Sekarang ini banyak media yang nggak bisa dipercaya, katanya. Banyak media yang memihak pihak tertentu, katanya. Bener nggak sih?
Senin, 07 Juli 2014
Ssstt...Postingan Ini Rahasia
Kenapa rahasia? Soalnya mungkin bisa menyinggung beberapa pihak. Jadi gue memutuskan untuk nulis ini di blog tanpa nge-share ke FB ataupun twitter. Di luar konten mau ngikutin judul novelnya Pseudonymous Bosch.
Sekarang ini banyak media yang nggak bisa dipercaya, katanya. Banyak media yang memihak pihak tertentu, katanya. Bener nggak sih?
Sekarang ini banyak media yang nggak bisa dipercaya, katanya. Banyak media yang memihak pihak tertentu, katanya. Bener nggak sih?
Minggu, 06 Juli 2014
Random Posting Menjelang Pilpres
Lagi rame-ramenya postingan soal pilpres yang bentar lagi bakal berlangsung nih. Lalu, apakah gue akan berubah ke mode serius dan ngomongin soal pilpres besok?
Nggak.
Capek.
Udah cukup deh pasti yang ngomongin ginian. Dimana-mana ada. Udah masa tenang, disuruh tenang cuma tiga hari aja masih pada gencar posting-posting capres pilihannya. Udaah wooii, udaaahh.....
Udahlah, jadikan pilihan itu rahasia dan hanya anda yang tahu. Tren banget ya sekarang membangga-banggakan diri dengan pilihannya sampe harus perang sindirian sama temen sendiri di medsos? Capres pilihan kalian dua-duanya nggak ada yang sempurna. Jadi jangan paksa orang lain untuk menyamakan pilihan, dan jangan tersinggung sama black campaign. Bener juga belum tentu.
Tapi setelah dipikir-pikir, baru kali ini melalui masa-masa pemilihan presiden yang seseru ini :) Iya, bikin muak. Tapi di satu sisi jadi rame. Semua orang tiba-tiba bersuara. Dan yang paling penting, angka golput berkurang jauh, hahahahaha.
Pembukaannya ngomongin politik, tapi sebenernya gue mau ngomong soal.....
....
Gue mau ngomongin soal apa ya tadi?
Oke, karna gue lupa, nulis blognya kapan-kapan lagi aja....
Nggak.
Capek.
Udah cukup deh pasti yang ngomongin ginian. Dimana-mana ada. Udah masa tenang, disuruh tenang cuma tiga hari aja masih pada gencar posting-posting capres pilihannya. Udaah wooii, udaaahh.....
Udahlah, jadikan pilihan itu rahasia dan hanya anda yang tahu. Tren banget ya sekarang membangga-banggakan diri dengan pilihannya sampe harus perang sindirian sama temen sendiri di medsos? Capres pilihan kalian dua-duanya nggak ada yang sempurna. Jadi jangan paksa orang lain untuk menyamakan pilihan, dan jangan tersinggung sama black campaign. Bener juga belum tentu.
Tapi setelah dipikir-pikir, baru kali ini melalui masa-masa pemilihan presiden yang seseru ini :) Iya, bikin muak. Tapi di satu sisi jadi rame. Semua orang tiba-tiba bersuara. Dan yang paling penting, angka golput berkurang jauh, hahahahaha.
Pembukaannya ngomongin politik, tapi sebenernya gue mau ngomong soal.....
....
Gue mau ngomongin soal apa ya tadi?
Oke, karna gue lupa, nulis blognya kapan-kapan lagi aja....
Kamis, 03 Juli 2014
Beef Steak? Atau Opor Ayam?
Baru-baru ini gue ditraktir makan-makanan mahal sama editor. Katanya sebagai perayaan berakhirnya Indonesia Open 2014, dan atas kerja keras gue dan Laila (satu jurnalis yang ikut ngeliput Indonesia Open bareng gue). Jarang-jarang kan gue bisa makan mahal, hahahaha, apalagi steak. Asli, steak yang mahal dan kualitas restoran, bukan steak yang 20 ribuan yang biasa gue makan, hehehe.
Sebagai orang awam yang dateng ke restoran kelas atas, biasanya sih udik, nggak tau table manner dan blah blah blah. Tapi gue nggak dooong~ Gue expert! Berkat seri 'My Kitchen Rules' yang selalu gue pantengin senin-rabu di indopisyen :p Berkat acara masak yang digelar di Australia itu, gue nggak kagok pas pelayan nanya, "Steaknya mau yang mana? Sirloin apa tenderloin? Dengan lemak atau tidak? Kentangnya mashed atau chips? Sausnya apa?"
Dengan pedenya gue jawab dengan lancar, "Sirloin yang tanpa lemak, pakai mashed potato sama mushroom sauce."
Lalu mbaknya nanya lagi, "Tingkat kematangannya?"
"Well done, please." --> perhatian, ini gue ngomong 'well done'nya dengan logat Aussie dooong~ norak, sumpah.
Sebagai orang awam yang dateng ke restoran kelas atas, biasanya sih udik, nggak tau table manner dan blah blah blah. Tapi gue nggak dooong~ Gue expert! Berkat seri 'My Kitchen Rules' yang selalu gue pantengin senin-rabu di indopisyen :p Berkat acara masak yang digelar di Australia itu, gue nggak kagok pas pelayan nanya, "Steaknya mau yang mana? Sirloin apa tenderloin? Dengan lemak atau tidak? Kentangnya mashed atau chips? Sausnya apa?"
Dengan pedenya gue jawab dengan lancar, "Sirloin yang tanpa lemak, pakai mashed potato sama mushroom sauce."
