lagi-lagi anak ini membuatku begitu kagum karena ia tidak langsung pergi dan justru membagi roti itu untuk kami berdua.

"Terima kasih, Paman. Aku minta sedikit saja karena perutku lebih kecil dari Paman." Lalu ia memberikan potekan roti yang lebih besar padaku.

Melihat senyum bahagianya, rasanya seperti melihat ia mandi di oasis yang berada di tengah-tengah gurun yang membakar. Meski negeri kami sedang luluh lantak, ternyata masih ada anak-anak yang bisa tersenyum seperti dirinya.

Terima kasih, Nak. Kamu memberikan alasan lebih bagiku untuk terus berjuang. Berjuang melindungi senyum-senyum lain yang masih tersisa di negeri ini. Serta mengembalikan senyuman-senyuman yang telah lama hilang dari negeri ini.

-nana-
30/8/2016


Gambarnya bikin baper...
Susah nulis ini tanpa mewek....
Semoga adik-adik di sana masih bisa tersenyum gimana pun keadaan mereka sekarang :'(
Aamiin....

Jumat, 26 Agustus 2016

Family, My Number One Priority

Saat didesak deadline, dan justru saat-saat paling sibuk, keinginan nulis justru memuncak setinggi langit. Mungkin karena ini satu-satunya cara yang gue tau untuk kabur sebentar dari kenyataan. Enak, kan? Enggak butuh obat-obatan, minuman keras, atau apa pun yang membahayakan dan juga mahal. Cukup laptop aja. Bentar, laptop juga mahal. Yaudah, kertas sama pulpen pun enggak jadi masalah asal bisa nulis. Krayon sama tembok juga boleh. Lalu didepak ibu kos

Gue mau nulis sesuatu yang hampir enggak pernah gue tulis sebelumnya.

Tentang keluarga.

Yes, I didn't talk much about my family. But it doesn't change the fact that they're my number one priority.

Lalu gue bingung harus mulai dari mana (.____.)

Kalian harus tahu, akward banget sebenernya nulis soal ini. Karena keluarga gue semua bergolongan darah B, dan meskipun karakter berdasarkan golongan darah itu tidak bisa dipastikan 100% benar, ternyata semua anggota keluarga gue tergolong pribadi yang individualis. Kami enggak bicara segala sesuatu yang menye-menye dan terlalu menyangkut perasaan. Semua keputusan biasanya diambil berdasarkan logika, bukan perasaan. Mungkin gara-gara ini ada yang bilang kami enggak punya empati. But, that's definitely not true. All of us have enough empathy, but we choose not to show it sometimes.

Tapi enggak semua sama. Almarhum Mama dan Kakak gue punya karakter yang lebih lembut daripada yang lain. Sisanya, Papa, Gue sendiri, dan dua adik gue adalah karakter yang sangat keras kepala. Jadi, enggak heran kalau kami sering banget berantem gara-gara hal sepele. Soalnya selain keras kepala, kami juga sama-sama enggak mau kalah.

Apalagi gue sama adik gue yang paling kecil. Wah, kalau kita udah berantem, satu rumah ikutan ribut. Entah berapa kali gue bertekad dalam hati untuk sama sekali enggak ngomong sama adik gue itu gara-gara sikapnya yang bener-bener ngeselin. Tapi pada akhirnya, gue tetep enggak bisa ngelakuin itu. Pada akhirnya, kita ngobrol lagi, bercanda lagi. Semua tanpa kata 'maaf' yang terucap. Maybe that's what family is. Tanpa kata maaf pun, gue ngerti. Saat adik gue memberanikan diri ngomong sesuatu ke gue, itulah caranya meminta maaf. Dan gue pun sering melakukan hal yang sama saat gue sadar gue yang salah. Kami sering berantem, tapi entah kenapa enggak pernah lebih dari sehari. Pertengkaran hari ini, enggak akan berlaku besok.

Tapi kebiasaan kami berantem akhirnya hilang seiring bertambahnya usia. Ceilah.

Enggak. Lebih tepatnya sih, setelah Mama enggak ada. Gue selalu inget pesan terakhir Mama. Beliau minta kita akrab, dan saling jaga. Gue rasa, kakak dan adik gue juga enggak bisa lupa pesan itu. Soalnya, sejak detik itu kami enggak pernah berantem lagi meski cuma sekali. Paling kesel-kesel biasa, tapi enggak pernah sampai berantem. Dan sejak saat itu juga gue merasa kita berempat sama-sama saling jaga. They're my back up, and I become their back up too.

