Minggu, 03 April 2016

Movie Script Blog Tour Episode 5 - FRIEND OR FOE


Ini adalah Movie Script Blog Tour Pertama OWOP *kasi tepok tangan dulu dong*
Nama saya Nana *kasi tepok tangan lagi dong*
Dan saya akan mempersembahkan Episode kelima... *tepok tangan lagi dong*
Setelah baca mohon apreasiasinya, ya (lalu ditepok pake raket nyamuk)
Untuk yang ingin mengikuti kisah ini dari awal, silakan berkunjung ke blog-blog kece di bawah ini:
Cuplikan Episode Sebelumnya: Adik dan anak-anak para pengunci yang disebut Artemis, berkumpul di markas Para Pengunci. Mereka diminta untuk memecahkan kode rumit yang diberikan pihak musuh yang menyekap sepuluh pengunci di dalam tabung. Jika tak berhasil memecahkan kode itu dalam waktu tertentu, maka Para Pengunci yang disekap akan mati...
EPISODE 5 - FRIEND OR FOE


INT. Markas Para Pengunci

Em (Emily): (mengintip dari balik tembok) Tu…tunggu…

Joe, Cyn, Rei: (menoleh bersamaan ke belakang dan menatap Em dengan wajah bingung)

Wij: (menghampiri Em dengan segera dan menuntunnya mendekati tiga Artemis lain) Maaf aku lupa memperkenalkanmu, Em. Ini Emily, dia anak Rinjani, salah satu pengunci yang disekap bersama kakak dan orang tua kalian. Em, ini Cyntia, Joe, dan Rei.

Em: (mendongak menatap Wij) Bukan itu, Om…

Wij: (Wajah mengerut, tidak begitu suka dipanggil dengan sebutan ‘Om’)

Joe, Rei, Cyn: (mati-matian menahan tawa)

Em: Memecahkan kode ini tugas kami berempat, kan? Bolehlah kami mendapat akses ke atap untuk memecahkan kode itu?

Wij: (menatap Em heran) Kenapa tidak di sini saja?

Em: Kami butuh konsentrasi… (lalu memandang Joe, Cyn, dan Rei satu persatu dengan tatapan tajam seolah meminta mereka bertiga untuk mendukungnya)

Rei: Aku setuju dengan Em. Lagipula si topeng jelek itu juga mengatakan sesuatu tentang langit.

Cyn, Joe: (mengangguk dan membantu meyakinkan Wij)

Wij: (menatap keempat anak di hadapannya satu persatu dan mendesah keras) Baiklah kalau itu yang kalian mau. Tapi cepatlah pecahkan kode itu. Kita hanya punya waktu… (melihat arlojinya) 58 menit sebelum seorang pengunci terbunuh.

Em: Serahkan pada kami.

EXT. Atap Gedung, malam hari
SFX. Angin malam berhembus cukup kencang

Joe: Jadi, apa tepatnya yang mau kamu bicarakan? (menyilangkan tangan di depan dada, menatap tajam pada Em)

Cyn: Kami tahu tatapanmu barusan itu punya maksud lain.

Em: (mulai bicara dengan takut dan ragu-ragu) Apa kalian tidak merasa aneh?

Rei: Soal apa? Semuanya terlalu aneh bagiku sampai aku tidak bisa berpikir lagi.

Cyn: (menggelengkan kepala dan memutar bola matanya ke atas) cowok bodoh… (dengan suara pelan nyaris tak terdengar).

Em: Pria bertopeng di video tadi bilang kalau para pengunci itu bertugas menyembunyikan kenyataan sejarah yang merugikan pihak pemerintah. Dan orang yang menyekap keluarga kita itu juga bilang kalau kenyataan sejarah tidak seharusnya disembunyikan. Bukankah ini aneh?

Rei: Benar juga. Aku juga sempat berpikir itu aneh. Tapi pikiranku teralihkan oleh kode dari si topeng jelek itu…

Joe: Dasar pembual! Bilang saja kalau kamu tidak sadar keanehannya!

Cyn: (terkikik) Sebenarnya aku sudah sadar dari tadi. Tiap kata-kata dari pria bertopeng, gelagat Wij yang tak bisa menyembunyikan emosinya di depan kita… Yang disebut pengunci itu… menyembunyikan sesuatu dari kita, keluarganya sendiri…

Joe: Memang sejak awal kita tidak tahu apa-apa tentang mereka, kan? Bisa saja kita ditipu. Keluarga kita bekerja untuk pihak pemerintah, tapi rahasia sejarah apa yang sebegitu merugikan pihak pemerintah sampai mereka meminta agen khusus untuk menyembunyikan semuanya?

Cyn: Aku tidak pernah bertemu ayahku sejak aku pindah SD yang ada asramanya. Ingat wajahnya saja tidak, bagaimana mungkin aku bisa begitu mudah percaya dan menyelamatkan orang yang mengunjungiku saja tidak pernah?

Rei: Huh! Memangnya aku juga akan mudah percaya sama kakak yang selalu menghinaku tiap aku tak berhasil memecahkan teka-teki darinya? Maniak teka-teki seperti dia tak akan pernah tahu bagaimana perasaanku!

Joe: Rei ngomongnya sih gitu… Tapi kamu selalu kangen kalau kakakmu tidak ada di rumah, kan? Makanya kamu selalu membongkar puzzle tiga dimensi yang sudah diselesaikan dengan sempurna oleh kakakmu dan mencoba menyusunnya lagi, berulang kali….

Rei: (wajah memerah malu) Itu karena aku tidak mau kalah dari dia!!

