Sabtu, 05 Mei 2012

Angkutan umum di Jakarta

Mari membuka blog ini dengan kalimat basmalah. Semoga dengan menuliskan ini gue enggak dikutuk ataupun dijotos sama orang yang berhubungan langsung dengan pengelola angkutan umum di Jakarta. 

Siapa sih yang enggak butuh angkutan umum di Jakarta ini? Tentunya sebagian besar orang Jakarta pasti menganggap sarana transportasi ini sebagai suatu hal yang sangat vital di ibukota. Termasuk gue yang sama sekali enggak lulus kualifikasi naik motor dan enggak punya cukup uang untuk kredit mobil. Termasuk pula orang-orang yang mulai beralih ke angkutan umum karena harga pertamax semakin melambung (tidak termasuk pengendara mobil mewah yang pura-pura miskin dan beli BBM bersubsidi untuk chevroletnya).

Transjakarta pastinya sudah menjadi angkutan umum pilihan warga Jakarta sekarang ini. Betapa tidak, dengan 3500 saja bisa keliling jakarta dari ujung ke ujung. Dibanding angkutan umum yang lain, memang angkutan inilah yang bisa dibilang paling nyaman. Tentunya cukup menyebalkan juga kalau harus menunggu setengah jam lebih dengan penumpang yang berjubel dan jalurnya yang dimasuki kendaraan lain karena kondisi jalanan tidak memungkinkan (seperti daerah kramat jati dan pondok indah). Tapi di luar itu semua, Transjakarta merupakan pilihan yang menyenangkan dibandingkan angkutan umum lainnya, setidaknya menurut gue.

Rasa-rasanya sih semua angkutan umum udah gue coba. Termasuk kereta, meskipun cuma 3 kali seumur hidup sih. Gue enggak akan mau naik kereta kalau enggak terpaksa banget. Seandainya kereta punya sistem kayak Transjakarta yang selalu menyebutkan nama tiap stasiun (itu juga kalau displaynya enggak rusak) sih gue mau-mau aja naik kereta. Kenapa? Soalnya bagi gue, tiap stasiun pemberhentian itu bentuknya sama. Meskipun orang bilang itu serupa tapi tak sama macem kuis, bagi gue tetep aja terlalu mirip. Apalagi kalau harus diliat lewat jendela kereta yang pasti kealingan banyak orang dan bergerak dengan laju super. Sekali-dua kali nanya orang sih enggak apa-apa, tapi kalau setiap kali naik kereta harus nanya turunnya dimana juga malesin.

Bajaj? Yang mana nih? yang masih pake premium apa yang BBG? Bedanya? 
Bajaj tipe baru yang pakai BBG dan berbodi biru emang tarikannya lebih alus dan sama sekali enggak kerasa kayak bajaj. Yu know... degedegedegedeg....berasa lewat jalanan berbatu padahal itu jalanan beraspal super mulus. Harganya? mending enggak usah dibandingin deh. Soalnya menurut gue sama aja, kalo lo enggak bisa nawar, ya mahal. Menurut gue, bajaj itu diciptakan sebagai alternatif kedua setelah taksi dengan tarif yang enggak beda jauh padahal fasilitas tentu beda jauh. Kenapa orang milih bajaj? Biasanya karena ditolak tukang taksi yang enggak mau narik kalo jaraknya terlalu deket. Kampret sekali memang. Kalau taksi-taksi itu mau ngangkut meskipun jaraknya deket, ya mending naik taksi daripada bajaj, kan? Toh harganya 11-12, dengan catatan kalau pinter nawar, kalau enggak ya kemungkinan harganya bisa lebih daripada argo taksi.

Angkot... Hmmm... ini dia nih angkutan wajib para petualang kota, haha. Sebelum naik angkutan jarak jauh lain, biasanya kita memang harus naik angkot dulu untuk mencapai tempat itu. Naik angkot itu sebenarnya mirip tes keberuntungan. Kadang dapet supir angkot yang kalem, hati-hati dan enggak suka ngetem (atau malah kalau beruntung banget, dia juga enggak ngerokok dan menghimbau ke penumpang yang ngerokok untuk matiin rokoknya. I swear I've met this kind of supir angkot). Kalau lagi sial? Dia bisa ngetem sampai setengah jam, sambil ngerokok 234, suaranya cempreng pas lagi ribut sama supir angkot lain, dan ugal-ugalan. Ya, naik angkot itu tergantung nasib.

Dari semua yang gue sebutin di atas, angkutan umum yang bakal gue bahas sekarang ini merupakan angkutan umum yang paling mengerikan. Ya gara-gara pengalaman gue beberapa hari yang lalu juga sih makanya gue memutuskan untuk membahas soal angkutan umum. Angkutan umum yang gue maksud adalah kopaja/metro mini.
Gue enggak tau apa kalian punya pengalaman mengerikan seperti yang gue alami, tapi menurut gue ini pengalaman paling mengerikan yang pernah gue rasain selama naik angkutan umum. Kopaja/Metro mini emang rajanya ngetem. Apalagi yang di daerah jakarta selatan, tepatnya dari lebak bulus yang menuju kampung rambutan. Gue enggak ngerti mereka ada masalah apa sampai harus bersaing sangat ketat untuk mendapatkan penumpang. Bukan cuma bersaing dengan kenceng-kencengan suara kenek manggil penumpang, tapi supirnya juga berusaha sok 'bakal duluan berangkat' dengan memaju-mundurkan kendaraannya. Kalau ada yang mau naik, dia maju perlahan, begitu penumpang sudah naik, dia mundur lagi untuk menunggu penumpang lain. Apa deh maunya. Kalau naik angkot, ngetem sih masih bisa ditolerir, seenggaknya yang naik angkot masih dapat tempat duduk. Kalau kopaja/metro mini biasanya ngetem sampai benar-benar penuh (yang berdiri juga), apalagi kalau itu kopaja/metro mini mau langsung masuk tol, jangan harap bisa bernapas dengan bebas deh di dalem. Kalau ada perumpamaan yang tepat, mungkin pepes kali yak?

