Selasa, 08 September 2015

Tantangan Menulis OWOP - Kembar

Ini tantangan menulis dari si kembar Lisma & Lisda
Tantangannya tentu saja bertema "Kembar", ahahahahaha :D

Akhirnya gue dan Ruru pun sepakat bikin cerita sambungan.
Ceritanya dia udah di posting di sini, dan ini cerita gue.

________

"Lo di mana?" tanyanya di seberang telepon.

Di mana ini? Pikirku mengulang pertanyaannya. Haruskah aku sebutkan semua toko yang ada di sini? Tapi rasanya warung kopi atau warung rokok itu nggak bisa jadi patokan yang bagus, sih.

Hebatnya, temanku ini bisa langsung tahu kalau aku kelewatan hanya dari deskripsiku yang seadanya. Heran, kenapa sih dia dianugerahi kemampuan pemetaan yang ajib begitu? Bukannya seharusnya perempuan itu susah membaca peta dan menentukan jarak, ya? Ilmu itu kudapatkan setelah membaca buku psikologi populer "Why Men Can't Listen and Women Can't Read Maps". Artinya, temanku ini sudah melampaui ilmu psikologi yang berkembang hingga saat ini. Hebat sekali.

Setelah kurang lebih sepuluh menit berjalan kaki menuju arah sebaliknya, aku pun bisa melihat sosoknya yang sedang berdiri menungguku di ujung jalan. Sangat mudah dikenali karena ia memakai baju yang sama denganku. Ngapain dia pakai baju itu juga?

"Ayok," kataku akhirnya tanpa membahas kenapa baju kami kembaran. Sudah biasa, sih. Jadi malas membahasnya lebih jauh.

Sebenarnya, sih rasanya kepingin banting tas karena rencanaku untuk nggak kembaran baju gagal. Hari ini aku tidak dalam mood untuk kembaran, tapi ujung-ujungnya begini juga. Aku memang memakai baju hijau yang kami beli bersama beberapa waktu yang lalu, karena kemarin baju ini sudah kupakai. Sayang kalau hari ini aku harus pakai baju yang lain. Kalian tahu kan ada yang namanya baju-semi-kotor? Jadi, baju hijau ini nggak bersih, tapi juga belum kotor. Rencananya baju ini bakal kucuci malam ini. Dan kupikir temanku itu nggak akan kepikiran untuk memakai baju yang sama karena toh kami tidak janjian apapun sebelumnya.

"Ada anak kembar," celetuk seorang pedagang saat kami berjalan memasuki Taman Makam Pahlawan.

Tuh, kan. Gini deh jadinya kalau pakai baju kembaran. Terlalu menarik perhatian. Sejak awal kuliah, selalu begini. Ada saja hal-hal yang membuat kami dibilang kembar. Entah itu karena kami yang ngomong hal yang sama di saat yang bersamaan, berdebat untuk memiliki satu hal yang sama, bahkan ketika mendapat nilai yang sama persis di beberapa mata pelajaran.

Sejujurnya aku tak terbiasa dengan hal ini. Sejak dulu aku senang menjadi pribadi yang berbeda di kalangan teman-temanku. Aku yang begini tiba-tiba saja punya teman yang semuanya mirip denganku. Rasanya sulit diungkapkan. Apalagi temanku itu memang menginginkan saudara kembar sejak dulu. Sedangkan, aku sama sekali nggak kepikiran soal itu.

Lama berkeliling, akhirnya kami memutuskan untuk berfoto berdua di depan monumen TMP. Sulit sekali foto berdua menggunakan kamera DSLR milikku. Sejauh apapun tanganku menjulurkan kamera itu, tetap saja tidak menghasilkan gambar yang kuinginkan.

"Mau diambilin fotonya, mbak?" tanya seorang laki-laki yang sejak tadi memperhatikan kami berdua yang sibuk berfoto.

Kami pun saling berpandangan dan tersenyum senang. Aku memang tadi bilang sebal karena penampilan kami terlalu menarik perhatian. Tapi di sisi lain, penampilan ini juga menarik orang untuk membantu kami yang sedang kesusahan.

