Selasa, 26 Mei 2015

Flash Fiction - Pulau Tanpa Penghuni



Sedari tadi kupandangi perahu kecil yang membawaku ke pulau tak berpenghuni ini. Aku terpaksa mendarat dan melangkahkan kaki ke pulau karena dasar perahu bocor saat menghantam karang. Sementara di sini sama sekali tak ada alat tukang untuk memperbaikinya. Bagus sekali....

Sebenarnya kalau dilihat dengan seksama, pulau ini sangat indah. Terutama menjelang senja seperti ini. Aku bisa memandangi matahari yang perlahan terbenam di ufuk timur, menghilang di batas cakrawala. Angin sejuk berhembus perlahan, menggoyangkan dahan pohon kelapa di bibir pantai. Rasanya aku tak keberatan kalau harus tinggal di sini menunggu perahu yang lewat atau bala bantuan. Mungkin selama beberapa hari aku bisa menikmati pemandangan tak ternilai ini sebelum ada yang menjemputku untuk kembali ke pulau penuh manusia.

Persediaan makanan pun cukup untuk beberapa hari jika aku mampu berhemat dan tidak makan banyak. Aku hanya bisa menggantungkan nyawa dari persediaan makanan itu. Sebab, pohon kelapa belum berbuah, dan tampaknya tak banyak ikan yang berenang-renang di area pantai pulau ini.

Masalahnya, aku tak sendiri.

"Akkkhh..... to....long...."

Tadinya.

Dengan mantap, aku mengambil sebongkah batu yang lebih besar daripada yang kupakai sebelumnya. Kemudian, aku pun berjalan menuju rintihan suara untuk menuntaskan pekerjaanku yang belum sempurna....

-nana-
25/5/2015

______________________
 
Gimana? Gimana hasil tulisan gue di malam narasi OWOP ini? Ketje punya, kan? Serem, kan? Menegangkan? Horor? Ngeriii? Sadis?

Gak gue sangka tau-tau Cici komen
"Nana, itu sejak kapan matahari terbenam di Timur? Kiamat Na, kiamaat...."

Lalu ditimpali Mimi
"Nana buta arahnya parah banget"

Lalu pagi-paginya Ruru komen juga
"Nanaaaa mau horor kok jadi lawak? xD"

Guys! Plis! Fokus ke ceritanya dongs, huhuhuhu.....
Gue tau kok buta arah gue parah banget. Tapi kan....Tapi kan....
GUE LAGI NIAT BIKIN THRILLER BUKAN LAWAK. Serius deh....
Mana tempat sampah? Gue mojok di sana aja, deh.

Senin, 25 Mei 2015

Untuk OWOP dari Negeri 1001 Malam.....Eh, Sakura.....

Pegimana caranya bisa salah negara jauh banget gitu?
Ketauan banget mau ngelawaknya. Jayus tauk, Na. Jayuusss.....

Udah ah....

Anyway, ini cerita liburan gue selama sepuluh hari di Jepang. Kenapa untuk OWOP? Karena gara-gara OWOP, gue sukses kena homesick. Why? Kenapah? Padahal sebelumnya nggak pernah begini. Serius. Gue adalah orang yang bisa tidur di mana aja. Gampang merasa nyaman di tempat baru. Jadi, kemungkinan gue untuk kena homesick lebih rendah dari 1%!!

Awalnya, gue baik-baik aja karena di beberapa hari pertama gue sama sekali nggak dapet sambungan internet. Sebenernya di hotel dan tiap stasiun selalu ada wi-fi gretongan, sih. Tapi emang dasarnya HP gue aja yang bapuk, jadinya meski tulisannya 'connect', tetep aja gue nggak bisa browsing apa pun. Lah nerima whatsapp aja nggak bisa.

Masalah mulai timbul saat gue mendapat sambungan internet setelah pindah hotel. Begitu nyambung, notifikasi whatsapp langsung masuk bertubi-tubi, kayak serbuan semut saat gue lagi pesta gula. Seinget gue, ada 1000 lebih notifikasi whatsapp di HP. Nggak tiba-tiba eror pun gue udah sangat bersyukur. Parah. Seumur hidup baru kali ini dapet notifikasi segitu banyak. Selain grup-grup whatsapp yang bejibun, yang jadi masalah utama adalah grup OWOP. Ntah kenapa grup ini lagi aktif-aktifnya sampe bisa ada notif segitu banyak hanya dalam beberapa hari.

