Rabu, 25 Desember 2013

Persahabatan yang Bermula dari Fanfiction

Sebelum ngebahas apa yang gue tulis di judul, gue mau kasih penjelasan. Sejujurnya, buat gue enggak ada tingkatan teman-sahabat. Bagi gue, temen ya temen, udah. Meski beda intensitas ketemunya, yang namanya temen teteplah temen, gak ada yang ngebedain.

Cuma, gue mau sedikit cerita soal pertemanan gue yang bermula dari fanfiction. Apa sih fanfiction itu? Fanfiction itu hasil tulisan berdasarkan karakter yang udah ada sebelumnya, baik itu karakter dari karya fiksi atau orang beneran. Entah sejak kapan, fanfiction jadi bagian dari hidup gue. Tjiehh...

Gue mulai menulis fanfiction sejak kenal NEWS iye gue penggemar boiben Jepang, terus kenapa?. Fanfiction awal-awal gue diposting di forum NEWS Indonesia dan kebanyakan humor. Awalnya, gue hanya mengambil karakter anak-anak NEWS untuk dibikin fanfic. Tapi lama kelamaan, ada tren di forum untuk bikin fanfic narsis (entah siapa yang mulai), have fun dengan memasukkan karakter sendiri jadi tokoh yang bakal berpasangan sama anak-anak NEWS itu. Kesannya emang otaku banget, delusi banget, tapi seriously, this is fun! :) Iya, menyenangkan, selama enggak ada yang ngerusak dengan menganggap fanfic-fanfic itu serius, kalo itu baru beneran delusi. Ehem, itu lain cerita sih....

Okee, lanjut. Sebenarnya keberadaan beberapa makhluk-makhluk delusi yang menganggap fanfic-fanfic guyonan itu sesuatu yang serius adalah pemicu gue dan kawan-kawan yang lain bertukar fanfic secara pribadi lewat email. Intinya gini, misalnya temen gue bikin karakter gue berpasangan dengan Keichan, terus ada yang enggak suka karena dia suka Keichan dan dia cemburu (plis ini delusi abis, itu kan fanfiiiiic....ketemu orang aslinya aja gue belon kesampean). Yah, kejadian-kejadian begitulah yang bikin gue rikues fanfic secara pribadi, dan bales bikin fanfic rikues temen-temen secara pribadi juga, gak pernah di posting.

Kejadian ini membuat gue, Ruka, Nad, Ruru, sama Cutha jadi akrab. Karena kita berlima selalu muncul di fanfic yang sama. Misalnya Ruka bikin fanfic, munculin kita berlima, gue juga bikin begitu, semuanya bikin begitu dengan ide-ide cerita yang beda-beda. Lalu kita saling komen deh. Kegiatan ini cukup worth it untuk melepas kepenatan belajar kanji masa-masa kuliah waktu itu :) Lalu, entah sejak kapan kita jadi punya livejournal berlima yang isinya update-an fanfic-fanfic gak jelas itu :D

Gue tergerak bikin postingan ini pun gara-gara Ruka tau-tau ngomongin fanfic lama bergenre thriller yang dia bikin, di mana kita berlima ketembak, ketusuk piso, patah tulang, dan hampir mati di rumah sakit. Agak psycho memang, hahahaha :D Lalu gak sengaja liat fanfic bikinan Nad yang judulnya "Rose Rossi e Spinosi" di email jaman kapan itu, yang entah kenapa selalu bikin gue ngakak meski baru baca judulnya. Itu artinya apaan siiiihhh??? Seinget gue artinya geli banget xDD

dari kiri: Cutha, Nad, Gue, Ruru, Ruka, gelar poto sesyen di Bandung
cuplikan fanfic bambina la cinque (nama kita berlima, dan gue lupa artinya apaan):
 ....
Nana berbalik menghadap teman-temannya dan membuat gerakan tangan yang entah apa maksudnya. 
“Psst, katanya mau ngobrol. Udah ngomong sanaaa…” kata Nana dengan suara pelan.

Ruru misuh-misuh, “gue kira mereka-mereka bisa eigo! Kalo gini gimana gue mau ngomong Naaa…. Lo kan tau sendiri Bahasa Jepang kita ya masih tiarap guling-guling gituu…”

“So..sorri…wi aaa nyuu hiaa, auwaa ingguriisu is not very gudd.” (sorry, we’re new here, our English isn’t very good) Shige mencoba meminta maaf.

Kelima cewek tokoh utama langsung menjatuhkan sedikit dagunya sembari berusaha menangkap maksud perkataan mereka. Tanpa banyak basa-basi, mereka berlima pun langsung ambil langkah seribu menjauhi kedelapan cowok itu.

“Aaa, we..weiit puriiss!!” (Ah, wait please!) Shige berusaha menahan mereka berlima meski tampaknya sia-sia.

 ...

Lain lagi dengan temen-temen kuliah gue :D Di kampus, gue juga punya temen-temen kayak yang gue sebut di atas dan kita juga bikin fanfiction. Bedanya, kalo sama anak-anak forum, gue nulis sendiri dengan karakter berlima, kalo sama temen-temen kampus ini kita nulis fanfiction bergilir. Jadi di dalam satu binder, kita bergantian menulis fanficion bersambung, satu orang punya waktu satu minggu untuk nulis yang dia suka.

Fanfiction ini jadinya kocak banget karena.... ANCUR! Yah, bayangin aja, gue, Ruru (beda sama Ruru yang tadi gue sebut), Saachan, Echa, Zu dan Zha nulis fanfic dengan gaya bahasa dan imajinasi masing-masing. Gak nyambung laaah jadinyaa :)) Apalagi tokoh-tokoh yang dimasukin itu aneh-aneh, ada yang artis Jepang, ada yang mangaka, ada yang dari anime, bahkan aa Jimi pun ikut ambil bagian. Bener-bener campur aduk.

Yang lebih kocak, Ruru selalu ketempuan benerin tulisan Echa yang ngaco karena dapet giliran nulis abis dia. Dari yang memperjelas penuturan di fanfic Echa, sampe usaha terakhir, bikin cerita yang ditulis Echa itu cuma imajinasi. Bener-bener kacau deh :D

Tapi lagi-lagi, fanfiction bergilir ini membuat kepenatan otak dari pelajaran-pelajaran di kampus terobati. Tiap minggu saat satu orang udah nyelesein fanfic bikinannya, kita bisa kumpul bareng dan ngakak-ngakak saking anehnya fanfic itu.

Fanfic pertama yang berjudul "Panti Takarai" itu selesai dengan sukses dan terbundel rapi dalam satu binder yang jadinya penuh banget. Projek terus berlanjut dengan fanfic kedua yang akhirnya kita putuskan untuk ditulis di word. Yang pertama itu tulis tangan semua btw, jadi tiap minggu tulisannya beda-beda (tulisan gue paling rapi ngomong-ngomong *lalu digampar*). Sayang projek kedua ini belum selesai sampe sekarang karena tersendat di satu orang *lirik Echa*. Padahal tinggal satu chapter lagiiiii, terus beres deh.

dari kiri: Echa, Saa, Zha, Gue, Ruru, Zu paling bawah, poto sesyen di kampus
Cuplikan fanfic ROKURAKU (nama kita berenam dan gue juga udah lupa artinya apaan...):

....Matsuyama Kenichi, cowok yang dimintanya menjadi model lukisannya, menoleh. Ia kelihatan sangat enggan menghampiri Echa. Tapi toh ia hampiri juga, khawatir cewek di hadapannya ini akan melakukan sesuatu yang aneh seperti berteriak-teriak atau malah mengejarnya kalau ia tidak menghampirinya. Sepertinya Echa memang begitu sih.
 

