Minggu, 03 September 2017

[Fanfiction] EPILOG BAD GENIUS




Dedicated to Bank. Because he deserved a good ending....

….dan nama panggilan yang lebih normal.



KEMBALI KE AWAL

Di hadapan Lynn kini terpampang toko laundry “Mister Bank” yang sebelumnya sama sekali tidak bisa dikenali. Toko laundry tersebut berubah drastis sejak beberapa minggu yang lalu. Dari yang tadinya sangat sederhana dan cenderung kumuh, kini terlihat modern dan bersih. Lynn hanya pernah mengunjungi tempat ini sekali, saat Bank—pemiliknya—memintanya datang kemari untuk menawarkan kerjasama yang akhirnya terpaksa ia tolak.

Ia tak menduga harus datang kembali ke sini setelah kejadian itu.

Tak berlama-lama di depan pintu, Lynn melangkah masuk ke dalam bagunan bernuansa putih itu. Ia tidak perlu mengetuk dan langsung mendorong pintu kaca toko tersebut karena Bank sudah menyadari kedatangannya. Bank yang sedang sibuk menyusun daftar keuangan di komputer lalu berdiri dan melangkah keluar dari mejanya. Raut wajahnya penuh pertanyaan. Sebab ia tidak menyangka Lynn akan datang kembali ke sini.

“Sibuk?” tanya Lynn basa-basi.

Bank menggeleng. “Kamu?”

Yang ditanya ikut menggeleng.

“Jadi, bagaimana akhirnya?” lanjut Bank.

Lynn langsung mengetahui arah pembicaraan yang merujuk pada interogasinya di gedung dewan pendidikan kemarin. Interogasi mengenai kecurangannya yang ia lakukan bersama Bank. Interogasi yang berlangsung selama beberapa jam dan membat tenggorokannya benar-benar kering. Meski begitu, Lynn merasa lega. Satu beban yang mengganjal kuat di pikirannya kini menghilang.

Ia mengangkat bahu dan mengulum bibirnya. “Sama sepertimu,” jawabnya singkat, namun menjelaskan segalanya.

Bank menatap matanya dalam-dalam, lalu medesah keras, berusaha mengurangi apa yang masih mengganjal dalam dirinya. Ia tidak menyangka Lynn akan menyerahkan diri dan mengakui semua kecurangannya waktu ujian, menyebabkan dirinya di-blacklist dari semua universitas di luar negeri. Dengan kemampuan otak seperti Lynn, dihukum tidak boleh belajar di tempat yang ia inginkan adalah tamparan yang sangat keras. Sama seperti yang ia rasakan beberapa minggu lalu.

“Kenapa—” Bank menghentikan pertanyaannya karena ragu.

Lynn mengangkat bahu. “Kita berdua curang, tidak adil kalau hanya kau yang menerima hukumannya, kan?”

Bank bertambah bingung. Memang mereka berdualah yang melakukan kecurangan itu. Tapi ini semua gara-gara Pat dan Grace! pikir Bank kesal. “Lalu Pat? Grace?”

Bola mata Lynn kembali terarah pada Bank meski sebelumnya sedang sibuk memperhatikan mesin cuci-mesin cuci baru yang sedang bekerja. “Bukan urusanku,” katanya acuh. “Lagipula mereka pasti akan di-DO kalau tidak belajar 100 kali lebih keras dari sekarang. Anggap saja nilai ujian mereka kemarin itu hadiah terakhir dariku.”

Mau tak mau, Bank tersenyum—meski ia berusaha setengah mati menahan diri untuk menyembunyikannya dari hadapan Lynn, dan hanya menghasilkan cengiran yang justru lebih aneh. Mendengar kemungkinan kalau mereka berdua akan di-DO membuatnya sedikit senang. “Apa yang membuatmu memutuskan untuk berubah, bu guru Lynn yang terhormat?”

Lynn berdecak kesal. “Sudahlah, tidak ada waktu untuk membahas itu. Kamu mau kopi gratis?” tanya Lynn tiba-tiba, mengganti topik yang sedang mereka bahas.

Lynn menyerahkan secarik kertas putih bertuliskan ‘special coupon, free coffee and others*'.

“Apa ini?” tanya Bank heran. Kupon itu tak seperti kupon pada umumnya. Hanya kertas putih polos dengan cetakan tulisan hitam. Tak ada nama café, alamat, atau petunjuk apa pun untuk mendapat kopi yang Lynn maksud.