Sejujurnya, akhirnya gue nggak baca semua obrolan di OWOP hari itu. Dengan sangat terpaksa, gue ngirim semua percakapan ke email gue dan gue hapus semua percakapan supaya nggak membebani HP gue yang sudah renta. Tentunya, gue berpikir akan membaca itu waktu luang. Tapi kenyataannya sampe sekarang belum gue baca, hahahahaha *digaplok*

Tapi kenapa, saat gue ada waktu dan bisa baca semua percakapan grup, kenapa malah waktu malam narasi? Kenapa? Gue jadi baca tulisan-tulisan anak-anak OWOP yang oke-oke itu. Tulisan-tulisan inilah yang membuat gue akhirnya kena homesick parah di hari ketujuh.

Ayam dan speaker ini jadi artis di hari itu. Dan apa yang akan dipikirkan pertama kali begitu liat gambar ini? Udah pasti ini ayam lagi bangunin orang pagi-pagi buta!
Daripada susah menjelaskan keadaan gue waktu itu, akhirnya gue bikin narasi juga meski nggak bisa diitung karena dikirim setelah gue pulang ke tanah air.

HOMESICK

Aku menscroll kalimat demi kalimat yang ada di layar whatsappku. Ramai sekali grup hari ini. Sayang sekali aku tidak bisa bergabung karena kondisi yang tidak memungkinkan. Saat ini sudah hampir pukul 12 malam, sementara di sana masih pukul 10 malam.

Malam narasi hari ini sepertinya sangat istimewa. Tiap anggota diminta membuat narasi dari gambar ayam jago yang sedang membawa toa dan meneriakkan sesuatu. Gambar yang sangat unik, dan mengarah ke satu kesimpulan. Ayam ini sedang berusaha membangunkan orang-orang untuk melaksanakan shalat subuh.

Ya, bukan hanya aku yang berpikir begitu. Malam ini banyak sekali yang membuat narasi, puisi, cerita pendek, tentang si ayam dan shalat subuh.

Aku yang biasanya cukup aktif dalam grup, kali ini hanya bisa menjadi silent reader.

"Tulisannya bagus-bagus," kataku tanpa sadar.

"Apaan, Na?" tanya temanku yang sedang tidur-tiduran di kasur di bawahku. Ia juga sedang memainkan handphonenya, menunggu waktu tidur.

"Nggak apa-apa. Gue lagi baca tulisan temen-temen di grup," jawabku seadanya.

Setelah temanku menjawab dengan 'ooh' pendek, aku melanjutkan bacaku.

Entah kenapa, aku merasa hampir semua tulisan hari ini benar-benar bagus.

Guys, di sini jangankan suara adzan, suara ayam berkokok pun tidak pernah kudengar. Yang membangunkanku dini hari hanya suara alarm dari handphoneku sendiri. Itu pun harus buru-buru kumatikan karena takut mengganggu penghuni kamar hotel yang lain. Saat menuju kamar mandi untuk berwudhu, sepanjang lorong sangat hening seolah hotel ini sama sekali tak berpenghuni.

Saat tiba waktu shalat, yang bisa kudengar hanya suaraku sendiri yang melantunkan ayat-ayat Allah dengan suara lirih. Hingga selesai shalat pun masih belum terdengar suara apa-apa.

Katanya ayam berkokok di pagi hari karena melihat malaikat. Lalu adakah malaikat yang menghampiriku pagi ini? Aku sama sekali tidak tahu.

Ayam jago yang gagah, mungkin kamu kadang kesal kalau manusia-manusia di sana malah memakimu karena kamu berisik pagi-pagi. Tapi aku yang baru seminggu di tanah ini tiba-tiba rindu suara kokokanmu. Aku rindu menantikan saat-saat malaikat datang dini hari. Aku rindu mendengar lantunan ayat Allah melalui speaker masjid yang agak fals. Aku rindu mendengar adzan yang berkumandang bersahutan di negaraku. Aku rindu mendengar suara-suara tapak-tapak kaki yang bersegera menuju masjid untuk berjamaah.

