Kamis, 10 Oktober 2013

[Book Review] Bangkok, The Journal

Judul Buku:  [Seri STPC] Bangkok (The Journal)
Pengarang: Moemoe Rizal
Penerbit: Gagas Media

Yak, mulai buku ini, gue akan mulai serius nulis review buku di blog gue. (Emang yang sebelum-sebelumnya enggak serius?) Yaa....serius, cuma agak berantakan aja. Mulai sekarang (dan selanjutnya) review gue akan jauh lebih rapi. Siap mulai? Oke? Roll aaand.... Write! (Ini apa yang digulung sih ngomong-ngomong?)



BANGKOK

Dari setiap buku STPC (Setiap Tempat Punya Cerita) yang gue perhatiin, mungkin buku ini adalah yang paling menarik minat gue. Ada beberapa alasan. Yang pertama, udah pasti karena settingnya di Bangkok, Thailand. Setting yang amat-sangat-jarang-sekali ada dalam novel. Kedua, karena gue pribadi tertarik sama bahasa Thailand, gue langsung jatuh cinta ngeliat ada aksara thailand di bagian belakang buku, dan berharap bisa belajar beberapa kata dalam bahasa thailand. (Meskipun kaka Moemoe agak ngeles gitu waktu dimintain nulis sesuatu pake aksara Thailand barengan sama tanda tangannya di buku gue. Tapi itu cerita lain, hahaha :D). Alasan yang terakhir, karena kalimat terakhir dalam sinopsis, "Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta". Semua sinopsis novel STPC selalu berkutat soal cinta, dan gue seneng novel ini sedikit berbeda. Paling enggak, ada keluarga dan persahabatannya, ahahahaha.

Novel ini  menggambarkan perjuangan Edvan mencari tujuh jurnal yang ditulis ibunya sewaktu tinggal di Bangkok. Awalnya, Edvan melakukan hal menurutnya merepotkan itu untuk melakukan permintaan terakhir ibunya sebelum meninggal. Tapi, pencarian itu tak akan berlangsung mudah jika Edvan tidak didampingi seseorang yang selalu memberinya semangat dan meyakinkannya bahwa jurna tersebut benar-benar ada.

Charm, seorang gadis Thailand yang masyaallah nama aslinya susah banget disebut, mendampingi Edvan mencari jurnal-jurnal tersebut dengan bayaran 5000 bath per jurnal yang berhasil ditemukan. Dengan pembawaannya yang sederhana, Charm mulai memikat di mata Edvan. Cowok arsitek tukang buang-buang duit itu mulai bisa mengakui kalau dirinya bisa mencintai orang lain selain dirinya sendiri, meskipun awalnya menolak fakta itu mati-matian.

Dalam perjalannya selama sekitar satu bulan di Bangkok, Edvan belajar banyak tentang hubungan keluarga, persahabatan, dan cinta. Jurnal-jurnal ibunya memberikan harta tak ternilai berupa pelajaran tak kasat mata tersebut. Edvan yang awal-awalnya menolak mati-matian keberadaan adik lelakinya yang kini menjadi adik perempuan, akhirnya bisa mengakui meski belum bisa menerima. Edvan yang awalnya membenci ibunya dan meninggalkannya selama sepuluh tahun, akhirnya menyesali tindakannya tersebut. Edvan yang dulu hanya memikirkan diri sendiri, kini bisa memikirkan kepentingan orang lain.

Jujur aja, gue enggak suka isu LGBT yang dibahas di novel ini. Edvin, adik Edvan, yang transgender dan ikut kontes waria di Pattaya. Dan scene-scene tertentu yang membuat Edvan akhirnya mengakui adiknya sebagai seorang transgender.

Scene yang paling gue enggak suka adalah, saat ada seorang ibu dan anak perempuannya masuk ke bar khusus waria. Di sana, ibu itu bilang mau melihat penampilan anaknya sebagai penari striptease. Memang sih, ibu yang sampai akhir enggak disebutin namanya ini mengaku enggak setuju anaknya operasi jadi perempuan. Menurut ajaran Budha yang dianut ibu itu, cowok enggak boleh berpenampilan seperti wanita. Tapi akhirnya ibu itu cuma pengen ngeliat anaknya bahagia. Dan anaknya bahagia jadi transgender.

Biar gue kutip langsung kata-kata Edvan, "Nyonya, anakmu mengganti kelamin dan sedang menggoda pria hidung belang di atas panggung sana. Apa menurutmu itu tidak terlalu....ekstrim?"

Gue akan lebih senang kalo Edvan mempertahankan pendapatnya yang satu ini. Tugas orangtua itu menjaga anaknya. Rasanya kalau anaknya dibiarkan bahagia dengan sesuatu yang ekstrim, gue tetep enggak setuju. Orangtua yang terlalu memanjakan anaknya supaya anaknya terus bahagia juga enggak bisa dibilang perbuatan baik, kan?

Gue bisa mengerti Edvan yang akhirnya sadar, "enggak perlu setuju dengan keputusan mereka, cukup dengan mengakui bahwa mereka ada". Gue juga punya temen gay, dan gue bilang terus terang kalau gue enggak pernah mendukung dan enggak pernah setuju apa yang dia lakukan. Tapi bukan berarti gue enggak bisa bertemen sama dia. Sama kayak yang Edvan bilang, LGBT itu seperti menentang alam. Tapi contoh yang gue sebut di atas rasanya enggak relevan sama pendapatnya Edvan di akhir cerita. Memang, selain contoh scene yang gue sebut, masih banyak scene lain yang menggambarkan masalah ini. Tapi menurut gue cuma scene itu aja yang kurang bisa gue terima.