Lalu mbaknya nanya lagi, "Tingkat kematangannya?"
"Well done, please." --> perhatian, ini gue ngomong 'well done'nya dengan logat Aussie dooong~ norak, sumpah.
Senin, 30 Juni 2014
Pegunungan Dieng dan Mi Rebus yang Kurindukan
Saatnya cerita mengenai perjalanan gue naik gunung tinggi untuk pertama kali. Gunung tinggi loh ya, kalo naik gunung yang gak tinggi-tinggi amat sih udah pernah beberapa kali.
Karena ini pertama kalinya buat gue, gue nanya ke orang yang lebih berpengalaman soal bawaan apa aja yang mesti gue bawa. Setelah nanya ke Nene, temen kampus gue, dia menyarankan untuk bawa baju anget sebanyak-banyaknya, makanan (terutama coklat), sama obat-obatan. And that's.....what exactly I brought to the mountain. Gue nggak bawa yang lain. Pantes tas gue enteng banget..... Bahkan gue lupa bawa celana ganti -_-
Tapi bukan gue namanya kalo nggak bisa bertahan dengan barang-barang yang minim dan seadanya, HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!Rasanya ini bukan sesuatu yang harus dibanggakan, tapi sudahlah....
Karena ini pertama kalinya buat gue, gue nanya ke orang yang lebih berpengalaman soal bawaan apa aja yang mesti gue bawa. Setelah nanya ke Nene, temen kampus gue, dia menyarankan untuk bawa baju anget sebanyak-banyaknya, makanan (terutama coklat), sama obat-obatan. And that's.....what exactly I brought to the mountain. Gue nggak bawa yang lain. Pantes tas gue enteng banget..... Bahkan gue lupa bawa celana ganti -_-
Tapi bukan gue namanya kalo nggak bisa bertahan dengan barang-barang yang minim dan seadanya, HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!
![]() |
| TEASER: Sunrise at Mount Prau, Dieng, Wonosobo |
Kamis, 12 Juni 2014
Nana dan Segerombolan Maniak Anime (1)
Bekerja paruh waktu sebagai pengajar Bahasa Jepang, Nana menikmati waktunya yang menyenangkan. Terutama karena gajinya cukup besar dan waktu luangnya menjadi lebih banyak dibanding saat masih bekerja kantoran. Sejak awal, Nana memang bukan orang yang suka terikat peraturan. Beberapa aturan yang dirasa mengikat dirinya di kantor lah yang mendasari keputusannya untuk kembali mengajar privat Bahasa Jepang.
Hari itu Nana merasa senang karena mendapat tawaran mengajar baru, yakni mengajar tujuh anak sekaligus di daerah Matraman, tak terlampau jauh dari rumahnya. Ia senang karena bayarannya lebih besar daripada mengajar untuk satu anak saja. Memang ada kekhawatiran mengajar banyak anak sekaligus. Nana khawatir akan ada yang tertinggal atau bosan karena merasa pelajarannya terlalu lambat. Daya tangkap tiap anak memang berbeda. Tapi demi uangnya, peduli amat soal itu. Masih bisa dipikirkan nanti. Begitulah ia, tidak pernah berpikir panjang. Capek, katanya.
Lalu datanglah ia ke rumah salah satu anak yang akan diajarnya. Di sanalah ketujuh anak itu akan belajar bahasa Jepang.
"Yang mau les cowok semua?" tanya Nana setelah bertemu satu anak yang bernama Ray.
"Iya. Emang kenapa?" tanyanya balik.
"Nggak....nanya doang."
Pengalamannya mengajar segerombolan cowok-cowok SMA waktu PPL kuliah dulu sama sekali tidak bisa dibilang menyenangkan. Nana mulai sedikit menyesal mengambil tawaran yang satu ini. Tapi tidak ada salahnya dicoba dulu. Nanti kalau ternyata memang mengajar mereka membuatnya gila, tinggal serahkan ke sensei yang lain. Gampang, gampang, pikirnya.
Yang menghubungi lembaga les tempatnya bekerja adalah seorang anak bernama Dadi. Ia ingin les supaya bisa lulus Nouryoku Shiken N5 (semacam TOEFL untuk Bahasa Jepang). Tetapi karena ingin biaya les yang murah, Dadi mengajak teman-temannya untuk ikut les juga dan patungan bayar biaya les. Dasar licik.
Saat ditanya kenapa teman-temannya yang lain mau ikut les, mereka menjawab dengan kompak, "Supaya bisa nonton anime tanpa sub, sensei!"
Ternyata semuanya maniak anime.
Sayangnya, Nana yang sekarang bukan maniak anime seperti dulu. Nana sudah dewasa. Nana lebih fokus untuk menata masa depan dibandingkan menonton animasi Jepang yang kurang mendidik. Nana lebih rajin nonton Spongebob Squarepants tiap sore di Global TV.
Kesampingkan masalah itu, sekarang Nana ingin fokus mengajar terlebih dahulu.
"Hari ini kita belajar apa, sensei?" tanya Dadi.
"Perkenalan dulu pastinya, terus salam sama pola-pola dasar bahasa Jepang," jawab Nana tanpa melihat buku. Dia sudah hafal luar kepala bagian-bagian awal dalam buku pelajaran. Tepuk tangan dong....Biasanya dia naruh HP di mana saja tidak pernah ingat.
"Yaah...bosen dong..." kata Dadi yang memang sudah pernah belajar Bahasa Jepang tingkat dasar.
'Temen-temen lo kan belum pernah pada belajar Bahasa Jepang, sompret! Kalo mau langsung lompat harusnya les sendiri ajaaaaa....' batin Nana.