”Matsuyama-san, konnichiwa.” Ren tersenyum. 
”.......” MatsuKen menatap lukisan Echa tanpa berkedip.
”Kemarin, terima kasih atas bantuan Anda.” Ren membungkuk dengan sopan.
”Ini... lukisan yang kalian buat sewaktu menyuruhku berhenti?” tanya MatsuKen, kelihatan tidak percaya, walaupun ekspresinya sendiri tetap terlihat cool.
”Iya. Benar-benar terima kasih atas bantuan Anda. Echa ojousama, bagaimana kalau Anda juga berterima kasih pada Matsuyama-san?” Ren menegur Echa.
”Oh iya. Terima kasih. Tanpamu, aku nggak akan bisa menyelesaikan lukisan ini,” Echa ikut membungkuk dengan sopan.
 

Tanpa sadar MatsuKen melongo. Ia menatap cewek dihadapannya dengan tatapan tak percaya. Ia memang sadar sejak awal kalau cewek di hadapannya ini ’unik’, tapi tetap saja tidak terpikir kalau seunik ini. Tiba-tiba ia menghembuskan napas dan tersenyum tipis.
 

”Sama-sama. Lumayan mirip juga,” katanya sambil berbalik pergi. Sejak saat itu, ia selalu tersenyum tiap mengingat kejadian itu.
 

Echa menatap MatsuKen yang berjalan menjauh. ”Katanya lumayan mirip!” Echa pamer pada Ren dan Nishi yang hanya tersenyum mengiyakan. Kemudian Echa kembali menatap lukisannya: sebuah bulatan berwarna orange dengan beberapa garis lengkung hitam. Judul lukisannya: bola basket.
 

”Yay~ Dibilang mirip,” Echa tersenyum pada lukisannya.
....

Sekarang, enggak ada satu pun dari projek di atas yang masih berjalan karena kesibukan kita masing-masing. Yah, mau enggak mau semuanya pasti duluin kerjaan :) Tapi masa-masa itu bener-bener menyenangkan.

Setelah bersenang-senang dengan self-enter fanfiction, gue mulai nulis fanfiction dengan serius di fanfiction.net (ffn). Sampai saat ini gue udah nulis 40 judul fanfic dari berbagai anime, dengan banyak fanfic bersambung yang belum selesai, ufufufu *ditampol*.

Di fanfiction.net ini pun, gue mendapat banyak temen. Baik temen yang cuma interaksi kadang-kadang, sampe temen yang cukup intens saling komunikasi soal penulisan fanfic. Sejak sibuk kerja, gue memang agak menelantarkan akun gue di ffn sih, tapi sekarang udah mulai nulis di sana lagi, kok :)

penulis-penulis ffn yang pernah poto bareng gue, hoho. Mereka jago-jago nulis looo~
 Setelah di pikir-pikir, emang fanfiction inilah yang paling banyak berkontribusi untuk membantu mengembangkan penulisan gue. Mulai dari fanfic asal-asalan dan acakadut tanpa merhatiin EYD dsb, sampe fanfic serius yang merambah genre-genre yang bahkan sebelumnya enggak berani gue tulis karena merasa enggak punya bakat. Review-review di ffn pun banyak membantu gue untuk terus memperbaiki tulisan.

Gue rasa, enggak seharusnya orang-orang ngeremehin fanfiction. Karena, gue ngeliat banyak penulis fanfic yang bener-bener punya bakat nulis yang oke. Bahkan, banyak yang menurut gue kemampuannya sama atau bahkan melebihi penulis-penulis yang udah nerbitin novel saat ini. Meskipun, iya, gue sangat setuju fanfiction itu enggak boleh diperjualbelikan tanpa ada ijin resmi dari pemilik cerita aslinya. It just for fun.

Senin, 23 Desember 2013

Mungkin Gue Memang Sangat Beruntung....

Hari ini gue sama Zu melanglangbuana ke Kemang untuk bertemu para penulis Gagas Media dan Bukune (yaelah kemang doang aja pake melanglangbuana). Yeah! Ketemu penulis lagi :))

Seperti yang tertera di profil twitter gue, "Hobi: membaca, menulis, dan mengejar penulis untuk minta foto bareng." Jadi, setiap ada kesempatan bertemu penulis (terutama yang gue suka) harus dong meluangkan waktu untuk dateng. Wakakakaka.

Temu penulis&pembaca yang diadain bukune+gagas ini memang cukup unik. Ada beberapa sesi talk show yang temanya menarik banget. Yang paling menarik perhatian gue ya, "non-fiksi komedi vs fiksi komedi". Secara, berhubung, kebetulan gue juga amat sangat berminat untuk menjadi seorang penulis komedi, topik ini sayang banget untuk dilewatin.

Sebelum acara ini digelar, katanya sih boleh kasih saran siapa penulis yang akan diundang. Gue kasih saran untuk ngundang Dimas Abi Aufan (pengarang Detektif Sekolah), Moemoe Rizal (pengarang Bangkok), dan Raditya Dika (taulahya kalo yang ini mah). Sayang permintaan gue enggak ada yang dikabulkan :(

Akhirnya, ada lima penulis komedi yang diundang, Alitt Susanto (penulis Skripshit), Adhitya Mulya (penulis Jomblo), Stephany Josephine (penulis the Freaky Teppy), Ferdiriva Hamzah (penulis Cado-Cado, dan Ryandi Rachman (penulis Boys will be Boys & Satu Per Tiga). Dari lima penulis itu, gue cuma tau dua orang, Alitt sama mas Adhit. Dan sejujurnya gue cuma suka satu penulis, mas Adhit. Yah, sebenernya undangan ini agak kurang adil juga sih. Dari lima orang, empat orangnya penulis non-fiksi komedi dan yang nulis fiksi komedi hanya mas Adhit seorang. Jadinya, agak kurang orang untuk menggambarkan seperti apa fiksi komedi itu sebenarnya (meskipun menurut gue mas Adhit udah cukup sempurna dengan jawaban-jawabannya). Ini penting buat gue yang juga mau bikin fiksi komedi soalnya, hehehe.

agak burem, ngambil dari twitternya bukune... (terus nyalahin gitu...)
Setelah masing-masing penulis membeberkan pengalamannya, yang gue tangkep adalah. "Nulis fiksi itu susah, karena bla bla bla. Sedangkan nulis non fiksi itu lebih gampang, karena mengacu ke kehidupan sehari-hari aja." --> ini jelas suara mayoritas karena penulis non-fiksi nya ada empat orang.

Sejujurnya, gue bukan pembenci buku non fiksi komedi. Gue bisa menikmatinya seperti gue menikmati buku yang lain. Tapi, sebenernya non-fiksi komedi itu sekarang menjamur banget. Dan yang selalu menjadi bahasan menarik adalah, betapa sialnya kehidupan si penulis. Oke masing-masing penulis punya cara penyampaian yang berbeda, pendekatan yang berbeda, dan gaya bercerita yang berbeda. Tapi buat gue yang kayaknya udah kebanyakan baca, itu sama aja....I need something different. Sebagai pembaca komedi, gue enggak puas sama komedi yang gitu-gitu aja. 

Coba deh diitung, udah berapa buku komedi yang terbit berdasarkan pengalaman sial si penulis sejak raditya dika? Banyak banget. Gue tetep suka baca punya bang Dika karena beberapa alasan. Dia mendalami komedi secara serius dan itu kelihatan dari tulisan-tulisannya. Sekarang, hampir semua komedi yang dia tulis, pake punchline. Gaya tulisannya yang 'pintar' dan membuat banyak orang percaya dengan karakternya yang di buku itu menurut gue adalah suatu keberhasilan.