“Café mahal tidak akan memberikan kopinya secara cuma-cuma,” ujar Lynn yang mengerti kebingungan Bank, dan segera membalik kupon tersebut untuk menunjukkan tulisan lain di belakangnya.

Bank membalik kupon tersebut dan menemukan deretan angka dan huruf yang aneh.

ABBFFF 447766779999444776666 ABFO

“Kode? Alamat?” tanya Bank langsung—mengeluarkan gagasan yang ada di otaknya. Yah, tidak perlu menjadi jenius untuk tahu bahwa kode tersebut menunjukkan alamat.

Lynn mengangguk.

“Sudah kau pecahkan?” tanya Bank lagi.

“Setengah jalan…” ucap Lynn ragu. “Atau mungkin buntu,” tambahnya lagi.

“Pfft—” Bank tertawa meremehkan. “Sekarang aku tahu kenapa kau datang ke mari.”

Lynn cemberut.

____

Setelah itu, Bank mempersilakan Lynn masuk ke dalam rumahnya, lalu segera menuju kamar Bank yang ada di lantai dua. Selain menambah banyak mesin cuci untuk tokonya, rupanya uang hasil usahanya juga cukup untuk merenovasi rumahnya yang reyot.

“Ngomong-ngomong, dari mana kau dapat kupon ini?”

Lynn mengedikkan bahu. “Salah satu orang dari dewan pendidikan. Katanya hadiah. Katanya, satu kupon lagi bisa kuberikan pada orang yang kupercaya.

Bank melengkungkan bibirnya ke bawah, dan menunjuk dirinya sendiri beberapa kali untuk memastikan. Lynn pun tertawa. Tampang Bank benar-benar lucu.

Namun beberapa detik kemudian tampang Lynn justru berubah sedih. Gara-gara dirinya, Bank berubah. Dia benar-benar menyesal atas apa yang sudah dilakukannya. Dan yang menjadi penyesalan terbesarnya adalah melihat Bank yang dulu polos dan jujur, justru perlahan mengikuti dirinya yang mudah dibujuk dengan uang.

“Oke, aku tidak tahu apa sebenarnya ‘kopi’ yang dimaksud. Tapi kode ini menarik,” ucap Bank jujur. “Terutama soal ‘others’ ini,” tunjuk Bank di kupon yang ia pegang.

“Punya ide untuk memecahkannya?”

“Hmmm…” Bank menggumam. Ia menarik kursi di depan meja belajarnya dan meraih pulpen di atas meja. Kertas bekas ia jadikan coret-coretan untuk membuktikan beberapa cara memecahkan kode yang ada di otaknya.

Beberapa menit kemudian, Bank terlihat stress. “Fibonacci tidak berguna, bilangan berpola juga salah….” Ia lalu menggaruk-garuk kepalanya yang mulai gatal karena berkeringat. “Aaaakhhh! Kode ini sama sekali tidak berpola!” serunya stress.

“Reaksimu sama saja denganku,” ujar Lynn mendesah kecewa. Ternyata memecahkan kode memang tidak semudah itu.

Lynn memperhatikan kode di balik kupon itu lekat-lekat. Yang akan mereka dapatkan jika berhasil memecahkan kode ini pasti bukan hanya sekadar kopi.

“Sampai mana kau berhasil memecahkan ini?” sahut Bank sambil mengibaskan kupon yang ia pegang.

“Melihat huruf dan angka itu, aku menduga kalau huruf adalah simbol untuk angka dan sebaliknya. Lagipula alamat pasti memiliki dua unsur itu. Aku mencoba mengubah huruf menjadi angka, dan angka menjadi huruf. Namun hanya mendapatkan hasil yang sama sekali tidak beraturan.”

Bank menengadahkan tangannya, “coba kulihat hasil coretanmu.”

Lynn menyerahkan kertas hasil coret-coretannya. Kebanyakan hanya huruf dan angka tidak berarti. Namun ada satu deret huruf yang membuat otak Bank bekerja.

H Q N Q Z I Q O

“Deret huruf ini,” tunjuk Bank pada coretan Lynn. “Dari mana kau dapat ini?”

Lynn segera mengeluarkan HP-nya dan membuka notes hingga keluar keyboard telepon genggamnya. “Banyak angka berulang dalam deret angka di balik kupon. Dan kupikir, yang paling cocok untuk membuat huruf dari angka berulang adalah cara mengetik di HP. Ingat keyboard HP dengan 9 tombol, kan? Jika kau menekan angka 2 satu kali maka akan muncul huruf ‘a’, tekan dua kali akan muncul huruf ‘b’ dan seterusnya. Itu deret huruf yang keluar ketika aku mengetikkan angka-angka itu.”