Akhirnya mereka semua belajar Bahasa Jepang dari dasar. Selain Dadi, ada Marcel yang juga sudah bisa pelajaran dasar, sehingga mereka ikut membantu teman-temannya belajar.
Saat Nana memberikan latihan, salah satu anak bertanya, "Eh, gue masih nggak ngerti nih yang ini. Gimana sih tadi?"
Sebenarnya Nana berniat menjawab, namun diselak Marcel yang lebih sigap. Saat itu Nana berpikir untuk menyerahkannya pada Marcel, karena mungkin yang lain akan lebih paham jika temannya yang menjelaskan....
"Ini begini, itu begitu. Gampang kok, lo pasti ngerti," kata Marcel.
....atau mungkin tidak.
"Hah??"
Tuh, kan.
Akhirnya Nana terpaksa menjelaskan ulang.
Selain itu, Nana juga dipusingkan oleh jawaban-jawaban murid-muridnya yang ngawur. Saat Nana bertanya apa Bahasa Jepangnya 'selamat tinggal', salah seorang dari mereka menjawab 'Saraba', ungkapan selamat tinggal yang lebih sering dipakai untuk perpisahan yang dramatis.
"Panggilan untuk orang itu bisa pakai -san, -sama, -chan, dan -kun. Ada yang tau panggilan lain?" tanya Nana lagi.
"-yarou!!" kata anak yang bernama Brahma dengan semangat.
Mendengar panggilan kasar yang bisa bermakna 'brengsek', 'bangsat', atau 'bajingan' itu, Nana cuma bisa menghela nafas panjang.
"Bener kan, sensei?"
"Iya, pas nonton ada yang dipanggil 'buta-yarou' (babi brengsek)!"
"....Nggak salah sih....tapi...." Nana tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Mengajari anak-anak yang sudah terpengaruh kata-kata Bahasa Jepang dari anime memang butuh perjuangan....
Continue to: Nana dan Segerombolan Maniak Anime (2)
Publish date: kapan-kapan
Hari itu Nana merasa senang karena mendapat tawaran mengajar baru, yakni mengajar tujuh anak sekaligus di daerah Matraman, tak terlampau jauh dari rumahnya. Ia senang karena bayarannya lebih besar daripada mengajar untuk satu anak saja. Memang ada kekhawatiran mengajar banyak anak sekaligus. Nana khawatir akan ada yang tertinggal atau bosan karena merasa pelajarannya terlalu lambat. Daya tangkap tiap anak memang berbeda. Tapi demi uangnya, peduli amat soal itu. Masih bisa dipikirkan nanti. Begitulah ia, tidak pernah berpikir panjang. Capek, katanya.
Lalu datanglah ia ke rumah salah satu anak yang akan diajarnya. Di sanalah ketujuh anak itu akan belajar bahasa Jepang.
"Yang mau les cowok semua?" tanya Nana setelah bertemu satu anak yang bernama Ray.
"Iya. Emang kenapa?" tanyanya balik.
"Nggak....nanya doang."
Pengalamannya mengajar segerombolan cowok-cowok SMA waktu PPL kuliah dulu sama sekali tidak bisa dibilang menyenangkan. Nana mulai sedikit menyesal mengambil tawaran yang satu ini. Tapi tidak ada salahnya dicoba dulu. Nanti kalau ternyata memang mengajar mereka membuatnya gila, tinggal serahkan ke sensei yang lain. Gampang, gampang, pikirnya.
Yang menghubungi lembaga les tempatnya bekerja adalah seorang anak bernama Dadi. Ia ingin les supaya bisa lulus Nouryoku Shiken N5 (semacam TOEFL untuk Bahasa Jepang). Tetapi karena ingin biaya les yang murah, Dadi mengajak teman-temannya untuk ikut les juga dan patungan bayar biaya les. Dasar licik.
Saat ditanya kenapa teman-temannya yang lain mau ikut les, mereka menjawab dengan kompak, "Supaya bisa nonton anime tanpa sub, sensei!"
Ternyata semuanya maniak anime.
Sayangnya, Nana yang sekarang bukan maniak anime seperti dulu. Nana sudah dewasa. Nana lebih fokus untuk menata masa depan dibandingkan menonton animasi Jepang yang kurang mendidik. Nana lebih rajin nonton Spongebob Squarepants tiap sore di Global TV.
Kesampingkan masalah itu, sekarang Nana ingin fokus mengajar terlebih dahulu.
"Hari ini kita belajar apa, sensei?" tanya Dadi.
"Perkenalan dulu pastinya, terus salam sama pola-pola dasar bahasa Jepang," jawab Nana tanpa melihat buku. Dia sudah hafal luar kepala bagian-bagian awal dalam buku pelajaran. Tepuk tangan dong....Biasanya dia naruh HP di mana saja tidak pernah ingat.
"Yaah...bosen dong..." kata Dadi yang memang sudah pernah belajar Bahasa Jepang tingkat dasar.
'Temen-temen lo kan belum pernah pada belajar Bahasa Jepang, sompret! Kalo mau langsung lompat harusnya les sendiri ajaaaaa....' batin Nana.
Akhirnya mereka semua belajar Bahasa Jepang dari dasar. Selain Dadi, ada Marcel yang juga sudah bisa pelajaran dasar, sehingga mereka ikut membantu teman-temannya belajar.
Saat Nana memberikan latihan, salah satu anak bertanya, "Eh, gue masih nggak ngerti nih yang ini. Gimana sih tadi?"
