Kamis, 04 Februari 2021

Pada Akhirnya Kenyamanan Adalah yang Kita Cari

Belakangan, kalau ketemu temen seangkatan, pasti yang diomongin soal kerjaan. Ya, nggak seangkatan juga, sih. Pokoknya temen-temen yang sama-sama udah kerja beberapa tahun dan ngerasain kerja di beberapa tempat dengan berbagai kondisi (dan gaji) haha. 

Milih tempat kerja itu emang nggak gampang. Nggak segampang waktu kita dulu milih SMP, SMA, atau Universitas. Waktu SMP-SMA, biasanya milih berdasarkan kepopuleran sekolahnya (itu juga kalau nilainya cukup, wkwk). Ya kalo gue sih milih berdasarkan jarak. Supaya bisa tidur lebih lama dan gak ngabisin waktu di jalan. Waktu milih Universitas, lebih sulit karena ada pilihan jurusan dan juga urusan uang kuliah.

Lulus kuliah, sebenarnya pilihannya nggak terlalu sulit. Karena untuk fresh graduate, yang penting kerja dulu dan nggak nganggur kelamaan. Alhamdulillah gue termasuk salah satu yang beruntung karena udah punya kerjaan, bahkan sebelum lulus kuliah.

Semakin bertambah pengalaman, pada akhirnya kita menjadi semakin pemilih. Nggak mau yang gajinya terlalu kecil, nggak mau yang bosnya rese, nggak mau yang lingkungan kantornya gak asyik, nggak mau kalau gak sesuai passion, nggak mau ini, nggak mau itu. 

Muncul juga pemikiran lain yang akhirnya menjadi pertimbangan seperti "kalo tau kerjanya kayak gini mah gue ogah digaji segini", "gabut banget rasanya gue kerja di sini. Skill gue gak berkembang", "karir gue gak akan naik di tempat kayak gini, gaji aja gak naik-naik."

Dan banyak lagi hal yang jadi pertimbangan untuk kita bertahan, pindah, atau memilih pekerjaan baru.

Namun setelah lama kerja, gue sadar kalau pada akhirnya kenyamanan adalah yang kita cari. Bukan perusahaan ternama, bukan gaji besar, bukan karir, tapi pekerjaan yang tidak mengganggu hal-hal lain yang sebenarnya ingin kita lakukan, atau pekerjaan yang tidak mengganggu idealisme atau prinsip yang kita pegang. Sebab, pekerjaan bukanlah yang nomor satu. Pekerjaan hanya salah satu faktor penting untuk bertahan hidup, tetapi tetap bukan segalanya. 

Beruntunglah kalian yang memang melakukan passion sebagai pekerjaan. That's wonderful. Tapi nggak semua orang bisa seberuntung itu, karena nggak semua orang punya kesempatan yang sama. 

Dulu, gue pernah melakukan pekerjaan yang sebenernya gue suka (banget, gak boong), tapi kesenangan pekerjaan itu tidak berbanding lurus dengan gaji dan juga harus dibayar dengan hari sabtu-minggu gue yang nggak pernah libur. Libur gue hari senin, kayak museum. Tapi dibanding pekerjaan itu, ada satu hal yang lebih gue sukai. Sayangnya, gue beberapa kali harus melewatkan momen penting dari hal yang gue sukai itu karena pekerjaan. Terakhir, gue sempet nangis kecewa karena gue menang lomba review novel dan berkesempatan ketemu langsung sama penulisnya, ditraktir makan steak dan dapet kesempatan untuk ngobrol sama dia di restoran, tapi pada akhirnya gue nggak bisa pergi karena gue harus kerja hari Sabtu dan waktu itu belum bisa ambil cuti.

Sedih. Tapi lebih sedih lagi karena kalau gue terusin, gue akan banyak mengalami kekecewaan kayak gitu lagi. Selain itu juga, gue ketinggalan banyak hal bersama temen-temen gue karena sabtu-minggu gue full booked buat kerja. Basicly, I have no life. Libur hari senen gue mo ke mane? Ke museum juga tutup.

Berhenti dari pekerjaan yang satu, beralih ke pekerjaan yang lain. Ketika suasana cocok, gaji lumayan, jobdesk sesuai kemampuan, harusnya gue bersyukur. Tapi ternyata, pekerjaan yang satu ini cukup mengganggu idealisme dan prinsip yang gue pegang selama ini. Pada akhirnya gue memutuskan berhenti juga karena nggak mau hari-hari gue dipenuhi kejulidan karena harus ngedumel tiap hari menghadapi kenyataan di tempat kerja. 

Setelah menghadapi banyak hal kayak gitu, kriteria utama yang diperlukan untuk mencari pekerjaan adalah, lo nyaman apa nggak

Tentu saja, hal ini hanya berlaku untuk orang yang sudah berprivilese untuk memilih pekerjaan mereka, yaitu mereka-mereka yang udah lama bekerja dan punya banyak pengalaman. Bukan untuk kamu para fresh graduate yang baru mau cari kerja. Untuk kalian, cari pengalaman aja dulu. Pelajari dunia kerja dan cobalah bertahan sambil mencari apa yang nyaman untuk kalian. Lo maksain untuk langsung nyari pekerjaan yang nyaman pun nggak ujug-ujug bakal ketemu juga. Karena kamu baru bisa tau mana yang nyaman setelah merasakan banyak ketidaknyamanan.







Rabu, 25 November 2020

Hidup Tanpa Stress, Hidup Tanpa Penyesalan

Hidup itu berat, bikin stress, sampai terkadang rasanya nggak tahan lagi dan mau udahan aja. Tapi, mau bunuh diri juga nggak boleh, dosa. Nanti di akhirat malah lebih stress lagi karena disiksa, gimana?

Kata orang-orang sih hidup gue jauh dari kata stress atau pun depresi. Ya iya juga, sih. Mungkin.

Bukan berarti masalahnya nggak berat. Mungkin sama-sama berat. Tapi karena pada dasarnya gue bukan orang yang overthinking, jadinya nggak gampang stress. Mungkin orang yang dasarnya overthinking, susah untuk menjalani hidup dengan cara gue. Karena banyak dari mereka yang bilang kalau mereka sebenarnya nggak mau overthinking juga, tapi otomatis kepikiran gitu. 

Gue nggak tau juga sih tulisan ini bakal bisa membantu atau nggak, tapi gue mau mencoba merumuskan isi otak gue, apa yang biasanya gue pikirkan supaya gue nggak stress dan happy terus. Ya nggak happy terus, sih, lebih ke... hmm... santai terus. Gitu deh pokoknya.

1. Hari ini pasti akan berakhir

Seberat apa pun hari yang kamu jalani, satu detik tetaplah satu detik. Dan dalam 24 jam, hari ini pasti akan berakhir juga. Walaupun ketika menjalani hari yang berat itu, rasanya seperti ribuan kali lebih lama daripada hari-hari biasa, sebenarnya waktu berjalan sama seperti biasa. Jadi, gue biasanya menanamkan pemikiran itu waktu hari-hari gue terasa berat dijalani. Selama hari berat yang kamu jalani itu nggak sampai mengancam nyawa, nggak apa-apa. Pasti akhirnya terlewati juga. Pasti. 

Kalau sampai mengancam nyawa kamu, itu baru saatnya untuk.... PANIK.

2. Pikirkan nanti, saat memang perlu berpikir

Ketika gue mencium adanya masalah yang akan berkembang besar di kemudian hari, biasanya gue berpikir keras harus melakukan apa untuk mengatasi masalah itu. Tapi kalau dipikir sekeras apa pun tetap nggak ketemu jawabannya, yaudah, nggak apa-apa. Soalnya sampai situlah batas kemampuan otak gue berpikir. Nggak apa-apa, pikirkan nanti ketika masalah itu beneran datang dan memang perlu dipikirkan kembali. Sebelum itu terjadi biarkan takdir melakukan tugasnya. Jalani hari-hari seperti biasa. Kadang-kadang masalah yang kita prediksi malah nggak terjadi sama sekali. Jadi kalau terlalu berpikir keras dari awal sampai saat itu, rasanya malah rugi, sia-sia, dan buang-buang waktu. 

3. Ingat kembali pengalaman terburukmu

Tiap orang punya pengalaman buruk dalam hidupnya. Ketika gue mendapat masalah berat, biasanya gue melihat kembali ke masa lalu dan mulai membandingkan. Apakah masalah gue saat ini lebih berat dari masalah gue sebelumnya? Biasanya sih nggak. Jadi karena pengalaman terburuk aja udah bisa gue lewati, nggak ada yang perlu gue khawatirkan untuk melewati masalah yang levelnya nggak lebih berat daripada sebelumnya.

Kalau ternyata lebih berat, itu baru saatnya untuk.... PANIK.

4. Hati-hati membuat keputusan, pastikan kamu nggak akan menyesal di masa depan

Gue selalu berhati-hati ketika membuat keputusan. Setelah memikirkan semua kemungkinan yang mungkin terjadi, gue biasanya berjanji sama diri sendiri untuk nggak menyesal dengan keputusan gue. Bahkan, ketika sesuatu hal tak terduga terjadi dan ternyata keputusan yang gue ambil salah. Karena di titik gue mengambil keputusan, gue akan pasrah sama hasilnya. Jujur, sih, setelah menerapkan ini gue beneran merasa hidup tanpa penyesalan dan rasanya bahagia. Lagipula, seberapa pun kita menyesal, masa lalu nggak akan bisa diubah. Tenggelam dalam penyesalan cuma buang-buang waktu.

5. Lakukan demi diri sendiri, jangan demi orang lain

Ketika memutuskan untuk melakukan sesuatu, lakukanlah demi dirimu sendiri. Mau dapat ridha Allah, itu kan demi diri sendiri juga. Kalau kamu melakukannya untuk orang lain, ketika usahamu tidak dihargai, kamu akan kecewa. Sebaliknya, kalau melakukan untuk dirimu sendiri kamu nggak akan peduli apa balasan dari orang lain, yang penting ketika kamu melakukan itu kamu udah bahagia. Penghargaan dari orang lain tidak penting. Ini berlaku bahkan ketika kamu berharap sesuatu yang sepele dari orang lain seperti ucapan terima kasih. Kalau kamu melakukan sesuatu untuk mendapat rasa terima kasih, kamu akan marah ketika bertemu orang yang tidak tau terima kasih. Tapi kalau kamu memberikan sesuatu pada orang lain karena memang kamu ingin melakukannya, kamu senang melakukannya, kamu tidak akan masalah dengan apa pun respon dari si penerima. Nggak diucapin terima kasih nggak apa-apa, tapi kalau diucapin makasih, itu akan jadi bonus dan jadi berkali-kali lipat lebih bahagia. Asyik, kan?

