Rabu, 30 April 2014

New Authors Reading Challenge 2014 (Progress Jan-Feb)

Yak, berhubung sekarang udah kerja di rumah dan akan selalu berkutat di depan laptop (kayak yang sebelumnya enggak aja), gue akan lebih banyak lagi membuat postingan blog baik berupa review atau apa pun. Padahal tahun kemarin aja jumlah postingan sampai 53, hahaha, elu kesetanan atau apa, Na?

Daripada review-review novel gue dibiarkan nganggur begitu saja, gue memutuskan untuk ikut "New Authors Reading Challenge 2014" yang diadain sama Mbak Ren :)

http://renslittlecorner.blogspot.com/2014/01/new-authors-reading-challenge-2014.html?showComment=1388683706719#c1296983109929244821


Berhubung gue juga ikutan challenge di goodreads untuk membaca sampai 100 buku tahun ini, gue langsung menantang diri ikut level "Maniac", baca lebih dari 50 novel tahun ini. Syarat yang diajukan Mbak Ren adalah membaca novel yang ditulis oleh penulis yang belum pernah gue baca sebelumnya. Baca lebih dari 50 novel dari penulis baru? CHALLENGE ACCEPTED!


Untung kemarin gue udah berhasil menyelesaikan satu novel penulis baru, Eve Shi :D Reviewnya baru di goodreads aja, sih. Pindahin ke blog ah abis ini. Lumayaaan, udah satu, hihihi :3

Habis selesai nerjemah satu komik malam ini, gue akan lanjut baca Khokkiri-nya Lia Indra Andriana :)

Postingan ini akan gue buat sebagai masterpost, jadi semua buku dari author yang baru gue baca akan gue post link review atau link goodreadsnya di sini:

Januari
1. Aku Tahu Kamu Hantu by Eve Shi (goodreads || blogspot)
2. Khokkiri by Lia Indra Andriana (goodreads || blogspot)
3. Tokyo ~ Falling by Sefryana Khairil (goodreads || blogspot)
4. Melbourne ~ Rewind by Winna Efendi (goodreads || blogspot)

Februari
5. Carrie by Stephen King (goodreads || blogspot)
6. Marriagable by Riri Sardjono (goodreads || blogspot)
7. Holland ~ One Fine Day in Leiden by Feba Sukmana (goodreads || blogspot)
8. Amsterdam ~ Ik Hou van Je by Arumi E. (goodreads || blogspot)

Maret
9. Train Man by Nakano Hitori (goodreads || blogspot)
10. 幕が上がる (The Curtain's goes up) by Hirata Oriza (goodreads || blogspot)
11. 放課後はミステリとともに (After School Mystery) by Tokuya Higashigawa (goodreads || blogspot)

April
12. Badut Oyen by Marisa Jaya dkk (goodreads || blogspot)
13. Inferno by Dan Brown (goodreads || blogspot)
14. MOMENT by Takayoshi Honda (goodreads || blogspot)
15. 思い出の時修理します (Fixing the Memories) by Mizue Tani (goodreads || blogspot)
16. How to train your dragon by Cressida Cowell (goodreads || blogspot)
17. In the Bag by Kate Klise (goodreads || blogspot)


Waaah.... bulan April perkembangannya drastis :D
Sempet baca buku bantal pula :3

Sabtu, 05 April 2014

[Review] The Raid 2 - Berandal (Nasionalisme di tengah tindak kejahatan)



WARNING: SPOILER ALERT!!

Segaja, berhubung kayaknya gue udah paling basi baru nonton The Raid 2 hari gini, nggak lama sebelum filmnya ditarik dari peredaran. Nggak apa-apa dong spoiler. Toh kayaknya semua udah pada nonton, hahahaha :D Kecuali untuk yang cuma bisa penasaran karena denger-denger filmnya bagus, tapi nggak berani nonton karena darah yang ngocor di mana-mana (uehem!!)

Adegan awal, kakak Rama (Donny Alamsyah) yang ketangkep di akhir film pertama, dibunuh di ladang jagung. Oke....awal yang bagus. Terus Rama (Iko Uwais) memutuskan jadi intel yang masuk langsung ke sarang musuh. Identitas dipalsukan, keberadaannya ditiadakan. Lalu kepolisian menerima kiriman korban yang mati waktu di film pertama. Muke Joe Taslim cuma muncul di foto 3x4 dalam dokumen kematiannya. Sedih, men...... selain itu cuma bisa liat kantong mayatnya dia, yang kayaknya juga isinya kapuk ato apa, nggak mungkin dia dikontrak main cuma buat masuk dalem kantong mayat. Oom itu masih punya harga diri.....

Dengan pengorbanan lahir dan batin, Rama (atau kita sebut aja Iko, biar gampang dibayangin) akhirnya berhasil mengambil kepercayaan bos musuh lewat anaknya, Ucok (atau uco? gue nggak tau mana yang bener karena yakuza-yakuza Jepang itu manggilnya Uco)

Gue masih penasaran kenapa si ganteng ini dikasih peran dengan nama Ucok. Btw, sapa sih nama aslinya dia?
Si Ucok ini berperan penting dalam film. Sebagai anak bos mafia terbesar di Indonesia, dia berharap dikasih kepercayaan lebih sama bapaknya untuk ngurus bisnis yang lebih besar. Selama ini dia ngurus bisnis kecil macam nagih duit ke bisnis dvd porno, karaoke mesum, dan lain-lain.

Sampai akhirnya dia nggak tahan karena dikatain 'preman pasar' sama salah satu cewek panggilan yang agak pemberontak di karaoke mesum. "Lo harusnya takut sama gue, lo nggak tau siapa gue? Tempat kerja lo, tempat tinggal lo, semua yang lo punya, itu milik bokap gue!!" kata Ucok.

Kalau dalam komik cewek, cerita ini akan berkembang ke arah yang berbeda. Si Ucok yang merasa terhina karena ada cewek yang berani nentang dia akhirnya malah penasaran dan dua orang ini pun akan jadian.

That shit isn't gonna happen in this movie.


Perlu gue ingatkan kalo ini film gore dengan darah muncrat di mana-mana. Nggak ada tempat buat cinta yang menye-menye. Menye-menye itu bahasa mana sih ngomong-ngomong?

Alasan kedua, karena bad boy nggak akan secepat itu bisa berubah jadi nice guy. Wahai para cewek yang terbuai sama tokoh bad boy di komik/novel/film cinta-cintaan, sadarlah..... dan kembalilah ke jalan yang benar.

Sebenernya gue juga bingung kenapa otak gue sempet mikir kayak gini di tengah-tengah film. Syit, kebanyakan mengkonsumsi komik/novel romance memang tidak baik untuk jiwa dan mental.

Ucok yang kesal pun akhirnya memilih berkhianat dari sang bapak. Iko yang mengetahui kenyataan ini dari penyadap yang dia taro di dompet Ucok, mulai waspada.

