Tampilkan postingan dengan label horror. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label horror. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 November 2015

30-Day Book Challenge - Your favorite series

Sejujurnya ada dua kandidat kuat untuk pertanyaan yang satu ini. Ada dua series yang terus tertinggal di hati sampe sekarang. Kebetulan dua-duanya fantasi, dan dua-duanya udah dibuat film meski yang satu agak gagal gitu.

Kandidat yang pertama adalah....


YES, PERCY JACKSON!

Seri yang satu ini membuat gue nggak berhenti baca sepanjang lima novel. Kebetulan gue juga beli sekaligus karena ada diskonan di book fair. Dapet kaos gratisan pula. Jadi napsu langsung beli deh. Untungnya ceritanya benar-benar nggak mengecewakan. Bagus banget, malah. Salah satu seri yang membuat gue suka banget sama karakter utama. Padahal biasanya karakter utama itu menurut gue kurang lovable. Tapi Percy itu lovable banget. Meski di samping dia banyak juga karakter-karakter lovable lainnya dalam seri ini. Filmnya sejauh ini udah sampe seri kedua, dan menurut gue sih cukup memuaskan. Apalagi seri yang kedua. Hehehehe :D

Kandidat yang kedua adalah....

maap, gak nemu cover versi englishnya....

DARREN SHAN SAGA!

Mulai dari "Cirque du Freak" sampai "Sons of Destiny", semuanya bikin jantungan. Ini seri novel horor terbaik menurut versi gue. Gue pikir, gue nggak akan menemukan cerita vampir yang masuk akal. Tapi saking masuk akalnya cerita ini, gue sempet berpikir vampir itu beneran ada. Apalagi, Darren Shan juga membuat karakter utama dalam novel ini adalah dirinya sendiri. Beneran terkesan nyata sampe bikin merinding. T.O.P.B.G.T. Lah pokoknyamah....
Sayangnya, filmnya kurang memuaskan. Ya masa 12 novel dirangkum jadi satu film? Gak asik dong? Mana cerita petualangan Darren jadi pangeran vampir? Mana kisah cintanya Evra Von sampe akhirnya dia nikah dan punya anak? Mana kisah sedihnya Mr.Crepsley sampe akhirnya jadi vampir?


Kamis, 05 November 2015

Suara Ketukan Pintu

Tiga kali suara ketukan di pintu kamar membangunkanku yang sedang tertidur nyenyak. Bagiku, suara itu adalah alarmku di pagi hari, sekaligus suara yang selalu kutunggu-tunggu kehadirannya.

Aku menanggalkan selimut yang kupakai dan segera berdiri dan berjalan menuju pintu. Begitu pintu kubuka, kini bisa kulihat seorang anak yang selalu menyambutku dengan senyuman manisnya.

"Pagi, dek. Enak tidurnya? Mau sarapan apa?" tanyaku riang.

Adik kecilku, Rika menunjukkan gigi-geliginya yang putih bersih. Itu tandanya ia akan memakan apa pun yang kubuatkan untuknya. Seperti biasa. Aku pun segera mengikat rambutku dengan karet gelang dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.

Orangtua kami telah lama tiada. Ayah meninggal karena kecelakaan saat aku masih kecil. Sementara Ibu meninggal tak lama setelah melahirkan Rika. Ibu mengalami pendarahaan hebat. Sementara itu Rika kecil berhasil selamat setelah para dokter mati-matian berusaha merawatnya. Sayangnya, Rika kehilangan suaranya sejak dilahirkan di dunia. Dan bagi anak kecil yang malang itu, hanya akulah satu-satunya tempat ia bergantung.

Aku tidak pernah keberatan, tentu saja. Dia adik kecilku yang manis. Dia tidak pernah mempertanyakan mengapa dirinya tak sempurna seperti orang-orang lain. Baginya, asal masih ada aku di sampingnya, dia akan terus tersenyum dan baik-baik saja. Akhir-akhir ini dia belajar menulis hingga akhirnya mengirimkan selembar surat untukku. Surat itu ia selipkan dari bawah pintu kamarku setelah mengetuk pintunya tiga kali. Dalam surat itu hanya tertulis satu kalimat, namun mampu membuatku menangis terharu saking senangnya.