6. Kamu perlu kecewa untuk tau rasanya bahagia

Yang terakhir hak cipta untuk Fiersa Besari dari lagu "Pelukku untuk Pelikmu", wkwk. Ini bener banget, sih. Kalau setiap hari bahagia, pasti itu bukan jadi rasa bahagia lagi, tapi jadi rasa yang biasa aja. Kadang-kadang ketika kita merasa marah, kecewa, sedih, coba dirasain aja jangan dilawan. Karena rasa itu nggak akan selamanya. Balik lagi ke nomor satu, pasti akan berakhir. Karena detik demi detik berlalu dalam tempo yang sama. Rasa kecewa yang kita rasakan karena seseorang pasti akan tergantikan bahagia yang kita rasakan karena seseorang yang lain. 

 7. Maklumi dirimu sendiri 

Kayaknya ini yang paling sering gue lakukan ke diri sendiri. Gue sering memaklumi diri gue sendiri. Wkwkwk. Ini saran yang sangat berlawanan banget sama saran dari motivator untuk menjadi orang yang sukses. Iya, gue kayaknya bukan pribadi yang akan menjadi orang sukses di kemudian hari. Wkwkwk. Gue sering banget bilang "nggak apa-apa" ke diri sendiri. Kadang-kadang terlalu ekstrem sampai-sampai banyak banget tugas terbengkalai dan gue tetep bilang "nggak apa-apa" ke diri sendiri. Monmaap ini kayaknya pembenaran atas suatu kemalasan belaka. Tapi pada intinya, nggak ada pekerjaan yang lebih penting daripada kebahagiaan dan kewarasan gue. Jadi nggak apa-apa.


Yah, kira-kira itulah sepotek isi otak gue. Semoga yang melihat gue sebagai pribadi yang selalu santai dan nggak pernah stress bisa sedikit memahami kenapa gue menjalani hidup seperti sekarang ini. Mungkin gue nggak akan sukses di kemudian hari karena nggak bisa mengikuti disiplin rata-rata orang-orang sukses di luar sana. Tapi gue udah membuat keputusan dari jauh-jauh hari untuk lebih mementingkan kewarasan daripada kesuksesan. Eh, nggak gitu deh. Gue akan buktikan bahwa gue tetap bisa sukses dengan cara yang santai dan nggak ngoyo. Wkwkwk.

Salam empat jempol!!

Maju terus hidup santuy!!

 


Sabtu, 10 Oktober 2020

Single and Happy

30 Days Writing Challenge

Day 6: Single and Happy



Seharusnya ini tantangan menulis untuk di instagram story. Sayangnya jadinya terlalu panjang dan butuh platform yang lebih mendukung. Maka terpilihlah blog yang sudah mulai berdebu ini. 

Sebelum menikmati,

Peringatan: penggunaan bahasa yang sesukanya-seringkali tidak pada tempatnya dan bukan pendapat populer

Single atau sendiri adalah kosakata yang bersebrangan dengan kata berpasangan atau menikah. Lalu mengapa sampai ada istilah single and happy? Jawabannya, tentu saja karena single diibaratkan sebagai sisi yang negatif, menggambarkan kesedihan dan memiliki gambaran perasaan kesepian. Sebaliknya, menikah mendapat sisi yang positif, menggambarkan segala jenis kebahagiaan. Maka menjadi tidak berterima ketika ada judul married and happy. Karena menikah sudah seharusnya bahagia, kan?. Setidaknya begitulah pandangan orang-orang kebanyakan.

Mari kita kembali lagi. Kenapa ada judul single and happy?
Pada akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa dua kata tersebut adalah dua kata yang memiliki imej berlawanan, oksimoron, atau kontradiktif sehingga menjadi menarik.

Tapi, apa benar begitu?

Apakah ketika orang-orang menyerukan "I'm single and I'm happy!" adalah sesuatu yang memang dia rasakan, atau sekadar menyenangkan diri sendiri karena kebetulan memang belum bertemu pasangan hidupnya?

(Dipersilakan ngedumel, tapi dalam hati aja, ya. Udah dibilang ini pendapat nggak populer)

Semoga dengan penjelasan berikut ini, kalian yang membaca ini bisa memahami sudut pandang gue.

Kebahagiaan tidak ditentukan oleh status, kedudukan, level, kasta, strata, apa pun itu. Setidaknya sampai sini kita semua berada di sisi yang sama, kan?

Bahagia itu, menemukan sisi positif yang bisa membuatmu tersenyum dan merasakan kehangatan dalam hati bagaimana pun kondisinya. Maka ketika menyerukan "single and happy", seolah sumber kebahagiaan itu berasal dari kondisi ketika berstatus single. Setelah seruan itu, muncullah beberapa alasan yang membuatmu bisa mengatakan kalau kamu bahagia sendiri. Tapi akui saja, dalam hati kamu tetap berharap suatu saat nanti tetap akan menemukan pasanganmu, kan?

Iya, kamu memang bahagia. Itu bagus. Tetapi apakah ketika statusmu berubah menjadi tidak single lagi, lalu status kebahagiaan itu ikut berubah? Jika mengikuti logika, seharusnya berubah. Karena sumber kebahagiaanmu adalah status tersebut, maka kebahagiaan akan luntur atau bahkan hilang ketika status tersebut hilang. Seharusnya begitu. Tapi pada dasarnya, nggak begitu, kan? Kamu akan menemukan kebahagiaan dalam bentuk yang lain ketika status itu berubah menjadi tak lagi single.

Maka, kesimpulan paling tepat yang bisa kita ambil adalah, 

Kita bisa bahagia.

Apa pun status yang menyertai kita.
Bagaimana pun keadaan di sekitar kita.
Siapa pun yang kita miliki dan tidak miliki.
Di mana pun kita berada atau tidak berada.


Sabtu, 05 September 2020

Kesan orang asing tentang Indonesia: "Selera Humor Orang Indonesia itu Receh, ya...."

Sebagai pengajar bahasa Indonesia untuk orang asing, setiap ngajar pasti ada aja ilmu atau hal baru yang bisa gue dapat dari murid-murid gue sendiri. Hari ini gue mengajarkan tentang komedi di Indonesia. Karena kebetulan murid gue ini udah cukup fasih bahasa Indonesia, jadi gue mau tau sejauh mana dia paham lawakan ala orang Indonesia. Karena ngerti lawakan itu adalah tingkat tertinggi dari pemelajar bahasa. Ketika paham maksudnya dan bahkan paham lucunya di mana, otomatis pemelajar ini memahami seluruh konsep kebahasaan sekaligus kebudayaan yang disampaikan oleh si pembicara. Kalau sekadar paham artinya tapi gak ngerti lucunya di mana, berarti belum paham konteks budaya atau situasinya yang membuat narasi tertentu menjadi lucu.

Hari ini, gue sengaja kasih tonton stand-up comedy Raditya Dika yang cuma berdurasi sekitar 2 menit. Kosakata yang dipakai juga gak susah-susah amat dan gue bisa memastikan si murid paham arti bahasa Indonesianya. Setelah gue kasih tonton, dia gak ketawa. Padahal gue yang nonton berkali-kali aja masih susah nahan ketawa.

Ketika gue tanya, ternyata dia paham 80-90% bahasa Indonesia yang dipakai, tapi sama sekali gak paham lucunya di mana. Wkwk.

Ya, inilah yang gue maksud.

Akhirnya mulailah waktu belajar bahasa Indonesia dan gue menjelaskan isi video itu dari awal. Mulai dari artinya, konteksnya, dan bagian mana yang membuat suatu dialog itu menjadi lucu untuk orang Indonesia.

Si murid mengangguk-angguk paham, tapi tetap nggak paham. Karena sebenarnya, dia nggak menganggap itu lucu. Sampai akhirnya dia bilang kalau temannya ada yang pernah bilang ke dia, インドネシア人ってさ、笑いツボが浅すぎ!Indonesia-jin tte sa, wairaitsubo ga asasugi! yang maksudnya, selera lawak orang Indonesia itu retjeh banget.

Dan gue ngakak kenceng banget.

IYA ORANG ENDONESYAH EMANG RETJEH PARAAAAAAHHH!!!!

Sumpah ya, kadang kalo dipikir-pikir hal-hal yang biasa aja bisa jadi lucu banget sampe bikin ngikik berhari-hari kalo keinget.

Gue bahkan nyimpenin meme lucu yang sering muncul di beranda facebook atau twitter. Pas gak sengaja liat lagi, tetep aja ngakak.

Nemu meme tentang tahu di FB, dan beberapa hari setelah itu masih ngakak kalo keinget

 

Kenapa bisa seretjeh itu sih?

Lalu kami ngobrol soal itu. Emang tipikal komedi tiap negara itu beda-beda. Iyalah, ya. Namanya juga beda budaya dan beda cara berpikir. Tapi kalo menurut gue sih komedi Thailand sama recehnya kayak komedi Indonesia. Hmm... mungkin se-Asia Tenggara mirip-mirip kali ya. Sama-sama negara ketiga yang sering diremehin sama negara adidaya dan punya selera humor yang sangat receh. Setidaknya cuma salah satu kata aja udah bikin kami bahagia karena bisa ketawa.



Jumat, 22 Mei 2020

Tentang Book Shaming: "Iya gue masih baca komik dan teenlit. Mang ngapa sik!?"

Book shaming sebenarnya bukan masalah baru. Tapi mungkin, istilahnya baru aja mencuat belakangan ini.


Beberapa hari yang lalu dikirim link sama Ruru mengenai book shaming dan kejadian yang sempat heboh di jagat twitter.

Untuk yang mau tau apa itu book-shaming dan ada masalah apa belakangan ini, silakan baca di sini:
https://www.sintiaastarina.com/book-shaming/

Macam body shaming aja ya ini soal book shaming.

Sebagai seorang pembaca buku yang super random, gue nggak pernah peduli namanya book shaming walaupun sering banget diperlakukan kayak gitu.

"Ya ampun, udah gede masih baca komik aja."

"Itu teenlit? Gak ah, gak seru." --> Ini setelah gue kasih rekomen novel yang menurut gue ceritanya bagus.

"Ih, masih baca wattpad aja. Udahlah, cari yang lain."

"Lo gak punya buku puisi? Serius?"

"Hah? Lo gak tertarik sama bukunya Pram! Parah!"

Dan banyak lagi.

Gue antara udah terlalu biasa, atau udah nggak peduli sih di-book-shaming-in (wakaka, bahasa apa pula ini).

Karena dari kecil, gue baca apa pun. Literally, APA PUN. Buku dan komik udah abis dibaca, lari ke majalah, majalah udah abis dibaca, lari ke buku pelajaran (cerita yang ada di buku, ya, bukan soal pelajarannya), cerita dalam buku pelajaran udah abis dibaca, lari ke ensiklopedia, sampai akhirnya bacain semua buku resep masakan mama dan semua plang di jalanan karena gak ada lagi yang bisa dibaca.

Gue suka komik, novel fantasi, teenlit, novel wattpad, bukan berarti gue gak baca sastra dan puisi.