Dengan bantuan geng mafia lainnya, Ucok berencana membuat bapaknya berseteru dengan geng yakuza Jepang yang berkuasa di Jakarta. Mad Dog (yang mati di film pertama dan muncul lagi di film kedua dengan peran yang berbeda, karena kayaknya sayang kalo dia nggak main lagi karena udah terlanjur lebih terkenal daripada Iko) kali ini berperan sebagai penunggu.....eh, penjaga salah satu bar milik bapaknya Ucok, dibunuh oleh backingannya Ucok biar dikira geng yakuza jepang itulah yang cari masalah. Kematian mad dog yang lahir kembali sebagai.....(gue lupa namanya) cukup berseni karena dia mati di tanah bersalju di belakang bar dan darahnya merembes ke salju puth di sekeliling, mengabaikan logika super penting bahwa nggak ada salju yang turun di tempat sepanas Jakarta. Hujan turun di tengah kemarau aja udah syukur alhamdulillah. Untuk yang berpikir itu salah satu bar di Jepang, tolong ingat satu fakta bahwa di Jepang nggak ada yang jualan soto ayam pake gerobak. Setting adegan yang satu ini emang agak krisis identitas.

Sementara salah satu markas si yakuza jepang ini juga diserang sama backingannya Ucok. Sampai akhirnya Ucok dan backingannya tinggal nunggu dua kubu itu perang.

Tapi sayang akhirnya perang antar dua geng ini nggak terjadi karena bapake Ucok minta maaf sama Goto-san, pimpinan yakuza jepang di Jakarta, dan akan bertanggung jawab penuh supaya tidak terjadi perselisihan.

Ucok pun marah besar....

"Lo minta maaf!? Ke orang Jepang!? Dengan bahasa mereka!? Di tanah kita!?" teriak Ucok frustasi.

Mengabaikan kenyataan bahwa bisnis yang dijalani Ucok ini menghancurkan negaranya sendiri, dia orang yang cukup nasionalis. Saya bangga..... *salah fokus*

Perang batal, pemberontakan pun terjadi. Backingannya Ucok datang ke kantor saat mereka berdua lagi adu mulut (bukan ciuman!! duh...) sampai akhirnya Ucok nembak bapaknya sendiri (bukan supaya jadian!! duh....). Ada apa sih dengan istilah-istilah berpacaran di Indonesia?? Yang tersisa di ruangan itu tinggal Eka (Oka Antara) tangan kanan bokapnya Ucok. Lalu Iko pun datang! Baku hantam terjadi.

Yang paling hebat di antara mereka semua adalah sang resepsionis yang sejak awal penembakan sama sekali nggak bergeming (bahkan nggak panik) sampai semua orang pergi dari situ. Dedikasinya sebagai resepsionis begitu tinggi, bahkan ketika yang bayar dia tewas di depan mata dia tetap berdiri di belakang meja resepsionis (di awal cerita, dia juga lempeng aja sih liat Iko yang disuruh telanjang. Udah biasa kali yak).

Eka tewas dengan tenang setelah membocorkan rahasianya ke Iko kalau asal mereka sama. Iko yang pengin berhenti dari semua kegilaan ini akhirnya nggak tahan dan mau keluar. Dia sadar harus menghancurkan semuanya untuk bisa bebas. Maka dengan penuh percaya diri, dia pun datang sendirian ke markas musuh.

Mari kita skip adegan berantem super keren dengan efek yang agak lebay tapi tetep wuoke sampai akhirnya Iko ketemu lawan terkuat di dapur, mad dog 2! (gue gak tau namanya, sumpah, tapi ni orang emang nggak mati-mati, sama kayak pendahulunya). Beberapa saat ketika Iko masuk ke dapur yang masih penuh dengan koki yang kerja dan mad dog 2 di tengah-tengah dapur, keadaan menjadi hening. Dengan gerakan teratur para koki pun minggat dari dapur dengan tampang lempeng, "oke saatnya adegan berantem, kalau begitu mari kita menyingkir dari sini dengan tenang. Soalnya tugas kita cuma masak."

Semua pekerja di markas musuh (selain tukang berantem, tentunya) sepertinya sudah terbiasa dengan adegan baku hantam dan bisa minggat dengan tenangnya kalau sudah menemukan tanda-tanda akan ada pertempuran.

Dengan segala peluh dan darah yang bercucuran, Iko pun menang. Sendirian.

Kelompok yakuza jepang datang di saat terakhir dan menyadari musuhnya sudah tidak ada hingga akhirnya mengajak Iko bergabung dengan mereka.

"Nggak...." kata Iko pelan, dengan muka bonyok dan tampang mau mati.

"Cukup...."

TAMAT


BLOOPERS
Ucok: Lo minta maaf!? Ke orang Jepang!? Dengan bahasa mereka!? Di tanah kita!?
Bapaknya: (terkejut) Nak......kamu nasionalis sekali.....bapak bangga sama kamu (peluk)
Ucok: (terenyuh) Bapak.....
Sutradara: WOOOII!!!!
Astrada: 'CUT', pak, bukan 'woi'....
---
Iko: (masuk ke ruang dapur) jalan ke tempat bos kalian benar lewat sini?
Mad dog 2: Sebenernya bukan, sih. Tapi karena kita terlanjur bertemu, ayo kita berantem dulu!
Chef: Oke kawan-kawan, adegan berantem, saatnya minggat. Balik kanan bubar.....jalan!!
Sutradara: CUT!!
Chef: Euh.... maaf kebablasan....obsesi saya dulu jadi paskibraka
Sutradara: Nggak ada yang nanya!
---
Iko: Nggak..... (berdiri dengan susah payah) cukup......
yakuza jepang: kenapa? kamu kuat, kamu pasti langsung dapat posisi penting kalau bergabung dengan kami
Iko: Saya nggak bisa bahasa Jepang, susah.....