Kejadiannya, seperti biasa waktu gue mau pulang, itu kopaja berhenti dulu buat ngetem. Tapi berhubung itu udah malem banget (jam 10 kalau enggak salah) penumpang mulai protes. Yah, wajar sih, secara sebenernya itu kopaja udah lumayan penuh sesak juga. Akhirnya itu kopaja jalan juga begitu protes dari penumpang makin banyak.

Masalahnya, begitu masuk tol, supir kopaja yang kayaknya kesel malah sengaja nyetir ugal-ugalan. Wooh, berasa pembalap F1, aseli. Gue inget banget waktu itu bagian depan kopajanya beneran hampir mau nyentuh bagian belakang truk gede. Buat penumpang yang duduk aja udah bisa bikin skot jantung, apalagi yang berdiri? Penumpang yang makin kesel gara-gara tingkah si supir pun akhirnya mencak-mencak. Sumpah itu satu kopaja jadi berisik banget, penuh teriakan dan sumpah serapah dari penumpang. Gue yang udah terlalu capek males banget deh buat ikutan nyaut juga, ngabisin sisa energi gue yang kayaknya cuma cukup buat jalan pulang nanti. Mungkin karena selama ini si supir merasa sangat berkuasa atas penumpang, dia jadi gampang bertindak semena-mena. Toh biasanya paling banter penumpang cuma 'protes' doang dan enggak bisa bertindak lebih lanjut. Tapi oh sayang sekali, malang nasibmu tuan supir, kebetulan di dalam kopaja itu ada satu orang petugas pemerintahan (mungkin orang kelurahan atau apa) yang baru pulang dinas, masih lengkap pakai seragam ijo buteknya. Dia bapak-bapak yang dari tampangnya sih cukup galak. Dari yang posisinya tadi berdiri di belakang, dia langsung jalan pelan-pelan ke depan dan njambak rambut si supir kopaja. WOOO! MAMPUS! (Sebenernya gue juga agak ngeri karena bisa aja itu supir tiba-tiba hilang konsentrasi dan malah nabrak).

"HEH!! KAMU INI LAGI BAWA MANUSIA, BUKAN AYAM! NGERTI ENGGAK KAMU?!" 

itu bapak pokoknya ngomel-ngomel ke supir dengan berapi-api, dan kayaknya si supir juga enggak bisa bales karena dia enggak nyangka ada petugas pemerintahan naik di kopajanya.

Endingnya sih gue enggak terlalu tau apa si supir bakal dilaporin ke pihak yang berwajib atau diselesaikan dengan adu tinju di tempat lain. Soalnya banyak juga penumpang yang kayaknya beneran niat nantangin si supir pas kopaja itu berhenti. Seperti yang gue bilang, gue terlalu capek untuk mencari tahu, jadi gue cepet-cepet turun dan langsung naik angkot pulang ke rumah. 

Sebenernya kalo boleh milih, dengan kejadian itu gue enggak mau naik kopaja/metro mini lagi, sayang gue enggak punya pilihan lain. Yang lewat daerah situ ya cuma kopaja/metro mini doang =__= dan lagi, naik kopaja/metro mini itu enggak kayak naik angkot yang masih bisa mengandalkan keberuntungan, karena 90% dari supir kopaja/metro mini ya kelakuannya sama aja kayak yang barusan gue ceritain.

Ah sudahlah, nikmati saja hidup di Jakarta yang masih penuh dengan kesemerawutan ini. Harapan gue sih semoga calon gubernur yang nanti terpilih tetap berusaha memajukan dan mengembangkan angkutan umum yang lebih nyaman dibandingkan yang ada sekarang, siapapun dia. Menurut gue adanya Transjakarta itu bener-bener kemajuan yang signifikan sih. Semoga jalurnya ditambah lagi dan armadanya juga semakin banyak, amiin.
 

Kamis, 03 Mei 2012

Tipe-tipe menawar barang

Gue ini aslinya bukan orang yang suka menganalisis atau memperhatikan sesuatu secara detail. Hidup gue berjalan biasa-biasa saja tanpa perlu memikirkan hal yang menurut gue enggak penting. Bahkan kalau gue lagi fokus untuk jalan lurus untuk nyari bis pulang dari kampus, gue sampe enggak sadar kalau orang-orang di sekitar situ lagi heboh ngeliatin bajaj yang terbalik di samping gue (kisah nyata). Atau malah, kadang sasaran analisis gue suka salah, malahan terkesan apa banget saking enggak pentingnya, seperti yang mau gue tulis hari ini.