Mungkin sampai sekarang pun masih canggung buat kami untuk saling cerita segala hal. Mengingat selain gue semuanya cowok. Cowok kan gak doyan curhat. Dan yang cewek pun ya kayak gue gini. Gak jelas. Tapi kalau ada masalah berat, ke mereka lah pertama kali gue cerita. Dan ke mereka lah pertama kali gue minta bantuan.

They're my number one priority



Kakak gue, yang sebelah kiri, adalah orang yang selalu dimirip-miripin sama gue. Dari SD sampe SMP, kita selalu dibilang kembar. Ya salah gue sih pake acara lompat kelas, jadi kita satu angkatan. Dan udah pastilah semua nyangka kita kembar gara-gara muka mirip, satu angkatan, dan satu sekolah pula. Orang tua gue selalu menyempatkan diri datang ke sekolah dan minta secara pribadi supaya kami pisah kelas. Soalnya kalau satu kelas pasti ribut. Kayak waktu SD dulu.

Belajar dari pengalaman, kami pun pisah sekolah pas SMA. Dan kehidupan gue jadi agak lebih tenang karena enggak dimirip-miripin lagi. Ahahahaha :D

Tapi entah kenapa ada aja temen kakak gue, atau temen gue yang tahu kita mirip. Sampe waktu gue enggak mau ikut ujian, ada yang bilang gini "Itu kakak lo dijilbabin aja biar dia bisa gantiin lo ikut ujian."

APAAN!

Oh iya, FYI, gue enggak manggil kakak gue dengan sebutan Kak, Mas, Abang, atau apa pun. Gue langsung manggil nama karena dari dulu ngerasanya seumur. Secara satu angkatan. I know that's not what it should be. Tapi udah kebiasaan, dan susah banget kalo mulai manggil dengan sebutan apa pun sekarang.

Adik-adik gue ceritanya beda lagi. Adik gue yang pertama (yang sebelah kanan gue), adalah orang tertinggi di keluarga kami. Dan dia adalah satu-satunya makhluk yang berbeda dari kami berempat. Karena selain dia, kami bertiga sering dibilang keturunan China padahal bukan gara-gara kulit putih dan mata yang agak sipit. Kakak gue juga pernah dapet julukan Boboho waktu kecil, karena SUMPAH MIRIP BANGET SAMA BOBOHO XD #plaak

Balik lagi, adik gue yang pertama itu sama sekali enggak ada mirip-miripnya sama kami karena dia jelas enggak sipit dan kulitnya juga enggak putih. Dan dia tinggi banget!
Jadilah dia sering digodain dan dibilang 'ketuker di Rumah Sakit' :))

Nah, adik gue yang terakhir adalah makhluk paling ngeselin sedunia. Dulu kerjaan dia cuma bikin kesel satu keluarga gara-gara susah diatur, kerjaannya main melulu, enggak pernah nurut kata orang tua, sering dipanggil guru BP karena kelakuannya yang enggak sopan, dan sederet kelakuan nakal lainnya. Orang tua gue pun sering dibuat pusing sama kelakuan bocah ini. Apalagi kalau Mama dipanggil ke sekolah dan ditegur sama guru BP adik gue.

Tapi pada akhirnya, Mama ngerti kalau adik gue itu bukannya enggak sopan. Dia cuma terlalu polos dan sama sekali enggak peka sama keadaan sekitar. Pernah waktu itu Mama cerita kenapa dia dipanggil ke sekolah. Guru adik gue bilang dia bingung sama kelakuan adik gue yang aneh.

"Bu, saya enggak ngerti Gatra itu enggak sopan atau terlalu polos. Masa ditanya kenapa terlambat, jawaban dia 'gak papa'? "

Bayangin kejadiannya begini. Adik gue datang terlambat ke sekolah, dan dihadang guru BP. Dengan tampang galak, guru BP bertanya, "Kamu kenapa terlambat!?"

Lalu dengan tampang polos dan tak bersalah, adik gue menjawab, "gak papa."

Pertama, jawaban dia GAK NYAMBUNG. Dan yang kedua, itu NGESELIN banget plis.