Gue baca. Bahkan hampir semua buku sastra yang ada di perpustakaan SMP dah abis gue baca (karena waktu itu belum punya cukup uang untuk beli novel sendiri). Layar terkembang, Anak Perawan di Sarang Penyamun, Bumi Manusia, Wayang, dll dah khatam. Mulai dari sastra lama sampai yang modern, mulai dari yang bahasanya masih pakai melayu sampai yang udah full bahasa Indonesia.

Tapi pada akhirnya, buku-buku itu adalah buku yang gak akan gue koleksi. Apalagi buku puisi.

Masalahnya emang kagak selera aja.

Yang gak suka sastra sama puisi berarti seleranya rendah gitu?

Widiiih, tar dulu tuan.

Apakah anda-anda sekalian yang mengaku intelek karena bacaannya sastra dan puisi pernah coba baca One Piece atau Hunter x Hunter? Secara bungkus cerita memang jauuuh dari kehidupan nyata karena itu cerita fantasi. Tapi banyak banget adegan yang sebenarnya memproyeksikan realita dengan cara yang berbeda. Kesenjangan sosial, pemerintahan yang otoriter, rasisme, dll.

Penyampaiannya mungkin berbeda jauh, tapi pesannya gak bisa dibilang lebih rendah dari sastra-sastra yang kalian banggakan. Menurut gue pribadi sih komik yang bagus sudah menjadi sastra untuk para penggemarnya.

Gue malah kurang selera baca sastra (walaupun sesekali tetap baca, kalau lagi keabisan bacaan). Karena cerita sastra itu terlalu realistis. Realita udah susah dan menyesakkan, perlu banget gitu diingetin lagi lewat buku?

Lain lagi soal puisi. Gue selalu nggak selera baca puisi karena kesannya sengaja banget pakai diksi yang susah. Bahkan sampai ada ungkapan "semakin sulit dimengerti, semakin bagus." atau "puisi itu bebas, tiap orang punya interpretasi masing-masing." Alasan yang pertama mungkin gak semuanya gitu, ya. Tapi gak sedikit juga yang beranggapan seperti itu. Untuk yang "banyak interpretasi", dalam pandangan gue itu adalah kegagalan penulis dalam menyampaikan pesannya. Misalnya si penulis ingin menyampaikan A, tapi diinterpretasikan dengan B,C,D,E dst. Lah, berarti pesan yang A ini gak nyampe, dong?

Tapi itu adalah alasan pribadi gue gak selera sama sastra dan puisi. Orang lain boleh punya selera dan pandangan yang berbeda. Silakan. Ya asal nggak ngerendahin selera orang lain aja, sih.

Lagian, bukan berarti gue anti sastra dan puisi juga, kok. Belakangan ini gue beli buku puisi KTBB (Kamu Terlalu Banyak Bercanda) dari orang yang juga nulis NKCTHI (Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini). Biar kekinian? Hahaha, gak ada hubungannya.

Gue cuma merasa, ini buku puisi paling sederhana yang pernah gue baca, tapi pesannya sampai. Nggak perlu diksi yang terlalu berbunga-bunga sampai sulit dimengerti. Ini kata-katanya biasa banget, tapi ngena banget. Dan menurut gue, wajar banget buku ini akhirnya jadi populer.

Gue baca buku untuk hiburan. Sehingga, menurut gue cerita dalam buku itu harus punya konsep dasar, yaitu konflik yang relevan, plot cerita yang bagus, penyelesaian yang baik, dan kalau bisa plot twist yang tak terduga. Sayangnya, gue gak bisa mendapatkan ini dalam novel-novel sastra. Yang pada akhirnya, gue gak merasa terhibur baca buku sastra. Karena pada dasarnya, tujuan utama novel sastra biasanya bukan itu. Yang utama adalah isu sosial yang kental dan penyampaiannya dalam novel. Seringkali, novel sastra itu berisi konflik, tanpa penyelesaian yang jelas. Iya, paham sih maksudnya, kalau dalam kehidupan yang sebenarnya, jarang banget ada penyelesaian yang memuaskan karena justru terkesan tidak realistis dan natural.

Tapi kan ini novel fiksiiiii!!!

Kalo mau tau realita, ya mending gue baca buku non-fiksi sekalian!!!

Lah dia emosi.

The Little Prince itu beken banget di seluruh dunia, tapi gue tetep gak selera setelah baca. Aneh, menurut gue, sih. Bumi Manusia gak perlu diragukan lagi soal isu sosial yang terkandung di dalamnya, but still.... not my cup of tea.

Ya intinya, yang seleranya sastra dan puisi, silakan aja. Bagus kok pilihan kalian. Bukan berarti kalau gue gak selera, terus buku itu jadi jelek, kan? Kalian juga kalau gak selera sama teenlit atau komik, gak serta merta menjadikan buku-buku itu 'rendah'. Tiap buku punya pasarnya masing-masing, punya penggemarnya masing-masing.

Lagian, walaupun memang teenlit kebanyakan menye-menye dan sinetron banget, tetep ada teenlit yang bagus dan kece kaliiiiikkk. Belum pernah baca bukunya Lexie Xu, ya?

Bahkan novel yang dianggap lebih rendah, fantasteen, aja tetep ada yang kece parah. Gak kenal Ziggy Z. ya?

Nggak ada namanya kasta dalam jenis buku. Buku sastra gak selalu suci, dan komik gak selalu kekanakan. 

Gue gak pernah nge-judge buku dari genre, penerbit, atau jenisnya. Gue cuma nge-judge buku dari penulisnya. Wkwkwk. Gak akan ya gue bisa suka novel kalau yang nulis macam Agnes Davonar. Gak sudi!

"Ingat, tiap buku itu spesial. Kecuali bukunya Agnes Davonar."

Gue gak pernah malu baca buku apa pun di publik. Mang ngapa kalo baca komik? Mang ngapa kalo masih baca bukunya Neil Gaiman meski bukan anak umur 10 tahun lagi?

Satu-satunya buku yang gak akan owe baca di publik adalah buku yang covernya gak banget macam cowok-cowok pamer roti sobek gitu. Wkwkwkwk.

Ya kaga pernah beli juga sih....



Jumat, 08 Mei 2020

Story Blog Tour: CHAPTER 4 : TROUBLESOME PERSONALITY

Ini adalah challenge menulis bernama 'STORY BLOG TOUR', dimana member lain yang sudah diberi urutan melanjutkan cerita sesuai imajinasinya di blog pribadinya. Jadi, jika ingin tahu kelanjutan cerita di atas sampai akhir, silakan mengikuti link blog yang ditampilkan di setiap akhir cerita yaa :)

Ep 1 : Ep 1 : An Unspeakable Word by Saa | http://smilingsaachii.blogspot.com/2020/04/an-unspeakable-word.html
Ep 2 : A New Journey: Love? by Kenti | https://handken.blogspot.com/2020/04/a-new-journey-love.html
Ep 3 : Longing For You by Dhira | http://www.nadhiraarini.com/2020/04/story-blog-tour-ep-3-longing-for-you.html?m=1

CHAPTER 4 : TROUBLESOME PERSONALITY

Minggu, 26 April 2020

[Story Blog Tour] CHAPTER 6 - Cold Blooded Bodyguard

Sebelum gue menyelesaikan rangkaian Story Blog Tour (SBT) ini, izinkan gue mengatakan sesuatu yang penting...

TOLONG YA KALIAN-KALIAN YANG HOBI NGASIH MISTERI SEBAGAI BUMBU CERITA, TOLONG DIPIKIRKAN JUGA PENYELESAIANNYA WALAUPUN BUKAN GILIRAN KALIAAAANNNN!!! GUE HAMPIR BOTAK NIH MIKIR BENANG MERAH DARI SEMUA CERITA CHAPTER 1-5!!

Tentang SBT:

Story Blog Tour adalah cerita yang dibuat beramai-ramai. Yang ditentukan di awal hanya genre cerita. Karakter, plot, alur cerita, konflik akan berkembang seiring cerita. Diskusi mengenai kelanjutan cerita dilakukan seminim mungkin agar tidak mengurangi keseruan, efek kejutan dan plot twist yang terjadi pada tiap chapter. Ini adalah chapter terakhir dari cerita kami yang bergenre action, thriller. Silakan baca chapter sebelumnya di sini.

Chapter 3 : (Sai) Mystery
Chapter 4 : (Dhira) Am I Lucifer?
Chapter 5 : (Kenti) Revenge

CHAPTER 6
COLD BLOODED BODYGUARD

Senin, 18 November 2019

Kerja Sesuai Passion, Idealkah?

Bertambahnya usia kadang membuat pandangan kita berubah. Ini sesuatu yang normal. Semua orang mengalaminya.

Beberapa tahun terakhir, pandangan gue soal passion berubah.

Sebelumnya, gue pernah menulis soal passion yang berjudul "Follow your Passion"

Tulisan itu adalah pandangan jujur gue beberapa tahun yang lalu. Sekarang, pandangan itu sedikit berubah. Menurut gue, mengikuti passion adalah sesuatu yang ideal. Tetapi menjadikan passion sebagai pekerjaan bukanlah sesuatu yang ideal.

Yang nggak setuju, dipersilakan menyambit gue sekarang. Haha.

Dengan pengalaman kerja yang udah banyak kayak sekarang, gue bisa menyimpulkan bahwa menjadikan passion sebagai pekerjaan itu nggak enak. Dari luar, mungkin terlihat menyenangkan karena setiap hari bisa melakukan hal yang lo suka, dibayar pula. Tapi namanya perkerjaan, nggak bisa mengedepankan idealisme diri sendiri terus menerus. Ada tanggung jawab dan tuntutan yang harus dipenuhi, bahkan walaupun bela-belain bekerja secara mandiri untuk memenuhi passion.

Pada akhirnya, karena harus mengalah dan membatasi keinginan diri sendiri demi tuntutan itu, sesuatu yang tadinya berlabel kesenangan, perlahan berubah menjadi beban.

Misalnya, ketika seseorang memiliki passion di bidang kreatif dan suka sekali menggambar dan membuat desain, lama-lama akan lelah juga ketika keseringan mengikuti keinginan pelanggan yang menurut lo nggak ngerti seni. Maunya sih ngasih saran untuk desain yang lebih nyeni dan artistik, tapi demi kepuasan pelanggan, harus ditahan dan ikuti aja maunya.

Pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan untuk mencari uang, untuk bertahan hidup. Sementara passion adalah sesuatu yang dilakukan untuk membahagiakan diri sendiri. Ketika keduanya dijadikan satu, maka akan bertabrakan. Bukan berarti keduanya nggak bisa dilakukan bersamaan, tapi ketika ingin melakukan keduanya, banyak hal yang harus dikorbankan.