Kalau mengesampingkan isu LGBT-nya, gue suka banget sama novel ini. Perjalanan yang digambarkan penulis rasanya begitu nyata. Gue bisa merasakan suasana di Bangkok sana, meskipun katanya si penulis belum pernah ke sana :p

Tema cinta yang awalnya enggak terlalu gue harapkan, malah menjadi daya tarik novel ini. Gue baca sampai halaman terakhir untuk tau akhir kisah Edvan dan Charm yang membuat gue sangat puas. (Sejujurnya gue khawatir kak Moemoe bakal bikin ending cerita ini Edvan jadian sama Max, adiknya Charm, karena gak boong deh, banyak scene yang menjurus ke sana). Edvan, plis jangan gampar gue, sekarang gue tau elu masih normal.
  
Yang paling gue suka dari novel ini adalah, suasana Thailand yang sangat kental. Tempat, bahasa, suasana, karakter, terbangun dengan sangat apik. Gue sampai ngebayangin kocoak goreng yang di jual di jalan. Dan yang paling gue inget adalah penggambaran orang-orang Thailandnya.

Kata-kata Edvan:
Akan kuceritakan mengapa Thailand disebut Tanah Senyuman. Dalam berbagai kondisi, orang-orang Thai biasa merespons masalah-masalah mereka dengan tersenyum. Ketika menyapa seseorang, mereka tersenyum. Ketika mereka tidak tahu jawaban sebuah pertanyaan, mereka tersenyum. Bahkan, ketika ingin menyembunyikan sesuatu, mereka juga tersenyum. Itulah yang membuat kita harus pintar mengira-ngira, apa arti sebuah senyuman orang Thailand. 

Novel yang memakai sudut pandang cowok ini beda banget dari novel kebanyakan. Humornya terasa dan kita jadi tahu pikiran cowok yang sumpah, sederhana dan mudah dimengerti.

Oke, saatnya kasih bintang!! Semua aspek punya maksimal 10 bintang dari gue. Jadi, inilah bintang-bintang yang bisa gue kasih untuk novel ini:

Tema: ★★★★
Jalan cerita: ★★★★★★
Karakterisasi: ★★★★★★
Bahasa: ★★★★★★★
Ending: ★★★★★★

Note: Tema secara keseluruhan suka, sayang isu LBGT-nya terlalu banyak dibahas. Jalan cerita oke banget meski di beberapa pencarian jurnal kesannya terlalu cepat. Karakterisasi, gak ada protes, gue suka, terutama Edvan yang narsis ampun-ampunan (FYI biasanya gue benci banget orang narsis). Bahasa, love it, ขอบคุณ. Endingnya memuaskan, karena ternyata EDVAN NORMAL!! *dihajar*

Selasa, 08 Oktober 2013

Gak Jodoh Sama Artis, Jodohnya Sama Atlet

Minggu kemaren, gue kebetulan dapet liputan di luar olahraga. Yaitu, jeng jeng!! Liputan dance!!

Gue juga suka liat orang nge-dance, apalagi ini streetdance dan bboy, jadi gue seneng banget sebenernya.
Apalagi, pas gue nyampe disana, ternyata salah satu jurinya adalah salah satu artis yang GUE SUKA BANGET!!!

Kaito Kite, muncul di Street Dance 2 dan bikin gue takjub waktu dia nge-dance ala orang mabok. Gosh! Keren abis....

Gak banyak yang kenal dia, gak banyak yang tau dia main di Street Dance 2. Sejak pertama nonton film itu, gue langsung naksir sama Kaito karena dancenya..... MANTAP!!

Gue beneran enggak nyangka dia dateng ke Indonesia untuk jadi juri. Apalagi, ternyata dia orang Jepang. Saat ngeliat dia, langsung berjalanlah skenario super hebat di otak gue. Gue akan wawancara dia pake bahasa Jepang yang memungkinkan dia bisa ngomong lebih bebas, jadi gue bisa dapet info leboh detail. Abis itu FOTO BARENG!! HAHAHAHA!!

Kaito bareng El Nino, dancer dari Amerika
Sayang, skenario itu rusak-serusak-rusaknya waktu gue tanya panitia. Gue gak bisa wawancara doi karena dia udah capek diwawancara terus. Apalagi dia baru dateng malem sebelumnya dan balik ke Jepang besok paginya. Dia butuh istirahat. Dan fakta menyakitkan lainnya, panitia bilang, "Dia lagi enggak mood."

AAAAAAAARRRRRRRRRGGGGGGGGGGGHHHHHHHH!!

Impian gue poto sama artis-gak-beken-tapi-gue-suka-banget gagal sudah. Padahal, kapan lagi gue dapet kesempatan ketemu dia? kapaaaannn?

Mungkin, sejak awak gue memutuskan untuk jadi jurnalis olahraga, gue udah enggak berjodoh sama artis-artis, tapi jodohnya sama atlet-atlet.

Yaaa, emang sih, kalo ditanya gue lebih suka artis apa atlet, ya jelas gue lebih suka atlet. Secara karismanya itu looo kemana-manaaaaa....Salah satu jurnalis bulu tangkis yang blognya selalu gue pantengin, Mbak Widya, juga pernah bilang ke gue kalo dia enggak pernah demen sama artis, kesengsemnya sama para atlet. Itulah yang bikin dia pengen jadi jurnalis bulu tangkis.

Kalo dibandingin wawancara sama artis dan sama atlet yang gue suka, gue jauh lebih deg-degan dan ilang pokus di depan atlet (meski dia gak beken sekalipun). Gue jadi inget waktu gue wawancara depan Fafa dan saat mengumpulkan keberanian sebelum wawancara All Star Star.

Tapi gara-gara gak bisa ngobrol sama Kaito dan gak bisa poto bareng, gue pun patah semangat dan jadi gak pengen liat lomba dance itu. Jadilah gue memilih nyari buku dan makan aja sama Ruru. Hati gue patah dalam beberapa menit saja....