Kalau dipikir-pikir baru kali ini aku punya teman yang setuju apapun pendapatku. Siapa coba yang mau diajak jalan-jalan ke makam untuk merayakan ulang tahun?

"Karena ulang tahun kita tanggal 30 September, kenapa kita nggak keliling ke tempat kejadian G30S/PKI aja?" Itu kataku kemarin. Padahal cuma iseng, karena aku punya kecenderungan untuk mengajukan usul yang agak berbeda dari orang kebanyakan. Tapi ternyata temanku itu langsung setuju, hingga akhirnya hari ini kami menetapkan untuk jalan-jalan ke TMP, Museum Sasmitaloka, dan Museum Lubang Buaya.

Karena kami berdua juga suka menulis, kami juga dengan mudah bisa menggabungkan ide dan mengeksekusinya seolah hanya satu orang yang menulis. Kami juga sangat suka membaca, sehingga kami tidak pernah membeli buku yang sama lagi sejak kami kenal. Sebab aku sudah menganggap koleksi bukunya adalah perpustakaanku, begitu juga sebaliknya.

Meskipun aku sering sebal, tapi kalau aku memang ditakdirkan punya saudara kembar seperti dia rasanya tidak buruk juga.

-Nana-
3/9/2015

Berhubung Lilis (Lisma & Lisda) minta bukti fotonya, ini nif foto aslinya. Foto jadul beberapa tahun yang lalu. Ahahahahahahahaha xDD

Yang kiri hasil moto sendiri, terlalu zoom karna kameranya kegedean. Yang kanan difotoin kakak-kakak baik xD


[Flashfiction] Kembang Api


Di atap gedung itu, mereka berdua terdiam membisu. Tadinya sang perempuan tidak mengerti kenapa laki-lakinya menarik tangannya tanpa mengatakan apa-apa. Padahal mereka berdua tengah menikmati festival akhir tahun di tengah kota ini.

"Kenapa kita ke sini?" tanya si perempuan akhirnya.

"Coba tebak," kata si laki-laki dengan nada menggoda.

Si perempuan memperhatikan sekeliling. Atap gedung ini sepi, dan sepertinya memang tak ada orang lain di dalam gedung karena semua lampunya padam. Mengapa laki-lakinya sengaja mengajaknya ke tempat seperti ini? Apa karena ia ingin memberikan hadiah? Ah, ini kan hanya festival menyambut tahun baru. Mana ada orang yang memberikan hadiah saat-saat seperti ini. Dan hari ini juga jelas bukan ulang tahunnya.

Ah, dia tahu!

"Aku tahu!" seru si perempuan antusias. Ia mengangkat telunjuknya tinggi ke suatu tempat di keramaian. "Kembang api." Ia pun tersenyum penuh kemenangan.

Si laki-laki mengangguk. "Dan kita akan menikmatinya dalam 5...4...3..." Ia fokus pada jam tangannya.

"2...1..." Si perempuan ikut menghitung mundur dengan tidak sabar.

"PSIUUU! DUARRR!!! BLARR!!"

Semua orang bersorak sorai melihat langit yang kini penuh warna. Kembang api muncul di langit selama satu menit penuh. Waktu yang cukup untuk seorang laki-laki di atap gedung untuk melepas kedua sarung tangan, jaket, topi, serta pistol yang ia pakai, dan membuangnya ke tempat tersembunyi.

Sementara itu di hadapannya tergeletak si perempuan yang sudah tak bernyawa karena ledakan pistol apinya sejak detik pertama kembang api meledak.

#malamnarasiOWOP
Nana 8/9/2015

Kamis, 06 Agustus 2015

Indahnya Aksara


Waktu ramadhan kemarin, ada temen yang jauh-jauh dateng dari semarang dan ngajakin wisata museum. Kebetulan dia emang maniak sejarah sampe-sampe beneran mau kuliah di UK untuk dapetin ilmu supaya bisa jadi peneliti museum. Wow.