BEHIND THE SCENE
Cewek karaoke pemberontak: Kenapa saya nggak jadian sama Ucok pak, kenapaaaaa?
Sutradara: Duh, adegan kalian berdua itu sama sekali nggak mengarah ke percintaan. Kok kamu ngotot gitu, sih??
Cewek karaoke pemberontak: Ah si bapak, nggak peka! Kita kan berantem paakk.... Artinya kita saling benci. Dan kata orang, benci itu beda tipis sama cinta, pak....
Sutradara: Kamu kena penyakit delusional akut..... ikuti arahan saya, atau saya cari pemain lain!
Cewek karaoke pemberontak: ("3") buuu......
 ---
Sutradara: Kamu bisa 'kan tetap duduk di bangku resepsionis dengan tenang meski di dalam kantor yang hanya terpisah selembar kaca bening itu ada Iko Uwais lagi buka baju?
Cewek resepsionis: Bisa pak! Mental saya baja! Saya janji nggak akan ngeces atau apa....
Sutradara: Yakin banget kamu....
Cewek resepsionis: Soalnya dia bukan tipe saya, pak.
Sutradara: Di saat cewek-cewek lain tergila-gila sama dia, kamu malah bilang nggak tertarik? Kenapa??
Cewek resepsionis: Soalnya dia.....euh.....pendek.....masih tinggian juga saya, pak.
Iko: (pundung di ladang jagung)
---
Di lokasi syuting Killers....
Nomura (Kazuki Kitamura): aaand......katto!
...
Sutradara: Yak! Ayo semuanya ganti baju! Langsung pindah ke syuting the raid 2 di sebelah ya!! Jangan lupa dandan dulu!!
Kazuki: Pak, tapi saya capek pak....abis jatoh dari bangunan tinggi gitu. Syutingnya bisa besok aja nggak pak?
Sutradara: Nggak bisa, kalian kan pada pulang ke Jepang sebentar lagi. Demi menghemat biaya pesawat dan makan kalian yang maunya mahal-mahal itu, kita sekalian syuting the raid 2!
Oka Antara: Saya juga ikut, pak?
Sutradara: Iya doooong.....
Oka Antara: Mati juga, pak?
Sutradara: ......iya. Maaf ya. Tapi kali ini kamu matinya tenang kok.
Epy Kusnandar: Saya jadi apa, pak? Protagonis? Antagonis?
Sutradara: Antagonisnya peran antagonis lain....jangan lupa, kamu mati juga nanti.
Epy Kusnandar: Euh.....dibakar hidup-hidup lagi, pak?
Sutradara: Nggak....tenang aja, kamu mati abis ditembak dan dipukulin
Epy Kusnandar: Saya boleh pilih mati dibakar aja nggak, pak? 


Kesan selama menonton
Sengaja gue taro terakhir karena, yah.....jarang ada yang mau baca ginian. Di luar bercandaan di atas, gue mau menobatkan film ini sebagai film Indonesia terkeren. Dari the raid pertama, gue udah ngerasa ceritanya memang akan berkembang sebagus yang kedua ini. Masalah di the raid pertama adalah kurangnya waktu dan ending yang kurang nggantung, jadi banyak orang yang bilang "berantemnya oke, ceritanya biasa aja". Seandainya ending film pertama itu cliff hanger yang keren, pasti akan jadi lebih bagus. Karena film pertama memang kayak pembukaan aja.

Di film kedua, cerita rumitnya gembong mafia di negara ini dibahas abis. Mantep banget! Semua akting pemainnya keren! Adegan berantemnya keren! Nggak sangka Jullie Estelle bisa main sebagus itu!! Efek kamera dan gerakan slow motionnya pas banget! Adegan kejar-kejaran mobilnya keren! Milih jalannya juga pas banget! Jalan ceritanya oke banget!!

Yang menurut gue kurang sedikit, harusnya Iko nggak sendirian waktu nerobos markas musuh di akhir cerita. Pasti seru kalau tiba-tiba ada temen sesama intel yang nyamar juga dan akhirnya mereka berdua memberantas semua musuh. Peran Oka Antara punya potensi, tapi dia terlalu cepat mati. Sejujurnya sih.... gue masih berharap Joe Taslim nggak mati di film pertama dan jadi partner Iko di film kedua.....(Iyaaa!! Gue emang masih belum move on!!)

Buat orang-orang Indonesia yang masih apatis dan bilang "Ngapain nonton film Indonesia di bioskop? Buang-buang duit. Mending nonton film Hollywood," sini tak kepret. Kalo orang-orang Indonesianya sendiri meremehkan, kapan film Indonesia maju? Nonton film-film Indonesia di bioskop juga membantu para pembuat film itu balik modal dan bisa menyeleksi mana film yang bagus dan nggak, sehingga mereka bisa bikin yang lebih bagus lagi kedepannya. Yang akhirnya untung kan kita-kita juga yang nonton.

Gue nonton film produksi PT Merantau ini sejak film "Merantau", dan makin ke sini kualitasnya makin oke. Semoga film produksi lainnya bisa mencontoh dan mulai memikirkan kualitas di atas keuntungan semata.

Jumat, 28 Maret 2014

Serikat Pecinta Chappuchino Cincau

Kalo gue nggak salah, cappuchino cincau itu mulai beken sejak puasa tahun lalu. Menjelang waktu buka puasa, chappuchino cincau laris manis sampe gue cuma bisa beli beberapa kali sepanjang bulan puasa karena males ngantri. Waktu itu, belum banyak yang jual kayak sekarang. Di deket rumah pun cuma ada satu yang jualan. Sekarang sih lebih dari lima.

Tapi ya mau gimana, emang enak sih. Kenapa baru kepikiran sekarang ya kalau cincau sama chappuchino itu cocok banget? Berhubung ini minuman manis banget, emang pas buat buka puasa. Sejak bulan ramadhan udah lewat, gue masih suka beli, tapi ya nggak tiap hari juga. Mendadak diabetes nanti.

Sayangnya, karena akhirnya banyak yang tahu kalau chappuchino cincau itu enak banget, jadi menjamurlah orang yang jual minuman ini dengan merk yang bermacam-macam. Ya kalo semuanya enak sih nggak masalah. Tapi ada beberapa penjual yang bikin gue keki.

Sebagai anggota Serikat Pecinta Chappuchino Cincau, saya ingin mengeluarkan sebuah pernyataan....

NAMANYA EMANG CHAPPUCHINO CINCAU, TAPI BUKAN BERARTI CHAPPUCHINO DIMASUKIN CINCAU DOANG KALIII!!!


Liat gambar di atas!!
Itu adalah contoh chappuchino cincau yang baik dan benar
1. Cincau di masukin duluan
2. Dinding gelas dilumurin susu kental manis rasa coklat
3. Chappuchino yang udah diblender sama es dituang
4. Susu kental manis dituang lagi di atasnya

Siang tadi gue beli chappuchino cincau yang harganya sedikit lebih mahal dari tempat lain. Tapi ada beberapa hal yang bikin gue nggak bakal mau beli lagi di situ.
1. Mahal (biar cuma beda 1000, tetep aja lebih mahal dari biasa)
2. Gelasnya kecil
3. Dinding gelasnya nggak dilumurin susu kental manis rasa coklat, DEMI TOUTATIS!!!
4. Atasnya juga nggak dilumurin susu kental manis rasa coklat!! Bertobatlah tante penjual, dan kembalilah ke jalan yang benar.....
5. Ini yang paling parah dari semuanya.....
.
.
.
CHAPPUCHINONYA NGGAK DIBLENDER SAMA EESSS!!!! AAAAAAAAARRRRRGH!!!!


Intinya, gue cuma beli chappuchino dingin ditambah cincau dan dengan harga yang mahal. Rasanya pengen gue gugat itu warung.

Ada lagi warung chappuchino cincau yang sejak awal menurut gue aneh, makanya gue nggak pernah beli di sana. Judul warungnya sih "chappuchino cincau", tapi ada banyak kotak berisi bubuk bertuliskan moccachino, chocolate, latte, dll.