Tulisannya mas Adhit, menurut gue, nilainya jauh lebih oke dari tulisan bang Dika. Tapi berhubung yang satu nulis fiksi dan yang satu nulis non-fiksi, rasanya gak adil kalo gue banding-bandingin. Tapi bener deh, buku fiksi komedi yang ditulis mas Adhit (Jomblo terutama, bukan berarti yang lain enggak) humor-humornya pinter banget. Kadang sama sekali enggak kepikiran, tapi bener-bener mengundang tawa.

Gue bukan mau mendiskreditkan penulis non-fiksi lho, tetep ada yang membuat gue tertarik. Penuturan mas Feridiva yang nulis buku Cado-Cado (catatan dodol calon dokter) membuat gue tertarik untuk membaca bukunya. Mas yang satu ini, nulis komedi dengan observasi mendalam. Iyalah, dia kan dokter. Pokoknya kalo denger penjelasan mas ini, kayaknya nulis buku itu bener-bener kayak nulis skripsi. Semuanya harus jelas dan butuh observasi berulang kali. 

Berhubung yang dateng gue nih, gue yang serius mau menulis komedi, gue pun mengajukan pertanyaan dengan serius soal komedi. "humor itu kan sifatnya subjektif banget, sesuai selera. kalo menurut kalian, mending bertahan dengan gaya humor yang sekarang (orang mau suka gak suka yaudah) atau belajar soal gaya-gaya humor yang lain untuk menarik pembaca lebih banyak?"

Rata-rata jawabannya adalah, mempertahankan gaya humor dan gaya bercerita yang udah mereka lakukan, karena sejak awal memang mustahil membuat semua orang senang.

Tapi dari semua jawaban, gue paling suka jawaban mas Adhit, kata dia "terus belajar iya, mengikuti pasar enggak. Artinya, saya banyak mencari banyak belajar gaya-gaya komedi orang lain, tapi dari situ saya pilih yang saya suka dan sesuai dengan saya. Kalau kita mengikuti pasar, hilanglah sudah ciri khas kita."

Wow. Jawaban yang memuaskan.

Okee, selesai sesi tanya jawab, tiap penulis bagiin buku karya mereka setelah memberikan satu pertanyaan. Gue berharap, bisa dapet buku cado-cado, karena kayaknya menarik dan gue belum punya. Tapi waktu mas Feri ngajuin pertanyaan, gue kaga bisaaaaaa..... pertanyaannya dia dokter apa gitu....dan gue kaga merhatiin waktu dia ngomong di awal-awal, jadi gak ngerti, orz

Tapi oh tapi, abis itu giliran mas Adhit yang kasih pertanyaan. Buku yang dia pegang emang buku Jomblo, gue udah punya. TAPI ITU BUKU JOMBLO CETAKAN BARU YANG TERNYATA SANGAT UNYUU PEMIRSAH! ADA HAPPY CHICKEN DI COVERNYA!! 

Langsung kebayang Ringgo pake kostum ayam....
Dan betapa beruntungnya gue waktu pertanyaan yang diajuin mas Adhit adalah tentang buku itu sendiri, bulan dan tahun cetak pertama kali. Berhubung gue punya bukunya, gue langsung nyontek dan tau jawabannya :)) (Malahan, tadinya dia mau nanya ISBN kalo ternyata sama kayak buku lama, ini pun bakal bisa gue jawab karna lagi megang bukunya :D)

Bukan cuma dapet buku unyuu itu aja, ternyata Jomblo dengan cover baru ini bener-bener cetakan pertama! Dan gue adalah orang yang pertama dapet! Bahkan mendului mas Adhitnya sendiri. Bahagiaa~ :)

sampe ditulis 'Selamat!' hihi...
 
Terakhir kudu poto sama penulisnya dooong :p

Selesai sesi itu, ada talk show tentang setting luar negeri vs dalam negeri. Di talk show ini, gue hampir ketiduran. Karena emang agak ngebosenin, sih. Eh tapiii, tiba-tiba ada kak Mumu, kak Prisca, dan kak Robin yang tau-tau nyempil-nyempil di barisan belakang talk show :p

Waktu akhirnya mereka memutuskan untuk ngobrol jauh dari tempat talk show, gue sama Zu samperin aja deh, nimbrung ngobrol, hahahaha. kak Mumu inget gue! Hahaha, memang muka yang susah dilupakan, yah :D Tapi ternyata kak Prisca juga inget Zu dan inget gue adalah orang yang digantiin Zu karena gak bisa dateng makan siang bareng kak Prisca karena kerja. 

Akhirnya ketemu kak Prisca setelah dua kali gagal ketemu gara-gara kerjaan
Foto barengan langsung sama semuanya :))

Seperti biasa, kak Mumu dengan gayanya yang oh-so-Edvan
 Niatnya sih ya, bukan cuma ketemu dan minta foto doang sama penulis-penulis kece ini. Gue mau bergabung dengan mereka, secepatnya. Novel selesein dulu itu woooi, baru ngomong!

Dan sekali lagi, gue gagal ketemu Dimas Abi, padahal udah bawa bukunya tiga-tiganya dan ngarep banget doi bisa dateng (~"3")~

Sabtu, 21 Desember 2013

きっとなんとかなるさ!

「きっとなんとかなるさ」 "Kitto nantoka narusa" salah satu potongan dari lagu yang paling cocok untuk menumbuhkan semangat buat orang kayak gue. Meski menurut gue istilah itu agak susah dijelaskan dalam bahasa lain, maknanya kira-kira "all iz well", "It'll be all right", "semuanya pasti akan baik-baik saja". Maknanya lho ya, arti harfiahnya kira-kira "pasti akan ada sesuatu yang terjadi" dengan denotasi.

Akhir-akhir ini waktu dapet masalah yang cukup berat, tiba-tiba aja inget lagu itu, lagu yang didominasi sama orang aneh yang bernama Takahisa Masuda. Padahal aslinya penyanyi lagu itu tiga orang, dia, Keichan sama Tomo. Tapi Keichan sama Tomo cuma kebagian satu kalimat + reff. Pembagian lagu macam apa itu!?

Tau gak yang namanya Taka? Taka itu makhluk yang paling gak pernah keliatan punya masalah walaupun ada masalah. Mukenye bahagia terus.

ini makhluknya....

Gue rasa sih dia bahagia karna masih bisa makan apa aja sampe sekarang
Berhubung lagu nantoka narusa itu dia yang nyanyi, jadi maknanya dapet banget, hahaha :D
Yah, ngubek-ngubek data lama untuk denger dan liat dia nyanyi cukup mengembalikan semangat gue yang hilang akhir-akhir ini :) Yup, gak selamanya situasi akan buruk, pasti suatu saat nanti semuanya akan kembali baik-baik saja.

Emang apa sih masalah yang lagi gue alamin? Kalo gue pikir-pikir sekarang sih berat-berat amat juga kaga, hahaha. Gue cuma akan berhenti dari media yang sekarang dan balik nerjemah+ngajar kayak dulu kok. Setelah beberapa bulan juga gue bisa nyari media lain :p

Melepas media yang sekarang emang agak dilema sih, secara itu media gede, kesempatan gue untuk belajar dan ketemu atlet-atlet pun akan lebih banyak di sana. Tapi apa boleh buat, ada keadaan yang memaksa gue ngelepas itu. Daann...kesenangan gue yang lain memaksa gue untuk ngelepas kesempatan yang itu juga :)

Setelah melonggarkan diri sedikit dari media yang sekarang, gue bisa sambil part time nerjemah dan dateng ke beberapa acara penulis yang sebelum-sebelumnya dengan sangat menyesal gak bisa gue datengin.

kesempatan langka ketemu sama mangaka-nya ketsuekigata-kun


Ketemu salah satu novelis favorit, Pidi Baiq aka Surayah
Ini yang paling langka, ketemu kak Mumu!! Secara gak disangka-sangka ternyata dia salah satu editornya Surayah. Dan gue gagal ketemu dia dalam dua kali kesempatan sebelumnya karena kerjaan
Yah, ketemu penulis itu satu dari sekian banyak hal yang gue senengin sih. Nggak ada yang gue enggak suka dari kerjaan sebagai jurnalis olahraga yang sekarang, kecuali liburnya. Libur seminggu sehari itu.... perlahan membunuh hobi gue yang lain. Setelah banyak pertimbangan, gue pun melepas yang sekarang, dan gue merasa lega. Belum lepas, sih, masih sampe akhir tahun.