Joe, Cyn: (mengangguk-angguk berpura-pura menerima alasan Rei)

Em: (sejak tadi hanya melempar pandangan bergantian pada tiga orang di hadapannya yang jelas jauh lebih tua dari dirinya) Aaa…anu…

Joe, Cyn, Rei: (kembali memusatkan perhatian pada Em)

Em: Mungkin sekarang kita tidak bisa memutuskan harus percaya siapa. Hubunganku dengan ibu pun tidak begitu baik karena ia terlalu mementingkan pekerjaannya dan hampir tak pernah bicara denganku. Sulit bagiku untuk begitu saja percaya pada pihak pengunci yang bilang bahwa pekerjaan orang tua kita adalah perkerjaan mulia dan kita harus menyelamatkan mereka. Pihak musuh dari para pengunci menangkap keluarga kita karena berusaha menghalangi mereka membuka kenyataan sejarah. Lalu apa untungnya bagi mereka membuat kita memecahkan kode tempat penyekapan itu? Dan kenapa harus kita? Kenapa bukan para pengunci lain yang tidak tertangkap? Apa kalian tidak berpikir bahwa pihak musuh ini ingin menyampaikan sesuatu pada kita?

Rei: (memandang Em dengan takjub) Kukira kamu orangnya pendiam. Tapi ternyata bisa bicara panjang lebar begitu….

Joe: (menyikut Rei)

Cyn: Em benar. Kita tidak bisa menyimpulkan semuanya secepat itu. Kita perlu mencari tahu sendiri tentang semua ini. (Menghela napas panjang) Hhh…. Kenapa ini semua harus terjadi di kehidupanku yang damai, sih? Harusnya cewek remaja sepertiku hanya dipusingkan masalah cinta, kenapa jadi terjebak masalah serius begini, sih?

Em: Takdir yang memilihmu, Kak Cyn…

Joe, Rei: (mulut membulat membentuk O dan bertepuk tangan tanpa suara mengagumi jawaban Em)

Cyn: Baiklah. Apapun itu, kita tidak punya waktu, kan? Siapapun yang benar dan siapapun yang salah, aku tidak ingin ada yang mati… (berdiri dan menatap tiga orang lainnya)

Joe: (Ikut berdiri) Lebih baik kita bagi dua tim. Dua orang mencari tahu apa yang disembunyikan pihak pengunci, dua orang lagi bertugas memecahkan kode.

Rei: (mendongak dan memandang Joe dengan santai) Bagaimana kalau dua orang tinggal di sini untuk mencari tahu, dua orang langsung ke tempat penyekapan?

Cyn: Kamu udah pecahin kodenya, Rei!? (mulut menganga, menatap Rei tak percaya)

Rei: (berdiri dan memasukkan dua tangannya ke kantong celana) Kalau si topeng jelek itu mau membuat teka-teki yang sulit, harusnya dia enggak usah pakai kasih petunjuk itu segala (menunjuk ke arah langit)

Em, Joe, Cyn: (memandang langit yang hitam pekat)

Cyn: Aku masih enggak ngerti…

Rei: Ini teka-teki yang terlalu mudah untuk anak yang masa kecilnya dijejali kode seperti aku.

Cyn: Jadi, di mana tempatnya? (bertanya dengan tidak sabar)

Rei: Nanti kujelaskan. Kamu ikut aku saja, Cyn. Kemampuan fotografismu pasti berguna untuk menyusup ke wilayah yang belum kita kuasai. (Menoleh pada Joe dan Em) Kalian enggak apa-apa mencari tahu di sini?

Em: (menggeleng pelan) Aku jago bersembunyi, kok.

Joe: Aku akan memastikan Em baik-baik saja.

Mereka berempat perlahan turun dari atap. Rei dan Cyntia mencari jendela terdekat dan langsung mengendap-endap kabur ke luar. Sementara itu Joe berusaha mengikuti langkah tanpa suara milik Em dan mencari ruang arsip atau ruang apa pun yang dapat membantu mereka mengumpulkan informasi.


INT. Ruang penuh tabung

Ar: Radian!!!

Dru, Wid, Jan: (memandang ke arah tabung berisi Radian)

Rad: (perlahan membuka mata dan menatap arah suara dengan sayu) Ar…

Wid: Kamu enggak apa-apa?

Rad: (memegang kepalanya yang masih sakit) Aku… tidak apa-apa.

Dru: Kenapa kamu bisa tertangkap, Rad? Bukannya seharusnya kamu aman di ruang kendali?

Rad: (melihat Sembilan tabung selain miliknya dan mendapati kenyataan bahwa ada sembilan pengunci lain yang tertangkap. Juga memandang sekeliling, memastikan tak ada orang lain di ruangan itu. Lalu, menempelkan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya hingga membentuk lingkaran dan menempelkan ke mata kanannya seraya menatap teman-temannya dengan tatapan ngeri)
Ar, Dru, Jan, Wid: (bola mata melebar kaget begitu melihat Rad menunjukkan kode para pengunci yang berarti ‘mata-mata’) 

BERSAMBUNG....

Nantikan Episode selanjutnya di blog Suhail Syaiful Rahman :)

8 komentar:

  1. Pertamaxx dulu ah, Gan. :p

    BalasHapus
  2. wkwkwkw.... kali ini scriptnya suasananya santai...beda banget sama yang kemaren-kemaren yang tegang....as expected from Nana XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan as expected, tapi karna emang ga bisa yang susah-susah xDD

      Hapus
  3. Misteri baru lagi yee, seneng banget dah orang-orang ini bikin misteri lagi....


    Mata-matanya itu siapa yaaaah....
    *jadi pengen cepetcepet selese*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dongs, biar greget #apa

      Siapapun bolehlah. Radian juga boleh xD

      Hapus
  4. Oh my Allah... semoga aku bisa melanjutkan cerita ini.

    Ajarin, Na.

    BalasHapus