“Keyboard ya…. Hmmm…” Bank kembali memutar otak.

Namun tak lama setelahnya, pupil mata Bank membesar. Perlu beberapa detik sebelum Bank mengeja kata yang cukup familier di telinga mereka berdua. “Pa....ya....thai.…” bisik Bank.

Lynn mengedipkan matanya tiga-empat kali—meski tidak mungkin disadari siapa pun karena matanya yang sipit. Belum lagi kenyataan bahwa ia memakai kacamata yang cukup tebal.

“Dari mana….” Tanya Lynn terbata-bata.

“Ini kode dengan pola bertingkat, Lynn. Mungkin bagimu ‘HQNQZIQO’ tidak berarti apa-apa. Tapi coba ubah huruf tersebut dengan sistem keyboard yang lain, sistem qwerty. Apa yang akan muncul?”

“h untuk p, q untuk a, n untuk y….” Lynn menganalisis deretan huruf tersebut setelah mengubah pengaturan keyboard di telepon genggamnya. 



Ia terdiam beberapa saat sebelum membisikkan kata-kata yang sama. “Payathai…” katanya takjub sendiri.

Ia menatap bola mata Bank dalam-dalam, lalu tersenyum.

“Bagaimana bisa?” tanya Lynn heran.

Ingatan adalah keahlianku, ingat? Aku bisa dengan mudah mengingat deretan huruf yang ada di keyboard HP atau laptop.”

“Kalau sudah tahu tempatnya, berarti sisanya tinggal nomor dan kode pos. Tapi…” Lynn memperhatikan sekali lagi kode di kuponnya dan coret-coretan yang sudah dia buat, bergantian. “Kalaupun ini diubah menjadi deret angka, akan ketemu 6 dan 4 deret angka. Sementara kode pos hanya 5 angka.”

“Bank mengerutkan dahinya. Yang benar saja, Lynn. Masa kamu nggak ingat rumus dasar memecahkan bilangan berpola, sih?”

Lynn kembali tersentak. “Ah, harus diturunkan lagi.”

Lynn mendekatkan kertas coret-coretan itu ke depan wajahnya dan mencoba berkonsentrasi. Dengan mudah, ia menangkap maksud Bank. Enam angka pertama yang sudah ia pecahkan menggunakan penggantian huruf sederhana, bisa menjadi lima angka jika melihat beda angka pertama dan kedua, kedua dan ketiga, dan seterusnya. Sehingga dari deret 1,2,2,6,6,6 didapatlah angka 1,0,4,0,0 dan dari deret 1,2,6,15 didapatlah angka 1,4,9.


Lynn bersorak. Kode itu kini terpecahkan dengan mudah berkat Bank.

10400, PAYATHAI 149

“Aku benar-benar bingung Bank. Kenapa anak sepertimu berakhir di toko laundry,” Lynn menggeleng-gelengkan kepalanya dengan takjub.

Garis wajah Bank tidak memperlihatkan perubahan, namun pipinya sedikit bersemu dan terasa hangat. “A..aku cuma mengira-ngira cara memecahkan kode angka itu setelah mengingat kode pos berapa saja yang ada di wilayah Payathai,” katanya gugup. “Kemampuanku hanya untuk mengingat saja…” kini ia justru merendah.

Lynn kemudian berdiri dan menerjang Bank dengan pelukan erat.

“Lynn…LYNN!!” seru Bank terbata-bata karena mendapat serangan mendadak.

Lynn mengendurkan pelukannya. “Maafkan aku sudah melibatkanmu dalam semua kecuranganku waktu ujian. Aku pasti akan bertanggungjawab bagaimanapun caranya.”

Bank menjauhkan Lynn dengan kedua tangannya. Ia menunduk. “Sudahlah, aku juga bersalah….”

“Yah, kita berdua salah. Tapi itu sudah berlalu…” bisik Lynn. “Kita sudah menerima hukumannya….”

“Aku… merasa bersalah telah melibatkan banyak orang, terutama kau. Tapi tiap orang tetap punya kesempatan untuk berubah selama masih hidup. Dan aku ingin bangkit lagi, meski harus memulai dari dasar,” aku Lynn seraya mencengkram kuat tali tas selempangnya—berusaha mengurangi rasa sakit yang mendera hatinya.