Oke, jadi intinya apa? Sejujurnya gue bukan pengen cerita masalah gue sih, wakakakaka :D
cuma pengen orang-orang tau aja soal istilah "nantoka naru" yang tadi :p

Saking seringnya berlindung di balik istilah itu, gue pernah diomelin. Waktu jadi penerjemahnya kacho dan sang pengawal, gue dapet tugas untuk ngartiin ceramahnya kacho beberapa hari dari itu, dan itu soal teknologi dalam pendidikan. Gue pun minta kisi-kisi. Dan ternyata yang dikasih kacho itu catetan istilah2 susah dunia perkomputeran yang gue kaga ngarti..... Lalu dengan entengnya gue bilang, "nantoka naru kara". Maksudnya, pasti bakal ada sesuatu yang terjadi, pokoknya entah gimana gue bisa laah.... Dan kacho bilang "nantoka naranai yo!" yang kurang lebih artinya "gak akan terjadi apa-apa tauk!" wakakaka xD Iya, dalam konteks itu harusnya gue BELAJAR, bukan ngelipet catetan dan bersikap "liat aja deh nanti gimana" xDD
Kebiasaan.....

Ngomong-ngomong, ada yang bilang senyum Taka di pideo yang gue capture ini mirip gue :)))
Semoga gue juga bisa senyum terus kayak dia yak, LOL XDDD

Pokoknya kalo ada masalah, liat aja ini
"daijoubu, daijoubu, nantoka narusa" gak apa-apa, gak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja...
Dan inget lagu ini...
歩き疲れてぼんやりと空を眺めた。大きな雲がふわりふわり流れていった。そんな急ぐわけでもないし、のんびりと歩いて行こう。きっとなんとかなるさ、心配はないさ。この道まっすぐ行ってみよう。風の吹くままそう感じるがまま。進めば大丈夫、明日もいいお天気 。雨が降ったらいつもの店で ひとやすみ。なんにもしないこんな日もたまにはいいか。雨上がりの空はきれいでなんだかちょっとうれしいね。きっとなんとかなるさ あせることないさ。泣きたくなったら 笑ってみよう。どんな時でも ほら笑顔でいれば。案外うまくいく明日はいいお天気。

terjemahan bebasnya:
Kalau capek berjalan, sambil bengong aku melihat langit dengan awan-awan yang bergerak pelan. Tidak usah buru-buru, kenapa kamu enggak jalan santai aja? Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Kenapa kamu enggak mencoba untuk terus berjalan? Semuanya akan terasa seiring tiupan angin. Jika kamu terus berjalan, semuanya akan baik-baik saja. Cuaca besok pun pasti akan cerah. Jika ternyata hujan, aku akan pergi ke toko yang biasanya dan bersantai. Bukannya bagus jika sesekali merasakan hari dimana bisa bermalas-malasan dan enggak ngapa-ngapain? Langit setelah hujan terlihat indah dan itu membuatku bahagia. Karena itu semuanya akan baik-baik saja, jangan tergesa-gesa. Jika kamu tidak ingin menangis, cobalah untuk tersenyum. Seberapapun beratnya, jika kamu tersenyum, secara tak terduga akan ada hal baik yang datang dan cuaca besok juga akan kembali cerah.



Kalo suka, coba cari lagu "NEWS - Nantoka Narusa" dan donlot
kok gue jadi promosi?

Sabtu, 14 Desember 2013

[Book Review] Pssst...! (5 Sahabat, 5 Negara, 5 Rahasia)

Judul Buku:  Pssst...! (5 Sahabat, 5 Negara, 5 Rahasia)
Pengarang: Dy Lunaly
Penerbit: Mizan (Bentang Belia)



Sinopsis:
Enggak ada yang salah dengan liburan atau negara ini. Aku yang salah. Salah enggak, sih, nyimpen rahasia dari sahabat sendiri?
-Wira
Ada banyak alasan kenapa aku memilih Belgia, termasuk karena aku akan lebih jujur kepada mereka. Semoga!
-Jiyad
Luksemburg, ada apa di negara kecil ini? Nggak tahu, sih, sama enggak tahunya kalau pilihanku ini akan menjadi bencana. HELP!
-Noura
Aku lebih dari sekadar bahagia ketika merayakan ulang tahun di depan Menara Eiffel. Tapi, Wira merusaknya dengan sempurna! ARGH!
-Adhia
Tiga kesalahan! Memilih tujuan liburan dengan dart, mengubah rencana di detik terakhir, dan yang paling parah, akhirnya aku jujur kepadanya. Eh, itu kesalahan bukan, ya?

-Kalyan

Pertama kali beli buku ini, bener-bener enggak sabar mau baca. Karena, wow! Covernya menarik banget. Tapi yang paling bikin menarik itu sinopsisnya, serius. Buku dengan setting luar negeri itu sekarang berhamburan di mana-mana, rasanya para penikmat buku lagi keranjingan dengan tipe buku kayak gitu (gue termasuk salah satu dari mereka, tentu saja).

Yang penasaran, coba baca deh sinopsisnya, menarik banget, kan? Well, ada Luksemburg yang jadi salah satu destinasi pilihan 5 sahabat ini. Itu lah yang membuat gue memutuskan mengambil buku ini dari rak buku dan membawanya ke kasir.

Minggu, 08 Desember 2013

Mistery of Misery

Mulai cerita dari mana ya? Sejujurnya ini waktunya gue tidur, serius. Besok....eh, pagi nanti, gue harus liputan. Dan jam segini gue belum tidur? masih nulis blog pula? gila dedikasi gue tinggi bener sebagai blogger

Oke, rencananya gue mau bikin postingan semacam ini, tapi berhubung udah dibikin ya....jadi gue timpali saja. Jadi, Ruru ini cerita soal kembarannya, yaitu gue. Iya, kalian gak salah, itu gue. Perlu gue tunjukin KTP apa kalo tanggal lahir gue sama dia itu sama? Kami kembar, memang. Bedanya, dia udah mau 24 tahun, gue masih 20 tahun (masih aja ngebahas umur).

Ruru bilang dia emang udah tertarik sama anak kembar dari dulu dan pengen banget punya sodara kembar, meskipun dia tau itu mustahil. Lalu muncullah gue, JRENG! Iyes, kita dipertemukan waktu masuk kuliah. Sejujurnya, gue suka liat anak kembar. Gue punya sodara yang kembar, temen-temen yang kembar. Sayangnya, mereka semua TIDAK SERUPA! Bahkan, sodara gue yang kembar itu, yang satu putih kurus tinggi, satunya item dan agak gemuk. Gue punya 2 pasang temen yang kembar, satu pasang waktu SD dan satu pasang waktu SMP. Si kembar yang SD-nya bareng sama gue ini, sifatnya beda banget. Mukanya mirip, tapi masih gampang dibedain. Nah, yang SMP lebih ajip lagi. Kembar cowok-cewek! Wow! Dan gue pernah naksir sama si cowok ini curcooool! buka aibbbb! Dari pengalaman-pengalaman itu, pokoknya arti kata kembar buat gue itu....well, tidak bisa dideskripsikan.