"Wi, gue mau pulang....." kataku lirih. Tak terasa setetes air mata turun di pipiku.

Aku tidak mendengar jawaban apapun karena saat itu Dewi sudah terlelap.
Masih ada tiga hari yang harus kulewati di Jepang sebelum kembali lagi ke tanah air. Tiga hari yang mungkin akan terasa sangat lama.

END

Iya, segitu homesicknya gue sampe nangis coba. Seenak apa pun fasilitas di Jepang, tetep aja gue kangen bisa shalat segampang di Indonesia. Di tiap sudut ada masjid, jadi nggak perlu repot nyari tempat untuk shalat kalo lagi di luaran, dan nggak perlu ngejamak shalat karena khawatir nggak nemu tempat shalat lagi setelahnya. Kangen denger suara orang ngaji sebelum adzan, kangen denger adzan yang sahut-sahutan. Bahkan saat gue ke Masjid Kobe pun, adzannya cuma berkumandang dalam masjid aja supaya nggak mengganggu penduduk sekitar.

Ngomong-ngomong, gue nangis tepat pas baca tulisan yang satu ini....

Selamat subuh yang hampir pagi. Sang Surya mulai meninggi. Kamu masih saja malas rupanya, beringsut dibalik selimut yang tak rapi.

Aku, diciptakan-Nya membawa manfaat yang salah satunya berasal dari merdunya suaraku. Ehem! Tapi kurasa, sepasang telingamu itu terlalu bebal, tak mengerti maksud kukuruyukku.

Apa perlu kupakai pengeras suara? Yang kucolong diam-diam dari Mushola. Katanya sumbangan dari Haji Toha? Duh, tak perlulah amalan menjadi headline berita. Bisa riya'! Hangus sudah amalan tersebab dunia. 
Uh, seandainya saja aku bisa mengatakan dalam bahasa manusia!

Coba kau tengok sebentar hatimu. Berdebu? Tentu saja! Kau kerap melewatkan waktu tersyahdu. Untuk apa katamu? Aih, tentu untuk menghadap Tuhanmu! Dengan menggelar sajadah panjang yang tergeletak di pojok kamarmu.

Hei, ini tentang peristiwa subuh yang kerap terlalaikan. Bukan salah jam weker yang ketika berdering keras, lalu kau matikan. Tentang niatan. Tentang rindu pada Tuhan yang sering terabaikan. Padahal kau dapat membunuh waktu, hanya untuk menulis kisah cinta yang menurutku picisan. Menghadap pada Yang Maha Menciptakan? Takkah kau punya waktu barang sejenak, kawan?

--Kiki--
#MalamNarasiOwop

diary-sunflower.tumblr.com

Mbak Kikiiiii, dirimu sukses bikin akoh mewek di Jepang, huhuhuhuhu..... *cakar-cakar tembok dengan putus asa* Jadi mau pulang tau nggaaaaakkkk......

Well, pokoknya untuk OWOP, O WOP YOU sekali laaaah <3

Gambar yang dibuat seadanya ngikutin design OWOP yang ada di HP. Soalnya gue lupa ngeprint gitu sebelum berangkat, wahahahaha xD
Tapi tulisan seadanya ini pun gue bawa-bawa keliling area Kansai, kok. Hehehehe

Ini juga tulisan seadanya yang gue gambar sendiri pake stabilo di hotel..... Di belakang sepertinya ada orang Jepang yang lagi nyari-nyari destinasi wisata dengan leptop punya hotel
Tulisannya sempet gue bawa ke kastil Wakayama jugaaaa :D Di tempat inilah ada kisah gue yang kesengsem sama mas-mas ninja. Tapi ceritanya di postingan lain aja nanti.....

Well, begitulah sepenggal kisah di negeri 1001 malam.....eh kan salah lagi. Negeri Sakura, yak.
Setelah bergabung selama kurang lebih dua bulan, akhirnya bisa juga ketemu sama keluarga baru gue ini, hehehehehe :D
YEAYYYY!!!!
 