Ini sudah menunjukkan keambiguan dalam berjualan.

Ini contoh percakapan penjual dan pembeli:
Pembeli: Mbak, beli chappuchino cincaunya satu
Penjual: Yang rasa apa, dek?
Pembeli: Eh?
Penjual: Iya, yang rasa apa chappuchino cincaunya? Moka? Coklat?
Pembeli: *memutuskan untuk beli air mineral aja*

Pertanyaan penjual di atas itu kayak nanya "Mau takoyaki isi apa? Daging ayam? Atau sapi?"
Dengan ini saya menuntut.....
LESTARIKAN KEASLIAN CHAPPUCHINO CINCAU!!!

plis.....

Selasa, 18 Maret 2014

Sasuke oh Sasuke.....

Salah satu kegiatan yang gue suka adalah membaca ulang komik saat makan. Sayangnya, hampir semua komik udah gue baca ulang belakangan ini kecuali satu judul berseri panjang punya adek gue. Naruto. Gue lupa entah sejak volume berapa kehilangan ketertarikan sama komik ini. Setiap adek gue beli volume lanjutannya, gue cuma baca sekali dan nggak niat. Boro-boro bisa ngerti ceritanya apa, inget tokoh-tokoh barunya juga nggak. Sampe akhirnya volume 60 gue bener-bener nggak tau itu di cover siapa-siapa aja.

Lalu gue mikir, apa sih yang sebenernya bikin gue nggak minat lagi sama ni komik?

Iya sih ceritanya udah mulai aneh ke belakang-belakang, tapi gue bener-bener penasaran adegan mana yang bikin gue ilfil banget sama ni komik. Akhirnya, gue pun memutuskan untuk baca ulang.

Jujur aja, sejak pertama nonton animenya, cerita Naruto ini baguuus banget. Karakternya oke-oke, battle-nya juga oke banget, terutama perang otak antara Shikamaru dan lawan-lawannya yang kebanyakan cewek. Mungkin bagian terseru itu waktu ujian chunin (lepas dari kenyataan bahwa ada beberapa ide yang mirip sama ujian Hunter, dan gue baru sadar sekarang).

Karakter kesukaan gue (dulu) adalah Sasuke. Bukan karena dia cool, tapi lebih karena dia terkesan cool, jadi waktu dia berekspresi itu terkesan imut dan manis banget. Naruto sih tipikal karakter utama shonen yang meski berisik, tapi dia lurus. Biasa aja.

langsung crop dari komik aslinya neh.... Karakter Sasuke yang malu-malu beginilah yang bikin gue suka
Lalu muncul karakter-karakter lain yang semakin oke dan membuat gue lebih menyukai cerita ini. Sampai ujian chunin terhenti gara-gara insiden penyerangan Konoha oleh Orochimaru, dan Sasuke yang cemburu sama kekuatan Naruto dan pergi dari desa, ternyata gue masih lumayan suka dan ngikutin ini cerita. Intinya, bukan adegan Sasuke salah gaul dan pergi dari Konoha yang bikin gue males sama cerita ini, jadi gue lanjut baca.

Adegan pertarungan lawan anak buahnya Orochimaru pun gue masih suka. Inget Neji vs Kidomaru, Chouji vs Jiroubo, Kiba vs Sakon, Shikamaru vs Tayuya, Lee & Gaara vs Kimimaro?

Itu. Keren. Banget.

Lalu muncul akatsuki yang kekuatannya nggak masuk akal. Tapi masih bisa diterima karena battlenya Shikamaru vs Hidan itu mantep. Walaupun entah bagaimana Hidan itu nggak bisa mati, membuat usaha Orochimaru untuk jadi makhluk abadi itu kayak main-main.

Setelah itu akhirnya tibalah saat Sasuke udah dapet semua kekuatan dari Orochimaru dan membunuh tuannya. Dia pun ngumpulin temen dengan satu tujuan, ngebunuh Itachi. Singkat cerita, misi sukses dan Itachi akhirnya mati. Logikanya, peran Sasuke udah selesai di sini. Tapi ternyata Tobi membeberkan rahasia kalau Itachi ternyata lebih mementingkan Sasuke daripada apa pun. Dan kenyataan bahwa Itachi nggak jahat-jahat amat, justru mengorbankan diri demi Konoha (Sejujurnya gue udah menduga dari kapan tau kalo Itachi itu bukan karakter antagonis. Meeen.... di mata gue, dia itu brother complex abis!).

Logikanya, setelah tau kenyataan itu, seharusnya Sasuke sadar. Seharusnya dia balik ke Konoha.... urusannya udah selesai. Atau paling nggak nyesel karena udah bunuh kakaknya gitu. Tapi nggak! Apa yang Sasuke lakukan? Dia malah mau menghancurkan Konoha! Oww.... kemanakah logika berjalan? Sia-sia dong Itachi mati?

Yang lebih di luar akal sehat, adalah alasan Sasuke.

"Aku akan memakai caraku sendiri untuk membangkitkan klanku."

Ada yang salah di sini.....
 
Apakah dengan menghancurkan Konoha klan Uchiha akan bangkit?

Enggak, Sasukeeee! Mikir dooong, lo itu kan salah satu ninja cerdas di Konoha. Cara untuk membangkitkan klan kembali itu ya nikah dan memperbanyak keturunan, kaaaan??? Lagian itu lebih masuk akal dan lebih syar'i.

Gue pun akhirnya sadar, adegan inilah yang membuat gue stop ngikutin cerita ini dengan serius. Sasuke, tokoh yang gue suka dari awal akhirnya jadi begini.... Kehilangan tujuan jelas..... Terpuruk dalam kebencian mendalam yang sebenernya nggak beralasan dan hanya karena salah gaul.

Setelah Sasuke berbalik mau nyerang Konoha, gue udah sama sekali nggak inget ada adegan-adegan apa lagi sampe volume 61. Jadi waktu gue baca ulang, gue berasa baca lagi untuk pertama kalinya. Gue baru sadar ada banyak tokoh yang muncul setelah itu.

Lalu tokoh Madara Uchiha terkuak, lalu perang diumumkan, lalu Kakashi mati dalam perang, lalu Kakashi idup lagi karena kayaknya matinya nggak terlalu dramatis, lalu Naruto makin hebat, lalu Naruto jadi lebih hebat daripada lima kage bergabung karena menghadapi Madara sendirian, lalu katanya cuma Hashirama (hokage pertama) yang bisa ngalahin Madara, lalu gue inget Hashirama udah pernah dibangkitin sama Orochimaru dan cuma ngeluarin satu jurus 'kebangkitan hutan' sebelum akhirnya kembali tewas di tangan hokage ketiga, lalu Itachi dibangkitkan, lalu dia kecewa karena Sasuke memilih jalan yang salah, lalu Sasuke ketemu Itachi, lalu mereka jadi akrab dan kerjasama ngelawan Kabuto yang notabennya lagi kerjasama sama Akatsuki untuk menghancurkan Konoha, lalu gue inget 'kan katanya Sasuke juga mau ngancurin Konoha? Lalu akal sehat pun hilang....................