Gue sih seneng-seneng aja diajak keliling museum karena gue juga suka museum. Terutama karena tiket masuknya murah. Ehehehehehe. Semua museum yang kita datengin hari itu (Museum Fatahillah, BI, dan Nasional) HTMnya cuma goceng. Ramah banget buat kantong gue :p

Kalo ngeliat isinya sih...
Waah, worth it banget lah, apalagi buat museum BI sama museum nasional yang super duper keren.

Meskipun gue terkagum-kagum sama pemandangan di bawah ini...



Ternyata ada satu hal yang bikin gue seneng banget dateng ke museum. Itu karena ada iniiii....




Walaupun gue gak bisa bacanya (iyalah, dipikir gampang?), tapi gue seneng banget liat prasasti-prasasti yang ditulis dengan aksara yang beda-beda. Ada yang jawa kuno, bali, dll. Bahkan ada daftarnya segala. Wuiih... kalo gue bisa berlama-lama di museum itu, pasti gue perhatiin banget tuh daftar aksaranya, kali aja bisa baca dikit-dikit walopun gatau juga sih artinya apa.

Aksara Jawa aja daftarnya ada sebanyak ini....

Gue emang suka banget sama bahasa yang punya aksara sendiri. Bahasa Jepang yang gue pelajari udah jelas punya aksara sendiri, sampe ada tiga malah. Hiragana sama katakana okelah. Tapi setelah belajar baca kanji, kok gue makin puyeng. Karena kanji itu nggak ada aturan yang bener-bener khusus untuk bacanya, jadi mau gak mau harus mengandalkan ingatan. Sayangnya ingatan gue bisa dibilang SANGAT BURUK. Jangankan ngapalin kanji, nginget naro kunci motor di mana aja susah. Akhirnya kanji yang bisa gue hapal ya cuma kanji-kanji yang sering dipake. Untungnya sih kerjaan gue lumayan make kanji. Yah, paling nggak gue jadi nggak bego-bego banget lah baca kanji.

Sambil belajar bahasa Jepang waktu di kampus, gue sama Ruru iseng banget belajar aksara Rusia. Kenapa? Awalnya sih karena kita niat bikin cerita bareng dan kebetulan dua karakter kita adalah orang Rusia. Jadilah kita belajar aksara Rusia dan beberapa kata-kata yang gampang demi mendalami karakter Lera dan Sveta. Padahal mah gak ngaruh juga karena setting ceritanya di Italia. Ahahahahaha.

Ini si kembar Lera & Sveta. Uwaaaahh~ kangennya....
Ini lucu banget karena waktu awal belajar bisa keder gara-gara huruf P dibaca R, huruf H dibaca N, dll :))

Selepas kuliah, Ruru lebih mendalami bahasa mandarin karena lagi gandrung grup cosplay dari China. Sementara gue belajar bahasa belanda karena waktu itu niat kuliah di sana (meskipun gajadi, huhuhuhu). Yah, walopun bahasa belanda nggak punya aksara khusus yang lucu kayakm rusia, paling nggak menarik belajar bahasanya mantan penjajah itu karena banyak kata-kata yang diserap menjadi bahasa Indonesia dan sebaliknya.


Abis berhenti belajar bahasa belanda karena capek, gue ikutan belajar bahasa mandarin karena waktu itu lagi gandrung nontonin live action Skip Beat yang digarap sama Taiwan. Saking isengnya, gue belajar huruf han dari lirik lagu, ngafalin satu-satu, dan akhirnya puyeng lalu berhenti.

Gak berhenti sampe disitu, gue nyangsang belajar aksara Thailand gara-gara keasikan nonton ATM Error the series dan pelem-pelem Thailand lainnya. Ini cukup berhasil karena akhirnya gue bisa baca tulisan Thailand, meskipun sekali lagi, gue gak paham apa yang gue baca xDD

Selama belajar aksara Thailand pun gue merasa super bahagia karena akhirnya gue paham kalo tulisan Thailand itu nggak serumit kelihatannya. Yah, mirip lah sama aksara jawa. Cuma vokalnya jauh lebih banyak, dan butuh kepekaan pendengaran yang baik untuk bisa nangkep huruf vokal apa yang dimaksud.