Tipe-tipe menawar barang!

Setelah gue banyak memperhatikan cara orang menawar barang, gue jadi tau beberapa cara jitu untuk menawar barang, meskipun yah... enggak semudah itu dipraktekin juga sih.

Berhubung Indonesia itu negara yang menganut sistem 'memanfaatkan kesempatan', menawar adalah kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang di Indonesia. Untuk yang otaknya agak lemot dan enggak ngerti apa hubungannya 'memanfaatkan kesempatan' sama 'nawar barang' segera merapat, sini gue jelasin.

Memanfaatkan kesempatan itu maksudnya melihat peluang emas dan digunakan untuk merauk untung sebanyak-banyaknya.

Gimana? udah liat hubungannya?

Bagi yang merasa belum nyambung, sini gue jelaskan dengan contoh.

Abang-abang di depan rumah jual ketoprak paling mahal Rp 7000,- tapi di sekitar taman mini harganya bisa melonjak sampai Rp 10000-15000. Kalau di deket event besar yang harga makanan dalam event itu super duper mahal, kemungkinan harganya bisa melonjak sampai Rp.25.000.

Udah ngerti hubungannya?

Kalau belum, mari yuk belajar membaca...

INI. IBU. BUDI.
INI. BAPAK. BUDI.

Mari kembali ke topik, tentunya dengan harga yang berubah seenak udel pedagang menurut situasi dan kondisi, seseorang harus pintar menawar. 

Berikut adalah tipe-tipe menawar yang gue tau:

1. Tanya harga dan bandingin harga dengan toko/tempat lain
Ini yang paling sering digunakan oleh ibu-ibu kalau lagi nawar di pasar. Biasanya sih ngomongnya diketus-ketusin, mungkin supaya penjual merasa tidak berdaya untuk adu bacot dengan si ibu. 
Sebenarnya tipe kayak gini masih bisa dibagi lagi, antara penawar yang benar-benar tahu harga dan main tembak, alias bohong. Kalau yang tahu harga, biasanya nawarnya masih dalam batas wajar, setengah harga yang disebutkan penjual ditambah sedikit. Yang bohong? gini nih...

"Bang, ini tas berapaan?"

"150 ribu aja buat ibu, mah..."

"Mahal amat?! Perasaan di tempat laen cuma 40 rebu!"

Penjual bengong, "Wah, dimana tuh bu? Boleh minta alamatnya? Saya beli stok disana aja deh besok-besok." 

2. Tipe poker face 
Tipe ini menurut gue tipe tukang tawar yang paling enggak bisa dihadapin sama penjual. Enggak keliatan mau beli apa enggak, mau beli nawarnya amit-amit, kalo enggak dikasih pasti langsung ngeloyor tanpa ngomong apa-apa. Singkatnya, enggak mempan bujukan. Biasanya tipe kayak gini enggak pake basa basi nanya harga segala, dia langsung tembak harga yang dia mau. Dan biasanya (entah kenapa) tipe kayak gini yang paling sering dapet apa yang dia tawar tanpa perlu waktu lama.

"Bang, ini singlet 5 ribu ya." (Perhatian, ini bukan kalimat pertanyaan, melainkan paksaan)

"Wah belum dapet, mbak...naik dikit lah."

"5 ribu. Beli 2."

"Dua, lima belas aja deeh..."

Si mbak-mbak poker face ngeloyor pergi setelah melihat singlet yang ia pegang sambil pasang mimik enggak butuh.

"Mbak, tiga belas aja deh mbak! Oooi, biar jadi mbak.... dua belas deh! Duh, iya deh mbak, mbak, sini!"

Cerita pun berakhir bahagia dengan 2 singlet di genggaman seharga sepuluh ribu rupiah saja.

3. Tipe melas
Ini sebenernya tipe yang jarang ada. Mungkin ada beberapa orang yang memang diberkahi untuk bisa menerapkan cara ini. Biasanya sih yang berhasil itu cewek-cewek ABG yang masih cling. Kalo penjual di melasin sama makhluk-makhluk begini, ya takluk juga. Sayangnya kalo orang yang enggak tepat tapi maksain diri untuk nerapin cara ini, hasilnya malah sebaliknya. Si penjual malah menganggap kalau itu orang bener-bener mau beli barang dagangannya dia, jadi dia bakal kekeuh untuk enggak nurunin harga, soalnya si penjual yakin kalo orang ini pergi, pasti bakal balik lagi saking pengennya. Buat yang punya muka pas-pasan mending enggak usah pake cara ini.

4. Tipe sok kenal/akrab
Tipe ini kadang ada yang jujur ada yang bohong juga. Kalo yang jujur biasanya harganya enggak terlalu jauh dari harga yang ditawarkan si penjual. Misalnya saja si penawar bilang kalau kemarin ibunya beli di toko itu juga, tapi harganya enggak semahal itu. Terus, dia dititipin beli lagi sama ibunya, jadi dikasih uang pas. Kalau yang begini sih pasti dikasih sama abangnya. Yang bohong?

Dari empat tipe di atas, gue sama sekali enggak diberkahi satupun kemampuan kayak gitu. Gue ini payah banget soal meraba-raba harga normal sama berpura-pura terlihat enggak butuh padahal gue pengen banget. Sekalinya gue nawar, pasti langsung dikasih, itu artinya harga normalnya masih jauh dari harga yang gue tawar. Dem. 