Besoknya, hati gue terobati dengan sempurna. Soalnya, gue lagi liputan acara amal untuk salah satu pebasket yang terkena kanker, dan banyak pebasket timnas yang dateng ke acara itu. Awalnya cuma koko Rony aja yang dateng, tapi abis itu mulai banyak yang dateng. Gue yang baru dapet temen ngobrol, langsung tereak-tereak tertahan karena Papa Mario sama Dedek Pras juga dateng!! Sayang Oom Iyus sama Kakak Oki enggak dateng.....

Abis itu, gue langsung ilang pokus.

Sekali Aspacmania, tetep aspacmania..... gue seneng buanget bisa ngeliat anak-anak Aspac di sana.

Abis menjalankan tugas gue sebagai seorang profesional, tjieeehhh..... gue pun gak mau keilangan kesempatan (lagi) untuk minta poto bareng. Akhirnya gue bisa poto bareng Papa Mario dan Dedek Pras :)))



Dan ternyata ada satu artis yang cukup gue suka ikutan dateng.... YOSI!!! Ahahahay!
Rasanya, hari itu gue beruntuung banget!


Tapi sayang, gara-gara harus liputan dan cepet-cepet balik ke kantor, gue gak bisa dateng ke temu pengarang STPC (Setiap Tempat Punya Cerita) dan ketemu kakak Moemoe (yang katanya ganteng dan unyu) pengarang "Bangkok". Gue cuma bisa nitip bukunya ke Ruru untuk minta ditandatanganin. DAN RURU MALAH POTO SAMA KAK MOEMOE PAKE BUKU GUEH!!! HUHUHUHUHUHU!!!!

Jumat, 04 Oktober 2013

Realis atau Idealis?

Hari ini gue mau menulis sesuatu yang cukup serius. Cieee....serius, tumben.


Sumpah ini kucing gue ngeselin banget. Gatau majikannya lagi pengen serius apa? *dicakar*
Ampun tuaaannn.... maafkan hambamu yang hina ini. Ini ada sarden....

Maklum yah, kucing gue punyanya babu, bukan majikan. Jadi begini deh nasip gue.

Balik lagi ke topik utama. Jadi, apa sih realis dan idealis?
Yah, masa gatau? Elah, masa harus gue jelasin? Bentar, googling dulu.

Idealisme adalah suatu keyakinan atas suatu hal yang dianggap benar oleh individu yang bersangkutan dengan bersumber dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya dan kebiasaan. Idealisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa seseorang, dan termanifestasikan dalam bentuk perilaku, sikap, ide ataupun cara berpikir.

Realisme adalah suatu sikap/pola pikir yang mengikuti arus. Individu yang realistis cenderung bersikap mengikuti lingkungannya dengan mengabaikan beberapa/semua nilai kebenaran yang dia yakini. Sama dengan idealisme, realisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa dan pikiran seseorang.

Nah itu bahasa susahnya. Intinya sih, idealis itu seseorang yang memegang prinsip sesuai keyakinan dia, sedangkan realis sebaliknya, semua tindakannya selalu berdasar realita.

Tadi, gue merayakan ulang tahun gue yang ke-20 bersama kembaran gue (iya, sekarang tiap ultah, umur gue tetep 20 tahun). Dia selalu bilang, iri sama gue yang akhirnya bisa kerja sesuai minat, sedangkan dia belum bisa karena kepentok beberapa hal, realita.

"Ru emang masih idealis, tapi enggak tau bisa bertahan sampe kapan," katanya.

Abis itu gue mikir. Kenapa ya? Segitu sulitnya kah mempertahankan idealisme? Jujur, gue idealis. Dan gue keras kepala. Sampai saat ini rasanya jarang banget gue mengubah prinsip karena kepentok realita. Pernah, tapi jarang. Mungkin, ini karena gue tumbuh di lingkungan yang bebas. Dari kecil, gue enggak pernah dilarang yang macem-macem (kecuali makan makanan yang bermecin, meski ini gak ada hubungan dengan topik yang gue bahas) dan enggak pernah disuruh yang macem-macem.

Gue pengen ngomongin hal idealis yang mulai ditinggalkan orang-orang: MIMPI

Gue tumbuh dengan banyak mimpi, dan (untungnya) enggak ada yang menyadarkan gue betapa mustahil mimpi-mimpi itu. Karena merasa enggak mustahil, gue enggak takut buat nyoba. Gagal enggak masalah, seenggaknya gue pernah nyoba.

Kayaknya gue pernah cerita. Sejak TK, gue pengen banget pergi ke Jepang. Alasannya konyol, ketemu doraemon. But I did. Meskipun gue gak ketemu doraemon beneran, yah. Namanya juga mimpi anak TK.

Sejak kecil gue pemalu. Enggak mau ikut kegiatan nari atau nyanyi kayak anak-anak lainnya. Tapi waktu lulus SMA, gue nyesel. Karena ada satu impian konyol gue yang belum kesampean. Gue pengen banget dapet piala. Kenapa? Setiap gue ke rumah temen, pasti mereka punya paling enggak satu piala. Sedangkan gue belum pernah dapet piala. Gue sempet mikir, udah telat. Lomba-lomba itu kan banyakan untuk anak kecil, sedangkan gue saat itu udah kuliah. Emang bisa?

Tapi berbekal keinginan kecil itu, gue jadi rajin ikutan lomba menulis. Dan gak disangka-sangka, gue bisa dapet juara. Dan yang paling penting, DAPET PIALA! Rasanya dapet piala lebih menyenangkan ketimbang nerima hadiah uangnya.