Passion gue sejak dulu nggak berubah. Menulis.
Menulis membuat hidup gue lebih hidup. Bukan hanya menambah semangat, tapi sekaligus menyembuhkan. Namun ketika gue menjadikan menulis sebagai pekerjaan, maka gue harus memikirkan tulisan seperti apa yang lebih banyak dibaca, tulisan bagaimana yang menjual, tulisan mana yang lebih mudah diterima orang lain. Gue jadi lebih banyak memikirkan pasar daripada apa yang sebenarnya ingin gue tulis.

Maka, sejak menyadari itu, gue berhenti menulis untuk bekerja. Ini selain alasan karena gajinya juga kecil, sih. Haha. 

Gue memilih untuk menjadikan menulis sebagai sesuatu yang spesial, untuk menyampaikan pemikiran, untuk memberikan manfaat bagi orang lain, bukan untuk mencari uang. Kalaupun akhirnya mendapat bayaran dari tulisan tertentu, itu akan terhitung sebagai bonus yang menyenangkan.

Gue memilih mengajar sebagai pekerjaan tetap dengan banyak alasan. Tapi alasan yang pertama jelas karena mengajar bukan passion gue. Walau bukan passion, bukan berarti gue nggak suka jadi pengajar. Gue suka, kok. Tapi nggak sebesar kesukaan gue untuk menulis. Dengan alasan itulah, gue bisa lebih fleksibel. Walaupun, ada beberapa prinsip dan idealisme dalam mengajar yang nggak akan gue langgar. Tapi gue masih bisa menyeimbangkan kesukaan mengajar dengan tuntutan dari instansi.

Alasan ketiga (gue nggak akan bocorin alasan kedua di sini, haha), karena mengajar adalah salah satu bahan bakar gue untuk menulis. Bertemu banyak orang membuat gue lebih memahami karakter orang lain yang tidak terbatas. Seringkali gue bertemu orang-orang yang karakter dan cara berpikirnya nggak pernah bisa gue bayangkan sebelumnya kalau nggak ketemu langsung. Semuanya menarik untuk dituangkan ke dalam tulisan. Secara tidak langsung, menjadi pengajar membantu gue untuk menjadi seorang penulis.

Ini adalah pandangan pribadi, tapi gue merasa bukan cuma gue yang merasa begini. Walaupun demikian, pasti masih banyak orang di luar sana yang menjadikan passion sebagai pekerjaan. Mereka mungkin orang-orang yang memang sama sekali tidak mengejar uang dan sudah bisa hidup cukup bahagia dari passionnya. Yang jelas, kondisi ideal tiap orang pasti berbeda. Termasuk soal menentukan passion sebagai pekerjaan atau tidak.

Kalau kamu, bagaimana?

Kembali Lagi

Lama nggak nulis blog, rasanya lupa gimana menulis blog yang baik. Hmm, emangnya ada ya standar ideal menulis blog?

Bukannya mau berhenti nulis di blog. Tapi akhir-akhir ini gue diliputi kebimbangan. Apakah cara menulis yang kayak gini udah cukup bagus? Di antara tulisan-tulisan indah lain yang penuh makna, rasanya tulisan ini sampah banget.

Minder?

Mungkin.

Tapi setelah dipikir lagi, kenapa juga harus berhenti nulis karena merasa kemampuan menulis lebih rendah dari orang lain. Toh sejak awal, jenis tulisan itu berbeda-beda. Cara penyampaian pesannya berbeda-beda. Sasaran pembacanya juga berbeda.

Sejak awal blog ini bukan blog yang diniatkan untuk berbagus-bagus (apa pula itu 'berbagus-bagus'? xD). Sejak awal, ini adalah blog pribadi. Menulis yang nggak sesuai diri sendiri rasanya justru kayak menipu diri sendiri.

Selain itu, sering bertambahnya usia, juga terpikir untuk mengubah gaya penulisan dari yang sangat gaul (pakai gue dan bahasa informal lainnya) menjadi sedikit lebih formal. Tapi lagi-lagi, rasanya itu justru menjadi pembatas diri untuk menulis 'sesukanya'. Menulis dengan banyak aturan dan batasan udah gue lakukan saat menulis cerpen dan novel. Kalau di sini juga harus banyak aturan untuk menulis, rasanya lelah.

Blog ini akan tetap dengan gaya bahasa yang seperti ini. Mungkin akan berubah sedikit formal kalau bahasannya juga menyangkut hal yang formal.

Hal yang jadi pertimbangan selanjutnya adalah, keraguan untuk berbagi yang belakangan ini terasa semakin kuat. Dulu, gue berbagi berbagai macam hal lewat tulisan tanpa mengkhawatirkan banyak hal. Sekarang, rasanya agak sulit untuk terbuka. Seringkali untuk menjaga privasi, sekaligus menjaga perasaan orang lain. Belakangan gue jadi banyak berpikir, apakah kalau gue nulis ini ada yang tersinggung? Atau jangan-jangan ada yang sakit hati. Pada akhirnya malah keseringan nggak nulis karena takut.

Tetapi balik lagi, menyenangkan semua orang adalah hal yang mustahil. Jadi kenapa gue harus takut? 

Karena itu gue memutuskan, ini adalah tulisan pertama gue untuk memulai kembali sesuatu yang telah lama gue tinggalkan.

Selasa, 05 Maret 2019

Mari Bebaskan Imajinasi

Kayak manusia kurang kerjaan, gue memulai tantangan menulis baru walaupun yang sebelumnya banyak yang nggak rampung. Hahahaha. Not father lah ya, namanya juga usaha.

Tadinya, tantangan yang satu ini nggak mau bilang-bilang biar orang taunya pas udah jadi aja, gitu. Tapi ternyata kenyataan tidak semudah itu, Ferguso.

Kenapa mau disembunyikan?
Karena gue berniat menulis cerita fantasi untuk kali pertama. Dan, cerita fantasi itu susah. Daripada mandek tengah jalan dan ditanyain orang-orang, mending dari awal nggak bilang-bilang mau nulis fantasi. Ya gimana nggak susah? Selain mikirin karakter-karakternya, dunianya juga harus dipikirin dari awal. Semuanya beda.

Awalnya, cerita yang sementara gue kasih judul Ars Imperatoria ini muncul dari satu keresahan sederhana. Nggak bisa gue ungkapkan secara langsung, sih. Tapi dari satu keresahan kecil yang kayaknya nggak mungkin diceritakan secara gamblang itu, gue jadi berpikir untuk memetaforakannya dalam bentuk fantasi. Lalu tiba-tiba potongan puzzle ceritanya beranak-pinak dengan cepat karena gue terlalu bersemangat.

Meskipun rak buku hampir semuanya berisi buku-buku fantasi, bukan berarti gue tiba-tiba jago nulis fantasi. Gue mengagumi penulis fantasi karena gue nggak bisa nulis kayak mereka. Otak gue belum sampai. Sejauh ini pun baru sampai tahap research, world building, dan masih banyak banget cacat logika dari dunia yang gue bentuk. Lalu entah kenapa, tiba-tiba akun facebook Kalpanika mengirim pertemanan ke gue. Gue pikir itu akun apa. Ternyata Kalpanika adalah komunitas penulis fantasi yang kebetulan lagi buka akademi menulis fantasi. Pas gue baca posternya, pas hari itu deadline pendaftaran. Tanpa pikir panjang, gue pun akhirnya bergabung. Lebih tepatnya mungkin karena murah, sih. Hahahaha. Lumayan banget kalau bisa dapat materi kepenulisan fantasi, apalagi kalau bisa memecut gue yang malas ini untuk konsisten menulis.

Setelah masuk beberapa hari, rupanya upaya menyembunyikan tantangan ini pun jadi mustahil. Membuat tulisan afirmasi kemudian diunggah di instagram jadi syarat mutlak. Intinya sih semacam target yang ingin dicapai setelah mengikuti akademi menulis di Kalpanika itu.


Inilah afirmasi yang gue upload di instagram. Berhubung udah dapet judul, dan udah membentuk empat karakter utama, jadi sekalian aja ditulis, deh. Semoga Lavi, Lui, Vis dan Trivi menemukan jalan cerita mereka yang unik di sana.

Sengaja pakai latar novel-novel fantasi supaya makin terpacu. Hahaha.

Hari ini selesai dikasih materi soal world building, dan besok saatnya menjalani misi. Saatnya membebaskan imajinasi. Hoho.

Minggu, 10 Februari 2019

Bahagia itu Sederhana

Postingan blog pertama tahun 2019.

Lama banget, ya? Udah bulan Februari, baru mulai nulis lagi di blog. Sedih banget, sebenernya. Apalagi waktu lihat jumlah postingan di tahun sebelumnya. Dari yang biasanya 30-50 postingan pertahun, tiba-tiba berkurang drastis jadi 6 postingan di tahun 2018. Gue merasa gagal sebagai narablog.

Kesibukan memang (lagi-lagi) jadi alasan utama, sih. Bahkan setahun terakhir ini rasanya gue juga jarang posting sesuatu di media sosial yang lain. Tapi sebenarnya bukannya benar-benar nggak ada waktu. Gue masih sering hang out sama temen-temen, sering ke bioskop, sempetin main boardgame seharian juga bisa. Andai menulis di blog masih jadi prioritas, pasti tetep disediain waktunya. Seringkali, udah kepikiran mau nulis sesuatu di blog, pada akhirnya hanya nangkring di draft karena gue sama sekali nggak puas dengan tulisan gue saat itu. Rasanya ada yang kurang. Inti tulisannya nggak jelas, dan kesannya bener-bener nyampah. Pada akhirnya sama sekali nggak ada yang di-publish.

Buat gue, nulis blog itu sesuatu yang spesial. Walaupun isinya curhat, biasanya tetap ada alurnya. Mulai dari pembukaan, sampai akhirnya mencapai suatu kesimpulan. Nah, akhir-akhir ini gue merasa kehilangan kemampuan untuk menulis dengan alur yang mudah diikuti dan nggak lompat-lompat. Makanya pada akhirnya selalu nggak puas. Efek kebanyakan ngetik untuk tugas kuliah, kah? *nyengir*

2 minggu lalu, gue memutuskan untuk ikut grup blogwalking. Tapi ya baru ini bisa nulis blog lagi. Mudah-mudahan sih ini bisa jadi awal yang baik untuk terus ngeblog ke depannya.

Kegiatan gue sekarang bisa dibilang sangat banyak. Gue kerja di 3 tempat. Di salah satu tempat diminta jadi semacam wali kelas dan di tempat yang lain harus bikin modul dan video ajar. Selain itu, sekarang udah masuk masa tesis. Sembari ngumpulin data untuk tesis, bapak dosen pembimbing gue minta gue ikutan hibah penelitian (semacam bikin penelitian dengan topik yang mirip dengan tesis, tapi tujuannya untuk publikasi di jurnal penelitian ilmiah). Jadi bisa dibilang, beban penelitian akhir yang tadinya tesis doang, sekarang jadi dua kali lipat karena harus mengerjakan dua penelitian. Topik hanya mirip, jadi tetap harus ngerjain dua penelitian yang berbeda. Targetnya? Selesai bulan April! Hahahha! Akuw kuwad!