Nah itulah kisah singkat setelah Sasuke memutuskan untuk menghancurkan Konoha sampe dia akhirnya plin-plan dan malah ngebantu Itachi yang dibangkitkan lagi sama Kabuto. Komik lanjutannya adek gue belum beli lagi tuh.....

Sejujurnya gue menyayangkan kalau harus sampe stop baca ini. Padahal pembangunan karakternya oke-oke banget. Cuma gara-gara karakter Sasuke yang plin-plan dan galau ini ceritanya jadi kacau dan muter-muter. Terus gara-gara kekuatan karakter di sini nggak tau batas jadi terkesan kayak dewa semua. Padahal One Piece yang volumenya lebih jauh aja peta kekuatannya tetep jelas. Kalo di Naruto itu, peta kekuatan genin-chunin-jonin-hokage sama sekali udah nggak berlaku. Genin bisa aja jauh lebih jago dari hokage, dan banyak jonin yang kesannya nggak guna dan kayaknya kekuatannya payah banget.

Tapi ternyata yang paling mengesalkan emang perubahan karakter Sasuke. Di komik volume 1-10-an dia adalah tipe cool, sedikit misterius, tapi masih manusiawi karena bisa malu-malu kayak gambar di atas dan sering berantem dan bercanda nggak jelas sama Naruto dkk. Sejak salah gaul, dia jadi karakter penuh dendam, nggak pernah senyum, dan super antagonis. Oke kalo dia berubah, okeeeh.... gue terima. Tapi ada satu adegan flashback di volume 50-an di mana Naruto inget waktu tarung lawan Sasuke saat di akademi ninja (berarti diperkirakan berusia 8-10 tahun, dan kejadiannya sebelum volume 1) kalau mata Sasuke itu udah memancarkan kegelapan dan niat balas dendam yang begitu dalam, karakter yang jelas nggak akan senyum malu-malu dan bertingkah konyol sama sekali. Lalu yang di volume 1-10 itu siapaaaaa?? Kok bisa ada karakter yang beda jauh begitu? Jangan-jangan karakter Sasuke yang (dulu) gue suka itu cuma ilusi? Sakit hati gue.......

Oh iya, gue belum cerita mengenai kekuatan yang kayaknya demen banget dibikin sama Kishimoto-sensei di sini. Tapi harusnya udah pada tau sih, kekuatan mata. Pertama sharingan, lalu ada byakugan yang katanya lebih kuat dari sharingan, lalu ada tingkatan sharingan yang lebih kuat lagi, lalu ada rinnegan yang lebih kuat dari sharingan yang udah naik level dan byakugan, lalu ada mangekyo sharingan, lalu ada sharingan baru yang lebih kuat dari mangekyo sharingan. Corak mata sharingan yang biasa dan gue anggep indah layaknya seni itu akhirnya berubah jadi corak mengerikan setelah ada mangekyo dan bla bla bla itu.

Lama-lama bukan para ninja aja yang rebutan mata uchiha, tapi juga tukang jual kancing, saking modelnya makin ribet kayak model-model kancing sekarang.

Lalu Itachi bilang, "Sejak dulu sudah takdir klan Uchiha untuk selalu berebut kekuatan sesama saudara". Maksudnya, untuk dapat kekuatan sharingan yang lebih besar, Uchiha harus mengambil mata Uchiha yang lain. Lah, yaudah nggak usah cuma ngambil, sekalian aja tuker-tukeran kenapa, biar adil. Abis tukeran mata, balikin lagi deh ke yang punya, otomatis itu kekuatannya jadi empat kali lipat lebih kuat. Lalu tukeran lagi, balikin lagi, tukeran lagi, balikin lagi sampe bola matanya jadi item semua. Wis mbuh lah.....

Ngomong-ngomong soal perebutan mata ini juga mirip mata klan Kuruta yang diperebutin di Hunter x Hunter. Entah kenapa gue akhirnya nemu banyak kesamaan ide dari Naruto & Hunter x Hunter, meskipun eksekusinya emang beda jauh, termasuk soal chakra dan nen yang sama-sama punya macam-macam tipe.

Sekarang gue masih galau mau lanjut baca atau nggak. Tapi kayaknya kalo adek gue beli, gue tetep baca. Buat nyari cerita karakter-karakter lain selain Sasuke yang super galau. Kan sekarang ada Saaaaaiii!!! Hahahahahaha! Jadi, bye-bye Sasukeee!!! << nggak setia

Biarpun bajumu kurang bahan dan agak jijay, akuw tetap suka.....

Kamis, 13 Maret 2014

Postingan Radom of the Month!

Sebenernya mau bikin postingan random gabungan beberapa hari karena dari Februari kamar gue berantakan abis.... yang berarti, ultra super duper mega berantakan (yang gue bilang rapi aja biasanya masih berantakan di mata orang lain), membuatg gue enggan nyetuh-nyentuh lepi.

Loh apa hubungannya?

Lepi gue itu nyaman dipake di kamar gue. Kalo dibawa ke tempat lain kenyamanannya ilang. Jadi, berhubung gue tidur pun ngungsi ke kamar sebelah yang rapi (karna males liat kasur gue bertumpuk macam-macam barang mulai dari buku sampe dus sepatu) nggak mungkin gue nyentuh-nyentuh lepi dan nulis blog. Nah, itu lah hubungannya.

Setelah penjelasan absurd di atas, gue mau cerita soal kegiatan gue akhir-akhir ini (berasa artis aja). Kebalikan dari keadaan kamar, jadwal tidur gue malah jadi rapi. Ya karna gak kerja malem-malem buat nerjemah, sih....

Gue tidur kurang dari jam 12 dan selalu bangun jam 3-4 pagi. Terus, percaya ato nggak, gue jadi rajin masak sarapan. Wakakakaka. Sebenernya nungguin petir menyambar atau tornado abis itu, tapi ternyata nggak ada, jadi kegiatan masak tiap pagi pun berlanjut sampe hari ini. Widiiiih, rajin ya gue.

Berhubung kakak gue yang biasa masak di rumah sekarang udah berangkat lagi ke Jogja, ini jadi pilihan. Balik ke kehidupan dengan makanan instan setiap saat, atau masak!