Sejak SMP, gue punya dua cita-cita, jadi penulis dan penerjemah (ini revisi cita-cita jaman SD gue yang pengen jadi petugas toko buku. Dulu gue kira petugas toko buku boleh baca semua buku di toko itu dengan gratis. Seenggaknya cita-cita ini lebih elegan dari kakak gue yang pengen jadi sopir angkot biar bisa denger lagu kesukaan tiap hari sambil nyetir). Kerjaan sebagai penerjemah udah gue jalanin, baik lisan ataupun tulisan. Lisan? Enggak lagi deh. Kalau tulisan gue masih mau. Jadi penulis? Gue sekarang penulis :) Penulis berita olahraga di salah satu media, hehe. I'm on my way to be a novelist.

Sebagai fanatisan bulu tangkis dan basket, gue pengen banget bisa selalu dateng ke pertandingannya tanpa perlu bayar. Selain itu, gue penasaran sama atlet-atlet ini. Gue pengen banget bisa tau gimana sih kehidupan atlet-atlet itu. Gue pengen nulis tentang mereka, gue pengen bikin cerita tentang mereka. And again, I did. Sekarang gue bisa nonton tiap pertandingan gratis, nulis tentang mereka, dan dibayar. Bonusnya, gue sekalian dapet tiket keliling Indonesia, dan mungkin dunia (nanti). Kurang apa lagi? Rasanya bersyukur tiap hari juga masih kurang.

Rasanya enak banget yah kalo gue cerita yang udah tercapai semua. Emang ada yang belum atau enggak tercapai? Ya ada doooong.

Waktu awal-awal kuliah, gue ngebet banget ngalahin nilai temen-temen gue yang selalu jadi paling tinggi. Tapi setelah beberapa lama, gue menyerah. Gue enggak bisa belajar tiap hari. Cara gue belajar ya dadakan waktu mau ujian. Dengan cara itu, mustahil deh gue bisa dapet nilai paling tinggi. Setelah gue pikir-pikir, mimpi yang mau gue capai enggak ada hubungannya dengan ngejar nilai paling tinggi di kampus. Jadi, yaudah, gue enggak maksain diri. Tetep ada saat-saat gue memutuskan untuk berhenti. Karena gue tau, ini cuma kepengen doang, bukan tujuan sebenernya.

Yang belum tercapai banyak banget. Gue mau jadi novelis, gue mau buat bisnis sendiri, gue mau punya rumah yang bukan di Jakarta, gue mau keliling dunia. Duh, gak cukup nih kayaknya cerita di blog mah.

Nyeritain tentang gue mah bosen yah, tiap postingan juga cerita. Sekarang, gimana sih biar bisa mempertahankan idealisme? Beberapa temen gue pengen banget kerja sesuai minat, tapi sampai sekarang belum tercapai. Masalahnya macem-macem.

1. Belum tau apa minatnya
Ini mah enggak usah dibahas lah ya. Gimana mau kerja sesuai minat kalo minatnya sendiri enggak tau? Minat itu, sesuatu yang lo pengen banget lakuin, apapun resikonya. Kalo cuma mau doang tanpa berani ngadepin pait-paitnya, itu bukan minat.

Contoh 1: Gue pengen jadi penulis, gue siap dimaki-maki editor kalo tulisan gue jelek, gue siap dihina-dina pembaca kalo mereka gak suka tulisan gue (ini minat).

Contoh 2: Gue pengen jadi penulis, tapi gimana sih cara nulis yang bener, kok gue gak bisa-bisa? Baca? Duh gue bacanya lama, enggak punya waktu (ini angin-anginan).

2. Keinginan orang tua
Bukan rahasia, banyak orangtua yang pengin anaknya dapet kerja tetap dengan gaji layak, jadi PNS salah satunya. Sedangkan, enggak banyak yang sebenernya punya mimpi jadi PNS. Rata-rata, kerjaan yang jadi impian itu, kalo enggak gajinya kecil, kerjanya serabutan, waktunya gak jelas, dan hasilnya (uang) belum tentu keliatan di awal-awal. Gara-gara ini, kebanyakan orangtua enggak pengin anaknya ngejar mimpi. Alasannya, takut anaknya gagal. Kalau gagal, nanti anaknya makan apa? Emang pandangan yang pesimis, tapi enggak salah. Orangtua kan maunya kita enggak susah. Daripada ngambil resiko dengan kerjaan enggak jelas, mending cari yang jelas, jadi orangtua enggak khawatir. Ngadepin masalah kayak gini, satu-satunya cara ya ngomong baik-baik ke orantua. Biar gimana pun, mereka kan tetep mikirin nasip kita nantinya. Kalo enggak berhasil? Ngomong terus sampe berhasil. Kebanyakan orang sukses, selalu mulai semuanya dari bawah.

3. Masalah ekonomi
Nah ini nih. Kalo ditanya, mau kerjaan dengan gaji gede atau kerjaan sesuai minat? Jawabnya pasti mikir seribu kali dulu. Sejujurnya, gue juga terkendala masalah ekonomi. Akan lebih mudah kalau gue milih pekerjaan yang lebih menghasilkan, kayak jadi penerjemah. Tapi akhirnya gue milih untuk ngelepas kerjaan itu demi kerjaan yang gue pengen, meski gajinya cuma sepertiganya. Sebenernya, ini pilihan egois. Karena gue akan minjem uang ade gue yang gajinya gede dulu sampe gue bisa bertahan sendiri dengan gaji gue. I'm struggling at first, but I can start to keep money now. Gue enggak tau seberapa besar masalah ekonomi tiap orang. Tapi kalau dipikir dan dipertimbangkan, pasti ada caranya untuk tetep ngelakuin apa yang kita inginkan sambil nyari uang. Meski awalnya cuma langkah kecil, yang penting harus 'keep on track'. Jangan jalan sembarangan. Misalnya nih, ada yang pengen jadi novelis, tapi terkendali masalah ekonomi. Enggak mungkin bisa makan kalo nunggu novelnya terbit. Ya enggak usah langsung jadi novelis. Mulai nulis aja pelan-pelan, sambil kerja yang lain. Istilahnya, cari uang untuk membiayai minat, sampe minat itu balik ngebiayain kita.