'Rika sayang Kak Rita.'

...

Sebagai seorang penerjemah, aku lebih banyak bekerja di rumah. Pekerjaan ini juga menjadi pilihan terbaik karena memungkinkanku untuk menjaga Rika setiap saat. Setiap bekerja, aku menutup pintu kamar agar bisa sedikit konsentrasi. Rika hanya perlu mengetuk pintu itu tiga kali jika ia butuh sesuatu. Aku pun dengan sigap akan membantu Rika dan meninggalkan pekerjaanku sejenak.

Namun beberapa hari ini semuanya berbeda. Kemalangan besar menimpa diriku. Aku sedih hingga menangis sejadi-jadinya selama beberapa hari. Ketukan di pintu kamarku kini tak lagi membuatku bersemangat. Malah, setiap suara ketukan itu terdengar, aku selalu melemparkan benda apapun yang ada dalam jangkauanku ke arah pintu hingga menimbulkan suara keras.

'TOK! TOK! TOK!'

'PRAANG!!'

Kali ini aku melemparkan gelas beling yang ada di atas meja kerjaku. "DIAAM! DIAM! JANGAN KETUK PINTU KAMARKU LAGI!!" teriakku frustasi.

Rika telah tiada beberapa hari yang lalu, namun suara ketukan pintu itu tak pernah pergi meninggalkanku sendiri.

Rabu, 03 Juni 2015

[Flash Fiction] Hitori Kakurenbo

Menjawab tantangan Mimi yang bilang narasi gue Senin lalu hanya sebatas prolog, akhirnya gue edit cerita ini supaya lebih menarik lagi

________


Ini mudah, kok. Hanya perlu menyiapkan boneka berbentuk binatang, beras, benang merah, pensil, dan garam. Robek perut boneka, buang kapasnya dan ganti dengan beras. Masukkan potongan kuku atau setetes darah sebelum menutup kembali perut boneka dengan benang merah. Larutkan garam dalam segelas air, dan sisakan garam yang tidak dilarutkan. Persiapan beres!

Ah, aku benar-benar tak sabar untuk bermain. Salah Mama dan Papa juga, sih, masa aku ditinggal sendiri di rumah besar begini? Rasanya sepi, tauk! Setidaknya, kalau mereka pergi dinas kan bisa biarkan aku menginap di rumah teman atau saudara.

Tapi sekarang tidak apa-apa. Kan ada Bunny yang akan menemaniku main.

"Kita main sampai puas! Kamu setuju, kan, Bunny?" ujarku pada boneka kelinci biru kesayanganku yang baru saja kulilit dengan benang merah agar beras dalam perutnya tak berceceran.

Temanku bilang, ini permainan 'Hitori Kakurenbo' yang populer di Jepang. Artinya 'Petak Umpet Sendirian'. Wajar saja permainan ini populer di Jepang, mungkin di sana banyak anak yang ditinggal sendiri di rumah seperti aku. Ini benar-benar ide brilian! Bayangkan, kau bisa main petak umpet tanpa teman! Praktis sekali, kan?

Semua persiapan beres. Aku mematikan semua lampu kecuali lampu kamar mandi. Aku mengambil air dalam gayung dan menceburkan Bunny ke dalamnya.

"Violet yang jaga, Bunny ngumpet! Violet yang jaga, Bunny ngumpet! Violet yang jaga, Bunny ngumpet!"

Setelah berseru dengan semangat, aku pun berlari ke ruangan lain dan mulai menghitung.

"1....2....3...."

Setelah hitungan kesepuluh, aku segera berlari ke kamar mandi dan berseru, "Bunny ketemu!" Lalu aku menancapkan pensil tajam di dadanya.