Kalian termasuk tipe yang mana? Kalo gue sih maunya jadi tipe yang kedua, tapi sayang gue ini orang yang terlalu ekspresif, jadi susaaah D:

Atau mungkin ada tipe selain yang gue sebutin? Tell me! :D

pic taken from : nyunyu.com (kebetulan nyari dari gugel dan pas banget, meski yang tipe poker face enggak ada, hehe)
Kalo soal tulisannya sih gue mikir sendiri, sori gue bukan tukang plagiat.

Senin, 23 April 2012

Detektif Sekolah

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Dimas Abi
Sebelum masuk ke review yang sebenarnya, izinkan gue cerita sedikit kenapa novel ini akhirnya bisa berada di genggaman gue. Awalnya, waktu gue diajak ke Gramedia sama Ruru & Eka, gue sama sekali enggak niat beli buku karena belum gajian dan lagi kere parah. Dan lagi, Gramedia itu buat gue cuma tempat browsing buku bagus, biasanya gue beli buku di online shop karena selain diskon terus-terusan, bukunya juga dianter ke rumah, jadi gue enggak perlu repot. Nah, tadinya sih gue mau beli barang satu atau dua komik langganan kalo ada. Tapi sayang beribu sayang, begitu gue nemu komik Hero tales 5, gue kejang-kejang hampir struk begitu liat harganya. 17500! Demi Toutatis, kenapa harga komik sekarang muahal banget sih? perasaan gue baru kemaren harganya naik dari 15.000 jadi 16.500. Kenapa sekarang naik lagi? Ini pemerasan. Itu komik yang biasa, yang Level Comic? Jadi 20.000! Demi apapun. Bayangin dong kalo tiap bulan gue kudu melengkapi koleksi shonen manga yang tamatnya entah kapan. Berapa duit yang harus gue keluarin tiap bulan untuk komik doang? Oke, komik macem One Piece, Hero Tales, Yona dan lain-lain terbitnya paling sebulan sekali. Tapi gimana dengan Wild Life yang sebulan bisa 2-3 komik? Atau Perfect Girl Evolution yang kalo lagi ngebet bisa keluar langsung 3 volume sekali cetak? Mana Level Comic pula. Bisa-bisa gue ngabisin 200.000 cuma buat ngelengkapin koleksi komik gue! Perasaan gue dulu harga komik itu hanya 3800 rupiah pemirsa sekalian! Kalo gue nyewain komik dengan tarif 200 rupiah sekali pinjem, gue bisa beli komik baru setelah komik gue dipinjem 19 kali. Eh, itu lama juga ya.

Pokoknya! Kenaikan harga komik ini enggak logis! BBM kan enggak jadi naik sampai 6 bulan ke depan! Kenapa harga komik harus naik coba?

Karena tidak baik untuk jantung gue, akhirnya gue enggak jadi beli komik. Mending beli novel kemana-mana deh. Terus, sewaktu Ruru & Eka berhenti untuk baca satu sinopsis novel sambil ketawa-ketiwi, gue jadi penasaran.

Sinopsisnya begini:

Sialnya, Tim TBS melupakan satu detail penting bahwa jumlah siswa SMA Pemuda mencapai seribu lebih, dan sekitar 20 persennya berada di kantin. Khusus di bagian gorengan, terdapat kerumunan yang cukup mengerikan.

"Kira-kira, siapa ya pelakunya?" ucap Tessa retoris, menatap hampa segerombolan siswa SMA yang dahaga akan gorengan.
"Momon akan coba kesana!" ujar Momon.
"Menyelidiki, Mon?"
"Enggak, mau beli gorengan..."
"...."

Momon ngacir meninggalkan Tessa dan Bams. Jempol dan telunjuk Bams membentuk huruf V di dagunya, berpikir. Lima detik kemudian, warna wajah Bams mendadak cerah, ia menjentikkan jarinya tanda mendapat ilham atau semacamnya.

"Gue juga kesana dulu, Tess," ujarnya.
"Menyelidiki, Bams?"
"Enggak, beli gorengan."
"...."



Niatnya sih mau ngakak gelundungan di lantai. Tetapi, berhubung enggak etis dan ada kemungkinan gue ditangkep dan dijatuhi hukuman selamanya di apartemen bobrok dalam film The Raid untuk jadi samsaknya Mad Dog (sumpah ngeri banget), akhirnya gue cekikikan aja dan langsung masukin itu novel ke dalam kantong belanja (kalo belanja online, tulisannya add to cart) tanpa mikir dua kali.

Oke, cukup ceritanya, mari masuk ke review. Ngomong-ngomong, pulang dari Gramedia, gue langsung baca novel ini di TJ. Tapi setelah beberapa halaman akhirnya gue tutup karena gue enggak tahan mau ngakak. Kalo gue nekat ketawa kenceng-kenceng dalem TJ, kejadiannya bisa kayak yang tadi gue beberin. Sori, masih belum punya nyali ketemu Mad Dog, apalagi jadi samsaknya. Karena rasanya enggak puas kalo baca novel ini tanpa ngeluarin hasrat untuk tertawa, akhirnya gue tahan enggak baca sampe di rumah.