Selain itu masih ada beberapa kegiatan komunitas juga. Sengaja nyari komunitas supaya aktifitas nggak itu-itu aja, sih. Untuk sementara ikut dua, termasuk grup blogwalking ini. Satu lagi semacam komunitas pecinta buku yang mewajibkan anggotanya mengirimkan resensi buku minimal sebulan sekali. Sengaja ikutan supaya memaksa gue baca dan meresensi buku walaupun nggak sering. Nah, jadi maklumin ya kalau belum bisa update blog terus-terusan, apalagi setiap hari. Bisa mati :'D

Di luar kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi demi isi dompet dan masa depan yang lebih baik, masih ada kewajiban dari target pribadi yang sulit untuk disebutkan. Intinya, banyak! Antara mau ketawa atau nangis, sih.

Dari awal tahun sampai tanggal 10 ini aja udah banyak banget kegiatan sampai buku agenda penuh dan harus ditambal sticky notes disana-sini, nambahin to do list perharinya supaya nggak lupa. Sepanjang hidup, rasanya ini masa-masa tersibuk dengan kegiatan yang sangat beragam. Biasanya, kalaupun nggak nulis di blog, gue rajin banget nulis kegiatan-kegiatan gue di diari. Tapi ini saking banyaknya, malah nggak sempat nulis apa-apa. Kalaupun nulis, akhirnya direkap perminggu. Haha.

Maski begitu, entah kenapa nggak terasa capek. Oke, secara fisik emang capek banget. Tapi ketika satu hari berakhir, sekitar jam 10-11, gue selalu merasa senang karena hari itu sangat-sangat produktif. Gue yang hobi tidur ini, belakangan nggak punya waktu tidur lebih dari 4-5 jam sehari. Paling balas dendam pas kebetulan dapat libur. Itu pun cuma bisa setengah hari (tidur sekitar 8 jam), abis itu biasanya udah disambut deadline yang lain lagi.

Jadi, intinya apa, sih?

JANGAN KULIAH S2 KALAU NGGAK BUTUH-BUTUH AMAT! CAPEK!

Gue aja yang butuh ilmu dan ijazah S2 secapek ini ngejalaninnya, gimana kalau ngambil S2 untuk pelarian selama belum dapat kerjaan? Atau pelarian karena belum nikah?

Beuuh... LELAAAAHH!!

Kebahagiaan-kebahagiaan kecil di tengah kesibukan:

Dikasih sama dosen pembimbing terbaique sedunia :3

Disediain teh dilmah waktu ngajar privat :3

Dikasih pinjem buku N1 untuk ikutan ujian JLPT tengah tahun ini. Iya, harus nyempetin belajar juga @_@

Masih bisa ngopi enak sembari ngetik postingan ini
Terkadang, justru hal-hal kecil dan sederhana yang membuatmu bertahan menghadapi hal-hal besar dan sulit. Apa kamu setuju? :)

Jumat, 28 September 2018

Fobia, perlukah disembuhkan?


 Phobia atau fobia berbeda dari ketakutan biasa. Fobia adalah ketakutan yang berlebihan pada hal tertentu. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya fobia. Namun yang paling umum adalah karena adanya kejadian traumatis di masa lalu. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan seseorang mengidap fobia tanpa alasan khusus.

Beberapa fobia yang paling umum ditemukan adalah Arachnophobia (fobia laba-laba), Ophidiophobia (fobia ular), Acrophobia (fobia ketinggian), Mysophobia (fobia bakteri/kuman), Claustrophobia (fobia tempat sempit), Agoraphobia (fobia keramaian), Thalassophobia (fobia laut dalam), dan yang sempat populer, Trypophobia (fobia permukaan dengan banyak lubang). Banyak yang mendadak menyadari dirinya trypophobia setelah tayangan gambar-gambar permukaan dengan banyak lubang berjudul "Anda tidak bisa melihat gambar ini jika mengidap Trypophobia" mendadak viral di media sosial. (Nggak usah dicari, nanti jijik)

Tapi fobia berbeda dengan ketakutan biasa. Banyak orang takut pada kecoak, tapi tidak semuanya fobia kecoak. Begitu juga dengan trypophobia. Banyak orang yang mendadak jijik melihat buah bunga teratai. Tetapi belum tentu mereka mengidap trypophobia.

Rasa takut, jijik atau geli mungkin menyebabkan seseorang berteriak. Tapi berbeda dengan perasaan seperti itu, fobia bukan mainan. Mungkin ada teman yang suka melihat reaksi teman lainnya jika berteriak panik karena takut akan sesuatu. Tapi jangan pernah main-main dengan fobia. Karena seseorang yang menghadapi fobianya tidak berhenti hanya dengan teriakan. Terkadang, seseorang mengekspresikannya tidak dengan teriak. Namun mendadak berkeringat dingin dan gemetaran.

Sabtu, 08 September 2018

Menghadapi Emosi Negatif dalam Diri

"Gimana sih caranya supaya nggak gampang stress kayak elo?"

Kayaknya dari dulu gue sering banget dapet pertanyaan yang senada kayak gitu. Dan sejujurnya, susah banget jawabnya. "Kalau nggak mau stress, ya jangan stress. Gimana ngajarinnya?" kira-kira begitulah jawaban gue yang sangat absurd.

Allah menciptakan manusia dengan berbagai karakter, dan diantara milyaran manusia terciptalah manusia macam gue yang gampang lupa dan nggak pekanya kebangetan. Kalau mau dilihat negatifnya dari dua karakter itu, banyak banget. Nggak kehitung deh berapa kali gue ninggalin kunci motor yang masih nempel di motornya sewaktu parkir. Gantungan kuncinya pun dompet kecil isi STNK. Kalau orang mau jahat, motor gue udah digondol dari kapan tau. Tapi Allah baik, motor masih jodoh sama gue. Orang-orang yang nemuin kunci motor gue pun baik, selalu disimpenin. Hari ini malah gue ditelpon sama orang toko yang kebetulan ngeliat motor gue parkir depan tokonya, dan kuncinya ketinggalan pula. Kuncinya disimpenin dan motor gue diamanin sampe gue datang lagi ke toko. Ya Allah, baik bangeet... Gue nggak paham gimana bisa hidup kalau orang-orang sekeliling gue nggak sebaik ini.

Soal nggak peka juga... Duh, nggak tau deh udah berapa orang yang kesel dan marah-marah sama gue karena hal yang bahkan nggak gue sadari. Pada akhirnya gue belajar untuk selalu minta maaf duluan. Karena menurut mereka pasti gue yang salah. Setelah minta maaf, barulah gue minta kasih tau apa salah gue. Dan kalau itu menyinggung, ya gue usahain nggak ngelakuin lagi ke depannya. Walaupun mungkin saat itu gue nggak ngerasa apa yang gue lakukan itu salah, karena kalau gue digituin misalnya, gue biasa-biasa aja. Tapi gue sadar kalau level kesensitifan orang beda-beda. Kebetulan aja level sensitif gue setara sama Kaka si maskot Asian Games. Berkulit badak. Kalau ditusuk, pedangnya yang bengkok.

Kucinta Kaka, karena kami sama. Sama-sama berkulit badak.
Tapi kalau dilihat dari sisi lain, sifat pelupa dan nggak peka itu membantu gue untuk melupakan dan menghilangkan rasa marah, sakit hati, sedih dan emosi-emosi negatif dengan cepat. Dulu, gue pernah sekali deactive dari twitter karena sakit hati (ini pun inget lagi karena baca ulang diari), tapi sampai sekarang gue nggak inget sama sekali apa atau siapa yang bikin gue sakit hati waktu itu.

Ya terus, masa gue nyaranin ke orang-orang untuk jadi pelupa dan nggak peka kayak gue supaya nggak stress? Kan nggak mungkin....

Tapi semakin dewasa, gue mulai merumuskan cara-cara lain untuk menghadapi emosi negatif, termasuk stress, cemas, marah, sakit hati, sedih, depresi dan lain-lain. Yup, istilahnya merumuskan karena gue manusia otak kiri, semua permasalahan ditilik dari kacamata ilmu pasti. Walaupun aslinya gue sangat-sangat terbiasa dengan ketidakpastian. Hahahaha.

Pada dasarnya, emosi negatif yang dirasakan itu manusiawi. Siapa sih yang nggak pernah marah? Nggak pernah sedih? Atau nggak pernah sakit hati? Elo kan bukan malaikat. Merasakan emosi-emosi negatif itu wajar, kok. Nggak bisa dihindari. Masalahnya adalah bagaimana menghadapi emosi negatif tersebut supaya nggak berkepanjangan dan berpengaruh buruk pada orang-orang sekitar.

Percayalah, saat merasa marah lalu langsung dilampiaskan ke orang yang menyebabkan kemarahan atau malah ke orang-orang yang nggak ada hubungannya, nggak akan meredakan rasa marah tapi justru menambah masalah baru.

Saat gue merasa marah atas sesuatu, biasanya gue perlu waktu untuk merenung sendiri. Mencari penyebab atas kemarahan gue. Kalau gue yakin kemarahan gue sama seseorang adalah karena kesalahan dia, maka akan langsung gue omongin baik-baik. Perlu diomongin supaya dianya juga bisa berubah. Kalau kemarahan gue murni karena guenya aja yang pengin marah-marah nggak jelas dan karena sesuatu fakta di luar yang nggak bisa diubah meski pun diomongin, maka gue akan mencoba berdamai dengan diri sendiri.

Mungkin perlu pelampiasan dengan mukulin tembok atau mecahin barang yang nggak akan bikin gue rugi walaupun dipecahin (ngelempar HP jelas nggak termasuk. Sayang HP-nya. Walau lagi marah, harus tetep logis). Perasaan marah itu datangnya dari hati dan kehadirannya nggak bisa disangkal. Kalau lagi marah ya maunya marah. Tapi otak gue bilang "Iya, elo boleh marah-marah sendiri. Pukulin tembok, sana. Asal jangan nyusahin orang lain. Hari ini boleh marah-marah, tapi besok udah nggak boleh, yaa..."

Gue nggak tau dengan orang lain, tapi hati gue nurut banget sama otak. Mereka bisa bekerjasama dengan baik. Wakakaka. Otak gue mengerti kalau gue perlu marah, atau sedih, atau sakit hati. Gue cuma butuh sedikit waktu untuk merasakan itu sebelum akhirnya kembali normal. Dan hati gue pun mengerti kalau logika otak gue benar. Menyimpan emosi negatif berkepanjangan hanya bikin capek, buang-buang waktu dan mempengaruhi semua aktifitas gue ke depan. Padahal tanpa dipengaruhi emosi negatif pun, gue tergolong pemalas. Apa jadinya kalau semuanya bergabung? Hancur sudah.