Sabtu, 16 Mei 2015

Tutorial Membuat Boneka Puff Wool

Akhir-akhir ini gue keranjingan bikin boneka dari puff wool. Siapa sih ini yang ngajarin? Akibatnya gue jadi ngabisin duit jajan buat beli puff wool, padahal itu budget beli bukuuuuu~ Huhuhuhuhu~
Yah, tapi akuh tidak menyesal kok kakaaak~

Ini sebagian hasil karya seseorang yang membuat gue terjun ke lembah kerajinan puff wool. Unyu-unyu sekalih
Nah, setelah belajar selama satu hari, gue pun berhasil membuat burung albatros putih yang tadinya niatnya mau bikin yukidaruma. Soalnya idung yuki daruma yang mirip wortel itu akhirnya malah gue bikin mirip paruh burung. Lalu, yang kedua gue bikin gurita, yang ketiga bikin kucing unyuu. Kucing inilah yang akhirnya gue posting di path & FB, karena menurut gue itu yang lumayan berhasil. Wahahahaha xD

Karya pertama: baby albatros
Karya kedua: Gurita ngajak berantem
Karya ketiga: Miooowww
Berkat kucing itu, ada beberapa yang minta dibikinin tutorialnya. Lalu akhirnya gue bikinlah tutorial sederhana cara membuat boneka dari puff wool. Contoh boneka yang akan dibikin adalaaaah

JENG JENG JENG!!!

DEDEK PANDAAA!!

DEDEK PANDAAA!!! AAAAAAA!!!
Contoh puff wool yang sederhana dan simpel karena cuma butuh puff wool putih-item ajah

Selasa, 12 Mei 2015

[Cerpen] Barisan Sakit Hati - Sang Maha Imajinatif

Hai hai haaaaiii~

Akhirnya gue kembali juga setelah kabur dua minggu dari kantor :p
Lalu sampe rumah, utang menulis pun numpuk. Oh tidaaaakk~

Waktu gue menghilang pun, ternyata anggota BARISAN SAKIT HATI belum melupakan rasa sakit hatinya karna ditinggal merit dan memanfaatkan rasa sakit hati itu untuk dituang ke dalam tulisan. Masih inget kan barisan sakit hati itu siapa aja?

Ini lhooo.....Kami bertiga ini lhooo....yang sakit hati karena ditinggal Ruru nikah....
Nah, Saa, anggota pertama barisan sakit hati, udah lebih dulu bikin cerpen berjudul "Jodoh untuk Barisan Sakit Hati". Sementara Zu, anggota kedua, juga udah bikin cerpen berjudul "Sensi", dan tentu saja masih cerita dengan tema yang sama "Sakit hati ditinggal nikah".

Lalu tibalah giliran gue, si anggota ketiga, untuk bikin cerpen bertemakan sama juga.

Setelah semedi, akhirnya jadilah satu cerpen ini *tepuk tangan dong plis....*

SANG MAHA IMAJINATIF

Minggu, 19 April 2015

Nikahan Ruru dan Barisan Pengiring yang Sakit Hati

WEY SODARA SEBANGSA DAN SETANAH AIR, RURU NIKAAAAHHH!!!
#berisik #ditabok

Gak kerasa setelah dia curhat galau-galauan, akhirnya nikah juga #eh
Semoga Eko adalah pasangan yang tepat untuk membawamu ke surga ya, Ru. Aamiin.

Sejujurnya gue kaga setoran blog dari dua minggu lalu ya gara-gara nikahannya Ruru kemarin. Sibuk ngurusin kado buat doi, lebih spesifiknya. Alesan aja lo Naaaaaa!!

Yap, mari singkirkan alasan dan rajin ngeblog lagi, yeah!!