Enggak kayak Ruru, actually I'm not addicted to twins. Oke, mereka memang menarik, tapi ya....udah. Gue juga enggak berpikir mau punya sodara kembar. Sudah cukup merasakan cuap-cuap dari temen-temen sewaktu gue dan kakak gue se-SD dan se-SMP. Saking miripnya kita berdua waktu itu, temen-temen selalu bilang kita ini kembar. Bahkan, kalo kakak gue dipakein jilbab, dia bisa aja nyamar jadi gue buat gantiin pas ujian sekolah (ide yang absurd karena gue yakin lebih pinter dari dia). Sekarang sih udah gak semirip dulu. Sebagai cowok, kakak gue makin gahar, maksudnya....pipinya gak se-chubby dulu. Sedangkan gue, yah begini-begini aja, tambah bulet malah kata orang-orang.

Intinya, gak seperti Ruru yang inget banget pertemuan pertama kita. Gue sama sekali enggak inget. Waktu masa orientasi, gue emang inget sempet ngobrol sama seseorang soal anime dll, tapi gue engak inget kalo itu Ruru. Soal dia takjub gue tau Wakaba Ryuya yang enggak beken, gue pikir si Ryuya itu lumayan beken....abis cakep sih. Teteup ya...liat muka.

Pertama kali gue sadar si Ruru ini ulang tahunnya sama kayak gue adalah....waktu dia ngasih gue novelnya. Yep, dia pernah nerbitin novel, meski anaknya enggak mau mengakui kalo itu novel karya pertama dia. Gue kaget, karna pas baca profilnya di belakang, tanggal lahirnya sama persis kayak gue. Kok bisa?

Awal-awal kuliah kita emang enggak terlalu deket karena beda kelas. Tapi sejak kelas digabung di semseter tiga, gue sama Ruru mulai akrab. Seperti dia bilang, banyak kejadian aneh. Entah gue sama dia ngomong barengan, punya maksud yang sama di setiap situasi, pemikiran yang sama, logika yang sama, dll dsb. Sejujurnya, gue belum pernah ngerasa kayak gini. Seinget gue, dulu pernah bikin postingan soal ini juga, di sini --> Meet My Twin
Tapi itu postingan jaman kuliah dan waktu itu gue sempet kesel gara-gara disamain mulu. Ahahaha <--- masalah tipikal anak kembar banget
Padahal mah dia gak bermaksud, gue juga gak bermaksud nyama-nyamain.

Karena sekarang kita udah terlalu deket, jadi keliatan jelas beda masing-masing. Di depan orang, dia itu lebih kalem, sedangkan gue orangnya agak meledak-ledak (bakat jadi bom molotov). Di tulisannya, Ruru bilang minat kita sama tapi dengan kadar yang berbeda. Tau kenapa bisa begitu? Gue rasa emang udah sifat dasar kita enggak bisa suka-suka banget sesuatu yang udah disukain banget-banget sama orang lain. Jadi, misalnya Ruru ngerekomen sesuatu ke gue, biasanya gue suka, tapi kadarnya enggak sesuka Ruru. Karena, gue udah tau Ruru suka banget, jadi gue gak bisa jadi suka banget. Nah, begitu sebaliknya. Bingung kan? Gue juga.....

Tapi kalo gue udah suka sebelum tau Ruru suka juga, biasanya kadarnya sama. Kayak yang terjadi hari ini. Gue sama Ruru nonton film "Misery" bareng-bareng. Sejujurnya keberadaan film ini masih jadi Misteri. Gue emang berniat pengen donlot sejak kapan tau, karena seinget gue waktu nonton itu film pas SMA, gue sukaaaa banget. Tapi sebelum gue donlot, itu film tau-tau udah ada datanya di netbook gue. Padahal itu netbook belum lama gue beli, dan gue sama sekali engak inget pernah donlot. Pas gue tanya keluarga yang lain, mereka juga enggak pernah donlot. Bahkan, kakak gue yang waktu SMA nonton film itu bareng gue pun lupa filmnya macam apa, apalagi kepikiran untuk donlot?

Misteri selanjutnya, ternyata si Ruru juga suka film Misery ini. Dua orang suka film yang sama sebenernya enggak aneh. Tapi kasus ini lain. Gue dan Ruru ngerasa kita bener-bener nonton film yang sama di waktu yang sama. Kita sama-sama inget itu film bioskop trans tv malem-malem waktu jaman SMA. Abis nonton film itu, kita berdua berniat nyari bukunya yang dikarang sama Stephen King. Ajaibnya, saat itu kita belum ketemu dan saling kenal. Dan film Misery itu melekat di benak kita berdua sampe sekarang, meski si Ruru ngaku cuma liat pas filmnya hampir abis.

Bayangin dong, gue yang segini pelupanya bisa inget jalan cerita film meski cuma nonton sekali, jaman SMA pula. Ini keajaiban! Menurut kita berdua, film thriller ini memang menegangkan banget soalnya. Enggak, enggak ada setan ato apapun. Cuma penggemar novel 'sakit' yang menyekap penulis favoritnya di desa terpencil untuk nulis kelanjutan cerita seperti yang dia mau. Cerita ini melekat karena.... yah, gue gak tau sejak kapan demen cerita yang agak-agak psycho dan sadis gini....

Mungkin gue punya bakat psikopat kali, ya?

Ah, tapi gak mungkin ada psikopat yang nangis nonton pelem Lion King, kan?

Kalo diinget-inget, sebelum ini juga gue sama Ruru bareng-bareng maraton pelem SAW. Ahahaha! Pokoknya kalo liat Ruru, orang enggak bakal nyangka dia suka pelem yang begitu dah....

Sebenernya masih banyak keanehan-keanehan lainnya. Tapi berhubung hari ini temanya "Misery", mari kita akhiri sampai di sini. (Sebenernya dari tadi gue jengah nulis 'kami' pakai 'kita', karena jelas salah (diomelin editor gara2 ini), tapi kalo pake kami, gak enak....kakuuuu!) ealah mbak'e dibahas aja....

by: penulis yang baru saja menyelesaikan setengah chapter terjemahan dengan peluh dan air mata. DEM YU LOGAT KYUUSHUU! JUST DEM! GUE KAGA NGARTI, SOMPREEEETTTT!


Selasa, 19 November 2013

[Book Review] CINE US

Judul Buku:  [S Club Series] CINE US
Pengarang: Evi Sri Rezeki
Penerbit: Noura Books

"Ayo yang tertarik, beli dan baca biar tambah ganteng kayak saya," kata James, ngiklan.

CINE US
Warning: review contains spoiler! dikiiit

Sejujurnya, gue sengaja beli novel ini untuk ikutan lomba review. Tapi, gue juga pemilih soal beli-beli buku dan enggak akan buang-buang uang untuk buku yang belum jelas bagus atau enggaknya. Tapi untuk buku yang satu ini, gue rela merogoh kocek, demi alasan yang sangat sederhana. Temanya menarik.

Yup, seperti judulnya, buku ini bertema film. Lebih spesifik lagi, online video 'web series'. Kalau ada yang tahu, semacam anime 'Hetalia Axis Power' yang super unyuu itu.

Gue bukan orang film, bukan juga penggemar film. Lalu, apa yang bikin gue tertarik? Tema yang diangkat mbak Evi ini benar-benar tema yang jarang ada. Gue suka banget menambah pengetahuan soal apa yang belum pernah gue tahu dan gue sentuh. That's why I bought it. Harapan gue sebelum membaca novel ini adalah, gue akan mendapat detail tentang online video 'web series', terutama, perjuangan karakter-karakter dalam novel untuk mencapai tujuan mereka.

Sabtu, 09 November 2013

[Cerbung] Air Ball - chapter 1

Mulai minggu ini, gue akan posting cerbung (cerita bersambung) di blog gue, gara-gara terinspirasi majalah Bobo jaman dulu. Gue langganan tiap minggu dan kolom cerbung adalah yang gue nanti-nantikan. Seinget gue, waktu itu ada cerita yang gue suka banget, tentang peri. Tapi detilnya bener-bener lupa, karena gue juga bacanya waktu TK apa SD gitu....