"Sekarang Bunny yang jaga, Violet ngumpet!"

Secepat kilat aku berlari ke kamar Mama dan Papa. Aku membuka lemari mereka yang super besar dan bersembunyi di sana. Hahaha, Bunny pasti tak akan bisa menemukanku di sini. Meski sendirian, permainan ini seru juga.

Menurut petunjuk, aku harus menyimpan air garam di mulutku. Kalau ada sesuatu yang menyerang, tinggal sembur saja. Tapi.... gawat! Aku lupa membawa garam sisanya dari dapur! Bagaimana ini!?

Ah tidak apa-apa, semoga saja air garam yang ada di mulutku cukup untuk melindungi diri.

Tiba-tiba saja suasana yang tadinya hening mulai terusik oleh hujan yang perlahan turun. Aku dapat mendengar suara dentingan kawat pengait gorden yang melambai tertiup angin. Sepertinya hujannya akan menjadi deras tak lama lagi. Hawa pun menjadi sedikit lebih dingin hingga aku bergerak ke arah belakang yang tertutupi pakaian agar lebih hangat. Seperti yang sudah kuperkirakan, hujan semakin deras.

Hingga detik ini belum ada tanda-tanda Bunny yang datang mencariku. Apa permainan ini hanya bohongan? Ah, mungkin saja memang begitu. Bisa-bisanya aku percaya akan ada yang mencariku di dalam lemari. Konyol sekali. Lebih baik aku segera keluar dari sini, membereskan semuanya, dan pergi tidur. Besok pagi, orangtuaku pasti sudah pulang.

Aku membuka pintu lemari perlahan-lahan. Terdengar bunyi derit yang cukup keras dari daun pintu. Aku melangkah ke kamar mandi tempat aku meninggalkan Bunny. Namun belum ada setengah jalan, aku mendengar sesuatu dari ruang tamu.

"Suara apa, itu?"

Suaranya terdengar seperti rintik hujan, namun aku tahu pasti ini suara yang berbeda. Dengan takut-takut aku melangkah ke ruang tamu. Tanpa menyalakan lampu, aku tahu dari mana suara itu berasal. Entah sejak kapan TV menyala dan menayangkan siaran kosong. Layar TV menampilkan  rombongan semut yang bersuara seperti rintik hujan.

Aku bergidik. Siapa yang menyalakan TV? Seingatku, semua alat elektronik sudah kumatikan. Aku pun berjingkat-jingkat mendekati TV dan segera menekan tombol power.

'TING!'

Aku menoleh dengan cepat ke arah dapur. Itu jelas suara microwave. Tapi kenapa?

"Bunny!?" seruku dengan gemetar.

Ini gawat. Aku harus segera menghentikan permainan ini. Untuk menyelesaikan semuanya, temanku bilang kalau aku harus segera membakar Bunny. Untung saja aku tidak lupa membawa korek api di kantongku.

Aku berlari-lari kecil agar segera sampai di kamar mandi. Lampu kamar mandi yang tadi menyala kini gelap gulita.

'CTAAARRRR!!!'

Tiba-tiba petir menyambar. Dengan bantuan cahaya petir yang berlangsung tak sampai sedetik, aku terkesiap saat sadar kalau Bunny menghilang.

"Di mana Bunny!?"

Aku harus segera menemukan dan membakarnya! Temanku bilang, permainan ini aman selama aku tidak ketahuan. Gawat! Gawat! Gawat!

Aku menjauhi kamar mandi dan berjalan sangat pelan agar suara langkahku tak terdengar. Aku berniat kembali ke kamar orangtuaku dan bersembunyi hingga situasi kembali aman. 

Saat melewati ruang tamu, petir kembali menggelegar. Namun yang kali ini kulihat adalah Bunny yang terduduk di sofa ruang tamu. Kedua mata merahnya menatap tajam padaku....

TAMAT
(with no alternate ending)

Cerita terinspirasi dari gambar ini. Jago banget yang bikin ini terkesan lucu padahal horor banget