Sebenarnya Nana berniat menjawab, namun diselak Marcel yang lebih sigap. Saat itu Nana berpikir untuk menyerahkannya pada Marcel, karena mungkin yang lain akan lebih paham jika temannya yang menjelaskan....
"Ini begini, itu begitu. Gampang kok, lo pasti ngerti," kata Marcel.
....atau mungkin tidak.
"Hah??"
Tuh, kan.
Akhirnya Nana terpaksa menjelaskan ulang.
Selain itu, Nana juga dipusingkan oleh jawaban-jawaban murid-muridnya yang ngawur. Saat Nana bertanya apa Bahasa Jepangnya 'selamat tinggal', salah seorang dari mereka menjawab 'Saraba', ungkapan selamat tinggal yang lebih sering dipakai untuk perpisahan yang dramatis.
"Panggilan untuk orang itu bisa pakai -san, -sama, -chan, dan -kun. Ada yang tau panggilan lain?" tanya Nana lagi.
"-yarou!!" kata anak yang bernama Brahma dengan semangat.
Mendengar panggilan kasar yang bisa bermakna 'brengsek', 'bangsat', atau 'bajingan' itu, Nana cuma bisa menghela nafas panjang.
"Bener kan, sensei?"
"Iya, pas nonton ada yang dipanggil 'buta-yarou' (babi brengsek)!"
"....Nggak salah sih....tapi...." Nana tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Mengajari anak-anak yang sudah terpengaruh kata-kata Bahasa Jepang dari anime memang butuh perjuangan....
Continue to: Nana dan Segerombolan Maniak Anime (2)
Publish date: kapan-kapan
Selasa, 20 Mei 2014
Tiket Lebaran Habis, Akhirnya Pulang Kampung Duluan....
Lebih dari satu bulan gue nggak ngeblog, rasanya hampir lupa gimana cara ngeblog yang baik dan benar. Tunggu, emang gue pernah ngeblog yang baik dan benar? Rasanya nggak...
Terlebih karena sebagai blogger, gue bukannya melakukan suatu kegiatan yang namanya ‘blog walking’ alias baca-baca blog orang lain dan komen sambil berharap itu orang buka blog gue (yeah, niat yang mudah terbaca), tapi malah vlog walking.
Buat yang belum tau, vlog means video blog, yang kebanyakan pelakunya menggunakan YouTube sebagai medianya. Mulai dari vlog paling terkenal seantero dunia maya, Ryan Higa aka nigahiga, vlog walking yang gue lakukan berkembang luas sampe vlognya The Fung Brothers. Hampir semua vlog yang gue tonton adalah milik asian-american. Alasan pertama, karena gue suka orang asia, kedua karena selain bahasa Indonesia gue cuma ngerti bahasa Jepang dan Inggris sementara nontonin video orang-orang Jepang udah terlalu sering jadi mau nyari hiburan baru. Intinya, gue pengin nonton video orang-orang China, Korea, Vietnam, Filipina, Kamboja, dan lain-lain yang masih masuk asia tapi nggak ngerti bahasanya. Jadi gue nonton orang-orang asia yang pake bahasa inggris ajalah.
Bohong. Yang banyak bikin vlog emang kaum asian-american.
Gue akan bahas soal ini lain kali...
Sekarang mau bahas soal jalan-jalan...
Random.
Banget.
Sih.
Elu.
Udah dibilang, gue nggak tau cara ngeblog yang baik dan benar.
.
.
.
Oke, mari masuk ke topik yang sesungguhnya. Iya, yang tadi salah topik. Tapi sayang kalo diapus karena udah terlanjur nulis.
Sejak dua minggu lalu, gue ambil cuti dari kerjaan karena mau pulang kampung. Ya, enaknya kerja jadi freelancer, liburnya bisa fleksibel dan lama, huahahahaha. Setelah lebih dari 10 tahun nggak pulang-pulang, akhirnya gue bisa juga pulang ke Magetan, Jawa Timur. Semuanya udah beda.
Magetan yang dulu masih desa, banget, sekarang berubah jadi kota. Meskipun nggak kota-kota banget, sih (apa itu ‘nggak kota-kota banget’!?)
Tudingan ‘orang Indonesia pelanggar rambu lalu lintas kelas berat’ nggak akan berlaku di Magetan. Di sini gue ngeliat kota yang teratur. Semua kendaraan selalu berhenti di belakang garis putih waktu lampu merah, dan nggak mau jalan kalau lampunya belum hijau meski jalanan depannya kosong melompong. Banyak contoh lainnya, tapi gue capek nulisnya, pokoknya kalo dibanding Jakarta mah, jauuh.
Sepupu-sepupu yang dulu masih bocah-bocah sekarang udah setinggi galah. Sepupu yang lebih tua beberapa tahun dari gue sekarang udah punya bayi. Dan gue masih tetep belum bisa ngomong jowo selain aku rapopo. Ngerti sih apa yang diomongin, tapi ngomongnya angel men (perhatian, itu bukan dibaca enjel men, tapi angel men, iku boso jowo rek).
Abis dari Magetan, gue kabur ke Semarang dan numpang home stay sehari di rumah Ryo. Tadinya mau ke Malang juga ketemu temen-temen SD, tapi ntar gue nggak bisa pulang karna cuma libur sampe selasa.
Awalnya sih nggak rencana ke mana-mana selain Magetan. Tapi setelah dipikir-pikir, gue pengin jalan-jalan. Temen-temen gue emang banyak yang ngajak jalan-jalan. Tapi kalo bikin rencana dengan banyak otak itu emang kemungkinan berangkatnya sedikit. Kayaknya mau jalan yang deket aja gagal mulu. Entah yang satu liburnya nggak pas lah, yang satu masih nabung lah, yang satu nggak cocok sama destinasinya lah, macem-macem. Yaudah, gue solo traveler aja dulu. Enak, nggak perlu banyak mikir.