Karakter aksara Thailand adalah, tiap huruf konsonan punya satu kata benda yang mewakilkan cara baca huruf tersebut. Gampangnya, kayak kalo belajar bahasa Inggris "A for Apple" 

Akhir-akhir ini, gue belajar hangul, alias aksara Korea. Ternyata dari semua aksara-aksara yang aneh, hangul lah yang paling gampang dipahami. Gue langsung ngerti meski cuma belajar seharian. Ahahahahahaha. Dan gue bahagia mengetahui kenyataan kalau bahasa Korea punya suara 'e' pepet. LOL. Abis kalo di bahasa Jepang berubah jadi 'u' dan itu jauh banget ya, tolong....
Gue juga bahagia mengetahui kenyataan kalau tulisan korea sama cara bacanya itu sama, nggak beda seperti yang selama ini gue tau. Yang beda itu kalau bacanya dari latin, tapi kalo bacanya dari hangul ya sama aja. Aaaaaaa~ gue beneran seneng!!!

Misalnya aja "Yoo" bukan dibaca "Yo~" dengan pelafalan indonesia, tapi jadi "Yu". Padahal kalau dibaca dari hangul, itu jelas huruf "Yu". Lah kenapa tiba-tiba latinnya jadi Yoo? Bikin pusing.

Menurut gue pribadi, belajar hangul cuma perlu satu hari dan beberapa hari untuk latihan baca dan memperlancar nulis. Asik banget!!

Lalu apakah pembelajaran aksara ini ada gunanya buat gue? Ahahahahaha, sejujurnya sih nggak. Gue cuma didera rasa PENASARAN yang super kuat. Karena tiap nonton film atau acara yang ada aksara-aksara lucu macam aksara yang gue pelajari di atas, gue GATEL BANGET pengin baca. Biarpun belum tau artinya, sebodo amat, minimal gue tau itu bacanya apa gituuuhhh....

Gue belajar baca tulisan macam-macam negara lebih kayak nyari hiburan, sih. Menurut gue ini menyenangkan banget soalnya. Meskipun abis belajar kalo gue gak nonton film yang pake bahasa itu biasanya lupa lagi, sih..... :p

Makanya gue pernah bilang kalo gue pengin banget ngambil jurusan linguistik (terutama Asia yang banyak pake aksara aneh) andaikan gue lanjut sekolah nantinya. Tapi sampe saat ini gue cuma punya satu alasan, yaitu untuk kesenangan gue sendiri. Jadi rasanya nggak guna banget kalau gue ngambil jurusan ini tanpa tau mau gue pake buat apa ilmunya nanti.

Mungkin abis ini gue bakal belajar aksara India. Akakakakakaka xDD

Tim jalan-jalan keliling museum. Kurang satu personel karna doi gamao dipoto :/

Selasa, 04 Agustus 2015

Leo & Alfa - Chapter 6 Hidup Sempurna



"Hidup sempurna itu, kalau Papa beliin aku sepuluh bola pas ulang tahunku bulan depan. Tamat." Leo menutup buku tulisnya dan memegangnya dengan tangan kanan.

"Buat apaan sepuluh bola? Emangnya satu nggak cukup?" sela Alfa dari tempat duduknya yang tepat berada di depan Leo yang masih berada di depan kelas.

"Yee Alfa... Mikir dong. Mainin satu bola aja udah seru, pasti tambah seru dong kalo mainnya pake sepuluh bola!" seru Leo tanpa berpikir panjang.

Sontak seisi kelas pun tertawa, tak terkecuali kepala sekolah yang meminta mereka menuliskan apa makna kehidupan yang sempurna serta membacakannya satu persatu di depan kelas.

"Bukan seru itu mah! Rusuuuh!" seru Kiki dengan nada mencemooh. Kelas kembali riuh.

Leo cemberut. Ia lalu dipersilakan kembali ke tempat duduknya.