Tiba-tiba, Lynn merasakan tangan Bank yang menyentuh telapak tangannya. “Kalau begitu, ajak aku juga.”

Lynn terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk.

“Ngomong-ngomong, kau bersedia bertanggung jawab bagaimana pun caranya, kan?” tanya Bank.

Lynn kini kebingungan. Memang dia baru saja berkata seperti itu, sih. Dan itu bukan ucapan yang ia keluarkan hanya untuk mengurangi perasaan bersalahnya. Dia memang bermaksud seperti itu. Tapi apa tepatnya yang Bank ingin dia lakukan. Dia sendiri tak tahu.

Bank lalu mengeluarkan telepon genggam dari sakunya. “Foto bareng. Kali ini dengan HP-ku.”

Setelah bunyi ‘klik’, terpampanglah wajah canggung mereka berdua di layar telepon genggam milik Bank.
____

Café yang mereka datangi tidak terlalu besar. Hanya tempat minum kopi berukuran tidak lebih dari 100 meter. Pengunjungya juga tidak terlalu banyak, namun aroma kopi yang khas mulai tercium begitu mereka melangkah ke depan pintu café.

“Benar ini tempatnya?” Bank ragu.

Lynn mengangkat bahu. “Alamatnya sih benar.”

“Permisi, maaf. Apa kupon ini bisa dipakai di sini?” tanya Lynn pada salah satu karyawan.

Karyawan laki-laki yang tadinya sedang sibuk mengelap meja itu kini berhenti melakukan kegiatannya, dan meminta Lynn memberikan kuponnya agar ia bisa memeriksanya. Ia tampak bingung karena belum pernah melihat kupon itu sebelumnya. Kemudian, ia pun bertanya pada teman sesama karyawan yang ada di balik meja kasir. Karyawan tersebut kemudian menelepon seseorang. Dari wajahnya, Bank dan Lynn tahu kalau karyawan-karyawan di sini tidak pernah melihat kupon seperti itu, dan bermaksud memastikannya pada orang lain—pemilik café itu, mungkin.

“Manajer akan segera datang ke sini, silakan menunggu di sebelah sana,” pinta karyawan yang tadi menelepon dan telah mendapat perintah dari atasannya.

Dengan otak yang masih bertanya-tanya, Bank dan Lynn duduk di sofa yang agak terpisah dari kursi-kursi yang lain. Mereka juga dipersilakan memesan minuman apa pun secara gratis. Lynn meminta americano, dan café latte untuk Bank.

Tak lama kemudian, manajer yang disebutkan oleh karyawan café itu pun datang. Dia adalah wanita paruh baya dengan rambut sebahu.

“Ah!” seru Lynn tertahan saat menyadari bahwa wanita itulah yang memberikan kupon itu padanya. Dia juga merupakan salah satu saksi saat Lynn menjalani interogasi di kantor dewan pendidikan Thailand.

Bank menoleh pada Lynn dengan bingung. Namun langsung mengerti begitu Lynn mengacungkan kuponnya.

“Aku tidak menyangka kalian akan datang secepat ini,” sapa perempuan itu sambil menyalami Lynn dan Bank. “Kopinya enak?”

Dua anak muda di hadapannya mengangguk—tanpa mengalihkan tatapan mata darinya.

“Tanpa basa-basi, kuucapkan selamat untuk kalian berdua,” kata perempuan yang kini diketahui bernama Nattasha tersebut.

Lynn dan Bank bertukar pandang, saling bertanya-tanya.

“Kalian secara resmi diterima menjadi bagian dari International School of Intellegence (ISI) dengan beasiswa penuh dari negara. Yah, walau dibilang beasiswa, sejujurnya memang tidak ada siswa yang bisa membayar untuk masuk sekolah ini. Satu-satunya jalan adalah dengan mendapat beasiswa langsung dari pemerintah Thailand. Semua yang belajar di sana adalah murid beasiswa,” terang Nattasha panjang lebar—hanya membuat kebingungan Lynn dan Bank bertumpuk.

“Apa maksud anda? Kami tidak pernah mendaftar apa pun,” kata Lynn meminta penjelasan lebih lanjut.

“Tidak pernah ada yang mendaftar untuk masuk ke sana, Lynn.” Nattasha menggeleng. “Kami memilihnya secara langsung. Dan kalian berdua terpilih. Jadi sekali lagi, selamat.”

“Tapi bagaimana....”