Apalagi yah kendalanya? Ini gue kepanjangan nulis lama-lama jadi buku juga dah. Ahahaha. Apa gue harus buka kelas motivator? *langsung pada bubar*

Banyak banget orang idealis yang disindir sama si realis. Akhirnya, banyak juga yang keseret jadi realis dan mulai mengikis idealismenya pelan-pelan. Kebayang enggak sih, kalo semua orang itu realis? Enggak bakal muncul inovasi baru. Karena inovasi itu muncul dari hal-hal yang belum terpikirkan sebelumnya. Dulu orang mikir terbang itu enggak mungkin, mimpi, mustahil. Tapi duo Wright punya mimpi dan bertahan dengan idealisme mereka. Sekarang, semua orang bisa terbang. Kok kayak slogan AirAsia yak?

Sebaliknya, kalo semua orang idealis, gue juga gak kebayang. Berhubung beneran gak kebayang, gue gak mau ngomong apa-apa (motivator gagal).

Udah ah, udahan yak. Gue belum nulis berita bulu tangkis inih :/ Kenapa sih tandingnya di London? Maksa gue begadang aje.....

Kamis, 03 Oktober 2013

Book is My Best Friend and Library is the best Home Ever

Abis baca posting blog kembaran gue soal perpustakaan, gue jadi pengen ikutan nulis....

Jadi, sekalian ikutan library give away-nya mbak luckty :)




Kapan pertama kali gue kenal perpustakaan? Duh gue enggak inget saking lamanya. Kecintaan gue sama buku udah muncul sejak gue masih TK, tepatnya, sejak gue pertama kali belajar baca. Saat anak-anak lain baru mulai baca A-I-U-E-O, gue udah dibeliin komik. Sailor Moon yang full color jadi komik pertama gue. Saking tergila-gilanya baca komik, keluarga gue enggak mampu lagi beliin komik terus-terusan untuk gue dan sodara-sodara gue. Akhirnya, nyokap mencari solusi dengan nyewain komik-komik yang gue punya. Itulah pertama kali gue ngelola perpustakaan sendiri. Kayaknya kelas 2-3 SD, sumpah gue lupa.

Waktu itu, harga komik masih 3800 rupiah dan satu komik disewain dengan 200 rupiah. 19 kali satu komik beredar, gue bisa beli komik baru :)

Sayang, rusaknya komik-komik yang disewain tak terhindarkan. Beberapa bahkan menghilang entah kemana. Akhirnya perpustakaan mini di rumah pun resmi ditutup.

Kelas 5 SD, gue sekeluarga pindah ke Malang. Dan di sana, tempat yang jadi favorit gue adalah perpustakaan deket rumah. Saking seringnya gue ke sana, mbak dan mas penjaganya apal banget muka gue. Perpustakaannya emang enggak gede-gede banget, tapi banyak buku bagus di sana. Yang lucu adalah, semua buku di sana udah abis gue baca. Jadi setiap gue ke sana, yang gue tanya adalah, "Ada buku baru apa enggak?" Kalau enggak ada, gue mempertimbangkan untuk minjem lagi buku yang sebelumnya udah pernah gue baca. Duit jajan gue yang enggak seberapa akhirnya abis untuk sewa buku. Tapi gue enggak nyesel.

Waktu SMP di Malang, perpustakaannya juga lumayan. Gue sering minjem di sana. Bahkan buku-buku yang gue pinjem, gue baca di tengah-tengah pelajaran :p Gue pernah ketauan baca novel sama guru matematika, dan novel itu langsung disita. Tapi, pas nilai ulangan matematika dibagiin, nilai gue ternyata paling tinggi, ahahahaha. Tanpa banyak syarat, novel itu pun dibalikin sama bapak guru matematika gue.  

Pertengahan kelas 1 SMP, gue pindah lagi ke Jakarta. Gue bersyukur karena perpustakaan di SMP gue termasuk perpustakaan bagus. Enggak heran, gue langsung jadi pelanggan tetap. Setiap jam istirahat tujuan gue selalu ke sana. Kayaknya gue enggak inget deh perut itu harus diisi. Iya, buku udah cukup bikin gue kenyang seharian.

Komik, novel, majalah, sampe buku-buku sastra jadi makanan gue waktu SMP. Guru bahasa Indonesia sering banget ngasih tugas baca dan merangkum novel sastra. Keluhan dari temen-temen lain enggak keitung, tapi gue jadi satu dari sedikit orang yang bahagia banget sama tugas itu. Karna itulah gue milih "ekspresi 9" jadi ekskul gue. Ekskul yang nanganin majalah dan mading sekolah. Semuanya berhubungan dengan buku dan tulisan.

Setiap ada novel baru di perpustakaan, gue selalu jadi salah satu murid yang ngantre buat pinjem itu buku. Di sana, lumayan banyak murid yang suka baca, jadi gue harus menunggu cukup lama untuk bisa pinjem dan baca. Novel legendaris yang paling banyak antriannya adalah seri "Dave Pelzer".

Dateng ke sekolah, ke perpus dulu balikin buku. Istirahat, baca buku di perpus. Pulang, ke perpus lagi nungguin yang lain pada pulang (karna pulang waktu sepi itu menyenangkan). Hidup gue sekitar perpus aja pokoknya.

Daann... perpus sekolah enggak cukup. Gue dikasih tau temen perpustakaan cukup oke di sekitar sekolah. Daaan....akhirnya ke sanalah kaki gue melangkah tiap pulang sekolah. Ya berhubung di perpus sekolah bukunya mulai mendikit (bahasa macam apa ini?) maksudnya, makin sedikit buku yang bisa gue baca....