Kalo baca cerita gue barusan, udah tau dong ya, ini novel komedi. Tulisannya sih cerita detektif, tapi daripada jadi detektif, gue rasa karakter-karakter dalam novel ini lebih cocok ngelawak aja. Apalagi yang namanya Momon si Panda Cina. Kalo makhluk itu boleh dipelihara, bakal gue kandangin deh.

Dari segi karakter, gue suka banget. Masing-masing karakter punya keunikan sendiri yang enggak bisa begitu saja dilupakan pembaca. Momon si Panda Cina, Bams si Ubur-ubur, Tessa si kutu buku, sampai Mila si cantik penggemar dangdut koplo. Bahkan karakter sampingan macam Ketua Osis enggak rasional yang berniat membuat kompetisi debus di sekolah pun bukan karakter yang gampang dilupakan. Belum lagi karakter Rambo yang alih profesi jadi tukang masak sejak keluar dari penjara, dan entah kenapa gue ngebayangin si Rambo mirip karakter Alfridus Godfred sebagai Ambon galak di The Raid. "Saya trada waktu tipu tipu, ekalo saya muak saya menggila!"

Dari segi cerita, simpel dan enggak terlalu berat walaupun ini novel detektif. Bahkan gue rasa novel ini juga bisa dimengerti sama orang yang awam soal perdetektifan sekalipun. Untuk yang maniak novel atau komik detektif, gue rasa sih pada bisa nebak jalan ceritanya. Tapi tenang aja, novel ini bukan cuma menawarkan cerita detektifnya saja, pengalaman baca kalian akan sangat menyenangkan karena bakal banyak dialog-dialog tak terduga di setiap adegannya yang bikin perut keram. Sebaiknya jangan membaca novel ini sambil makan atau minum kalau enggak mau makanan atau minumannya nyembur keluar.

Detektif TBS (Taman Belakang Sekolah) yang beranggotakan 3 orang, Bams, Tessa dan Momon, terbentuk secara tidak sengaja berkat usulan Tessa yang kebetulan sedang membaca novel detektif. Mungkin mereka akan menjadi pengusaha Lele kalau saja Tessa sedang membaca buku berternak Lele. Dan cerita ini akan lebih menarik karena mereka harus bekerjasama dengan Mila yang membantu bisnis orangtuanya di pasar ikan. Ini gue nulis apa sih?

Iya intinya, detektif TBS terbentuk begitu saja tanpa ada persiapan matang. Dan rasa-rasanya yang punya bakat jadi detektif sesungguhnya cuma Bams yang memang dianugerahi kemampuan untuk selalu berpikir out of the box. Soal ilmu dan pengetahuan umum lainnya bisalah mengandalkan Tessa. Tapi yang gue masih bingung, peran Momon di tim ini selain jadi samsak Bams dan Tessa kalau lagi kesel apa ya?

Setelah Tim TBS terbentuk, pembaca akan disuguhi beberapa kasus yang terjadi di lingkungan sekolah serta petualangan Tim TBS yang berjuang susah-payah menyelesaikan kasus tersebut. Meski banyak halangan dan dalam beberapa kejadian ada usaha mereka yang sia-sia, Tim TBS tidak menyerah begitu saja. Petualangan mereka bertiga yang super kocak memang terlalu seru untuk dilewatkan.

Bagaimana Momon mengatasi kekecewaannya karena dijadikan babu di tim basket?
Bagaimana Bams meyakinkan ketua osis kalau kompetisi dangdut di SMA itu bukan ide yang bagus?
Bagaimana cara Tessa mengasuh Panda Cina dan Ubur-ubur?

Dapatkan jawabannya dalam novel DETEKTIF SEKOLAH!

Daripada nanti gue spoiler terlalu banyak soal novel ini, mending langsung baca aja buat yang tertarik. Dijamin enggak nyesel deh! :D

Kamis, 29 Maret 2012

Look what I found!

Selama beberapa hari terakhir ini gue beres-beres kamar lagi. Biasa, abis diberesin beberapa menit kemudian juga berantakan lagi, gue tau. Tapi sebenernya dari beres-beres kamar itu ada beberapa keuntungan yang bisa didapat. Dan yang paling penting adalah, saat lo ngebongkar barang-barang, lo tau apa yang lo punya. Coba kalo barang-barang itu terus di kardus tanpa pernah dibuka-buka lagi. Yakin deh lo pasti lupa kalo ternyata lo punya barang-barang itu. 

Selain itu, ada lagi hal yang bisa jadi keuntungan. Paling enggak, setelah beres-beres lo bakal tau naro apa, dimana. Meksipun nantinya kamar bakal berantakan juga, lo bakal tetep bisa nemuin barnag yang tadinya lo gak tau deh ada dimana karena enggak pernah beres-beres.

Saking niatnya gue buat beres-beres hari ini, gue sampe ngebongkar tas berharga yang isinya surat-surat penting macam akte kelahiran, ijazah dan lain-lain. Gue bongkar satu-satu, terus gue rapihin sesuai tempatnya. Sebelumnya, ijazah SMA gue nyasar di map kertas buluk gara-gara waktu itu dipake buat apaaaa gitu... (lupa), dan STTB SMA gue nyelip di map lain dalam keadaan mengenaskan. Ketekuk jadi dua dengan sempurna! WTH, siapa sih yang rese gini? Jangan-jangan gue sendiri (lagi-lagi lupa).