Lynn kembali bertanya. Ia tidak paham mengapa dirinya yang baru saja diblacklist untuk masuk perguruan tinggi di luar negeri justru mendapat beasiswa yang tidak terduga seperti ini.

“Kalian mengikuti ujian STIC. Kalian melakukan kecurangan, dan nilai kalian berdua dibatalkan. Pihak penyelenggara ujian di Australia mengirimkan kertas ujian kalian sebagai bukti kasus kemarin, dan kami membuat salinannya. Ini hasil ujian kalian.” Nattasha menyerahkan beberapa lembar kertas ujian dan lembar jawaban.

Lynn melihat kesamaan jawabannya dan jawaban milik Bank. Meski Bank berhenti setelah ujian sesi dua, nilai ujian sesi pertama dan keduanya sempurna. Begitu juga miliknya.

“Kemampuan kalian terlalu luar biasa untuk disia-siakan. Terlebih, tak pernah ada yang terpikir untuk melakukan kecurangan dengan cara yang kalian lakukan. Membutuhkan kemampuan luar biasa untuk memikirkan cara itu, menurutku. Meski tentu saja sebagian besar anggota dewan melihatnya sebagai kelakuan yang memalukan. Memang, penilaian kami hanya minus di satu hal, yaitu kemampuan kalian untuk membedakan sikap yang benar dan yang salah. Tapi pada akhirnya kami memberikan tiket itu pada Nona Rinrada Thilnep karena berani datang dan mengakui semua kecurangan yang telah dilakukannya. Untuk Tuan Phatphon Vityakul, kami meberikan kepercayaan sepenuhnya pada nona Rinrada. Kalau ia mengajakmu, artinya ia percaya padamu. Kehadiranmu di sini membuktikan bahwa kau juga berhak atas beasiswa tersebut.”

Lynn dan Bank sama-sama bengong mendengar penjelasan Nattasha.

“Ngomong-ngomong, karena kalian diterima lebih lambat daripada murid yang lain. Kami harus melakukan tes khusus apa kalian benar-benar pantas untuk pergi ke sana,” lanjut Nattasha.

“Kami harus tes lagi?” tanya Lynn.

Nattasha menggeleng. “Kalian baru saja menyelesaikannya.” Ia menunjuk kupon yang  diberikan pada Lynn. Memecahkan kode tersebut adalah tes tersembunyi untuk mereka berdua.

Aku tidak menyangka kalian bisa memecahkan kode itu secepat ini. Dokumen kalian baru siap tiga hari lagi. Untuk sementara aku hanya bisa memberikan selamat dan penjelasan langsung seperti ini. Begitu dokumen siap, kalian juga harus sudah siap untuk berangkat ke ISI di Nongsa, Batam, Indonesia. Dan yang bisa membatalkan beasiswa ini hanya keputusan kalian. Jadi, pikirkan baik-baik. Setelah itu silakan menghubungi saya di nomor ini,” kata Nattasha seraya menyerahkan dua lembar kartu nama.

“Ingat, segala sesuatu mengenai sekolah ini dirahasiakan. Kalian hanya boleh mengabarkan pada orangtua dan keluarga inti,” tutupnya.

___

Keluar dari café, Lynn menepuk kedua pipinya keras-keras. Ia tidak percaya akhirnya mendapat beasiswa penuh, meski belum mendapat gambaran secara penuh mengenai sekolahnya nanti. Yang ia tahu, murid-murid se-ASEAN dengan beasiswa yang sama akan belajar di sana. Dan mereka akan mempelajari banyak cabang ilmu sesuai peminatan. Apa yang akan mereka pelajari tak terbatas. Sebab, semakin banyak ilmu yang mereka serap, semakin banyak pula yang bisa mereka lakukan untuk negara.

“Aduuh…” keluh Lynn begitu sadar tepukannya terlalu keras.

Ia masih meringis dan menggosok-gosok kedua pipinya untuk mengurangi rasa sakit ketika menoleh kea rah Bank dan menyadari bahwa anak itu tidak mengatakan apa-apa sejak tadi.

“Bank, kamu kenapa?”

Bank menghentikan langkahnya dan menoleh pada Lynn. Namun tatapan matanya tidak sepenuhnya pada Lynn, seolah sedang menerawang jauh ke depan.

“Kamu oke? Nggak sakit, kan?” Lynn menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Bank.

Bank menyingkirkan tangan Lynn dari depan wajahnya. Kini pikirannya kembali.