Akhirnya gue pilih masak karena:
1. Murah, dan gue lagi masa-masa berhemat (padahal gaji gue sekarang cukup lumayan, tapi berhubung mau ini-itu-ini-itu akhir tahun nanti, budgetnya kaga ketutup kalo gak hemat). Berhubung pembelanjaan paling besar adalah dari jajan dan beli buku, gue lagi nyoba mangkas duit jajan karna budget yang satu lagi gak mungkin dipangkas.
2. Bekal Masa Depan. Yup, buat bekal masa depan dooong. Apa salahnya belajar masak sekarang? Kalo jadi istri kudu bisa masak, kalo belum pun, kali aja gue terdampar di tempat yang mengharuskan gue untuk masak karna gak ada jajanan macam gorengan, siomay, dll, macam di zimbabwe gitu. Ya pokoknya belajar masak nggak ada ruginya. Beda sama kalo gue belajar ngerakit bom. Udah susah-susah belajar taunya dunia mendadak damai. Sia-sia dong.....
3. Gampang. Gue nggak pernah belajar masak sebelumnya, cuma merhatiin aja, dan nonton acara masak (yak, nonton doang). Tapi hasil kepo dari jaman jebot saat nyokap masakin tiap hari, kakak gue masakin tiap hari, dan dari acara-acara masak penuh drama itu ternyata ada hasilnya juga. Paling nggak gue tau urutan masak yang bener, apa yang harus dilakukan dan apa yang nggak boleh dilakukan. Ternyata cuma liat resep, liat kira-kira bumbunya, terus dimasak deh. Urusan bahan-bahan mah liat yang ada di kulkas aja.

Tahap paling menyebalkan dari masak adalah nyicip sebelum atau waktu masih dimasak. Gue gak pernah icip-icip kecuali udah jadi. Kalo masih dimasak kan panaaaas...... dan itu belum jadi, gue nggak mau nyoba yang belum jadi. Nggak enak. Jadi nyicipnya pas udah jadi deh, hahaha :D Rasanya lumayan laaah..... layak makan pokoknya.

Sejujurnya sih gue gak terlalu suka masak, tapi kalo bikin kue, HAYUUUKKK!! Beberapa waktu yang lalu sukses bikin pancake coklat sama puding fla coklat.



Terus beberapa hari yang lalu bikin Cheese Cake, Choco Mousse, sama Bola-bola Coklat bareng Echa sama Ruru. Meskipun gue cuma gabung pas bikin bola-bola coklat sih, wakakakaka xD

Sebenernya tampilan bola-bola coklatnya bisa lebih cantik lagi karena seharusnya dilapis coklat leleh dulu sebelum ditabus meses. Tapi berhubung dua potong dark coklat terakhir digosongin sama Echa, jadi......

Kalo masak buat sehari-hari emang menghemat budget sih, tapi kalo bikin kue kayaknya malah sebaliknya.... Jadi, gue nggak akan banyak-banyak bikin kue kecuali punya budget lagi. Bulan ini sama sekali nggak ada.

Tontonan 

Akhir-akhir ini gue jadi sering nonton gara-gara..... ya kamar gue berantakan, jadi ngungsi ke sebelah terus, karna ada tipi, nonton deeeehh.....

Seri yang lagi gue tonton adalah "The Voice season 6" sama "The Amazing Race season 24". Sejujurnya sih gue nggak terlalu tertarik ngikutin acara nyanyi-nyanyi, tapi berhubung ada dua bapak yang selalu adu bacot, Adam Levine dan Blake Shelton, gue akhirnya keterusan nonton deh.

Oom Blake yang di sebelah kiri itu kalo ngomong pasti bikin oom yang di sebelahnya keki, dan gue suka liat reaksi Adam waktu lagi keki, wakakaka (pendukung Blake). Dan biarpun karismatik, penuh feromon dan bla bla bla (yang biasanya gue gak suka orang model ini), tapi gue suka Blake karena bikin orang lain kesel adalah bakat alami dia (sama kayak gue).


Kalo the amazing race, gue tonton karena tantangannya sering ke Indonesia. Yang gue tau udah pernah ke Jakarta, Bali, sama Surabaya. Yang season terakhir mereka ke Surabaya.

tantangannya nggenjot odong-odong sambil bikinin topi dari balon buat bocah-bocah

Yang ini juga karna keterusan nonton jadi masih nonton sampe sekarang. Tapi toh bagus karna sekalian liat negara-negara lain sekalian budayanya. Yang lucu, kemarin pas semua tim ke Rusia ada dua tantangan yang harus dipilih, nyari 4 buku di perpustakaan nasional Rusia atau ikut renang sinkronisasi.

Ternyata cuma satu tim yang milih tantangan ke perpustakaan, karena......ya semua datanya pake cyrillic! Hahahaha! Stress! Tapi menurut gue sih akan lebih gampang yang itu daripada renang sinkronisisasi (ya elu kagak bisa berenang!)

Episode yang hari ini lucu banget. Tantangannya di akademi dan mereka harus jawab ujian tertulis (macam ujian Huter x Hunter khayalan Tonpa) soal perbedaan waktu di Rusia. Kalau Indonesia ada 3 perbedaan waktu, Rusia ada 7 :) Uwoow!

Lucunya, hampis semua peserta harus ikut tes sampe 20 kali lebih untuk jawab pertanyaan. Padahal, GAMPANG!!

Mereka ditunjukin peta, dengan gambar perbedaan waktu tiap wilayah, misal Moskwa +4, Kota selanjutnya +6, selanjutnya +8 dst....

Pertanyaannya, Jika Moskwa jam 04.00, jam berapakah kota-kota lainnya?

Lalu apa yang dilakukan tiap tim? Mereka nambahin jam 04.00 dengan +6, +8, dst....


Bahkan ada yang ngotot, "Pertanyaannya kan di Moskwa jam 04.00, kenapa juga di peta harus ditulis Moskwa itu +4??? Kan harusnya 0!!!" (dan orang ini ngakunya ber-IQ tinggi dan jago mecahin teka-teki).

Lalu rekan setimnya yang nunggu di samping bilang "Jangan panik! Jangan diperhatiin +4 nya itu pasti cuma buat ngecoh atau apa...."

Lalu gue inget satu hal.....


Random banget deh postingan kali ini. Tapi biarlah. Soalnya ada yang bilang kalo nulis blog itu bikin sehat.

Lalu, kamar gue sekarang sudah rapiiiiiiiiiiiii~ AHAHAHAHAHAHAHA!!
Kembali ke asal, ke kamar sendiri.....lalalalala~

Jumat, 28 Februari 2014

My Lovely New Job!!

Harusnya gue kerja, harusnya gue kerja, harusnya....

Ah sudahlah....

Udah lama sejak postingan terakhir gue.... Eh, baru seminggu yang lalu ya? Kok kayaknya udah lama banget?

Ini tentang job baru dan pilihan yang baru. Kayaknya beberapa temen gue juga pada dapet job baru akhir-akhir ini.

Sebelumnya gue pernah bilang kalo gue merasa sayang harus meninggalkan kerjaan sebagai jurnalis olahraga yang udah lama gue impikan. Tapi.... sekarang gue dapet kerjaan yang udah gue impikan jauh lebih lama sebelum ngebet jadi jurnalis. Gue....nerjemah komik :D

Kesannya sederhana dan nggak ada wah-wah-nya ya? Tapi.... GOD! I FEEL GOOD!