Tadinya, gue sama Zu mau dateng dari akad nikah. Sayangnya, kita berenam (Gue, Ruru, Zu, Saa, Echa, Zha) pengin banget bisa foto berenam lagi. Karna Zha kebetulan cuma bisa bada maghrib, otomatis kita baru bisa foto-foto bareng abis maghrib. Dan agaknya nggak mungkin kalo gue dateng dari jam 7. Mana jauh banget pulak xD

Akhirnya gue sama Zu dateng pas acara yang di gedung, sekitar jam 12. Dateng-dateng gue kena omel Mimi karena nggak ngangkat telponnya dia yang mau nanya gedungnya. Maaf ya Miiii, gue sama sekali nggak bisa pegang2 HP di motor atau di jalan. Gue merasa bersalah banget karena Mimi nggak dianter lakinya, dan dia juga bawa Salman *peluk cium Salman*

Btw, Mimi akhirnya dateng karena anak-anak OWOP diundang juga. Hehe. Di nikahannya Ruru pun, akhirnya Gue bisa ketemu Said, Suhel, Rio, dan Bena (atau Bela?). Gapapa deh meski cuma dikit yang bisa dateng. Yang penting ketemu temen-temen seperjuangan, hehe.

Setelah ngasi kado segede gambreng buat Ruru, cipika-cipiki ama anak uenjeh, ngelayanin kebutuhannya nyonya Mimi, akhirnya kami semua maju ke depan untuk foto bareng manten. Pas mau foto, Said sempet-sempetnya ngeluarin kertas laminatingan untuk promosi OWOP. Dengan senang hati, gue ikut megang kertasnya, hehehehe.


gathering OWOP pertama sayaaahh!!

Mimi buru-buru pulang dan gue nganterin dia ke depan sampe dapet taksi. Pas balik ke gedung, gue merasa ada sesuatu yang hilang.

"Zu, scrapbook yang buat Ruru mana?" tanya gue.

"Udah gue kasih," kata Zu dengan tampang polos tapi ngeselin.

ADUH SI ZU! KOK DIKASIH SEKARANG!? ITU BELON SELESE TAUK! ADA BAGIAN YANG BELON SEMPET DITULIS!!

Akhirnya, dengan tampang polos tak bersalah, Zu terpaksa minta lagi hadiah yang udah dikasih ke Ruru dan ditaro Ruru di pelaminan. Haduuuuhhh......

Gue sih merasa, untuk siapapun dari kita berenam yang nikah, harus dapet hadiah spesial yang bukan barang beli jadi. Waktu nikahan Echa, kita ngasih ending fanfic lady yang dibikin semalem suntuk dan jadinya lumayan panjang. Lumayan juga bisa bikin Echa sama Kiki ketawa-ketawa baca itu. Sekalian emang momen yang pas untuk nyelesein fanfic tanpa akhir itu, hehe :)

Buat Ruru, emang gue yang inisiatif untuk bikin scrapbook, sih. Tadinya mau bikin semacam cerita juga, tapi gue gak kepikiran sama sekali bikin cerita apaan. Lalu gue mikir, kalo gue yang nikah, gue mau dikasih apa? Jadilah scrapbook 19 lembar super aduhai itu. Hahahahahaha. Sejujurnya, itu sih kado yang gue pengin untuk gue sendiri. Gue cuma berharap untuk kali ini Ruru sepemikiran sama gue, jadi dia seneng nerimanya. Dia kan, kembaran gue. Hahahahaha :D

Abis dari gedung, kita berdua langsung ngibrit ke rumah Echa buat nyelesein scrapbook dadakan itu. Untungnya, Echa udah pulang dari rumah sakit. Ibu hamil ini kena diare abis makan baso sama gue, sampe turun 4 kilo. Padahal, gue sehat wal afiat gini.....

Lalu gue mempertanyakan, sebenernya perut gue terbuat dari apa? Apa udah tahan racun? Atau membentuk sistem imun sendiri? Entahlah.

Setelah semua selesai, kami pun balik lagi ke rumah Ruru yang emang nggak jauh-jauh amat dari rumah Echa. Terus, di sana ketemu Saa dan Phidut yang udah nunggu dari siang. Berhubung belun makan, kami langsung nyamber makanan. Gue lebih napsu liat es krim, sih. Abis ngobrol-ngobrol sama Ruru & Eko, kami asik poto-poto dengan mereka berdua sebagai background *lalu dicacah*

Itu satu-satunya balas dendam yang bisa kami lakukan karena diduluin nikah sama Ruru.