Berkat perintah pak kepala sekolah, kelas Leo dan Alfa hari ini ramai. Sejak tadi tak henti-hentinya ocehan para murid begitu mendengar teman sekelasnya membacakan hasil tulisannya. Halimah bilang hidupnya bakal sempurna kalau dia jadi artis sinetron. Tuti bilang hidupnya sempurna kalau dia jadi istri pejabat, atau minimal dokter lah. Kiki bilang hidupnya sempurna kalau mainan robot-robotan yang dibelikan ibunya dua bulan lalu ketemu. Soalnya sewaktu main di luar, robot-robotannya hilang dibawa kabur anjing tetangga. Amir bilang hidupnya sempurna kalau kepala sekolah mereka diganti, dan dia tidak selamat dari jitakan pak kepala sekolah.

Sekarang giliran Alfa.

"Ehem. Oke teman-teman, sekarang saya akan membacakan hasil tulisan saya tentang hidup yang sempurna." Alfa membenarkan letak dasi merahnya yang berujung karet celana. "Hidup adalah bergerak, sebab semua makhluk hidup pasti bergerak. Sementara sempurna adalah segala hal yang berjalan mulus atau sesuatu yang tanpa cacat. Maka hidup yang sempurna bagi manusia adalah bisa bernapas, makan, minum, dan terutama berkembang biak. Selesai."

Seisi kelas terdiam.

"Pak guruuu... berkembang biak apaan siih?" tanya Tuti dengan muka mau nangis karena nggak ngerti.

Pak kepala sekolah tidak menjawab pertanyaan Tuti dan langsung menyuruh Alfa untuk duduk sehingga tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan rumit lainnya. Bapak kepala sekolah pun bingung kenapa sekolahnya memiliki anak yang kelebihan otak seperti Alfa. Mungkin seharusnya anak itu masuk kelas akselerasi empat atau lima kali berturut-turut sampai ketahuan kelas mana yang akan menjadikan Alfa berkemampuan rata-rata kelas.

"Kalau hidup sempurna menurut pak guru apa?" tanya Leo sambil mengangkat tangannya.

Pak kepala sekolah pun kembali berdiri di tengah kelas sambil berpikir jawaban apa yang sebaiknya ia berikan pada murid-muridnya.

"Pasti kalau punya rambut ya, Pak?" kata Halimah nyari mati.

"Hush! Nggak boleh gitu Halimah! Pak Guru kan pasti tersinggung kalo rambutnya--eh, kepalanya dibahas!" sela Alfa berusaha memperbaiki keadaan. Sayangnya tidak bagi pak kepala sekolah.

Sambil menahan guratan-guratan kekesalan yang timbul di dahinya, pak kepala sekolah akhirnya berkata, "Hmm... menurut bapak, hidup sempurna itu... bisa mengajar anak-anak seperti kalian."

Seisi kelas kembali terdiam.

Apa mereka semua diam saking terharunya? pikir pak kepala sekolah.

"Ah, klise!" seru Halimah.

"Bapak ngomong gitu supaya kita-kita seneng, kan? Gombal..." sela Tuti.

"Jawabannya kurang ilmiah dan logis, Pak!" Ini pasti Alfa.

Pak kepala sekolah geleng-geleng kepala menghadapi kelakuan murid-muridnya. Ia mendesah pelan, namun di tengah desahan itu, ia juga tersenyum. Memang, anak-anak SD Mars membuatnya sakit kepala tiap ia mengajar, juga membuatnya mengalami kebotakan dini karena celotehan mereka yang mengesalkan. Tetapi di sisi lain, pak kepala sekolah juga bisa selalu tersenyum karena kelakuan anak-anak.

Ia pikir hidupnya tak akan pernah sempurna karena diusianya yang sekarang ia dan sang istri belum juga dikaruniai seorang anak. Namun jika melihat dari sisi yang lain, ia sudah memiliki anak yang jumlahnya sangat banyak. Anak-anak SD Mars adalah anak-anak kesayangannya. Meski ia bukan orangtua kandung mereka, pak kepala sekolah tetaplah guru mereka, orangtua kedua mereka. Pak kepala sekolah tak bisa meminta lebih karena ini adalah karunia yang sangat besar yang diberikan padanya.