Gue masih inget jaman-jaman SMP waktu mulai rajin ngumpulin duit sendiri dan mulai beli komik sendiri. Saat itu, gue pengiiin banget jadi penerjemah komik Jepang. Yah, niatnya sih biar bisa baca komik gratisan. Maklum, namanya juga cita-cita bocah, alasan dibaliknya selalu sederhana dan jujur. Tjuiih...

Kenyataanya, meski sekarang gue nerjemah komik, gue nggak bisa minta nerjemah komik yang gue suka. Ya... itu wajar. Apalagi sekarang gue lagi nerjemahin komik jadul yang.... jujur aja, gambarnya nggak banget. Tapi shoganai, ini kerjaan gue sekarang. Apapun kerjaannya, nggak ada tuh yang namanya enak terus-terusan. Hehehe :D

Ngomong-ngomong, beberapa hari yang lalu gue baru ikut tes terjemah novel dari penerbit Haru. Alasannya, gue mau menantang diri sendiri lebih jauh lagi. Sekalian usaha biar bisa jadi penerjemah novelnya Shige kalo jadi diterbitin dimari. Kemarin, gue baru dikasih tahu hasil tesnya. Dan gue....

GAGAL

Yep, gue gagal.

Sebenernya gue agak siok karena gue yakin banget sama terjemahan gue. Malah jauh lebih yakin dari komik-komik yang selama ini gue terjemahin.

Setelah bangkit dari keadaan terpuruk selama beberapa menit (cepet banget!), gue pun nanya sama penanggung jawab dari penerbit haru, apa yang jadi kekurangan terjemahan gue.

Katanya, (sebenernya) terjemahan gue udah bagus dan setia, sayang ada beberapa bagian yang bolong alias belum diterjemahin, mungkin karena kelewatan atau kurang teliti.

WHAAAAAT!!

Uhh.... salah gue sih nggak ngecek lagi terakhirnya. Salah gue karena nggak teliti. Salah gue juga ngerjainnya buru-buru, cuma 2 hari sebelum deadline. Iya, semua salah gue....

Tapi kisah gue sama penerbit haru nggak berakhir di situ. Penanggung jawabnya menawarkan gue untuk jadi freelance reviewer, yang tugasnya mereview novel-novel Jepang supaya redaksi bisa tahu mana novel yang cocok diterjemahin di Indonesia. Itu artinya.... gue disuruh baca novel, dan dibayar. Hehehehe. Serius waktu nerima email itu gue nggak bisa berhenti nyengir.

Bayaran yang ini mungkin emang nggak seberapa dibanding nerjemahin (iyalah). Tapi rasanya bisa kerja di penerbit yang sesungguhnya-sesungguhnya penerbit, rasanya seneng bangeeeet. (FYI untuk nerjemah komik, gue bukan kerja di bawah penerbit karena hasil terjemahannya nggak dicetak, tapi dijual secara online lewat aplikasi Google Play)

Lalu, penanggung jawab penerbit haru juga bilang gue boleh ikut tes terjemahan lagi nantinya. Yah, paling nggak dari evaluasi yang dia kasih, gue tau apa yang harus diperbaiki. Selanjutnya gue pasti lolos! Terus nerjemahin Pink and Grey!

Bersamaan dengan tulisan di blog ini. Gue merelakan kerjaan sebagai jurnalis olahraga dan akan fokus di kerjaan yang sekarang sebagai honyakusha (translator) dan reviewer. Gue nggak lagi berpikir untuk nyari lowongan sebagai jurnalis dalam waktu dekat. Karena kecintaan gue sama buku lebih kuat daripada hobi-hobi gue yang lain. Masuk ke penerbitan buku itu impian gue sejak jaman jebot. Mungkin sejak gue udah mulai bisa baca. Meski waktu itu gue bilangnya mau jadi penjaga Gramedia (lo kira satpam?) karena pasti tiap hari dikelilingi buku. Hahahaha :D Semakin dewasa, ternyata gue nggak banyak berubah. Cuma membuat impian gue sewaktu kecil menjadi lebih spesifik dan detail.

Dua impian lain yang sampai sekarang belum tercapai adalah buka toko online dan nerbitin buku di penerbit major. Oh iya, sama belajar baca buku sambil berenang.

Salam dari si pisang tukang baca, mampir-mampir juga ke blognya di sini

Sabtu, 15 Februari 2014

Review Film Killers Penuh Spoiler

Rasanya gue nggak mungkin bisa review film yang satu ini tanpa spoiler. Karena itu menjauhlah kalian yang belum nonton tapi mau nonton dan BENCI SPOILER! Tulisan ini khusus untuk orang yang udah nonton dan nggak mau nonton tapi pengen tau.



Killers, film yang dibuat dengan kerjasama Jepang-Indonesia dan katanya bagus. Ini pengalaman pertama gue nonton film kayak gini di bioskop, apalagi genrenya thriller. Gue terlanjur berharap banyak. Sayangnya.... gue harus kecewa.

Film dibuka dengan adegan seks yang sejujurnya amat sangat tidak berguna karena itu bener-bener nggak jelas siapa sama siapa. Adegan kedua ada cewek yang dikejar-kejar di hutan sama pembunuh. Tiba-tiba layar berkedip dan nampilin sponsor, terus kedip lagi, cuplikan cewek dikejar itu lagi, kedip lagi, sponsor lagi. Appeuuuu..... penempatan sponsor yang sangat buruk. Mengganggu ketegangan aja. Ngomong-ngomong harusnya adegan cewek yang dikejar di hutan antah berantah ini harusnya jadi adegan pertama aja, lebih pas.

Akhirnya cewek itu dibunuh setelah di bawa ke rumah pembunuhnya dan digetok pake palu. Abis itu mayatnya disiram air keras dan tulang-tulang yang tersisa dibuang. Sampe saat ini gue masih berpikir pembunuh ini adalah pembunuh profesional yang tau cara ngilangin jejak yang baik dan benar. Sampe.... dia ngebunuh orang karena dendam di sebuah pub.....lebih tepatnya, di toilet umum pub itu....
Gue bengong. Pembunuh ini pede banget nggak bakal ketauan ya?

Ngomong-ngomong pembunuh ganteng asal Jepang itu selalu ngerekam adegan pembunuhannya dan diuunggah untuk kesenangan.Seorang jurnalis bernama Bayu yang tinggal di Jakarta, kayaknya suka banget ngeliat video itu meski ngeliatnya sambil mengernyitkan dahi dan agak jiji....

Saat Bayu nggak sengaja ngebunuh dua orang yang mau ngerampok dia di taksi, Bayu ngerekam saat-saat kematian salah satu dari mereka dan akhirnya diunggah juga, ikut-ikutan si pembunuh ganteng dari Jepang yang diberi nama Nomura.

Video itu pun dilihat sama Nomura, dan akhirnya dia menghubungi Bayu karena ngerasa Bayu itu sama kayak dia. Sama-sama killer, sama-sama mendapat kesenangan dengan membunuh orang.