Lalu, keuntungan yang selanjutnya adalah, gue bisa bernostalgia dengan barang-barang lama. Dalam tas surat penting itu, gue nemu kumpulan foto gue dan abang-ade gue waktu masi kecil. Auuhh, kami unyuu sekali :3

Urutannya dari yang paling kiri itu kakak gue sampe adek gue yang paling bocah.
Kakak gue, gue dan adek gue yang terakhir sering dibilang mirip. Kalo foto masa kecil kita dijejerin gini, bener juga sih, emang mirip. Cuma yang adek gue, anak ketiga itu yang beda banget. Yang kasian, dia sering dibilang anak pungut, huahahaha. Ampun, dek.

Terus, gue juga nemu hasil psikotes waktu gue SMA, lumayan bikin ngakak waktu dibaca lagi.

Optimisme, Optimal!
Wahahaha, iya banget. Biar yang lain bilang nggak mungkin, kalo enggak dicoba siapa yang tau. Tapi kadang-kadang kalo terlalu optimis juga enggak bagus sih. Saking optimisnya, dulu gue sering banget nyasar dan bikin orang nyasar gara-gara enggak pernah nanya jalan ke orang lain. Eh itu optimis apa sotoy, ya?

Kemauan menerima kritik dan saran, RENTAN!
Iya, gue emang punya kecenderungan langsung sebel kalo dikritik. Tapi itu dulu, sekarang sih enggak gitu-gitu banget, meskipun yaaah... kadang-kadang masih ada perasaan gitu sih. Tapi sebisa mungkin enggak gue tunjukin :D Nah masalahnya adalah, kemampuan mengeluarkan ekspresi gue nilainya optimal (sayang enggak sempet foto yang ini). Gue enggak bisa nyembunyiin perasaan, soalnya semuanya tergambar jelas di muka gue ini. Yang udah temenan sama gue baik yang baru atau lama, pasti tau deh. Apalagi katanya kalo gue lagi kesel enggak ada yang berani deket-deket, huahahahaha. Iya, jangan deket-deket kalo muka gue lagi ditekuk 13, daripada kena semprot XD

Lalu, dari hasil yang keluar sih gue bersyukur, ternyata gue emang minat di bidang literatur. Hehe. Cocok lah ya kalo mau jadi penerjemah dan penulis sekaligus :p

Tapi kenapa, KENAPA SARANNYA BUKAN MASUK KE KELAS BAHASAAAA?
Apa ini sebuah konspirasi karena SMA gue emang enggak mau buka kelas bahasa? 
Akhirnya gue terpaksa masuk IPA dan ngapalin pelajaran biologi setengah mati. Eh? Gue lupa gue enggak pernah belajar Biologi. Biasanya sih gue nunggu ujian ulang karena gue emang enggak pernah lulus ujian Biologi, hahaha XD Soal-soal remedial gampang-gampang sih. Jadi kan gue enggak perlu belajar susah-susah :D 

Rabu, 29 Februari 2012

Teriakan-teriakan yang tertahan

Dalam hidup pasti dong ada momen-momen saat lo pengen teriak sekenceng-kencengnya. Gu juga gitu, ada saat gue enggak tahan pengen teriak tapi apa boleh buat karena harus 'ketahan' sama beberapa hal.

Yang pertama terjadi sehari yang lalu, pagi-pagi. Saat gue akhirnya terpaksa harus mengucapkan RIP pada gigi geraham gue yang bertengger sejak lama. 

Gue akhirnya dateng lagi ke puskesmas karena waktu itu disuruh dateng kalo giginya udah enggak sakit. Sebenernya udah lama banget sih, bisa dibilang lebih dari 2 minggu gigi gue udah enggak sakit. Cuma gue enggak pernah sempet ke puskesmas yang yu know, cuma buka pagi-pagi buta doang. Alesan gue sih antara beneran enggak sempet ato begadang main game malemnya, jadi paginya ketiduran. 

Tapi akhirnya gue ketemu lagi sama si dokter cantik dan akhirnya gue nyiapin mental pas si dokter mau nyuntik gue. Gue kira... pas disuntik itu momen-momen yang paling sakit. Kanan kiri masing-masing dua kali gitu, dan nyuntiknya kayak nyelip antara gigi dan gusi gitu. Nggak beberapa lama bagian kanan mulut gue mulai kebas, apalagi bibir. Si dokter pun ngomong basmalah sambil megang alat semacam pemecah es, dan gigi gue mulai ditusuk. DITUSUK! 

Kronologisnya begini, puter-puter, tusuk, puter-puter, masukin lebih dalem dan digoyang-goyang.

Dan itu rasanya kayak waktu gigi lo udah bolong parah sampe kena syaraf gigi terus diteken kenceng-kenceng pake besi. Singkatnya "AAAAAAAAAAAANJRIT SAKIT BUANGETTT!"

Maunya sih tereak gitu, tapi berhubung mulut gue penuh sama alat dokter, yang keluar antara 'ah' ato 'uh' doang. Paling banter 'adududududu....'