Daaaannnn..... (kayaknya kebanyakan kata 'dan') gue lagi-lagi menghabiskan uang jajan untuk nyewa buku di perpus itu. Karena sekali gue kesana, gue bisa minjem sampe batas maksimal, 15 buku, dan balikin semua buku kurang dari 3 hari. Iyah coba dibayangin aja gimana duit jajan gue gak abis mulu.

Mana mulai SMP, gue mulai serius koleksi komik dan novel (yah, novel gak terlalu sih. Karna mahal dan biasanya cuma sekali dibaca). Keuangan gue super tekor kalo gue gak nyari duit sendiri waktu itu. Yup, gue mulai belajar nyari duit dengan jualan stationery di sekolah. Untungnya ya buat beli buku. Ahahaha.

Sekali lagi, nyokap menyarankan untuk buka perpustakaan di rumah. Kali ini, perpustakaan ditutup lebih cepet karena gue gak tega komik dan buku-buku gue rusak setelah dipinjem. Yang bikin mau nangis, ada yang sengaja ngerobek beberapa halaman di tengah komik conan koleksi gue. Awalnya, gue enggak sadar. Tapi buat orang yang baca satu komik bisa puluhan sampe ratusan kali, gue apal banget halaman yang ilang, sampe gambar-gambar di dalemnya..... dem.

Intinya, sejak saat itu gue mencari penghasilan lain untuk beli buku, tanpa mengorbankan buku-buku yang udah gue beli.

Waktu masuk SMA, gue kecewa karena perpustakaannya gak oke. Soal tempat sih gak masalah ya. Tapi buku-bukunya itu lo. Isinya cuma kumpulan buku paket tua yang....aduuuh baca di kelas aja males banget deh. Akhirnya, gue selamat dari kehidupan SMA dengan tuker-tuker koleksi buku sama temen lain, juga perpus deket sekolah yang waktu SMA sering gue datengin.

Ngomong-ngomong, gak usahlah ya gue ngomongin perpus di kampus karena isinya sama membosankan kayak perpus SMA. Berhubung gue sama Ruru satu kampus, kira-kira perpusnya kayak yang udah dia ceritain.

Perpus Japan Fondation jadi salah satu favorit gue karna gue nemu banyak buku menarik di sana. Tapi sepanjang jaman kuliah, perpus kampus sebelah, UI, adalah yang terbaik. Cieee....

Sayang, gue gak boleh pinjem buku dari sana karena bukan anak jaket kuning. Yah... tak apalah.... gue punya perpus lain yang bisa menampung gue. Apasih.

Dari semua perpus yang pernah gue kunjungi, perpus nasional itu paling aneh. Karena setiap yang mau minjem buku, enggak diijinin nyari bukunya sendiri. Ada petugas yang nyariin buku yang kita mau, sesuai judul yang ada di katalog. Perpus macam apaaaaa..... Gue gak keberatan kok kalo buku-buku di sana gak bole dibawa pulang. Tapi seenggaknya biarkan kami menyentuh dan mencari sendiri buku yang kami inginkan tuaaaaannnnn.....

Kalo gitu caranya mah, pantes aja jarang yang mau dateng ke perpus nasional.

Perpus lainnya yang menarik minat adalaaah, perpus Japan Foundation di Osaka. Seperti yang Ruru ceritain (juga), gue dan dia sama-sama dapet beasiswa ke Jepang dan berkesempatan ngasrama di JF Osaka. Perpusnya......pengen gue bawa pulang. Gue pengen tinggal di sana terus rasanya. Bukunya bukan cuma bahasa Jepang aja, tapi ada buku dengan berbagai bahasa. Seinget gue, gue minjem novel battle royale edisi bahasa Inggris dan itu.... keren banget! Sayang gue enggak bisa nyelesein novel itu di sana karena kegiatan numpuk banget.

Dari dulu, gue selalu ngimpi ada perpustakaan yang kayak Gramedia. Bukunya di update terussss.....Kalo sampe ada perpustakaan selengkap itu, gue bisa mati bahagia karena kelamaan nongkrong di sana.

Perpus (dan toko buku) selalu menjadi tujuan gue dan tempat gue kembali. Sekarang, gue punya perpustakaan pribadi di rumah. Meski super mini, gue bahagia karena bisa ngumpulin buku sebanyak itu
dengan uang sendiri....

Nih, mini banget kan? Tapi kalo diitung sejak awal koleksi, nilainya bisa jutaan :D
Panjang yah ceritanya.... dan mulai kuliah kayaknya ceritanya sama kayak punya Ruru. Yah, mau gimana, setiap gue ke perpustakaan manapun, dia selalu ikut sih....

Kamis, 19 September 2013

Antara Sanggup dan Tidak. Sanggup Gak yaaa.....

Selesai bulan puasa mendadak jadwal padet banget. Mau cari waktu istirahat susahnya pake banget. Seneng sih seneng, secara mental kayaknya gue sehat, tapi fisik kurang bisa ngikutin kali yah? Ngomong-ngomong, apa ini tandanya gue udah butuh olahraga? 

Tapi saya malaaaas.....

Ini jadwal gue bulan September.....
Dengan jadwal segitu padet, gue masih harus nyisihin waktu buat ngajar....
Tugas ke luar kota bulan ini juga ada empat kali, dan semuanya pas weekend....
Belum lagi tutoring fakta bahasa yang bakal mulai minggu ini. Hadeeehhh....

Giliran ada libur sehari yang bener-bener libur (gak nulis sama sekali, biasanya libur juga tetep update meski gak banyak), gue malah sakit kemaren .___.
Untung pas mau masuk langsung sembuh sih. Tapi kalo ke depan begini lagi repot juga yak. Padahal gue gak pernah absen makan sayur loh. Olahraga woi, olahraga!