Harusnya sih, chapter 1 ini gue post Rabu kemarin, tapi berhubung judul belum nemu dan ada beberapa plot hole, akhirnya terpaksa gue tahan sampai hari ini. Makasih buat Ruru yang ngasih ide buat judul cerita ini :) Berhubung kalo ditahan-tahan di folder lepi, orific (original fiction) gue banyak yang enggak jalan, akhirnya gue putuskan untuk diposting di blog aja. Semoga banyak yang bisa kasih masukan, sekaligus nagih gue lanjutan ceritanya, biar terpacu nulis cepet tiap minggu. 

Judul: Air Ball
Rating:Yang udah apal 26 abjad, boleh baca
Genre: Humor, Friendship, Family, Romance? (enggak tau deh jadi romens apa enggak, cari tahu aja sendiri, ahahahaha) 
Chapter: 1

Senin, 04 November 2013

Everybody Change....

Baru saja pulang dari event terbesar untuk para pecinta buku, BOOK FAIR!! :D

Sejujurnya book fair tahun ini agak mengecewakan karena beberapa penerbit populer yang buku-bukunya oke, enggak buka stand di sana. Sayaaaang..... karena gue sebenernya ngincer beberapa buku dari penerbit itu. Selain itu, komiknya juga sedikit banget :( padahal gue udah siap-siap mborong, tapi cuma dapet bakuman 4&5 aja.

Ini buku yang akan jadi anggota baru di perpus mini milik gue :3 (akhirnya gue beli juga itu buku super romantis dengan latar Amsterdam....semoga kadar romance-nya gak berlebihan....)
Cuma dapet enam buku! Hahaha :D

Yah, sebenernya gue bukan lagi pengen ngomongin buku, sih. (lah)

Nganu, berhubung akhirnya kumpul-kumpul lagi sama temen lama, jadi ngobrol panjang deh. Kali ini temanya tentang, temen lama yang sifatnya berubah drastis. Gimana ya kalo ngadepin hal ini?

Setiap orang pasti berubah, gue tau. Gue juga berubah kok. Dulu gue suka nyemilin coki-coki, sekarang udah jarang. Soalnya susah nyari yang jualan. Dulu gue kemana-mana naik angkot, sekarang naik motor. Soalnya supir angkot itu nyebelin. Cuma dua hal dari diri gue yang enggak berubah, umur dan tinggi badan.

Meskipun contoh di atas kayaknya agak aneh, tapi kira-kira begitu maksud gue. Siapa sih yang enggak berubah? hebat banget kalo ada orang kayak gitu. Tapi yah, beberapa kali mendapati temen gue berubah drastis itu rasanya.... gimana ya? susah dijelasin dengan kata-kata.

Sebenernya banyak temen yang berubah banget kalo kita udah lama enggak ketemu. Tapi kalo temen deket berubah banget, apa lagi berubahnya bukan jadi lebih baik, rasanya sedih banget deh. Yang lebih enggak enak adalah, berada di posisi di mana kita enggak bisa berbuat apa-apa untuk balikin mereka kayak dulu.

Gue tau, itu pasti pilihan mereka buat berubah. Dan seberapapun kita berusaha mengingatkan, ujung-ujungnya tetep tergantung sama pilihan mereka, mau berubah lagi apa enggak. Hidup itu memang soal pilihan (tjieeehh....) komen di samping ini merusak kata-kata indah gue barusan sebenernya.

Mau ngomong apa lagi yak gue? Kalo gue cerita masalahnya di sini, frontal amat dong.

Gue bukan orang yang sempurna, tapi gue mau jadi orang yang lebih baik. Yang paling penting, gue enggak mau ngecewain nyokap yang sekarang udah ada di sisi Allah. Aduh, salah nulis, gue mendadak jadi sedih gini :'(

Ya intinya sih, cuma mau bilang ke temen-temen yang sekarang mulai berubah. Kalo kalian berubah bukan ke arah yang lebih baik, yang kecewa bukan gue doang. Orang tua kalian pasti jauh lebih kecewa dari gue. Gak berniat sotoy ato gimana, tapi setiap orang tua pasti mau anaknya jadi yang terbaik, kan?

Udah ah....
Ini ada perapian, untuk menghangatkan suasana. Agak enggak berguna di Jakarta sih ya.


Dan ini ada bola-bola coklat, untuk bikin ngiler dan merusak gigi.... Karena coklat memang ditakdirkan untuk itu....



Rabu, 30 Oktober 2013

Postingan Menjelang Hello Fest

Huallow.....

Sebenernya nih ya, harusnya gue nge-review novel Cine-us secepatnya buat ikut lomba. Tapi mesi kata-katanya udah ada di otak, rasanya belum pengen menumpahkannya ke dalam bentuk tulisan (halah). Bikin postingan enggak penting aja deh akhirnya.

Berhubung sebentar lagi ada acara tahunan meriah dan gue belum pernah absen dateng ke sana sejak kuliah, gue mau ngomongin itu. Iyaaa, ituuu.... HELLO FEST!!! Ga tau apaan hello fest? Aduh kurang gaul deh....

Ini nih posternya. Idih itu ada si Ayu, hahaha :D
Hello fest itu tempat berkumpulnya cosplayer Indonesia yang paling oke punya. Dan yang paling menarik perhatian adalah, cosplay cabaretnyah! Buanyak banget ide-ide kreatif yang muncul di panggung Hello Fest. Gue yang pernah kabur kuliah demi nonton itu, dari sakit perut sampe ilang sakitnya saking bahagianya. Kalo bilang penyakit itu datangnya dari perasaan, 100 buat kamu. Hahahahahaha....ngomong apa sih elu?

Ya meskipun tahun ini kayaknya gue gak cosplay (ya kayak elu tiap taun cosplay aje) berhubung terbatasnya dana, gue dateng untuk nonton ajah mengejar cosplayer kece untuk poto bareng tentu saja. Pengennya sih ngincer pernak-pernik kece juga, tapi yah di sana super mahal gitu pernak-perniknya.

Mana gue juga masih galau. Tanggal 10 itu udah dikasih libur. TAPIIIIIIIIIIIIIIIII...... DARI BENAK HATI GUE YANG PALING DALAM, GUE GAK PENGEN LIBURRR!!!! EMAAAK!! Masalahnya tanggal 10 itu ada MotoGP, balapan terakhir musim ini. Dedek Marquez udah tinggal selangkah lagi jadi juara duniaaaaa :'( Gimana doong, pengen nontoooonn~ Huhuhuhuhu.....

Yaudah deh, sekarang gue mau majang poto-poto cosplayer hasil hunting di gugel aja. Berhubung gue ngepens setengah mati sama kucing ini, gue majang yang cosplay jadi dia aja. Iyak, Killua Zaoldyeck! Killua Zoldick! Kirua Zorudikku, apa kek..... aslinya pake katakana kok tulisannya. Gak usah pada sotoy deh tulisan yang benernya gimana, sensei Togashi-nya aja kaga tau itu tulisan yang benernya gimana.