“Aku tidak tahu harus menerima tawaran tadi atau tidak,” ucap Bank jujur.

Lynn terkejut. “Kamu nggak mau? Di sana kamu bisa belajar apa pun, lho. Maksudku, APAPUN! Kamu nggak tertarik?”

“Bukan soal itu, Lynn. Mrs. Nattasha memberikan kesempatan itu padamu karena kamu mengakui kesalahanmu. Tapi aku—” Bank tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Ia hanya ikut karena Lynn meminta bantuan memecahkan kode. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya soal kemampuan membedakan sikap yang benar atau salah, seperti yang telah disinggung Nattasha. Dan sejujurnya, sampai sekarang pun Bank belum bisa memaafkan dirinya sendiri sejak insiden itu. Lebih buruk lagi, ia sempat berpikir untuk sekalian terjun lebih dalam karena sudah terlanjur basah. Benar-benar pemikiran yang memalukan.

“—aku bahkan mengancam untuk melaporkanmu saat terakhir kita bertemu,” lanjut Bank akhirnya.

Lynn kini paham apa yang mengganjal di hati Bank. Ia pun melangkah mendekat, dan perlahan menunduk lalu mengaitkan jemari Bank dengan jemarinya. “Tapi….Pada akhirnya kau tidak mengatakan apa-apa, kan? Padahal aku sudah bersiap-siap menerima panggilan dari dewan pendidikan selama seminggu penuh.”

Sedetik kemudian, Bank mengeratkan tautan jemari mereka dan memeluk Lynn. Ia menenggelamkan kepalanya di leher Lynn dan terisak. “Maafkan aku…. Aku sama sekali tidak berniat mengancammu seperti itu….Hiks…. Aku, hanya tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan hidupku setelah itu Lynn….”

Lynn membalas pelukan itu dan menepuk punggung Bank perlahan. “Aku tahu…” bisik Lynn di telinga Bank, membuat isakan Bank semakin kencang. “Karena itulah aku menemuimu, bukan orang lain.”

“Kalaupun mereka hanya memberikan beasiswa itu hanya untuk satu orang, kau lebih berhak menerimanya daripada aku, Bank,” aku Lynn setelah isak tangis Bank mereda. “Kaulah yang membuatku sadar kalau apa yang kulakukan selama ini salah….”

Suara isak tangis menghilang, keraguan di hati mulai pudar, dan hati yang terluka mulai menyembuhkan dirinya sendiri. Perasaan mengganjal yang selama ini ada di dalam hati mereka berdua mulai menghilang. Jalan hidup mereka berdua pun mulai terlihat. Meski tidak mengungkapkannya satu sama lain, mereka berdua tahu kalau mereka sama sekali tidak boleh menghancurkan kesempatan baik yang diterima.

Lynn dan Bank berjalan beriringan menuju stasiun terdekat, belum mau melepaskan tautan tangannya satu sama lain.

“Jadi, tawaran beasiswanya diterima?” tanya Lynn.

Bank kini tersenyum lebar. “Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk yang kedua kalinya, Lynn!”

END

3 komentar:

  1. Waaahh mereka ke Indonesiaaaaa. #salahfokus
    Untuk romens krn nyambung sama cerita sebelumnya, gue cukup puas. Meskipun gue pengen banget romensnya lebih keliatan lagi #maruk #bikinsendiriwoy wakaka

    Tapi gue kasih 10 jempol buat lo yang udh berusaha mengubah ending buat Bank yang lebih menyejukan di hati :* My Bank.... account #eh#plak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak jenius mah romensnya nggak kayak romens kebanyakan yang menye2, ju :v

      Yang kayak gini harusnya udah cukup buat mereka berdua yang sama-sama canggung. Akakakaka xD

      Iya, intinya gue nulis ini cuma biar Bank dapet beasiswa dan bisa sekolah :'( Dan lagi, ISI itu beneran ada di Batam, lho. Kan gue research dulu. Masalahnya aslinya itu proyek milyaran yang terlantar di zamannya mama mega #ups

      Hapus
  2. Waaahh mereka ke Indonesiaaaaa. #salahfokus
    Untuk romens krn nyambung sama cerita sebelumnya, gue cukup puas. Meskipun gue pengen banget romensnya lebih keliatan lagi #maruk #bikinsendiriwoy wakaka

    Tapi gue kasih 10 jempol buat lo yang udh berusaha mengubah ending buat Bank yang lebih menyejukan di hati :* My Bank.... account #eh#plak

    BalasHapus