Hidup yang sempurna bukanlah soal seperti apa dan bagaimana, tapi soal cara seseorang melihat hidupnya dari sudut pandang yang berbeda.

END

Seri Leo & Alfa
Chapter 1 Bola Magnet
Chapter 2 Teh Gelas Botol Kotak
Chapter 3 Sushi Palembang
Chapter 4 Empat Akar Dua
Chapter 5 Amal Gula

___________________________________________________

Tjieeee.... cerita Leo & Alfa akhirnya punya makna juga!!!
Wahahahahahahaha :))


Padahal sebelumnya iseng aja bikin ini cerita. Tapi minggu lalu ada member OWOP (a.k.a Mbak Depiiiii~) yang ngasih tantangan untuk bikin cerita tentang "Hidup Sempurna". Jadilah gue pake karakter-karakter anak-anak yang lucu, imut, sekaligus mengesalkan ini sebagai bahan. Dan tanpa disangka-sangka, tulisan ini menang karena jadi favorit Mbak Depi yang bikin sayembara itu. Ahahahahahaha. Makasih Leo, Alfa, Halimah, Tuti, Kiki, Amir, dan tentu saja Pak Kepala Sekolah!! Aku cinta kalian :*

Senin, 27 Juli 2015

Menanti "The Scorch Trials"

Dapet video lucu tuh emang menghambat banget nulis yah. Gara-gara selama beberapa minggu ini keranjingan nonton satu reality show yang super kocak, gue jadi nggak nyentuh blog sama sekali. Sekalinya nyentuh pun, abis itu ditinggal. Sekalinya udah niat banget nulis, modemnya mati...

Pokoknya kalo alesan mah ada aja deh....

Berhubung yang mendistrak gue adalah video, jadi sekarang gue mau ngomongin film aja ah. Itu loooh, film yang sebentar lagi bakal tayang di bioskop... itu looooh, yang ada Minho-nya :)) THE SCORCH TRIALS!! Lanjutan The Maze Runner yang endingnya bikin kesel, terutama buat yang nggak baca bukunya, hahahahaha xD


Kebayang deh kalo nggak baca bukunya terus disodorin film yang endingnya nggantung banget kayak jemuran. Udah seru-seru di awal, ternyata semuanya hanya uji coba. Kesel bingits....

Tentunya kalo yang masih bertahan mau ngeliat lanjutannya, pasti mengharapkan jawaban dari film yang kedua ini...

Gue bilangin ya, jangan berharap banyak...

Karna gue baca bukunya aja ketiduran mulu. Entah berapa bulan tuh baru selesai baca seri keduanya ini. Udah selese baca pun gue tambah kesel karena nggak dikasih jawaban apa-apa selain konflik yang tambah ruwet.

Sebenernya sih trilogi ini harusnya jadi satu novel utuh. Seri pertama sebagai pembukaan yang bikin jantung dag dig dug duerr, seri kedua konflik yang tambah ruwet, dan seri terakhir adalah klimaks sekaligus penyelesaian yang oke bingits!

Kalo gambarannya gini, kebayang dong kenapa yang seri kedua nggak sebanding sama seri pertama dan ketiganya....

Tapi gue sih tetep menantikan banget filmnya karena.... ADA KI HONG LEE!

Ehem...

Bukan, gue mau nonton karena mau liat efek filmnya, kengerian flare, dan aksi anak-anak terpilih itu lari-larian di gurun. Oh iya, Aris! Gue mau liat ARIS!! (Seenggaknya jawaban ini lebih profesional ketimbang kalimat sebelumnya)

Tokoh utama film ini emang Tommy, tapi kalo ada Minho, kenapa harus majang foto Tommy? Hahahaha #ditabokTommy
Newt bolehlah dipajang juga. Bocah ini akan jadi favorit giue menggantikan Minho di seri ketiga nanti soalnya :p
Dan ini.... ARIS!!
Lalu apa yang akan gue lakukan sambil menanti film ini?