Buat yang ngiri sama postingan blog gue kemarenan *lirik seseorang*, gue nulis di blog mah yang bahagia-bahagia aja gitu. Jarang-jarang nih gue nulis kayak gini, hahaha :D

Yah, kesenangan juga kan butuh pengorbanan, toh?

Rabu, 18 September 2013

Dikerjain Bule-Bule Hungaria -part 2-

Sejujurnya, gue gak nyangka cerita ini bakal ada part 2-nya. Iya, gue tau bakal ketemu mereka lagi di Bandung abis di Surabaya kemaren itu, tapi gue gak nyangka bakal dikerjain lagi. Yang belum tau, kali ada yang mau baca dulu, soalnya gue males nih ya jelasin lagi siapa bule-bule kampret ini.

Nah, berhubung gue udah bikin Adam ngambek gara-gara dia gak nemuin gue buat diseret maju ke lapangan, kali ini dia serius mau narik gue ke lapangan. Dan berhubung gue udah liat atraksi sebelumnya, yaudah gue fine-fine aja deh. Ternyata cuma disuruh pegang bola di atas kepala. Meskipun abis itu mereka ngambil bola sambil ngelewatin pala gue dan langsung dunk ke ring basket. Risiko pala gue ketendang tetep ada...hemm...50%

Sebelum tampil, lagi-lagi si Adam bilang ke gue untuk nunggu di pojokan lapangan yang dia mau. Gue bilang, "tenang aja, gue bakal ada di depan lapangan nanti." Maksud gue nanti, ya nanti.... pas mereka tampil gue pasti di depan kok. Awalnya dia fine-fine aja.

Tapi pas beberapa menit sebelum tampil, dia nyariin gue lagi. Abis itu nggandeng gue biar nunggu di pojokan yang dia bilang tadi. Katanya, "Come with me. I need to see you all the show. Don't go anywhere."

Apalagi yang bisa gue bilang selain mengiyakan? -_-

Akhirnya pertunjukan pun dimulai. Dan entah kenapa kali ini lebih keren daripada sebelumnya! Mungkin karna antusiasme penontonnya oke banget :)

Gue pun akhirnya dapet bagian diseret Adam ke tengah lapangan buat megangin bola di atas kepala, sama satu orang volunteer lainnya. "Don't worry, you'll be fine," katanya lagi, sambil ngedipin mata lagi. Buset ini bule matanya sering kena debu apah?


Gue dan satu volunteer lagi yang siap dieksekusi....mati....
Abis itu semuanya berjalan baik. MUKA GUE MASI MULUS KAGA KENA SEPATU! HAHAH!!

Nah, udah. Sebenernya bukan ini yang gue bilang 'ngerjain', tapi yang abis ini.

Berhubung ini penampilan terakhir mereka di Indonesia, gue akhirnya wawancara meskipun mereka udah dua kali nongol di berita gue. Yah, berhubung editor gue demen bule, berita dari mereka pasti dinaikin sih, hahaha. Awalnya, gue cuma mau wawancara yang namanya Botond, ato menejernya, Gabriel. Karna cuma dua makhluk ini yang bahasa Inggrisnya oke. Sisanya.... ya gitu lah.

Tapi pas gue nyamperin Botond dan bawa-bawa catetan buat wawancara, semua anggotanya jadi ngerubungin gue. Buset, kaga pernah diwawancara apa mereka? Terus mereka ngomong barengan, pake bahasa Hungaria. Buset. Mendadak gue pusing.

Botond pun akhirnya ngomong pake bahasa Inggris, "You want to interview us? Ok! Ok! Record it, record us...."

"O...okay," gue pun nyalain alat rekaman.

"We will talk in Hungarian, and you will translate it by yourself, okay?" tanyanya dengan senyum yang minta ditabok.

UAPPPAH?!
Kalo wawancara dikelilingi cowok-cowok berbadan besar begini gua agak ngeri juga.... (dari kiri, benjamin, botond, levente, adam)
Abis itu keadaan mulai tak terkendali. Levente yang setau gue gak banyak omong tau-tau ngomong tanpa titik pake bahasa ibunya. Gue akhirnya ngerti, dia bukan tipe cool & pendiam, tapi tipe yang gak bisa bahasa Inggris dan mending diem daripada salah. Okay, got it. Sompret, dia menghancurkan imajinasi gue yang indah.

Empat anggota lainnya ikut ngerecok dengan ngomong semau mereka. Abis itu Gabriel ikut nimbrung dan memperburuk suasana. Seriously guys, gue gatau kalian ngomong apaaa....
 
Akhirnya situasi mulai terkendali pas muka gue udah terlihat sangat menyedihkan karna bingung. Tapi pas gue tanya, "What will you remember the most about Indonesia?"

Tanpa tedeng aling-aling si Levente langsung jawab, "You!"

Ini bule-bule diajarin ngegombal di sekolah mana toh? Gue mendadak pusing lagi. Mana pas ditanya agak gak nyambung gitu. Botond jawabnya dia suka hutan dan monyet. Elu liat hutan di mana oom? Terus dia ngomong lagi, "Iya, kami suka monyet, yang kaya Artur," terus Artur langsung niruin gaya monyet. Oke, bule-bule ini dari awal emang agak sarap.

Foto bareng lagi sebelum pulang, ahahahaha :D
Sebelum pisah, gue dapet dua kedipan lagi dari Levente sama Adam. Oke, sekarang gue mulai terbiasa, huahahaha.