Mumpung belum pernah ke Semarang, dan emang ada yang bisa ditumpangin, gue pun memutuskan untuk cabut ke Semarang ndirian. Kakak gue yang berangkat bareng ke Magetan akhirnya pulang ke Jakarta sendiri.
Tapi bukan gue kalo nggak bikin rencana dadakan. Mulai dari pesen tiket kereta ke Semarang sampe pulang ke Jakarta, serba dadakan. Gue pesen tiket waktu masih di Magetan dan langsung dapet. Padahal hari sebelumnya gue juga ngecek dari Jakarta, tapi udah abis semua sampe beberapa hari ke depan. Keberuntungan yang datang tiba-tiba.
Nyampe Semarang malem dan gue belum pesen tiket untuk pulang ke Jakarta. Kenapa? Karena motto gue belum berubah.
“Liat aja nanti....”
Well, gue nggak separah itu kok. Sebelumnya gue udah ngecek tiket pulang, tapi keabisan juga, jadi gue memutuskan untuk mikirin nanti aja kalo udah sampe di Semarang.
Sama aja, curut!
Dengan otak yang terkena ADHD lumayan parah, Ryo yang ketempuan terus ngingetin gue buat beli tiket pagi-pagi sebelum jalan-jalan. Sementara otak gue cuma mikirin makanan dan Lawang Sewu. Yes! Kita emang mau pergi ke Lawang Sewu!!
Entah keajaiban dari mana, gue akhirnya dapet tiket kereta untuk pulang hari itu juga. Apalagi setelah mbak penjaga counternya bilang “untuk ke Jakarta 1 tiket ya, kursi terakhir...”
Let me caps lock it.
KURSI TERAKHIR....
And zoom it out.
KURSI TERAKHIR....
Entah apa yang akan terjadi kalo gue ngantri satu orang lebih lama.
Lalu Ryo nanya, “Kamu kalo panik nggak keliatan ya, Na.”
I’m not panic at all
Lalu gue jawab. “Kalo nggak dapet ya nggak apa-apa, sih. Paling gue pulang besoknya.”
Jawaban yang bikin orang pengin bilang, “Gile lu, numpang di rumah orang aje sante bener! Emangnya udah pasti tu orang mau ngasih elu tempat nginep lagi??”
Iya doooong..... gue kan baik hati dan punya akhlak sesuai dengan pelajaran PPKn, masa ada orang yang tega nggak ngasih gue tempat nginep?
Masalah tiket udah beres. Akhirnya bisa juga jalan-jalan ke Lawang Sewu, tempat paling angker se-Semarang, bekas stasiun kereta api, bekas gedung administrasi, dan bekas penjara sekaligus tempat eksekusi tahanan jaman perang.
Di tempat pembelian tiket, kami ditawarin jasa guide seharga 30.000. Tapi, buat apa pake jasa guide kalo yang nemenin gue adalah seorang maniak sejarah yang suatu saat nanti mau ngebangun museum sendiri? Semua penjelasan soal Lawang Sewu yang gue tulis di blog ini bukan hasil nge-wiki, melainkan usaha keras mengingat semua yang diomongin sama Ryo-sensei.
Sayangnya berhubung beberapa bangunan di Lawang Sewu lagi dalam tahap pemurnian....eh, renovasi, jadi banyak yang nggak bisa dimasuki, termasuk ruang bawah tanah yang terkenal angker.
Untuk masuk ke ruang bawah tanah tempat eksekusi mati para tahanan itu emang butuh perjuangan ekstra. Padahal gue udah bawa senter segala (sok penuh persiapan, padahal senter dari power bank).
Berhubung nggak bisa masuk ke sana, akhirnya gue melakukan perjalanan imajinasi melalui hasil cerita Ryo. Di bawah tanah itu, ada berbagai macam penjara. Ada penjara jongkok dan penjara berdiri. Untuk penjara jongkok, tahanan disuruh masuk ke ruangan di mana dia cuma bisa jongkok karena langit-langit yang super pendek. Di ruangan sempit itu berdesakan 5-6 tahanan dengan air yang digenangkan sampai seukuran dada mereka. Kebalikan dari itu, penjara berdiri adalah penjara super sempit yang memaksa tahanannya terus berdiri. Di ruangan ini juga beberapa tahanan harus berdesakan dengan tahanan lain. Tahanan yang akhirnya dieksekusi mati setelah disiksa, langsung dipenggal pakai katana. Oh iya, gue belum cerita kalo ini penjara buatan tentara Jepang, ya?
Setelah denger cerita itu, gue jadi merinding. Tentara Jepang emang tau caranya nyiksa orang.
Dan setelah denger cerita itu, gue makin nggak mau kerja jadi bawahan orang Jepang. Ya mungkin nggak semua atasan yang orang Jepang itu kejam, tapi kebanyakan dari mereka punya hasrat nge-babu-in bawahannya. Sifat kejamnya itu turunan nenek moyang, mungkin.
Kerja sama orang Jepang dan jadi babu mereka dengan label sekretaris, interpreter, atau semacamnya?
Nehi.
Sebenernya gue nemu pintu yang kayaknya menuju ruang bawah tanah dan kebuka. Dan tadinya mau iseng masuk, ngintip dikit dalemnya ada apa. Tapi pas diri di depan pintu dan nyium bau lembab yang parah dan kayaknya agak mustahil masuk ke sana tanpa guide, gajadi deh.