Jarang ada cowo cosu Killua, ini mayan, tapi mukanya kepanjangan
Yang eni terlalu cantik, terlalu kemayu....
Sama, masi terlalu cuantik
Udah mayan (karna mukanya ditutupin, sih) matanya juga dibentuk dengan baik, haha
Psycho-nya dapet banget, tapi terlalu manis....itu dada ayam yah, btw?
Cowok! Haha, cakep....tapi kecakepan buat jadi Killua #heh
Ini oke, style oke, cuma mukanya kurang mirip aja menurut gue
Masih orang yang sama, tapi dengan gaya yang lebih ciamik! Gue doyan yang begini.
Ini macam di PV ending HxH yang versi 2009. Dan oke banget! Itu Leorionya pasti cewe, haha.
Ini keren! Tapi saking sempurnanya, jadi kayak porselen gitu
Yang ini juga gue suka, natural banget. Bentuk mukanya juga lumayan dapet banget.
Kalo ini, matanya dapet banget lah! Beneran kayak mata kucing!
Inilah foto cosplay Killua yang jadi favorit gue, hahaha. Matanya biru, jari sama kukunya juga oke. Daan, sampingnya ada Alluka yang super cute! Gue suka karena akhirnya cerita HxH itu membuka kalo Killua lebih protektip ke Alluka daripada Gon, hahahahahaha :D menyingkirlah sekarang juga para fujo dari pair Killua x Gon, karna Kilua sekarang sama Alluka :3
Sekarang shin HxH udah sampe episot 101 dan ceritanya makin seru :3 Apalagi, karakter kesukaan gue udah keluar. Dia adalaaaahhh, JENG JENG!


 IKARUGO!!!

Gurita yang pengen terlahir kembali jadi cumi-cumi, hahaha. Makin lama karakter HxH makin absurd aja :3 Tapi gurita ini lucuuuukkk!

Oke, itu aja postingan gak jelas hari ini. Dadah semuanyaaaaa~
Dapet salam dadah dari Melodi JKT48 jugak!


Yakali aja jadi banyak wota baca blog gue, buat dongkrak viewer dengan cara yang licik menyenangkan.

Selasa, 22 Oktober 2013

Kembali melakukan hobi lama, dapur seni gue kembali aktif :D

Akhirnya setelah tujuh enam bulan kerja, gue mulai menemukan ritme dalam kerjaan yang menuntut waktu yang tidak pasti ini. Hahahaha. Rasanya kangen banget untuk ngerjain hobi-hobi lama yang udah gak sempet dilakuin sejak jadi jurnalis.

Berhubung gue hari ini libur dan lagi niat banget (biasanya kalo libur gue tidur doang), gue pun banyak melakukan hobi gue hari ini (pelampiasan karna gak ada yang bisa diajak jalan hari senin, huh).

Salah satu hobi yang gue tinggalkan adalah, berhubungan dengan orang-orang yang gak gue kenal melalui post card. Yup, POSTCROSSING!! Hahahaha xD akhirnya gue mengaktifkan kembali akun postcrossing gue dan rikues alamat untuk dikirimin postcard. Daaannn.... lima dari enam alamat yang gue rikues semuanya di Russia, satu nya di Jerman. Haduuh.... Russia itu terkenal lama nyampenya. Agak khawatir juga postcard gue kaga nyampe dengan selamat.

Sebelum postcard2 baru berdatangan dan masuk kotak pos gue yang imut, gue mau majang postcard2 yang udah gue dapet ah.

Pertama, ini kartu pos dari Polandia. Sejauh ini, ini kartu favorit gue. Gambarnya bagus bangeett.... dan kuotenya juga dalem. "Gdyby kazdy mial to samo, nikt nikomu nie bylby potrzebny", kata pengirimnya artinya itu "if everybody had the same things, no one need the other one".

Gue emang nulis di profil postcrossing kalo gue menginginkan kartu pos yang ada bahasa negara asal mereka, dengan artinya tentu saja, hahaha. Dan kartu ini emang wow banget. Kartu pos kayak ginilah yang gue mau :) Asik kan, bisa dikit-dikit tau bahasa negara lain.

Kedua, dari Russia. Kartu pos ini indah banget! Dan yang paling gue suka dari kartu ini adalah prangko-nya. Cakep, men!! Gue yang dulu, pasti mretelin prangko dari kartu pos atau amplop surat, karna gue suka koleksi prangko. Gue yang sekarang, akan membiarkan tiap surat dan kartu pos apa adanya, lengkap dengan prangko-prangkonya karna semuanya adalah satu kesatuan yang cantik! :) byuutiful!

Ketiga, kartu dari Yunani tempat tinggal para dewa. Lucunya, kartu ini pake prangko Russia :)) Enggak tau deh gimana cerita di balik terkirimnya kartu pos ini sampe ke tangan gue.

Keempat, kartu pos dari mantan koloni, Belandaaahh!! :D Kalo kartu posnya sih jujur aja, terlalu biasa. Tapi tulisan Francisca, si pengirim, bikin gue bahagia. Dia nanya perkembangan belajar bahasa Belanda gue, pake bahasa Belanda. Hahahaha. Belum lanjut ke tahap yang lebih tinggi, sis! Ajarin dooong.....

Kelima, kartu pos dari Turki. Merhaba? Nasilsia? Tuh, gue jadi bisa bahasa Turki sedikit. Hahaha. postcrossing ini memang SUPER MENYENANGKAN!

Gue enggak sabar untuk nerima kartu random dari siapa pun, minggu ini :D Biar pun ulang tahun gue kaga pernah dapet surprise, kejutan kecil semacam ini menyenangkan.

Baru-baru ini gue juga diperkenalkan sama web baru, cardtopost.com. Mirip sama postcrossing, cuma ini lokal, dan kartu posnya hand made aias bikin sendiri. Waoow! Gue pun langsung ikut dan langsung semangat bikin kartu pos sendiri :D Tangan yang sudah gatel karna lama gak bikin kerajinan, sekarang akhirnya aktif lagi. DAPUR SENI NANA AKTIF LAGI, MAMEEENN!!!

Saatnya pamer :3

Itu empat kartu pos handmade pertama gue :D Siap terbang ke Semarang, Sidoarjo, Magetan dan Atjeh! Semoga cepet sampe dan gue dapet balesannya, hehe :D Ngomong-ngomong, semua kartu pos gue bikin dari sampah di kamar gue yang numpuk loh. Berhubung gue orangnya suka gak tegaan buang sesuatu, jadinya numpuk di kamar deh. Dan gue suka banget muter otak mikirin gimana semi-sampah itu bisa jadi sesuatu yang berguna. Itu segala kardus pizza, poster gak kepake, kertas kado sisa, majalah bekas, brosur gak kepake, akhirnya bisa menyatu jadi kartu pos sederhana :3 Gini-gini hobi gue itu cewek abis.... kecuali masak

Kalo liat di web-nya sih, yang bikin pada kreatif-kreatif banget! Banyak yang jago gambar juga. Gue bener-bener gak sabar nunggu kartu pos macam apa yang bakal gue dapet.

Sebenernya gue gak nyangka yang doyan saling kirim kartu pos ini banyakan anak muda. Di postcrossing mungkin banyakan orang tua, tapi di cardtopost ini malah banyak yang masih sekolah/kuliah. Ini berarti minat surat menyurat di Indonesia sebenarnya termasuk tinggi. Emang sih, mau secanggih apapun komunikasi, enggak ada yang bisa ngalahin perasaan saat nerima surat/kartu pos yang dianter langsung sama pak pos. Entah kenapa rasanya kayak dapet jackpot gitu :D

Euuh, saking semangatnya bikin postcard dan nulis blog, tau-tau udah jam dua. Untung besok kerjaan gak banyak, jadi bisa lanjut bikin 4 postcard lagi, haha. 


Kamis, 10 Oktober 2013

[Book Review] Bangkok, The Journal

Judul Buku:  [Seri STPC] Bangkok (The Journal)
Pengarang: Moemoe Rizal
Penerbit: Gagas Media

Yak, mulai buku ini, gue akan mulai serius nulis review buku di blog gue. (Emang yang sebelum-sebelumnya enggak serius?) Yaa....serius, cuma agak berantakan aja. Mulai sekarang (dan selanjutnya) review gue akan jauh lebih rapi. Siap mulai? Oke? Roll aaand.... Write! (Ini apa yang digulung sih ngomong-ngomong?)