Tapi abis itu nyokap gue ketawa gara-gara pas adik gue ditanya kenapa jawabnya begitu, dia bilang "abis kalau ngasih alesan, pasti tetep diomelin juga. Yaudah aku jawab gitu aja."

Dan denger cerita itu, gue ikutan ngakak. Adik bungsu gue ajaib banget, plis :')) Menurut dia, jawaban itu biasa aja karena dia enggak ngerti kapan dan sama siapa aja dia harus ngomong sopan. Dan ini bukan satu-satunya kejadian.

Yang kena getahnya ya adik gue yang pertama. Karena mereka satu sekolah. Wahahaha. Yes, beda umur kami berempat enggak jauh. Paling jauh 2 tahun. Gue dan kakak gue aja cuma beda setahun beberapa bulan. Artinya pas kakak gue masih eksklusif ASI, Mama hamil gue. Dan gue merenggut hak ASI kakak gue. HAHAHAHAHAHA XDD

Nah, adik gue yang pertama selalu ditanya sama guru sekolahnya, kenapa adik bungsu gue kelakuannya ajaib gitu. Ya adik pertama gue bingung juga mesti jawab gimana. Secara dia adalah murid teladan yang selalu dapet peringkat atas di sekolahnya. Sementara adik bungsu gue kerjaannya keluyuran ke warnet dan enggak pulang-pulang.

Sedihnya, adik pertama gue jadi sering dibanding-bandingin sama adik gue yang satu lagi karena mereka BEDA JAUH. Dan menurut adik pertama gue, si bungsu itu adalah orang paling beruntung di keluarga kami. Dia enggak pernah belajar tapi selalu dapet nilai yang cukup. Sementara adik pertama gue struggle nyari kerja yang cocok selama beberapa tahun setelah lulus, adik bungsu gue langsung dapet kerjaan bagus begitu lulus. Soalnya dia langsung diterima di kantor berkat koneksi adik pertama gue yang meninggalkan kesan baik meski udah pindah kantor. Enggak lama kerja di situ, si bungsu ini langsung ditawarin pindah kerja ke Batam, di bidang yang dia suka, dan dengan gaji memuaskan. Gimana adik gue yang satu lagi enggak sebel? xDD

Selain itu, yang paling ngeselin, percaya atau enggak, ADIK BUNGSU GUE PUNYA FANS CLUB!

Gue pikir cerita-cerita macam gini cuma ada di komik, suer. Ternyata adik gue sendiri ngalamin. Wow. Gue takjub aja gitu tiba-tiba ada temen sekolahnya NELPON KE HAPE GUE dari mana nih bocah tau nomer gue?, dan minta gue bukain pintu rumah karena mereka mau ngasih birthday surprise buat adik gue.

BUSET! SEUMUR-UMUR GUE GAK PERNAH DAPET BIRTHDAY SURPRISE! #GIGITBANTAL

Iya, sih. Adik gue yang satu itu emang cakep dari kecil. Duh pasti geer dah ini orang dibilang gitu. Ditambah karakternya yang NERD dan SUPER CUEK, dia bener-bener kayak tokoh komik yang cool gitu kata penggemar-penggemarnya. Enggak tau aja mereka kelakuan aslinya kayak gimana....

Dan itulah sedikit kisah tentang keluarga gue. Merekalah pengaruh terbesar kenapa aura gue (katanya) kayak cowok banget. Yes, gue akui dulu gue tomboi. Tapi sekarang sih gue udah ngerasa enggak tomboi atau gimana gitu. Secara penampilan juga udah jauuuuh banget. Tapi entah kenapa masih ada aja yang bilang gue punya 'sisi cowok'. Bukan cuma temen-temen yang udah lama kenal gue yang bilang gitu, bahkan murid yang baru gue ajar beberapa bulan pun bilang begitu. Dan jujur gue enggak tau deh yang mana yang mereka bilang 'sisi cowok' itu. Akuh kan feminin abis...

Terus pada muntah

Setelah ini mungkin gue akan cerita keluarga gue yang lain :) Keluarga gue di Jepang sana. Hehehe. Jadi kangen Obaasan, Okaasan, Otousan, Ryuuchan....

Ini foto keluarga 6 tahun lalu. Masih lengkap :)) Seakarang udah misah-misah. Wahahaha
Tuh, tiga orang belakang mukanya china, yang paling depan beda sendiri. Hahahaha xD