Ada contoh lain di mana hati gue nurut sama otak. Saat seseorang ngomong sesuatu yang bikin lawan bicaranya pengin marah atau merasa sakit hati, kebanyakan biasanya mengabaikan fakta yang diutarakan oleh si pembicara karena kebawa emosi. Gue biasanya malah diem dan nggak bisa jawab. Kalau ada temen yang ngebelain dan bilang "wah paraaah... Bales, dong!" gue bakal bilang "Abis gimana? Bener sih, soalnya..."

Sodori gue fakta, maka semarah apa pun gue, bisa langsung berhenti marah tiba-tiba.

Satu-satunya saran yang paling bener yang bisa gue kasih untuk menghadapi emosi negatif adalah, percayakan sepenuhnya sama Allah.

Beberapa waktu lalu gue ngerasa sedih banget karena merasa nggak becus melakukan sesuatu dan jadi menyusahkan orang lain. Nyusahinnya bukan soal kecil, tapi nyusahiiiiiiiiin banget banget bangeeeeeeeeet. Rasa bersalah dan keinginan untuk memperbaiki keadaan tampak nggak cukup karena udah terlanjur terjadi akibat kebodohan gue. Saat itu hanya satu yang terpikirkan. Allah nggak akan menimpakan masalah pada hambanya tanpa disertai kemampuan untuk menyelesaikannya. Jadi gue percaya semuanya bisa terselesaikan asal gue berusaha. Tapi meski percaya sepenuhnya pada Allah, rasa sedih mah tetap ada. Manusiawi itu. Akhirnya, gue berdoa "Ya Allah, aku percaya semua masalah bisa terselesaikan. Aku percaya Engkau yang Maha Kuasa. Tapi hari ini aku sedih. Jadi, biarkan aku sedih untuk hari ini saja."

Udeh, semaleman itu gue nangis. Menangisi kebodohan gue sendiri. And I felt that's the most horrible day within this year. Di buku jurnal gue warnanya jadi hitam dan merusak lembar pixels of the year gue yang rata-rata berwarna oranye (amazing, fantastic day) dan kuning (really good, happy day).


Tapi besoknya, gue udah nggak ngerasa sedih sama sekali. Yang tersisa cuma tekad untuk memperbaiki keadaan separah apa pun kondisinya. Dan jurnal gue pun kembali berwarna oranye. Wakakakaka.

Saran lain yang bisa gue berikan untuk orang yang gampang stress dan apa-apa dipikirin adalah, coba list kelebihanmu dan cintai dirimu sendiri. Gue percaya tiap orang punya banyak kelebihan yang nggak dimiliki orang lain. Tapi tampaknya orang yang sensitif justru paling sulit melihat kelebihan diri sendiri. Sehingga perkataan atau sikap orang lain yang merendahkan dirinya akan sangat berdampak besar. Kenapa? Soalnya mereka menganggap diri mereka sendiri rendah, dan begitu mendapat justifikasi dari orang lain bahwa mereka memang 'rendah', hancurlah sudah. Terjun bebas.

Saran di atas dari awal nggak gue butuhkan karena gue suka diri gue sendiri. Gue tau persis apa kelebihan dan kekurangan gue. Sehingga gue nggak pernah peduli apa pun kata-kata orang yang mencoba merendahkan gue. Nggak akan berpengaruh karena kemampuan gue nggak akan berkurang hanya karena dikatain orang lain. Mereka ngatain kekurangan gue pun nggak akan ngaruh karena gue juga udah tau gue bego. Nggak usah diomongin lagi. Untuk hal ini, yang perlu gue kontrol adalah bagaimana supaya gue nggak meninggikan diri sendiri dan merendahkan orang lain. Gue menahan diri supaya nggak sampai level 'sombong'. Untuk yang punya karakter kayak gue, yang penting adalah bagaimana supaya tetap rendah hati dan mau minta maaf ketika salah. Soalnya, orang kayak gini biasanya susah banget mengakui kesalahan karena selalu menganggap diri sendiri paling benar.

Kebalikan banget kan sama karakter yang sebelumnya? Karena dari awal rendah diri, biasanya malah keseringan minta maaf sama orang, padahal nggak salah apa-apa. Orang yang rendah diri perlu lebih mencintai dirinya sendiri, dan orang yang percaya diri terlalu tinggi perlu belajar mencintai orang lain di sekitarnya.
 
Yah, itu sih kira-kira. Entah jawaban macam ini bisa membantu apa nggak. Semoga sih bisa....

Ini besok, eh, hari ini tugas presentasi proposal tesis pertama dikumpulin dan gue bahkan belum baca buku-buku referensinya. Mau jadi apa lo, Naaaa....

Rabu, 05 September 2018

Halo, Tesis :)

Halo, Tesiiiss.... Akhirnya kita bertatap muka, juga. Wahahaha.


Di depan tersenyum bahagia, di belakang udah mulai mewek. Kira-kira bisa nggak ya ini selesai dalam satu tahun?

Di postingan blog beberapa tahun lalu gue pernah ngebahas soal skripsi dan saking muaknya pernah bertekad untuk nggak kuliah lagi karena takut kejadian yang sama berulang sewaktu ngerjain skripsi.

Dan di sinilah gue sekarang, menghadapi tesis :)
HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA (perhatian, ini ketawa stress). Mulai stress setelah paham kalau skripsi yang gue bangga-banggakan dulu itu RECEH BANGET begitu masuk ke jenjang S2. Gue bahkan nggak berani ngasih liat skripsi gue ke dosen-dosen linguistik karena itu pasti banyak banget salahnya. Malu.

Gue masuk peminatan linguistik murni, yang aslinya bisa aja topik skripsi gue diperdalam lagi untuk jadi tesis. Tapi seperti yang gue sebutkan sebelumnya. Gue malu karena itu receh banget. Yang kedua, fokus gue udah bukan ke bahasa Jepang lagi, tapi ke bahasa Indonesia. Dosen-dosen gue sih menyarankan supaya tesis sejalan dengan jurusan bahasa sewaktu S1 karena menyangkut jenjang karir. Masalahnya gue nggak mau meneruskan karir di bidang bahasa Jepang lagi. Gue justru mau pindah ke bahasa Indonesia. Karena itulah gue memutuskan untuk mengambil topik tesis seputar bahasa Indonesia. Lagipula, penelitian bahasa-bahasa asing itu udah banyak banget. Apalagi, dari negaranya masing-masing juga udah banyak linguis kece yang mengembangkan teori kebahasaan negara mereka. Sementara linguis di Indonesia itu masih sedikit. Teori kebahasaan juga masih banyak banget yang perlu digali lebih dalam. Karena itulah gue mau ambil bagian (meskipun kecil) untuk ikut mengembangkan teori bahasa Indonesia.

Yah, segitu dulu. Langsung lanjut tidur...eh, penelitian.




Rabu, 20 Juni 2018

Otoge itu RUMIT!




Otoge merupakan singkatan dari Otome Game yang berarti maiden game, dating sims ala Jepang. Permainan berupa simulasi atau semacam visual novel yang fokus pada heroine dengan plot utama untuk mendapatkan satu dari banyak karakter laki-laki dalam game sebagai pasangannya.


Gue nggak keliatan kayak manusia yang bakal mainan otoge, ya? Hahahahaha.


GUE MAIN!!


But I quit....


Awal gue main sebenernya bukan terpengaruh sama temen-temen yang pada mainan ini. Bukan juga karena putus asa nyari sosok cowok yang sempurna macam di komik atau novel dan akhirnya terjebak dalam lingkaran setan bernama otoge *lalu dihajar*


Alasan gue main otoge itu sederhana. Gue lagi bosen baca bacaan konvensional macam novel atau komik, bahkan bacaan dari wattpad pun lagi bosen banget. Akhirnya iseng download otoge gratisan HANYA UNTUK MENDAPATKAN SUMBER BACAAN YANG BERBEDA. Yah, emang otoge itu kan semacam visual novel juga. Ada chapternya, ada plot ceritanya, dan kalau dipikir-pikir, jadi semacam cerita Goosebumps yang endingnya tergantung pilihan pembaca. Duh, kangen banget deh baca seri Goosebumps yang itu. Walaupun endingnya mati mulu sih, gue.... Wakakaka.


Jadi mulailah gue main beberapa otoge sekaligus. Soalnya, kalau cuma satu cepet banget selesainya. Masalah dengan otoge adalah, lo nggak bisa namatin satu cerita sekaligus seharian. Oke, ini aturan untuk otoge gratisan, sih. Biasanya, dalam sehari cuma bisa menyelesaikan satu chapter setelah prolog. Setelah lewat 24 jam, baru deh bisa buka chapter selanjutnya. Atau, ada juga yang pakai sistem ngumpulin poin dengan main game-game receh dalam otoge itu. Begitu poinnya cukup, baru bisa buka chapter baru. Itulah alasan gue mendownload 4-5 otoge sekaligus, biar paling nggak bisa baca 5 chapter dari 5 otoge berbeda.


Ada otoge yang ceritanya biasa aja dan karakternya juga nggak ada yang gue suka jadi bingung harus milih siapa (banyak maunya lo, Na!). Pada akhirnya otoge yang model gini gue uninstall. Tapi berhubung udah jalan beberapa chapter dan gue sebal kalau ceritanya nggak tamat, akhirnya gue liat lanjutan ceritanya di youtube. Wakakaka, banyak yang upload pas main otoge ternyata.


Tapi di antara banyak otoge yang klise, ada beberapa yang jadi favorit gue karena ceritanya cukup kece dan bisa dinikmati sebagai kesatuan novel gitu.

Kisah Three Kingdom itu udah umum banget sebenernya. Kisah China klasik tentang tiga kerajaan yang berseteru di masa lalu. Tapi cerita ini lumayan unik. Heroinenya terlempar ke masa lalu sampai akhirnya terlibat dalam perseteruan tiga kerajaan yang dipimpin tiga raja muda di atas itu. Setelah lewat prolog, lalu heroinenya disuruh milih satu karakter.

Dari tiga itu, udah pasti gue bakal milih Zhou Gongjin. Gue nggak suka yang gondrong macam Zhuge, atau yang sok misterius macam Cao. Zhou adalah tipikal karakter ceria yang bisa jadi kayak temen. Kayaknya asyik. Dan bener, ceritanya jadi asyik karena gue milih dia. Dialog dan ekspresinya selalu lucu. Apalagi waktu dia ikut kelempar balik bareng heroinenya ke masa depan. Macam Minho (The Maze Runner Series) ngeliat taksi. Heboh. Wahahaha. Pada akhirnya harus pisah sih karena emang beda zaman. Tapi ceritanya cukup seru.