Gue Gak Mau Ngasih Judul Postingan Ini Biar Gak Gampang Terdeteksi

Gue baru aja selesai baca Artemis Fowl seri 4, "Opal Deception", dan itu keren banget, men! Apalagi endingnya! Arty sungguh....apa ya? Menggemaskan! Entah kenapa inget karakternya Rafael di "Audy Chronicles 4R". Emang kalo baca novel ini susah berhenti, makanya gue selalu nyari waktu luang yang bener-bener luang, jadi gak perlu berhenti baca :p

Oke, yang di atas itu pembukaan....
Pembukaan dari isi blog yang memalukan. Semoga orang-orang yang tidak gue harapkan membaca blog ini gak baca. Sumpah sebenernya gue malu loh nulis postingan ini. Asli, malu. Mana sekarang orangnya udah ada di twitter gue, jadi gue gak bisa nyebar link blog ke twitter lagi. Kecuali kalo ada postingan blog yang normal....euh, ada gak yah?

Jadi, kan ceritanya gue datang kembali untuk menonton streetball, kali ini di Bandung. Berhubung kemarenan waktu di Surabaya gue udah kenal sama beberapa dari all star, jadi seharusnya gue gak canggung lagi. Seharusnya.... tapi gue tetep deg-degan. Nonton orang yang jago olahraga itu emang sesuatu banget. Gue terharu sendiri ngeliatnya.... Mungkin ini bentuk penyesalan kenapa gue gak bakat olahraga kali yah....

Karna mainnya di Bandung, gue ajaklah Ruka sekalian ikut nonton. Itung-itung bantuin gue ngambil foto. Berhubung lensa kamera gue agak bapuk dan gak bisa bekerjasama di malam hari yah.....

Sebelum nonton mereka main, gue kerja keras dulu depan netbook tercinta yang belum gue kasih nama. Ahahaha. Sambil pesen makanan keluar pun gue masih aja ngetik di netbook. Demi kuota berita. Dan demi menonton pertandingan dengan tenang. Gak tenang juga sih....

Dan tibalah saat-saat yang gue tunggu. ALL STAR!! DA KALI INI DELAPAN-DELAPANNYAH!! OMG! ya ampun, hentikan blog gue dari kealayan yang merajalela ini!

Sejak detik pertama pertandingan dimulai, gue udah nongkrong di pinggir lapangan, tanpa dihalangi papan seperti penonton lainnya, berkat kartu sakti. Huehuehuehue. Kemunculan mereka sama fantastisnya kayak waktu di Surabaya, cuma gak ada api nyembur-nyembur aja. Tapi kali ini reaksi penonton lebih heboh. Gue suka penonton di Bandung :)

Dan penampilan All Star hari itu jauh lebih bagus daripada yang di Surabaya. Sumpe, gue sampe teriak-teriak histeris di pinggir lapangan. lawan mereka kayak dimainin gitu dengan dribble super rendah dan cepet. Kalo gue jadi lawannya, mending gue pulang. Apalagi yang yang namanya Ican aka Lil Mighty sama Lana aka Money Man itu propokatip abis, bikin kesel lawannya, huahahaha :D

Kalo waktu gue nonton di Bali, trik yang paling gue inget adalah hypnotize-nya Rahmad aka Invisible, pas dia ngilangin bola di lapangan. Kemaren, giliran Bicek aka Demolition yang bikin gue nganga kaget. Pas lagi dribble, dia narik belakang baju lawannya ke atas dan bikin lawannya gak bisa liat karna ditutupin baju sendiri. Anjiiiirrr! Mainan apaan nih?? Penghinaan terhadap peraturan basket konvensional! Ahahaha! Seru banget sumpah!

Ini nih yang namanya Bicek aka Demolition, streetballer yang mempermalukan lawannya dengan sangat....
Dan abis pertandingan, akhirnya gue bisa wawancara Invisible, haha. Sebelum dia menggunakan kekuatan invisiblenya, gue udah cegat duluan :p Abis itu gue wawancara Syam, lagi. Gue pikir dia inget muka doang, taunya dia inget nama gue dong!

Kaka Invisible yang gue wawancara waktu musik masih kenceng banget, makanya dia kudu deketin kuping dulu, haha. Ya...daripada keburu ngilang sebelum sempet gue tanya-tanya pan, ahahaha~

Kalo dua anak ini mah (Syam & Sudy) udah tau gue (harusnya). Soalnya gue recokin mulu dari pertama kali liat streetball :p
Bareng sama Gau aka Shut Down. Satu-satunya All Star yang gak dateng waktu di Surabaya, katanya sih karena baru nikah. Cieee....selamat yah.... dia pemain basket keempat yang gue tau baru nikah akhir-akhir ini. Off-season jadi musim nikah kali yak?














Gak berhenti sampe disitu, gue juga wawancara penyelenggaranya. Dan berhubung udah kenal sama mereka-mereka juga, jadi wawancaranya sambil ngobrol santai aja gitu. Nah, abis selese wawancara, Mas Mulyadi manggil gue. Dia nanya, "Kamu baru tahun ini ya tau streetball?"

Gue ngangguk-ngangguk aja macam boneka pajangan di depan mobil. Terus dengan songongnya dia bilang, "Yaaah.... telat banget.... udah ada dari 8 tahun lalu baru tau sekarang. Nontonnya basket biasa yah?" Gue ngangguk lagi dong. Terus dia bilang lagi, "Basket biasa mah boseen.... seru juga ini,"

Gue gak bisa bantah juga sih. Tapi menurut gue dua-duanya seru :3 Yah secara di basket konvensional ada oom Iyus, kaka Oki sama Dedek Pras xD Sekali Aspacmania tetep Aspacmania! heh

Gak cukup satu panitia yang menyadari kehebohan gue, kali ini Mas Bayu yang nyamperin dan langsung nyeletuk, "Tadi tuh dia langsung duduk depan pas All Star main, sampe tereak-tereak gitu, hahaha, seru banget yah?"

Gue malu sumpe....

Pulang yuk.