Setelah dipengaruhi Nomura, Bayu pun ngebunuh orang-orang yang dia benci. Sayangnya, cara ngebunuh Bayu itu sama kayak perampok amatir kurang persiapan. Ya masa ngebunuh orang di hotel tanpa bikin rencana sama sekali? Masuk ke kamar hotel, ngebunuh pake pistol, DOR! dan bingung waktu mau kabur karena pintu digedor-gedor dari luar. Di luar kamar itu pun banyak bodyguard dari 'orang penting' yang dia bunuh di kamar itu. Bayu kesulitan kabur dan sembunyi di lemari.

Ya elo pikirrrr??

Sapa suruh ngebunuh di hotel pake pistol?

Entah ada keajaiban dari mana, Bayu akhirnya berhasil kabur dan lari di lorong hotel di kejar-kejar para bodyguard yang entah kenapa nggak ada yang bawa pistol ato apa. Ngelindungin orang penting cuma modal body building? Pasti bayarannya murah.

Untuk yang kedua kali, secara ajaib Bayu berhasil lolos dari kejaran para bodyguard itu dan pulang ke rumah. Wow, sakti.

Sementara itu nun jauh di Jepang, Nomura nemu cewek yang punya adik cowok autis. Karena tertarik, Nomura pun akhirnya deketin mereka dan jadi lumayan akrab sama mereka. Nomura menemui kenyataan bahwa Soichi (ato Koichi? lupa) sering diijime sama temen-temennya lantaran temen-temennya itu menghina kakak ceweknya. Nomura yang menyadari kalau keadaan Soichi mirip sama dirinya, akhirnya ngajarin Soichi make standgun dan bales perbuatan anak-anak yang mengijime dia.

Soichi berubah jadi brutal. Hisae, kakak Soichi, nyalahin Nomura karena perubahan sifat Soichi. Nomura yang kelihatannya sedikit suka sama Hisae nggak mau ketemu sama cewek itu lagi karena takut dia akhirnya harus ngebunuh cewek itu.

Sayangnya, Hisae akhirnya nggak tahan sama perubahan Soichi dan datang ke rumah Nomura. Ini menunjukkan kalau Nomura nggak bakat sebagai pembunuh profesional. Oom Jigsaw pasti ketawa kalo dia tau ada pembunuh yang ngasih tahu alamat rumah yang sebenarnya sama orang lain, terlebih kalau ruang tempat pembunuhannya nggak kedap suara.

Hisae datang di waktu yang sangat nggak pas, yakni waktu Nomura baru mau membunuh seorang cewek secara langsung dan ditunjukkin pake webcam ke Bayu di Jakarta.

Nomura akhirnya cerita kalo Hisae sama aja kayak dia, berusaha ngebunuh Soichi dengan nyuruh anak itu berdiri di jalan raya dan nunggu ada yang nabrak, sayang gagal karena mobilnya berhenti persis depan mereka. Sementara Hisae membantah itu mati-matian karena dia sebenernya berniat mati bareng Soichi dengan meluk Soichi di tengah jalan, nunggu ada yang nabrak.

Apa yang diliat Nomura sama yang diceritain Hisae bener-bener beda jauh. Ini kalo bukan kesalahan script, pasti salah satu dari mereka ada yang delusi....

Hisae pun akhirnya tahu kalo Nomura itu sakit, dia pun teriak "あんた病気のよ!" yang tulisan sub-nya adalah "Kamu kejam!" gue pun menepok jidat.

Lalu teriakan cewek yang mau dibunuh pun terdengar.... Hisae pun makin curiga...

Lalu gue menepok jidat lagi....

Makanya jangan tukeran alamat sama cewek segampang itu dong oom!

Cerita thriller selalu punya rahasia, sayangnya nggak ada cerita rahasia dalam film ini. Ah, bentar.... kisah kakak perempuannya Nomura itu bisa dibilang rahasia bukan, sih? Hmm... Nomura cuma bilang kalau dia terlalu cinta kakaknya sampe akhirnya ngebunuh kakaknya itu dan ngawetin jasadnya di salah satu ruangan, kan? Rahasia yang cetek untuk ngebunuh-bunuhin orang nggak jelas....

Psikopat, adalah alasan yang tepat. Sayangnya seorang psikopat punya kecenderungan untuk memanipulasi, menipu, dan segala hal nggak masuk akal yang bisa dilakukan dengan mudah untuk menghapus jejak-jejak pembunuhan yang dia lakukan. Nomura masih terlalu hijau.... Bayu, muridnya, lebih hijau dari hijau.... bahkan perampok aja mungkin lebih pinter dari dia....

Pembunuhan-pembunuhan di film ini keren, ngerinya juga dapet, sayangnya masih terlalu kasar. Cerita cuma fokus di pembunuhan tanpa ada penghapusan jejak yang memuaskan. Yakali ngebunuh orang di perumahan elit bisa segampang itu karena nggak ada satpam seorang pun.

Gue bisa memikirkan pembunuhan yang jauh lebih bersih dari yang mereka berdua lakukan. Penulis cerita film ini masih terlalu awam dalam bidang bunuh-membunuh....

Endingnya juga nggak memuaskan. Nomura akhirnya ke Jakarta dan ngebunuh istri Bayu di rumahnya, yang entah gimana caranya dia bisa nemuin rumah Bayu dalam waktu sesingkat itu. Terlebih, satu-satunya info yang bisa didapet Nomura cuma wajah Bayu dan IP address laptopnya Bayu. Lain cerita kalau dia pembunuh sekaligus hacker.

Saat itu Bayu lagi menerima pembalasan akibat ngebunuh orang penting di hotel waktu itu. Anaknya diculik dan dia disiksa di depan anaknya.

Gue kira akan jadi happy ending dengan Nomura ngebunuh-bunuhin semua pengganggu Bayu dan mereka akhirnya bikin duo.

Sayangnya Bayu yang dia kira ngerti perasaannya sebagai pembunuh malah berniat ngebunuh dia.

"がっかりしちゃった。" kata Nomura yang kecewa yang di sub-nya diartiin "Kukira kau mengerti aku."

Cerita selesai setelah akhirnya Bayu dan Nomura sama-sama jatoh dari gedung.

Alhamdulillah...

Tapi endingnya, ada seorang anak orang miskin (jangan salahin gue, keliatannya emang gitu) yang ngeluarin hape keren dari kantongnya (seakan beli hape android semudah beli chiki) dan ngerekam saat-saat kematian Nomura.

Tamat

Mungkin dari semuanya, yang paling bikin nggak banget itu translatenya. Banyak yang ilang dan terjemahannya juga terlalu bebas. Sebagai penerjemah, gue terganggu....

Tapi kalo dibilang gue kecewa nonton film ini.... nggak juga sih. Yah meskipun sempet ngantuk pas tengah cerita, lumayan lah buat hiburan denger orang Jepang ngomong Inggris yang agak gimanaaaa... gitu. Juga denger bahasa Jepang si Ahmad, pemilik nama indah dengan pergaulan yang salah.