Yang selanjutnya adalah tentang ninja. Di cerita ini, heroinenya terpaksa nyamar jadi ninja cowok karena satu alasan dan dilatih oleh salah satu ninja senior. Wait, bener nggak ya ceritanya? Gue lupa banget.... Pokoknya gitu deh kira-kira. Dan heroinenya akhirnya milih mau dilatih sama siapa.




Daaan, seperti yang mungkin udah bisa kalian tebak, gue milih Sasuke Sarutobi, a young, cheerful and reckless ninja. Tipikal osananajimi (teman sepermainan waktu kecil), hoho.

Pas game ini, gue mulai meracuni Zu buat ikutan main. Dan dia milihnya Saito, si tsundere. Wakakakaka. KOK GUE PENGIN NGAKAK!! Yeh, suka-suka doi lah.

Beda dari otoge yang gue mainin sebelumnya, yang ini ada love meternya. Jadi dapet good/bad endingnya tergantung sampai mana love meternya. Dan disinilah gue baru tau kalo I'M SUCK AT THIS KIND OF GAME. Pilihan yang gue dapet selalu dapet poin terkecil (entah kenapa). Gue milih jawaban sesuai diri sendiri, poinnya kecil, milih jawaban dengan mengira-ngira jawaban apa yang diinginkan sama Sasuke juga tetep aja dapet poin kecil. Maunya apaaaaaaaa?? Sementara itu Zu selalu dapet poin tertinggi (entah kenapa). Gue pada akhirnya dapet good ending gara-gara jago mainan game recehnya. Gue selalu dapet love potion yang jarang-jarang ada. Dan dengan ramuan itu, gue meninggikan love meternya. Wakakaka. Curang banget. Yah, tapi keberuntungan juga kan termasuk kekuatan tersendiri :v #heh #bodoah


Yang berikutnya masih tentang ninja. Tapi yang ini gambarnya lebih kece. Ceritanya (kalau nggak salah) heroinenya punya tugas penting nganterin pusaka ke suatu kota. Dan dia harus milih dua ninja untuk nemenin. Uniknya, ninja-ninja yang ada itu berdasarkan musim, dan tiap musim direpresentasikan oleh 2 ninja. Dan gue suka banget sama Winter bersaudara :3


Ran sama Fuyukikuuu... KECE BANGET IH!



Ran tipikal yang ceria dan Fuyukiku yang kalem. SUKA BANGET TOPENGNYAAAA!!!

Tadinya mau milih Ran, tapi plot dengan pilihan Ran belum tersedia, hiks. Akhirnya pilihan kedua jatuh padaaa....


Rindoh, ketua dari semua ninja yang ada. Tipikal oniichan yang bisa menenangkan ninja-ninja bocah yang selalu ribut kalau pada ngumpul. POKOKNYA DEWASA BANGET! Mirip Keichan, atau Hase Tenma di Hana Nochi Hare. Super, lah....

Sejujurnya yang ini gue nggak terlalu inget ceritanya, sih. Pokoknya lumayan bagus. Dan ending yang gue dapet juga bagus.


Yang terakhir ini adalah otoge yang paling favorit dan gue masih lumayan inget detail ceritanya gimana. Heroinenya adalah seorang peneliti yang dikirim ke satu pulau terpencil yang diduga terinfeksi virus mematikan. Si heroine bekerjasama dengan tim kecil di pulau, yaitu peneliti senior, dua pengawal dan pimpinan tim. Ternyata virus yang menyerang pulau itu adalah virus yang menyebabkan seseorang menjadi zombie. Nah, sambil melakukan penelitian, tim ini kejar-kejaran sama zombie. Lumayan seru lah pokoknya. Ada beberapa twist tak terduga juga. Setelah prolog, heroinenya milih salah satu orang. Nanti, pas masuk cerita, orang itulah yang paling sering interaksi sama si heroine. Gue menikmati ceritanya sebagai novel thriller karena emang romancenya dikit dan nggak terlalu kental. Paling pas ending doang, sih. Dan gue juga dapet ending yang cukup bagus. Gue juga sempet bikin cerita yang terinspirasi dari game ini, walaupun mandeg tengah jalan, sih. Wahahaha.


Di otoge ini emang ada tipikal karakter ceria yang biasanya gue pilih. Masalahnya. Terlalu bocah kalau dibandingin sama heroinenya yang ceritanya udah jadi peneliti. Pedo banget. Jadilah gue milih karakter yang lain.


Pilihan pertama jatuh pada Lionel. Tipikal yang mirip banget sama Eiibi di Hana Nochi Hare. Doyan olahraga, kaku dan super nggak peka. Wakakaka. Kocak.


Yang kedua, gue pilih Ryo. Ini satu-satunya otoge yang bikin gue cukup kepo sama plot cerita karakter lain. Meskipun, tokoh yang lain nggak gue lanjutin gara-gara gondrong dan oom-oom banget :v malas....

Setelah main ini, gue merekomendasikan sama Ruru yang emang udah sering main dan expert banget main otoge. Berhubung beliau juga suka cerita thriller, yaudah, gue berpikir cerita ini pas. Nggak banyak romancenya juga.

Tapiii....

Begitu Ruru selesai main, gue diprotes.

"Ih, Nana mah rekomendasiin yang ada begituannya..."

HAH? DI MANANYA?

Perasaan gue ini ceritanya biasa banget nggak ada apa-apanya. Tapi ternyata kalau dapet good ending, ada gituannya.

HAAAAAAAAAAAHH?? BERARTI GUE TUH DAPETNYA BAD ENDING GETOOOH? ASTAGAAAA....

Emang dah, payah banget gue mainan ginian.

Beberapa waktu setelah itu, gue pun ngomong ke Zu soal ini. Dan dia bilang "Emang hampir semuanya ada adegan begituannya kalik...."

WAT!???

Lalu selama ini gue mainan apaaaaaaa???

Itu artinya selama ini gue main nggak pernah dapet good ending, ya? orz

Gue pun dilema, harus seneng karena aman nggak dapet adegan begitu, atau sedih karena menyadari gue bukan payah lagi tapi SUPER PAYAH CUPU DAN CEMEN BANGET MAINAN OTOGE.

Mungkin itulah yang bikin gue akhirnya berhenti main. Apalah gue yang cuma jago mainin minesweeper....


Pernah rekor menyelesaikan level ini hanya dalam 70 detik (tapi harus pake mouse)

Udah lama nggak main otoge, hari ini iseng liat video orang main otoge di youtube, dan gue terpukau. Tanpa pernah main otoge yang sama sebelumnya, dia bisa tau mana pilihan yang tepat supaya dapet good ending!! Karena orangnya juga banyak komen pas main, gue jadi tau gimana dia menganalisis karakter yang dia incar, baru mengambil pilihan-pilihan sesuai dengan si karakter itu. Jago bangeet! Kok dia bisa tau, sih!? Gimana caranyaaaa??

Tapi sudahlah, gue udah nggak punya minat buat nyoba lagi. Biar orang lain aja yang main. Kalau gue mau tau ceritanya, tinggal ke youtube. Atau balik ke media konvensional, novel atau komik. Wakakaka.

Senin, 28 Mei 2018

Let's Move On! Shall We?

Lupakan postingan gue sebelum ini. Anggep aja nggak ada. Ahahaha.

Yah, nggak bakal dihapus juga, sih. Memang awal-awal menyenangkan ada di Plukme!, walaupun nggak bertahan lama. Udah telanjur disebut, jadi, bodo amat.

Beberapa hari belakangan memang heboh banget tuh soal platform yang awalnya mengaku sebagai platform menulis tapi ala media sosial seperti facebook. Kehebohan juga sebenarnya terjadi dengan tidak sengaja, sih. Tapi karena diungkit-ungkit terus, masalahnya bukan selesai, malah jadi tambah besar.

Tapi sudahlah. Ini tujuan nulisnya bukan soal itu, kok. Sakit hati beberapa hari yang lalu udah mulai ilang tak berbekas. Akoh kan berhati baja. Cuih.

Nggak masalah kok kalau ada yang nggak sependapat dan masih nggak bosan-bosannya nyinyir walaupun guenya juga udah out dari sana. Toh gue kagak baca ini. Kagak ngaruuuhh!! Haha. Lagian, dengan terus menyindir nggak elegan gitu, yang masih waras di sana pasti nyadar juga ada yang salah dengan platform yang satu itu.

Intinya, gue mah udah move on. Dari dulu, gue cepat move on, kok! Lagian kunci move on itu cuma satu. Asal mau! Kalau susah move on, berarti emang dalam hati masih nggak mau move on, gitu aja.

Ini asalnya mau nulis sesuatu yang beda dan baru, tapi masih kepikiran deadline buat kamis besok dan minggu depannya lagi. Kutaksanggupmengerjakansemuanyabersamaan @_@

Jadiiii.... Cauw dulu, deh. Pankapan aku kembaliii.... Mau review beberapa film yang ditonton beberapa bulan terakhir. Kebanyakan bikin mewek, sih. Hiks....

Jumat, 11 Mei 2018

Apakah Ini Akhir Kejayaan Blog?

Multiply, Wordpress, Blogspot, Facebook, Twitter, Instagram, Wattpad, dan sekarang... Plukme!

Yah, memang nggak semuanya merupakan portal khusus menulis, sih. Dan walaupun punya semuanya, gue masih lumayan rajin nulis blog, kok. Tapi.... Nggak setelah bikin akun Plukme!

Gara-gara portal menulis baru itu, aktifitas gue di blog seakan mati. Padahal, sebelum ini gue nggak terlalu peduli blog ini ada yang mau baca apa nggak, yang penting gue nulis, gitu. Itu pun adalah usaha untuk denial atau menolak kenyataan bahwa memang menulis di blog udah nggak jaman. Beberapa tahun yang lalu, tiap nulis postingan di blog pasti ada aja yang komen, kadang sampe rame banget, terutama dari temen-temen yang saling follow blog. Sekarang sih jarang banget. Paling Ruru yang komen. Itu juga setelah gue naro tautan postingan blognya di FB atau twitter. Wakakaka. Yang lain biasanya langsung komen di postingan FB atau twitternya. Beberapa tahun lalu juga, kalau lagi bosen dan nyari bacaan ringan, ya ngubek-ngubek feed blogspot. Kali aja ada temen yang posting tulisan di blognya. Tapi sekarang feed mendekati nol. Hampir udah nggak ada yang posting di blog lagi.

Alasan paling utama ya... Pastinya karena semakin banyak portal menulis bertebaran. Selain yang gue ikutin itu, masih banyak lagi portal menulis kayak medium, sweek, basabasi, mojok, dll. Selain itu, media sosial juga menjadi salah satu penyebab lunturnya kejayaan blog. Mungkin karena memang lebih sederhana dan lebih mudah daripada harus buka blog dan menulis untuk satu postingan panjang. Belum lagi mengatur gambar, font, atau tautan yang diinginkan.