Ntar aja kapan-kapan kalo ada kesempatan ke sana lagi.
Nggak, nggak sekalian uji nyali, kok.
Ntar kalo di tengah-tengah acara gue malah ketiduran, rating filmnya bakal langsung turun drastis. Kasian produsernya.
Selesai dari Lawang Sewu, gue makan banyak!
Akhirnya....
Makanannya enak-enak, dan sudah tentu yang paling menyenangkan adalah....
HARGANYA MURAH!!
Sebelum pulang, kita berdua karaokean dulu dan pesta anime. Meksipun abis itu tetep random, gue nyanyi lagu Rumania dan Ryo nyanyi lagu Spanyol....
Perjalanan berjalan lancar dan gue nggak kerasukan meski doyan bengong.
Bercanda, gue kerasukan setan lapar.
Terlebih karena sebagai blogger, gue bukannya melakukan suatu kegiatan yang namanya ‘blog walking’ alias baca-baca blog orang lain dan komen sambil berharap itu orang buka blog gue (yeah, niat yang mudah terbaca), tapi malah vlog walking.
Buat yang belum tau, vlog means video blog, yang kebanyakan pelakunya menggunakan YouTube sebagai medianya. Mulai dari vlog paling terkenal seantero dunia maya, Ryan Higa aka nigahiga, vlog walking yang gue lakukan berkembang luas sampe vlognya The Fung Brothers. Hampir semua vlog yang gue tonton adalah milik asian-american. Alasan pertama, karena gue suka orang asia, kedua karena selain bahasa Indonesia gue cuma ngerti bahasa Jepang dan Inggris sementara nontonin video orang-orang Jepang udah terlalu sering jadi mau nyari hiburan baru. Intinya, gue pengin nonton video orang-orang China, Korea, Vietnam, Filipina, Kamboja, dan lain-lain yang masih masuk asia tapi nggak ngerti bahasanya. Jadi gue nonton orang-orang asia yang pake bahasa inggris ajalah.
Bohong. Yang banyak bikin vlog emang kaum asian-american.
Gue akan bahas soal ini lain kali...
Sekarang mau bahas soal jalan-jalan...
Random.
Banget.
Sih.
Elu.
Udah dibilang, gue nggak tau cara ngeblog yang baik dan benar.
.
.
.
Oke, mari masuk ke topik yang sesungguhnya. Iya, yang tadi salah topik. Tapi sayang kalo diapus karena udah terlanjur nulis.
Sejak dua minggu lalu, gue ambil cuti dari kerjaan karena mau pulang kampung. Ya, enaknya kerja jadi freelancer, liburnya bisa fleksibel dan lama, huahahahaha. Setelah lebih dari 10 tahun nggak pulang-pulang, akhirnya gue bisa juga pulang ke Magetan, Jawa Timur. Semuanya udah beda.
Magetan yang dulu masih desa, banget, sekarang berubah jadi kota. Meskipun nggak kota-kota banget, sih (apa itu ‘nggak kota-kota banget’!?)
Tudingan ‘orang Indonesia pelanggar rambu lalu lintas kelas berat’ nggak akan berlaku di Magetan. Di sini gue ngeliat kota yang teratur. Semua kendaraan selalu berhenti di belakang garis putih waktu lampu merah, dan nggak mau jalan kalau lampunya belum hijau meski jalanan depannya kosong melompong. Banyak contoh lainnya, tapi gue capek nulisnya, pokoknya kalo dibanding Jakarta mah, jauuh.
Sepupu-sepupu yang dulu masih bocah-bocah sekarang udah setinggi galah. Sepupu yang lebih tua beberapa tahun dari gue sekarang udah punya bayi. Dan gue masih tetep belum bisa ngomong jowo selain aku rapopo. Ngerti sih apa yang diomongin, tapi ngomongnya angel men (perhatian, itu bukan dibaca enjel men, tapi angel men, iku boso jowo rek).
Abis dari Magetan, gue kabur ke Semarang dan numpang home stay sehari di rumah Ryo. Tadinya mau ke Malang juga ketemu temen-temen SD, tapi ntar gue nggak bisa pulang karna cuma libur sampe selasa.
Awalnya sih nggak rencana ke mana-mana selain Magetan. Tapi setelah dipikir-pikir, gue pengin jalan-jalan. Temen-temen gue emang banyak yang ngajak jalan-jalan. Tapi kalo bikin rencana dengan banyak otak itu emang kemungkinan berangkatnya sedikit. Kayaknya mau jalan yang deket aja gagal mulu. Entah yang satu liburnya nggak pas lah, yang satu masih nabung lah, yang satu nggak cocok sama destinasinya lah, macem-macem. Yaudah, gue solo traveler aja dulu. Enak, nggak perlu banyak mikir.
Mumpung belum pernah ke Semarang, dan emang ada yang bisa ditumpangin, gue pun memutuskan untuk cabut ke Semarang ndirian. Kakak gue yang berangkat bareng ke Magetan akhirnya pulang ke Jakarta sendiri.
Tapi bukan gue kalo nggak bikin rencana dadakan. Mulai dari pesen tiket kereta ke Semarang sampe pulang ke Jakarta, serba dadakan. Gue pesen tiket waktu masih di Magetan dan langsung dapet. Padahal hari sebelumnya gue juga ngecek dari Jakarta, tapi udah abis semua sampe beberapa hari ke depan. Keberuntungan yang datang tiba-tiba.
Nyampe Semarang malem dan gue belum pesen tiket untuk pulang ke Jakarta. Kenapa? Karena motto gue belum berubah.
“Liat aja nanti....”