Karena pake pemecah es agak kurang bisa digoyang (ini apa banget bahasa gue), akhirnya si dokter langsung pake alat yang mirip tang—oke, tang. Wajar dong gue mikir kalo udah dibius pas dicabut enggak bakal sakit lagi... Sayangnya gue salah besar! Oh men, itu tang mantep banget ngegoyangnya (entah kenapa berasa ngomongin dangdutan). 

Rasanya itu kayak, 1 2 3 goyang goyang goyang...

AAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!

4 5 6 goyang goyang tarik

AAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!

karena si dokter nyadar gue udah kesakitan banget kali yak, akhirnya didiemin dulu sama dia, which is.... penderitaan gue malah tambah lama.

Abis itu dia balik lagi dan melakukan hal seperti diatas, sampe akhirnya dia ngomong "sekali lagi, tahan ya."

OH GOD, HELP ME.

Gue merem dan nyoba tahan tarikan terakhir yang super wow sampe akhirnya keputus juga itu syaraf yang nyambung digiginya. 

Gue berasa abis selesai perang. Airmata bercucuran. Cabut gigi yang seharusnya enggak dicabut itu beribu kali lipat sakitnya dibanding dibor. Mungkin emang obat biusnya kurang kuat, ya maklum hanya 7500 saja sodara-sodara.

Sampe di kasir masih mewek dan digodain sama petugasnya, "abis cabut gigi ya? :)"

Gue pikir udah lega, udah beres karena gigi gue yang bolong udah ilang, enggak sakit lagi. Ternyata muncul masalah baru. Itu bekas pencabutan kan udah kayak tambang bekas penggalian, bolong, bawahnya item gara-gara darah beku. Bayangin aja gue kalo makan gimana. Pasti banyak nasi yang masuk ke lubang penggalian itu, dan ngeluarinnya amit-amit repot banget.

Ya udahlah ya, nanti juga beres. Minggu depan dateng lagi buat cetak gigi palsu, hahahaha! GUE BAKAL MAKE GIGI PALSU! XD Meski bukan gigi emas ato perak, gapapalah... yang penting kinclong lagi dan enggak ompong, hoho XD

Mari beralih ke cerita lain. Tadi pulang privat yosakoi sama kak Carlos, gue mampir ke Graci. Rencananya sih mau beli sepatu item buat tampil yosakoi sabtu depan, karena gue enggak punya kets item dan sepatu gue yang sekarang juga udah jelek banget jadi mo sekalian beli. Kalo nemu legging item juga bolehlah, sekalian. Tapi ternyata sebelum gue nemu sepatu yang pas, gue malah nemu ini di gramedia.

Paket buku DARREN SHAN dari 1-12 dalam 3 kotak :D
Uhuuyy! ini udah gue incer dari lama. Sampe niat mau beli online. Tapi biasalah, kalo di gramed gue kudu liat-liat harga dulu. Kalo beli online satu paketnya sekitar 80-90 ribu, jadi gue pikir ini bakal 100 ribu—yang ujung-ujungnya gue cuma liat-liat dan tetap memutuskan beli online yang lebih murah. Tapi ternyataaaa! jeng jeng jeng jeng!

SATU PAKET 30 RIBU SODARA-SODARA!

Singkat kata "AAAAAAAAAAAAAAANJRIT MURAH BANGET!"

Udah deh, gue sempet jingkrak-jingkrak disitu meski enggak bisa tereak kenceng-kenceng. Yah nyengir lumayan gedelah selama nyari-nyari buku lain.

Anak-anak SMA disitu ternyata ngerubungin tempat buku diskonan setelah gue selesai nyomot 3 paket sekaligus. Tapi kayaknya enggak ada yang coba pegang-pegang buku darren shan. Entah karena covernya kurang menarik atau keliatannya kurang meyakinkan dari segi cerita. Tapi gue kasih tau aja ya. The Saga of Darren Shan itu novel vampir terbaik yang pernah gue baca selama ini. Karena gue malah sempet mikir ini nyata! Bisa aja oom Darren bikinnya.

Ngomong-ngomong, gue juga abis beli novel seri The secret of Nicholas Flamel karya Michael Scott dari 1-3. Lumayan murah sih, satunya 40 ribu (harga aslinya 80 ribu), tapi tetep aja, beli tiga sekaligus itu bikin gue bangkrut, belum yang Darren Shan itu.

Enggak apa-apa deh sepatu gue buluk. Baju yang itu-itu aja juga oke. Makan enak bisa kapan-kapan, nunggu traktiran bisalah ya. Beli eyeliner urusan belakangan. Yang penting, laper buku gue bisa dikurangin, meski selamanya enggak bakal bisa kenyang. Kalo gue beneran jadi penulis kan asik, royaltinya bisa buat beli buku lagi :D ato malah mungkin dikasih contoh buku gratis sekalian, hehe (ngarep boleh dong ya).

Kamis, 23 Februari 2012

Suatu hari di tempat pemancingan...

Suatu hari di tempat pemancingan, seorang cewek lagi bosen dan ngajak ngobrol orang di sebelahnya...

Karena si mbaknya pergi, dan gak seru, pindahlah dia ke tempat pemancingan lain. Pake teleport, gak pake angkot.

Mas, itu にほんごしゃべれ kali, bukan にほんごじゃべれ...
Ah situ aja bahasa Jepangnya kacau, pake nyuruh2 orang ngomong bahasa Jepang pula...
Makanya belajar bahasa Inggris mas. Berguna lo buat godain cewek.