Kami bertiga kan, barisan sakit hati. Sekarang lagi nunggu giliran dan berlomba-lomba siapa yang nyebar undangan duluan. HAHAHAHAHAHAHA!

Barisan sakit hati (Saa-Nana-Zu), ayooo siapakah yang akan nyebar undangan duluan abis ini?

Finally, bada maghrib Zha dateng juga. Dan dengan jilbab totol-totol!! Zha, jilbab seragamnya kemaneee? Dan dengan santainya dia bilang, ilang. Yasudahlah, dari dulu orang ini emang gak bisa seragaman. Mo pegimana lagih. Yang penting akhirnya kita berenam bisa foto-foto bareng lagi. Karena gue yakin kalo diniatinnya setelah nikahan Ruru, pasti akan susah banget kumpulnya. Tentu saja kami foto berenam setelah mengusir minta izin ke Eko secara halus. Hehe. Maaf ya Ekoo, Rurunya kami pinjem dulu bentaran. Nanti dibalikin lagi, kok.

DAN INILAH, ANAK-ANAK MANTAN PENGHUNI PANTI TAKARAI YANG TELAH BERMETAMORFOSIS JADI IBU-IBU PENGAJIAN!! JENG JEEEENGGG!!




Asal tau aja, untuk dapet foto berenam ini bener-bener butuh perjuangan. Selain karna ngumpulnya susah banget. Kami-kami ini bukan orang-orang yang suka inisiatip ngambil foto. Kalo ada yang ngajak, ayook. Kalo nggak ada yang ngajak poto, yaudah. Jadi poto kami dikit gitu deh....namanya juga grup "terserah, gue ikut aja". Gara-gara semuanya terserah, mau makan bareng aja bingung nentuin tempat.

Acara pun selesai. Di gedung, gue sama Zu rusuh. Dateng ke rumah Ruru tambah rusuh. Zha dateng, lebih rusuh lagi. Maaf ya oom, tante, ini temen-temennya anakmu rusuh banget. Ganggu tamu yang mau salaman. Semoga kami gak diusir waktu main-main ke tempat Ruru lagi. Hehehehe~

Laluuu.... sebagai penutup. Di hari spesial Ruru kemarin, sejujurnya gue juga menjadikannya hari yang spesial. Tapi gak akan gue sebar-sebar di blog, lah. Cuma beberapa orang aja yang tau. Dan gue pun gatau hasilnya akan berjalan lancar ato nggak. Yah, seenggaknya gue udah mengeluarkan semua keberanian yang gue pupuk selama 24 tahun. Dan gue nggak akan menyesal :) #wink

Jumat, 03 April 2015

"Gimana sih rasanya kuliah S2?"

Akhir-akhir ini ada pertanyaan yang terus berputar-putar di otak gue. 

"Gimana sih rasanya kuliah S2?"

Sejujurnya, nggak akhir-akhir ini juga, sih. Udah dari dulu. Sejak lulus S1, ketemu Ryo dan Elita, dan ngomongin serius tentang jenjang S2 yang kami mau ambil. Saat itu, gue bener-bener serius mau S2. Tapi, ujung-ujungnya ternyata keseriusan gue pupus seiring pertanyaan "Emang butuh gelar S2 buat apa?".

Sementara gue galau, Ryo dan Elita melangkah jauh meninggalkan gue. Dua orang jenius itu udah dapet persetujuan di kampus yang mau mereka tuju di negara berbeda. Sementara gue? Gue masih di rumah dan masih galau. Hahahahahaha :D

Iya, gue pengiiiiin banget belajar di bangku S2. Belajar linguistik. Belajar macam-macam bahasa. Belajar budaya yang melahirkan masing-masing bahasa. Belajar pengaruh bahasa-bahasa itu terhadap bahasa lain. Belajar perbadaan tiap bahasa. Asli, ngomonginnya aja rasanya menyenangkan banget. Tapi, sepengin-penginnya gue belajar itu, gue masih belum tau, mau gue terapin untuk apa nantinya ilmu yang gue pelajari itu. Bukan sekedar gelar S2, tapi juga manfaatnya. 