BANGKOK

Dari setiap buku STPC (Setiap Tempat Punya Cerita) yang gue perhatiin, mungkin buku ini adalah yang paling menarik minat gue. Ada beberapa alasan. Yang pertama, udah pasti karena settingnya di Bangkok, Thailand. Setting yang amat-sangat-jarang-sekali ada dalam novel. Kedua, karena gue pribadi tertarik sama bahasa Thailand, gue langsung jatuh cinta ngeliat ada aksara thailand di bagian belakang buku, dan berharap bisa belajar beberapa kata dalam bahasa thailand. (Meskipun kaka Moemoe agak ngeles gitu waktu dimintain nulis sesuatu pake aksara Thailand barengan sama tanda tangannya di buku gue. Tapi itu cerita lain, hahaha :D). Alasan yang terakhir, karena kalimat terakhir dalam sinopsis, "Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta". Semua sinopsis novel STPC selalu berkutat soal cinta, dan gue seneng novel ini sedikit berbeda. Paling enggak, ada keluarga dan persahabatannya, ahahahaha.

Novel ini  menggambarkan perjuangan Edvan mencari tujuh jurnal yang ditulis ibunya sewaktu tinggal di Bangkok. Awalnya, Edvan melakukan hal menurutnya merepotkan itu untuk melakukan permintaan terakhir ibunya sebelum meninggal. Tapi, pencarian itu tak akan berlangsung mudah jika Edvan tidak didampingi seseorang yang selalu memberinya semangat dan meyakinkannya bahwa jurna tersebut benar-benar ada.

Charm, seorang gadis Thailand yang masyaallah nama aslinya susah banget disebut, mendampingi Edvan mencari jurnal-jurnal tersebut dengan bayaran 5000 bath per jurnal yang berhasil ditemukan. Dengan pembawaannya yang sederhana, Charm mulai memikat di mata Edvan. Cowok arsitek tukang buang-buang duit itu mulai bisa mengakui kalau dirinya bisa mencintai orang lain selain dirinya sendiri, meskipun awalnya menolak fakta itu mati-matian.

Dalam perjalannya selama sekitar satu bulan di Bangkok, Edvan belajar banyak tentang hubungan keluarga, persahabatan, dan cinta. Jurnal-jurnal ibunya memberikan harta tak ternilai berupa pelajaran tak kasat mata tersebut. Edvan yang awal-awalnya menolak mati-matian keberadaan adik lelakinya yang kini menjadi adik perempuan, akhirnya bisa mengakui meski belum bisa menerima. Edvan yang awalnya membenci ibunya dan meninggalkannya selama sepuluh tahun, akhirnya menyesali tindakannya tersebut. Edvan yang dulu hanya memikirkan diri sendiri, kini bisa memikirkan kepentingan orang lain.

Jujur aja, gue enggak suka isu LGBT yang dibahas di novel ini. Edvin, adik Edvan, yang transgender dan ikut kontes waria di Pattaya. Dan scene-scene tertentu yang membuat Edvan akhirnya mengakui adiknya sebagai seorang transgender.

Scene yang paling gue enggak suka adalah, saat ada seorang ibu dan anak perempuannya masuk ke bar khusus waria. Di sana, ibu itu bilang mau melihat penampilan anaknya sebagai penari striptease. Memang sih, ibu yang sampai akhir enggak disebutin namanya ini mengaku enggak setuju anaknya operasi jadi perempuan. Menurut ajaran Budha yang dianut ibu itu, cowok enggak boleh berpenampilan seperti wanita. Tapi akhirnya ibu itu cuma pengen ngeliat anaknya bahagia. Dan anaknya bahagia jadi transgender.

Biar gue kutip langsung kata-kata Edvan, "Nyonya, anakmu mengganti kelamin dan sedang menggoda pria hidung belang di atas panggung sana. Apa menurutmu itu tidak terlalu....ekstrim?"

Gue akan lebih senang kalo Edvan mempertahankan pendapatnya yang satu ini. Tugas orangtua itu menjaga anaknya. Rasanya kalau anaknya dibiarkan bahagia dengan sesuatu yang ekstrim, gue tetep enggak setuju. Orangtua yang terlalu memanjakan anaknya supaya anaknya terus bahagia juga enggak bisa dibilang perbuatan baik, kan?

Gue bisa mengerti Edvan yang akhirnya sadar, "enggak perlu setuju dengan keputusan mereka, cukup dengan mengakui bahwa mereka ada". Gue juga punya temen gay, dan gue bilang terus terang kalau gue enggak pernah mendukung dan enggak pernah setuju apa yang dia lakukan. Tapi bukan berarti gue enggak bisa bertemen sama dia. Sama kayak yang Edvan bilang, LGBT itu seperti menentang alam. Tapi contoh yang gue sebut di atas rasanya enggak relevan sama pendapatnya Edvan di akhir cerita. Memang, selain contoh scene yang gue sebut, masih banyak scene lain yang menggambarkan masalah ini. Tapi menurut gue cuma scene itu aja yang kurang bisa gue terima.

Kalau mengesampingkan isu LGBT-nya, gue suka banget sama novel ini. Perjalanan yang digambarkan penulis rasanya begitu nyata. Gue bisa merasakan suasana di Bangkok sana, meskipun katanya si penulis belum pernah ke sana :p

Tema cinta yang awalnya enggak terlalu gue harapkan, malah menjadi daya tarik novel ini. Gue baca sampai halaman terakhir untuk tau akhir kisah Edvan dan Charm yang membuat gue sangat puas. (Sejujurnya gue khawatir kak Moemoe bakal bikin ending cerita ini Edvan jadian sama Max, adiknya Charm, karena gak boong deh, banyak scene yang menjurus ke sana). Edvan, plis jangan gampar gue, sekarang gue tau elu masih normal.
  
Yang paling gue suka dari novel ini adalah, suasana Thailand yang sangat kental. Tempat, bahasa, suasana, karakter, terbangun dengan sangat apik. Gue sampai ngebayangin kocoak goreng yang di jual di jalan. Dan yang paling gue inget adalah penggambaran orang-orang Thailandnya.

Kata-kata Edvan:
Akan kuceritakan mengapa Thailand disebut Tanah Senyuman. Dalam berbagai kondisi, orang-orang Thai biasa merespons masalah-masalah mereka dengan tersenyum. Ketika menyapa seseorang, mereka tersenyum. Ketika mereka tidak tahu jawaban sebuah pertanyaan, mereka tersenyum. Bahkan, ketika ingin menyembunyikan sesuatu, mereka juga tersenyum. Itulah yang membuat kita harus pintar mengira-ngira, apa arti sebuah senyuman orang Thailand. 

Novel yang memakai sudut pandang cowok ini beda banget dari novel kebanyakan. Humornya terasa dan kita jadi tahu pikiran cowok yang sumpah, sederhana dan mudah dimengerti.

Oke, saatnya kasih bintang!! Semua aspek punya maksimal 10 bintang dari gue. Jadi, inilah bintang-bintang yang bisa gue kasih untuk novel ini:

Tema: ★★★★
Jalan cerita: ★★★★★★
Karakterisasi: ★★★★★★
Bahasa: ★★★★★★★
Ending: ★★★★★★

Note: Tema secara keseluruhan suka, sayang isu LBGT-nya terlalu banyak dibahas. Jalan cerita oke banget meski di beberapa pencarian jurnal kesannya terlalu cepat. Karakterisasi, gak ada protes, gue suka, terutama Edvan yang narsis ampun-ampunan (FYI biasanya gue benci banget orang narsis). Bahasa, love it, ขอบคุณ. Endingnya memuaskan, karena ternyata EDVAN NORMAL!! *dihajar*