Well, gue nggak separah itu kok. Sebelumnya gue udah ngecek tiket pulang, tapi keabisan juga, jadi gue memutuskan untuk mikirin nanti aja kalo udah sampe di Semarang.
Sama aja, curut!
Dengan otak yang terkena ADHD lumayan parah, Ryo yang ketempuan terus ngingetin gue buat beli tiket pagi-pagi sebelum jalan-jalan. Sementara otak gue cuma mikirin makanan dan Lawang Sewu. Yes! Kita emang mau pergi ke Lawang Sewu!!
Entah keajaiban dari mana, gue akhirnya dapet tiket kereta untuk pulang hari itu juga. Apalagi setelah mbak penjaga counternya bilang “untuk ke Jakarta 1 tiket ya, kursi terakhir...”
Let me caps lock it.
KURSI TERAKHIR....
And zoom it out.
KURSI TERAKHIR....
Entah apa yang akan terjadi kalo gue ngantri satu orang lebih lama.
Lalu Ryo nanya, “Kamu kalo panik nggak keliatan ya, Na.”
I’m not panic at all
Lalu gue jawab. “Kalo nggak dapet ya nggak apa-apa, sih. Paling gue pulang besoknya.”
Jawaban yang bikin orang pengin bilang, “Gile lu, numpang di rumah orang aje sante bener! Emangnya udah pasti tu orang mau ngasih elu tempat nginep lagi??”
Iya doooong..... gue kan baik hati dan punya akhlak sesuai dengan pelajaran PPKn, masa ada orang yang tega nggak ngasih gue tempat nginep?
Masalah tiket udah beres. Akhirnya bisa juga jalan-jalan ke Lawang Sewu, tempat paling angker se-Semarang, bekas stasiun kereta api, bekas gedung administrasi, dan bekas penjara sekaligus tempat eksekusi tahanan jaman perang.
Di tempat pembelian tiket, kami ditawarin jasa guide seharga 30.000. Tapi, buat apa pake jasa guide kalo yang nemenin gue adalah seorang maniak sejarah yang suatu saat nanti mau ngebangun museum sendiri? Semua penjelasan soal Lawang Sewu yang gue tulis di blog ini bukan hasil nge-wiki, melainkan usaha keras mengingat semua yang diomongin sama Ryo-sensei.
Sayangnya berhubung beberapa bangunan di Lawang Sewu lagi dalam tahap pemurnian....eh, renovasi, jadi banyak yang nggak bisa dimasuki, termasuk ruang bawah tanah yang terkenal angker.
Untuk masuk ke ruang bawah tanah tempat eksekusi mati para tahanan itu emang butuh perjuangan ekstra. Padahal gue udah bawa senter segala (sok penuh persiapan, padahal senter dari power bank).
Berhubung nggak bisa masuk ke sana, akhirnya gue melakukan perjalanan imajinasi melalui hasil cerita Ryo. Di bawah tanah itu, ada berbagai macam penjara. Ada penjara jongkok dan penjara berdiri. Untuk penjara jongkok, tahanan disuruh masuk ke ruangan di mana dia cuma bisa jongkok karena langit-langit yang super pendek. Di ruangan sempit itu berdesakan 5-6 tahanan dengan air yang digenangkan sampai seukuran dada mereka. Kebalikan dari itu, penjara berdiri adalah penjara super sempit yang memaksa tahanannya terus berdiri. Di ruangan ini juga beberapa tahanan harus berdesakan dengan tahanan lain. Tahanan yang akhirnya dieksekusi mati setelah disiksa, langsung dipenggal pakai katana. Oh iya, gue belum cerita kalo ini penjara buatan tentara Jepang, ya?
Setelah denger cerita itu, gue jadi merinding. Tentara Jepang emang tau caranya nyiksa orang.
Dan setelah denger cerita itu, gue makin nggak mau kerja jadi bawahan orang Jepang. Ya mungkin nggak semua atasan yang orang Jepang itu kejam, tapi kebanyakan dari mereka punya hasrat nge-babu-in bawahannya. Sifat kejamnya itu turunan nenek moyang, mungkin.
Kerja sama orang Jepang dan jadi babu mereka dengan label sekretaris, interpreter, atau semacamnya?
Nehi.
Sebenernya gue nemu pintu yang kayaknya menuju ruang bawah tanah dan kebuka. Dan tadinya mau iseng masuk, ngintip dikit dalemnya ada apa. Tapi pas diri di depan pintu dan nyium bau lembab yang parah dan kayaknya agak mustahil masuk ke sana tanpa guide, gajadi deh.
Ntar aja kapan-kapan kalo ada kesempatan ke sana lagi.
Nggak, nggak sekalian uji nyali, kok.
Ntar kalo di tengah-tengah acara gue malah ketiduran, rating filmnya bakal langsung turun drastis. Kasian produsernya.
Selesai dari Lawang Sewu, gue makan banyak!
Akhirnya....
Makanannya enak-enak, dan sudah tentu yang paling menyenangkan adalah....
HARGANYA MURAH!!
Sebelum pulang, kita berdua karaokean dulu dan pesta anime. Meksipun abis itu tetep random, gue nyanyi lagu Rumania dan Ryo nyanyi lagu Spanyol....
Perjalanan berjalan lancar dan gue nggak kerasukan meski doyan bengong.
Bercanda, gue kerasukan setan lapar.
Rabu, 30 April 2014
New Authors Reading Challenge 2014 (Progress Jan-Feb)
Yak, berhubung sekarang udah kerja di rumah dan akan selalu berkutat di depan laptop (kayak yang sebelumnya enggak aja), gue akan lebih banyak lagi membuat postingan blog baik berupa review atau apa pun. Padahal tahun kemarin aja jumlah postingan sampai 53, hahaha, elu kesetanan atau apa, Na?