Kesimpulan: Kalo mo iseng sama orang Jepang, ngebacot aja pake bahasa yang dia kaga ngarti, dijamin pada kabur. Bahkan cara ini bisa dipake untuk ngusir yankee segala (kata sensei). Selamat mencoba.

Minggu, 19 Februari 2012

Nyicip dan review soto jamur instan? Challenge Accepted

Halo kawan-kawan, kembali lagi di acara posting blog iseng-iseng berhadiah :D

Beberapa hari yang lalu gue dapet info kalo ada salah satu produk makanan yang butuh review dari konsumennya. Caranya unik! Dengan menggaet para blogger untuk ikut ngereview di blognya. Dan yang lebih menarik lagi, dikasih sample gratis untuk yang berminat kasih review! WOW! GRATIS! ehem. Oke, gue enggak mau terdengar seperti makhluk mental gratisan, makanya gue akan bilang kalo gue minta sample untuk ikutan kontes blognya.

Keisengan gue ternyata berbuah keseriusan pas paket berisi sampel itu nyampe rumah. Dengan bar-bar, langsung gue buka paketnya, ambil foto buat kenang-kenangan sebelum sampel gratisan itu berakhir di perut gue nanti. Ini foto kenangan yang gue ambil.


Kebaca dengan jelas kan? Review gue ini tentang Soto Jamur Instan bermerek SOTOJI.

Sebenernya ngereview makanan itu kerjaan paling diimpikan banyak orang. Macamnya Pak Bondan si bapak tukang wisata kuliner itu. Dia kerjanya, makan, ngomong, dan dibayar. Kurang enak apa? Makanya gue juga sesekali mau coba. Tapi bisa tercapainya ya kalo gue menang kontes ini, hehehe. Oke, dengan tekad membara, gue akan review sebaik-baiknya.
Awalnya, gue baca keterangan di balik kemasannya dulu, jamur apa sih yang dipake? Ternyata di sana ditulis jamur tiram goreng. Apa itu? Gue cuma pernah denger jamur kuping, jamur merang, dan jamur shitake yang mahalnya amit-amit makanya gue belum pernah coba. Jamur tiram? Gue taunya saus tiram. Tapi karena saus tiram rasanya enak, mungkin jamur ini juga enak. Mari langsung siapkan panci dan capsuss memasak, wahaha.

Jamur Tiram, hasil bisikan mbah google. Entah kenapa bentuknya unyuu sekali :3

Pas masak, enggak ada bahan lain yang gue tambah kecuali telur. Enggak sampai 10 menit, sotoji siap disajikan dan dilahap dengan bar-bar. Oh iya, sekedar saran, lebih enak dimasak 4-5 menit setelah jamur kering dimasukkan supaya terasa lebih empuk (tulisan di bungkusnya cukup 2 menit).

Akhirnya tiba saat pencicipan, dan...
JAMURNYA ENAK! 
Ooh, ini rupanya rasa jamur tiram. 

Dan ternyata perpaduan jamur tiram + kuah soto itu enak juga. Sebelumnya enggak bisa ngebayangin soto pake jamur. Dan lagi, mi-nya bukan bihun, tapi sohun, jadi biar direbus lama juga enggak akan mekar. Enggak kayak waktu gue masak bihun instan dan secara ajaib air rebusannya lenyap begitu saja.

Jadi kesimpulannya, menurut gue, perpaduan jamur + sohun + kuah soto itu PAS BANGET!

Gue enggak akan ngambil lahan pak Bondan dengan menyebutkan rasanya seperti meleleh di lidah, maknyuss atau apa, cukup satu kata simpel, enak. Harusnya gambar kucing di atas sudah bisa menggambarkan perasaan gue.

Untuk yang suka makan jamur, wajib dicoba deh. Beneran jamurnya enak, ini bukan bohong buat promosi, suerr. Lagipula blog gue juga belum masuk kategori berbayar kok, hehe.

Oh iya, gue juga punya saran ke pihak produsen SOTOJI ini, tentu saja selain porsinya yang terlalu sedikit. Yakali review gue dipertimbangkan dengan serius dan porsi sounnya ditambah dua kali lipat, itu baru MANTAP! 

Dari tiga bungkus yang gue dapet, dua diantaranya enggak ada bukaan untuk mempermudah konsumen membuka bungkus sotoji. Selain bungkus yang diluar, bungkus plastik untuk jamur dan bumbu-bumbu lainnya juga enggak ada bukaannya. Tolong diperhatikan dan semoga bisa jadi pertimbanngan untuk memproduksi bungkus plastik yang mudah dibuka. Karena tidak semua orang sedia gunting di dapurnya, termasuk saya yang saking malasnya malah memforsir gigi untuk menggantikan tugas gunting. Sedikit berantakan.... tapi, yah lumayanlah kaki enggak perlu capek-capek keliling rumah dulu untuk cari gunting :D

Sekian review yang bisa saya berikan untuk produk SOTOJI. Mungkin kalau saya dikasih sampel lebih, bisalah dipertimbangkan untuk bikin review lebih panjang lagi....
Mohon dipertimbangkan tawaran saya ya oom produsen~ miaww~