Gue tau kok, nggak ada ilmu yang akan sia-sia. Seenggaknya, ilmu itu pasti akan sangat berguna untuk diri gue sendiri. Tapi apa artinya kalau ilmu itu nggak gue terapkan? Apa artinya kalau ilmu itu cuma untuk diri sendiri? Rasanya rugi banget. 

Selama tiga tahun ini, itulah yang gue pikirkan. Mau jadi apa gue setelah lulus S2? Mau gue apain ilmunya supaya orang lain juga bisa ngerasain manfaatnya? Rasanya, sebelum gue nemu jawaban ini, gue akan menahan niat gue untuk kuliah lagi. 

Selain hal utama itu, emang ada satu hal lagi yang mengganjal gue untuk nerusin kuliah, yaitu

THESISNYAAAAA......

Meskipun udah berhasil lulus dan dapet gelar S1, rasanya gue masih trauma menghadapi penyusunan karya ilmiah macam skripsi dan thesis. Soalnya, skripsi S1 gue bisa dibilang nggak sukses-sukses banget. Gue nggak bisa menyusun skripsi sesuai yang gue mau. Oke, gue emang berhasil menyusun penelitian kualitatif dan bukan kuantitatif karena gue nggak jago-jago banget itung-itungan. Tapi......

Tema yang mau gue angkat itu "Penyebab kesalahan berbahasa Jepang akibat penggunaan bahasa Indonesia". Tapi sewaktu gue menyelesaikan semuanya sampai bab 4 dengan penuh darah dan air mata, salah satu pembimbing gue bilang kalau skripsi gue nggak bisa dilanjut.

"NGGAK BISA DILANJUT GIMANA, SENSEI?? INI UDAH SAMPE BAB EMPAAAT. DEMI APAAAAA!!"

Sensei yang satu itu bilang, argumen gue soal "penyebab" yang mengakibatkan kesalahan berbahasa itu tidak bisa dipertanggungjawabkan karena kurang kuat. Untuk bisa melancarkan tema yang gue mau, gue butuh waktu jauh lebih lama lagi untuk neliti lebih banyak buku dan bertanya-tanya langsung ke ahli bahasa. Dan emang tema yang gue ambil lebih mendekati tesis daripada skripsi, karena rata-rata gue nemu sumber yang mumpuni pun dari tesis orang lain. Tapi gue nggak punya waktu lagi. Beasiswa gue berhenti tahun 2012, dan gue nggak punya uang untuk bayar kuliah lagi tahun depan.

Sejujurnya, saat itu gue bener-bener berpikir untuk berhenti kuliah.

Tapi, akhirnya dengan penuh ketidakrelaan dan demi kelulusan tahun itu juga, gue menurunkan tema gue menjadi "Ada tidaknya kesalahan berbahasa Jepang akibat penggunaan bahasa Indonesia". Bukan "penyebab", tapi cuma "ada atau tidak". Ya jelas ada, lah! Tanpa bikin skripsi pun gue udah tau jawabannya. Nah, inilah yang bikin gue agak keki sama hasil akhir skripsi gue. Semuanya jadi terlalu dangkal karena argumen-argumen yang gue kumpulin dari awal harus dipangkas. 

Dan kalaupun nanti harus nyusun tesis, gue takut. Gue takut nantinya pendapat gue dipatahin lagi sama dosen pembimbing dan harus ngganti judulnya lagi. Tau sih kalo itu termasuk salah satu proses belajar. Tapi entah kenapa sebel aja kalau hasilnya nanti nggak sesuai sama yang diinginkan dan jatohnya jadi bikin penelitian cuma untuk dapet gelar.

Belum lama ini sih ada yang bilang ke gue, jangan takut sama tesis. Padahal kayaknya dia sendiri juga gak yakin gimana nyelesein tesisnya nanti, hahaha. Yah, mungkin tesis bukan hal utama yang bikin gue belum mau ngambil S2, sih. Balik lagi ke atas, gue harus nyari tujuan utama dulu untuk S2. Kalo nggak, buat apa?