Daripada review-review novel gue dibiarkan nganggur begitu saja, gue memutuskan untuk ikut "New Authors Reading Challenge 2014" yang diadain sama Mbak Ren :)
Berhubung gue juga ikutan challenge di goodreads untuk membaca sampai 100 buku tahun ini, gue langsung menantang diri ikut level "Maniac", baca lebih dari 50 novel tahun ini. Syarat yang diajukan Mbak Ren adalah membaca novel yang ditulis oleh penulis yang belum pernah gue baca sebelumnya. Baca lebih dari 50 novel dari penulis baru? CHALLENGE ACCEPTED!
Untung kemarin gue udah berhasil menyelesaikan satu novel penulis baru, Eve Shi :D Reviewnya baru di goodreads aja, sih. Pindahin ke blog ah abis ini. Lumayaaan, udah satu, hihihi :3
Habis selesai nerjemah satu komik malam ini, gue akan lanjut baca Khokkiri-nya Lia Indra Andriana :)
Postingan ini akan gue buat sebagai masterpost, jadi semua buku dari author yang baru gue baca akan gue post link review atau link goodreadsnya di sini:
Januari
1. Aku Tahu Kamu Hantu by Eve Shi (goodreads || blogspot)
2. Khokkiri by Lia Indra Andriana (goodreads || blogspot)
3. Tokyo ~ Falling by Sefryana Khairil (goodreads || blogspot)
4. Melbourne ~ Rewind by Winna Efendi (goodreads || blogspot)
Februari
5. Carrie by Stephen King (goodreads || blogspot)
6. Marriagable by Riri Sardjono (goodreads || blogspot)
7. Holland ~ One Fine Day in Leiden by Feba Sukmana (goodreads || blogspot)
8. Amsterdam ~ Ik Hou van Je by Arumi E. (goodreads || blogspot)
Maret
9. Train Man by Nakano Hitori (goodreads || blogspot)
10. 幕が上がる (The Curtain's goes up) by Hirata Oriza (goodreads || blogspot)
11. 放課後はミステリとともに (After School Mystery) by Tokuya Higashigawa (goodreads || blogspot)
April
12. Badut Oyen by Marisa Jaya dkk (goodreads || blogspot)
13. Inferno by Dan Brown (goodreads || blogspot)
14. MOMENT by Takayoshi Honda (goodreads || blogspot)
15. 思い出の時修理します (Fixing the Memories) by Mizue Tani (goodreads || blogspot)
16. How to train your dragon by Cressida Cowell (goodreads || blogspot)
17. In the Bag by Kate Klise (goodreads || blogspot)
Waaah.... bulan April perkembangannya drastis :D
Sempet baca buku bantal pula :3
Daripada review-review novel gue dibiarkan nganggur begitu saja, gue memutuskan untuk ikut "New Authors Reading Challenge 2014" yang diadain sama Mbak Ren :)
Berhubung gue juga ikutan challenge di goodreads untuk membaca sampai 100 buku tahun ini, gue langsung menantang diri ikut level "Maniac", baca lebih dari 50 novel tahun ini. Syarat yang diajukan Mbak Ren adalah membaca novel yang ditulis oleh penulis yang belum pernah gue baca sebelumnya. Baca lebih dari 50 novel dari penulis baru? CHALLENGE ACCEPTED!
Untung kemarin gue udah berhasil menyelesaikan satu novel penulis baru, Eve Shi :D Reviewnya baru di goodreads aja, sih. Pindahin ke blog ah abis ini. Lumayaaan, udah satu, hihihi :3
Habis selesai nerjemah satu komik malam ini, gue akan lanjut baca Khokkiri-nya Lia Indra Andriana :)
Postingan ini akan gue buat sebagai masterpost, jadi semua buku dari author yang baru gue baca akan gue post link review atau link goodreadsnya di sini:
Januari
1. Aku Tahu Kamu Hantu by Eve Shi (goodreads || blogspot)
2. Khokkiri by Lia Indra Andriana (goodreads || blogspot)
3. Tokyo ~ Falling by Sefryana Khairil (goodreads || blogspot)
4. Melbourne ~ Rewind by Winna Efendi (goodreads || blogspot)
Februari
5. Carrie by Stephen King (goodreads || blogspot)
6. Marriagable by Riri Sardjono (goodreads || blogspot)
7. Holland ~ One Fine Day in Leiden by Feba Sukmana (goodreads || blogspot)
8. Amsterdam ~ Ik Hou van Je by Arumi E. (goodreads || blogspot)
Maret
9. Train Man by Nakano Hitori (goodreads || blogspot)
10. 幕が上がる (The Curtain's goes up) by Hirata Oriza (goodreads || blogspot)
11. 放課後はミステリとともに (After School Mystery) by Tokuya Higashigawa (goodreads || blogspot)
April
12. Badut Oyen by Marisa Jaya dkk (goodreads || blogspot)
13. Inferno by Dan Brown (goodreads || blogspot)
14. MOMENT by Takayoshi Honda (goodreads || blogspot)
15. 思い出の時修理します (Fixing the Memories) by Mizue Tani (goodreads || blogspot)
16. How to train your dragon by Cressida Cowell (goodreads || blogspot)
17. In the Bag by Kate Klise (goodreads || blogspot)
Waaah.... bulan April perkembangannya drastis :D
Sempet baca buku bantal pula :3
Langganan:
Postingan (Atom)