Ya duduk depan laptop, nonton running man lagi...
WAHAHAHAHAHAHAHA

Minho-Thomas-Newt, trio favorit gue selain trio kwek-kwek...eh, bukan, trio yang di bawah ini maksud gue... 
Kim Jong Kook dan dua bocah (Gary & Haha) :))

Selasa, 14 Juli 2015

Buka Bersama #CINTAOWOP

Bayar utang adalah bayar utang. Hahahaha. Udah lebih dari dua minggu nggak posting apa-apa di blog karena muales banget ngetik di laptop. Bawaan puasa #heh

Nggak kok, emang dasarnya males aja #dikeplak

Jadi, daripada kosong, mending nulis report buka puasa bareng anak-anak OWOP yang bertema #CINTAOWOP, Sabtu lalu. Hahahahahahahahahaha xD Kenapa sih harus pake 'cinta'?

Seperti biasa, gue dan Zu berangkat jam 4, padahal waktu ketemuannya jam 4 juga. Tapi hari itu harusnya dimaklumi karena gue baru nyampe rumah dari Tangerang. Sempet nyasar pula.

Suhel a.k.a Bang Rahman sampe duluan di Kalibata City dan jadi korban nempatin bangku buat yang lain. Sementara di jalan raya, gue yang udah sampe depan Kalibata City baru sadar kalo nggak bawa STNK dan nggak bisa parkir di dalem .___. (Bukan lupa bawa, tapi emang STNKnya nggak ada, lagi dipake ngurus BPKB). Akhirnya terpaksa muter balik dan cari parkiran lain deket situ. Abis itu jalan deh ke Kalibata City. Yah, lumayan olahraga.

Sampe di sana, ketemunya sama Baim, makhluk yang keberadaannya tak terdeteksi di grup. Munculnya sesekali dan nggak pernah keliatan nulis apa-apa. Ada juga gengongnya, Rio, Ojan, dan Rahman. Kurang Said yang nggak dateng entah karena apa. Selain mereka, ada juga Astika yang pernah ketemuan secara random sama gue di Plasa Semanggi. Sisanya, yang baru kenalan hari itu, ada Ulil, Ussaid, Imron (yang beda banget sama profpicnya), dan Irviene a.k.a. Ipin dari OWOP 3. Hahahaha, baru sekali ketemu sama anak OWOP 3.

Sambil menunggu buka puasa, kami ngobrol banyak. Padahal seharusnya kami ngobrol soal hobi kami menulis, atau soal novel-novel bagus yang baru terbit, atau projek menulis baru, atau apa kek yang berhubungan sama nulis. Tapi malah pada ngomongin teater JKT48 yang tutup di bulan puasa. Okeh.... cukup tau aja...

Abis itu, Rio mengungkapkan rasa ketidakpuasannya karena setiap OWOP ngumpul kayaknya gitu-gitu aja. Akhirnya, dibuatlah projek dadakan khusus bulan Ramadhan (yang sejujurnya gue nggak mau ikutan). Gue nggak tau udah boleh nyebar hint tentang projeknya atau belum, jadi, mending gue rahasiain dulu sampe projeknya selesai.

Rio yang mengungkapkan kegundahannya #tsaah
Pas bikin projek itu juga sempet kena omel satpam karna agak rusuh. Hahahaha. Tapi abis itu berjalan agak lancar meski harus ngganggu orang lewat. Yah, projeknya cukup seru, sih. Walaupun awalnya gue ogah.

Abis ituuu, ada bagi-bagi hadiaaahh. Gue kira kaos yang dipamerin Bang Rahman bakal jadi hadiah, taunya cuma teaser "3")~ buuu~

Akuh dapet notes OWOP, hehehe :DD
Poto bertiga tanpa Zu (lagi beliin makanan pesenan gue, hahaha xD)

Geng rusuh....



Kumpul bareng anak OWOP selalu rame, ahahahaha xDDD
Jadi nggak sabar nunggu acara-acara selanjutnya :p