Yah, sampai saat itu tiba, gue belajar bahasa-bahasa negara lain secara random aja. Sekarang lagi belajar huruf Thailand setelah sebelumnya belajar dikit-dikit kosakata bahasa Arab dan perubahannya. Youtube itu memang membantu sekali, hahahaha. Dan huruf Thailand itu ternyata nggak sesulit yang gue duga. Setelah dipelajarin, ternyata menarik dan unik banget! :) Yah, inilah yang bikin gue pengin terus nambah pengetahuan bahasa-bahasa lain. 


Rabu, 01 April 2015

Flashfiction - Andai Aku Jadi Presiden

Tantangan OWOP malam selasa temanya "Andai Aku Jadi Presiden". Duh, temanya susah! Itulah yang pertama kali terpikirkan. Tapi hadiahnya menggoda sekali! Jadi gue berusaha sebaik mungkin nulisnya.
 
Hadiah pemenang pertama! Menggoda sekali...... Tapi khusus tantangan kali ini, gue lebih tertarik sama hadiah pemenang kedua

INI HADIAH KEDUA!! MICROSOL!! FROZEN MINI RISOL!! ASTAGA GUE LIATNYA AJA UDAH NGILER!

Jadi, demi risol, eh, demi membantu melancarkan nulis, gue pun membuat flashfiction. Lagi :))

______________

"Mengatur keuangan negara, mengatur stabilitas ekonomi, mengatur undang-undang, mengatur transportasi, mengatur hubungan kerjasama dengan negara tetangga, mengatur pendidikan..... Tugas Presiden itu banyak kali ya, Cok! Mikirnya saja pusing kali aku!"

Pria yang akrab disapa Ucok itu geleng-geleng kepala. "Sur....sur.... kamu itu. Ngapain sih, mikirin kerjaan Presiden?"

"Ya kita harus peduli juga lah, Cok. Kita kan rakyat Indonesia juga...."

Ucok menghembuskan nafasnya perlahan. "Kerjaan Presiden memang banyak, Sur. Tapi kan beliau punya menteri-menteri yang bantu. Tugas Presiden itu memimpin para menteri supaya semuanya lancar. Bukan memimpin rakyat, lho. Hahahaha!"

"Loh? Presiden bukannya pemimpin rakyat? Gimana kau ini, Cok?"

Ucok tertawa lagi. Ia sudah menyangka akan menerima protes dari Surya. "Ya bukan, lah. Sebenarnya sebelum jadi Presiden, capres-capres itu harusnya sadar kalau tugas mereka itu melayani rakyat, bukan memimpin rakyat. Istilahnya, Presiden itu kepala pelayan bagi rakyat. Lagipula, bisa apa mereka tanpa rakyat? Kita ini sebenarnya yang raja, Cok. Kalau mindset para petinggi itu benar, sudah tentu mereka merendah. Wong mereka cuma pelayan."

"Iya, pelayan bergaji besar!" canda Surya.

"Hahaha! Benar itu, Sur! Harusnya gaji mereka jangan besar-besar. Biar saja gajinya kecil. Kalau gaji mereka kecil, tentu yang mau jadi petinggi-petinggi negara ini hanya orang-orang yang benar-benar rela membangun negeri dan mensejahterakan rakyat. Padahal, sejak SD ketua kelas yang kita pilih nggak pernah dapat imbalan apa pun, kan? Tapi mereka tetap mau menjalani kewajiban mereka. Nah, itu baru yang namanya ikhlas. Presiden kan hanya istilah keren 'Ketua Kelas' untuk Indonesia."

"Pintar kali kau, Cok. Coba kau sajalah yang jadi Presiden! Pasti dukung aku!"

Ucok meraih gagang sapu lidi dan merapatkan resleting seragam oranyenya. "Amiin. Insyaallah ya, Cok. Sekarang kita lanjut kerja dulu, yuk. Kita juga jadi pelayan masyarakat, kok. Cuma, masih di tingkat paling bawah, hehehe."

Mereka berdua kembali menyisir jalan besar di daerah Sudirman. Hari ini mereka harus kerja keras karena sejak siang tadi para pendemo memenuhi jalan tersebut dan pulang tanpa membawa sampah mereka.

-nana-
31/3/2015