Biasanya, gue suka menulis artikel juga di blog. Mulai dari artikel yang receh sampai yang cukup serius. Tapi itu berubah sejak ada Plukme. Sejak bergabung, gue selalu menulis artikel di sana. Tentunya karena dapat benefit, sih. Dan berhubung konten dari plukme nggak bisa disalin tempel, jadilah artikel-artikel gue nangkring di sana dan blog ini semakin nggak berfaedah isinya. Soalnya dari awal isi blog random ini adalah curhatan, resensi film, dan artikel (kalau lagi bener). Sekarang isinya jadi curhatan doang, deh. Wakakakaka.

Menyesal? Well, nggak juga, sih. Dari dulu dunia digital berkembang sangat cepat. Dan gue aja yang mungkin terlalu lelet untuk mengikutinya. Jadi masih suka susah untuk melepas yang lama. Termasuk, blog ini....

Walaupun begitu, mungkin blog ini tetap akan gue pertahankan, sih. Soalnya larangan salin-tempel tulisan sendiri yang ada di Plukme itu cukup mengganggu (masuk akal sih karena tulisan yang disana udah dapet benefit sendiri yang benar-benar bisa diuangkan), sehingga gue juga nggak mungkin nulis semuanya di Plukme. Masih ada konten-konten yang mau gue pake lagi di saat-saat tertentu. Dan mungkin sebaiknya yang begitu gue posting di tempat lain, termasuk blog ini. Kayak cerpen atau cerita-cerita gitu, rasanya sayang banget mau post di Plukme. Mending posting di portal menulis yang khusus untuk cerita.

Well, itu aja sih curhatan untuk blog kali ini. Pankapan nulis di blog lagi....
Semoga....


Selasa, 05 Desember 2017

My Other Family

Waktu itu pernah janji mau ngebahas ini, tapi lupa terus. Baru kepikiran beberapa hari yang lalu pas iseng lihat-lihat folder foto.

6 tahun yang lalu, gue punya keluarga lain di Jepang. Gue ketemu mereka sewaktu jadi salah satu peserta program JENESYS dari Japan Fondation. JF menyediakan keluarga home stay di Jepang dengan mencocokkan keluarga yang gue inginkan dan anak asuh yang keluarga itu inginkan. Gue sebenernya nggak banyak ngasih syarat. Kalau nggak salah inget, yang paling penting itu "nggak pelihara anjing di rumah". Selain karena takut kena liurnya, gue emang takut anjing, sih. Berasa bakal digigit terus kalau liat.

Dan dengan syarat singkat yang gue tulis itu, dipertemukanlah gue dengan keluarga Matano. Yang menjemput gue di asrama adalah okaasan (Youko), anak laki-lakinya (Ryuuto), dan neneknya Ryuuto yang gue panggil obaasan (sampe sekarang gue nggak tau namanya karena kayaknya nggak sopan aja gitu mau nanya). Bersama temen gue dari Vietnam, Chii, kita berlima jalan-jalan ke Wakayama. Di sana pemandangannya indah banget. Bahkan kalau dipikir-pikir, Wakayama adalah tempat yang bikin gue pengin balik lagi dan lagi ke sana. Padahal nggak terlalu beken dan nggak ada tempat wisata yang wah banget di sana. Pertama kali ke Wakayama, gue banyak ngobrol sama okaasan. Karena saat itu bahasa Jepangnya chii nggak bagus-bagus banget, dan dia nggak ngerti bahasa Inggris, jadi gue semacam jadi penerjemahnya Chii juga.

Setelah dari Wakayama, kami pun pulang ke rumah okaasan. Dan di sana, ketemu sama otousan yang sehat dan sangat ceria. Gue suka banget selera humornya otousan. Saat itu, Ryuu masih kecil banget dan masih malu-malu untuk diajak ngomong. Jadi, gue nggak inget banyak apa yang gue obrolin sama Ryuuchan.

Sebenernya saat itu nggak bisa dibilang homestay juga, sih. Karena gue dan Chii nggak nginep di rumah mereka. Kami berdua langsung diantar pulang ke asrama malamnya.

Kami ketemu lagi sama keluarga Matano sewaktu acara perpisahan yang diadain di JF Kansai. Awalnya sih ngomongin pembelajaran di JF. Tapi begitu obrolan masuk ke arah komunikasi setelah perpisahan itu, gue nangis. Rasanya nggak pengin pisah. Masalahnya gue merasa nge-klik banget sama okaasan. Dan Okaasan bukan kayak kebanyakan orang Jepang yang terlalu menjaga batasan sama orang baru. Mungkin karena dia orang Oosaka. Okaasan dan keluarganya sangat blak-blakan kalau ngomong. Jadi gue bisa ngomong banyak hal, bahkan menyangkut kepercayaan mereka dan gaya hidup orang Jepang. Bareng mereka juga gue belajar untuk menjelaskan kepercayaan gue dan makna dari pakaian yang gue pake dengan bahasa Jepang. Nggak gampang memang. But I did it :)
Waktu perpisahan di JF Kansai. Ryuuchan masih bocah xD

Perpisahan itu terasa berat buat gue. Tapi jadi nggak terlalu terasa menyedihkan karena okaasan ternyata suka surat-suratan juga. Jadi begitu balik ke Indonesia, gue sering berkirim surat, kartu pos dan hadiah-hadiah ke okaasan. Sewaktu ngasih kabar soal nyokap gue yang dipanggil Allah, okaasan ngirimin gue surat berlembar-lembar untuk ngasih semangat dan penghiburan. Bener-bener berasa punya ibu satu lagi :')

Saat itu, sebenernya gue punya kontak LINE okaasan. Tapi entahlah, kami berdua lebih suka surat-suratan. Karena menanti suratnya membuat gue seneng. Nulis balasan surat juga membuat gue seneng karena bisa belajar gimana mengungkapkan banyak hal yang ingin diceritakan ke dalam beberapa lembar kertas.

Nggak lama setelah itu, okaasan ngasih kabar lewat surat kalau otousan divonis kanker. Gue shock banget waktu itu. Gantian gue yang nulis surat untuk menenangkan dan menghibur okaasan. Tapi sejujurnya gue nggak tau harus nulis apa. Karena gue sama shocknya dan sama sedihnya. Waktu itu, gue bertekad untuk balik ke sana dan ketemu otousan selagi masih sempet.

Sampai akhirnya gue berkesempatan untuk ke sana lagi dua tahun lalu. Walaupun ada macem-macem, ketemu otousan adalah prioritas gue. Dan kali ini, gue beneran home stay di sana. Sebelum gue ke sana, okaasan nanya apa-apa aja yang gue butuhkan, dan makanan apa yang bisa atau nggak bisa gue makan. Dan gue nggak nyangka demi gue, okaasan bela-belain beli futon baru :') Dan supaya gue nyaman untuk shalat dan lain-lain, gue dikasih satu kamar sendiri. Di kamar otousan. Waktu itu gue merasa nggak enak banget karena berasa ngusir otousan dari kamarnya (di satu sisi juga bingung kenapa otousan punya kamar sendiri, nggak bareng okaasan atau ryuuchan x'D). Tapi abis itu okaasan bilang kalau otousan emang nggak bisa tidur bareng orang lain, dan biasanya juga tidur di rumah obaasan. Jadi nggak masalah.

Begitu gue dateng ke sana, gue dijemput okaasan di stasiun, dan disambut Ryuuchan di rumah. Dan kalimat pertama yang diucapkan Ryuuchan adalah "selamat pagi. Apa kabar?" sambil liat catatan di kertas. AAAA~ RYUUCHAN CHOUKAWAII!!! *peluk*

Abis itu gue dimasakin makanan yang serba sayur dan seafood. Gue nggak ikut bantu masak karena takut malah bikin berantakan. Tapi karena ngeliat gue yang pengin bantu, akhirnya dikasih sayur-sayuran yang harus dipotong-potong. Sementara itu Ryuu di pojokan main game terus. Dia berubah jadi gamer :v Abis itu gue ikutan main juga, sih.
Jangan main mulu, Dek... :p

Nggak lama selesai makan, otousan pulang dari kerjaannya. Gue pun penasaran dan bertanya-tanya kenapa otousan masih kerja. Dan otousan bilang dia udah baikan setelah beberapa kali perawatan dan kemo. Dan dia nggak bisa menahan diri terus di rumah, mending kerja. Tipikal orang Jepang sekaleh.... Gue bawain oleh-oleh baju batik dari Indonesia, tapi sayangnya nggak muat sama otousan. Padahal itu udah ukuran paling gede. Hiks.
Otousan kembali sehat abis kemo

Malamnya, setelah semua tidur, gue dan okaasan ngobrol. Mencoba mengejar kabar-kabar yang terlewat selama 4 tahun nggak ketemu. Dan itu sampe jam 2 nggak tidur akhirnya. Hehe. Banyak banget yang diobrolin sama okaasan waktu itu. Ada banyak hal-hal pribadi yang kita omongin, yang sekali lagi gue nggak nyangka bisa ngobrolin itu sama orang Jepang. Dan itu--sekali lagi--membuat gue sadar kalau okaasan beda sama orang Jepang kebanyakan. Dia nggak ragu-ragu untuk membagi rahasia dan hal-hal pribadinya sama gue. Dan di akhir percakapan, dia pun bilang kalau nyaman ngomong sama gue karena gue orang yang terbuka dan nggak masalah melakukan deep conversation--sesuatu yang sulit dia dapat kalau ngobrol sama orang Jepang lainnya.

Pertemuan itu membuat gue sedikit tenang karena otousan udah membaik. Setelah pulang ke Indonesia, gue sulit untuk surat-suratan karena bener-bener lagi nomaden dan susah ngasih satu alamat yang pasti. Jadilah komunikasi lewat LINE. Sayangnya, tahun ini hampir nggak pernah komunikasi karena guenya sibuk banget, dan okaasan juga jarang nongol di facebook. Sampai akhirnya begitu gue inget dan mau menghubungi lagi via LINE, okaasan posting foto-foto baru di facebook. Dan gue pun mendapat kabar kalau otousan udah nggak ada sejak beberapa bulan yang lalu.... :'(

Okaasan emang sengaja nggak ngasih kabar ke siapa-siapa soal itu sampai akhirnya siap. Okaasan dan ryuuchan pun sempet liburan ke Paris untuk menghibur diri. Sekarang, komunikasi sama okaasan jalan lagi kayak biasa. Dan banyak hal-hal yang mau gue omongin dan belum sempet cerita. Begitu okaasan tau gue lanjut S2 untuk jadi dosen, malah ditawarin untuk kerja di sana karena pasti banyak lowongan untuk orang kayak gue.

Duh, sekangen-kangennya sama okaasan, tetep aja males buat kerja di Jepang mah. Ntar yah kaasan, kapan-kapan ajah akoh main ke sana lagi, ketemu Ryuuchan yang udah gede dan ngganteng :v